
Lucas lupa, ketika baru saja tiba dia memang meminta Ester menyiapkan air hangat. Sepatu istrinya sedikit kekecilan hingga membuat Zora merasa tidak nyaman. Ditambah lagi, perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh, sudah pasti kakinya terasa linu.
"Aku bisa sendiri, Lucas."
"Aku tahu, tapi biarkan aku saja yang melakukannya."
Meski sudah menjadi suaminya, tapi Zora masih kerap merasa lancang andai Lucas melakukan hal-hal semacam ini. Bagaimana tidak, seseorang yang dahulu dia layani kini berbalik meratukannya.
Bahkan, Lucas tak segan sekalipun dia berlutut seraya memijat pelan kaki Zora. Dia tidak peduli dan memang benar-benar ingin melakukannya, hal semacam ini adalah mimpi Lucas setiap malam sejak Zora pergi.
"Kakimu lebih berisi, aku suka," ucapnya kembali mendongak dengan tangan yang tetap fokus memijat kaki Zora.
"Berat badanku naik semenjak hamil ... mungkin karena terlalu banyak makan *ic*e cream." Dia tidak marah andai Lucas menyinggung berat badan sekalipun, baginya hal semacam itu sangat wajar untuk kategori ibu hamil.
"Dan tidak pernah olahraga?" tanya Lucas tertawa pelan, sebuah tebakan yang kemudian Zora tanggapi dengan senyuman.
"Cih dasar, benar begitu?" tanya Lucas lagi, reaksi Zora sudah menjelaskan kebenarannya.
"Tidak juga, aku tetap olahraga sesekali, tapi di kamar."
"Hah? Olahraga apa di kamar?" Lucas mengerutkan dahi, otaknya memang agak terlalu jauh dalam berpikir.
"Aku senam hamil akhir-akhir ini, tapi tidak rutin karena malas bergerak."
Sebenarnya bukan hanya itu alasanya, Fabian tidak mengizinkan Zora untuk keluar dengan bebas. Karena baginya Zora adalah buruan yang terancam predator dan lebih baik diam, beberapa kali ketahuan keluar tanpa izin pasti pria itu ketar-ketir mencarinya.
__ADS_1
"Malas bergerak? Kalau begitu olahraga bersamaku saja, kau cukup diam, aku yang akan bergerak." Lucas mengedipkan mata hingga Zora memerah seketika, dia yang khawatir andai candaan semacam itu terdengar oleh Ester kini mencubit lengannya.
Zora hanya mencubit sekali, tapi setelah itu Lucas justru membalasnya berbeda hingga gelak tawa Zora tak tertahan kala Lucas menggelitiki telapak kakinya.
"Lucas hentikan!! Aku tidak kuat lagi!!" Zora memekik dengan napas yang mulai terengah-engah, barulah Lucas tergerak untuk berhenti.
"Lemah sekali dirimu, begitu saja sudah lelah."
Lucas tercipta sebagai manusia super aktif jika sudah menemukan tempat ternyaman. Namun, berbeda dengan Zora yang memang begitu pendiam dan tidak banyak ulah.
Jangankan bermaksud untuk balas dendam, Lucas yang kini duduk dan mengecup pipinya bertubi-tubi, dia tetap pasrah saja. Hanya mata yang mendelik, cara marah Zora terlalu menakutkan untuk Lucas hingga pria itu justru semakin gemas dan melakukan hal yang lebih gila lagi.
"Lucas, menjauhlah! Pipiku sakit!" pekiknya sedikit meninggi, bukan bermaksud menolak suami, tapi memang yang dia lakukan ini tidak termasuk kategori percummbuan lagi.
"Sakit?"
"Kau terlalu menggemaskan, aku ingin memakanmu setiap detik," bisik Lucas kembali memberikan gigitan kecil di telinganya, benar-benar tidak bisa diajak bercanda.
Begitulah hidup yang kini dia jalani, dan mungkin akan seumur hidup akan terus begini. Tidak ada yang bisa diubah dari pembangkang seperti Lucas, dia akan terus melakukan apa yang dia suka. Sebagai pasangan, sudah jelas Zora harus bisa menerimanya.
.
.
Jauh dari keberadaan Zora yang tengah diselimuti kebahagiaan bersama pria yang menginginkannya. Di sisi lain seseorang yang terbiasa menjadi penghibur kini juga butuh dihibur, Fabian.
__ADS_1
Beberapa waktu berlalu, dia merasa ada yang hilang. Tidak ada sosok pengganggu yang melarangnya makan ala warteg dengan kaki ikut naik ke atas kursi. Satu-satunya wanita yang merasa keberatan dengan kebiasaan Fabian yang terbawa-bawa dari tanah kelahiranya adalah Zora, kini dia tidak lagi berada dalam pengawasan Fabian.
Entah dimana dia berada, Fabian tidak menemukan apa-apa kecuali ponsel Zora yang dia dapatkan di pinggir jalan raya. Fabian terlambat, dia kehilangan kesempatan dan kemungkinan besar apa yang menjadi ketakutannya selama ini terjadi.
Ya, ditemukan oleh orang-orang yang memburunya. Walau memang dia tidak memiliki bukti tentang itu, tapi usahanya yang meminta rekaman CCTV di sekitaran sana ditolak mentah-mentah malam itu cukup untuk menjadi sebuah petunjuk suami yang Zora takutilah pelakunya.
"Ck, dia tidak menghubungiku ... sekalipun ponselnya hilang, mustahil dia lupa nomorku!! Berhenti memikirkannya, Fabian!!" gerutunya seraya mengacak rambut begitu kasar.
Fabian gusar, beberapa saat lalu dia mengumpat dan kesal pada Zora. Namun, beberapa detik kemudian dia kembali memikirkan nasibnya, apa yang terjadi dan bagaimana kabarnya saat ini, Sungguh Fabian dibuat sakit kepala akibat wanita hamil yang luar biasa merepotkan itu.
"Tapi bagaimana kalau dia memang lupa, Bian? Bukankah wanita itu agak pikun?" Fabian bermonolog, dia kembali mempertimbangkan dan mengingat bagaimana Zora yang kerap mengambilkan minum sampai dua kali karena pelupa.
"Astaga ... hentikan, Fabian!! Andai memang suaminya sudah menemukan wanita itu ya sudah kan memang pantas seorang suami membawa pulang istrinya? Lalu kenapa kau bing_ tapi bagaimana jika suaminya kejam, disiksa dan di arrrgghhh kenapa juga kau keluar malam itu, Zora!!"
Dia masih sibuk berperang dengan pikirannya sendiri. Hingga, dering ponsel menyadarkan Fabian dan tanpa pikir panjang menerima panggilan tersebut. Harapannya sudah begitu besar, dia berharap dan jantungnya kini berdebar.
"Hallo, kau baik-baik saja? Bagaimana suamimu? Dia tidak menyiksamu lagi, 'kan?"
"Kau sehat, Fabian? Jika mulai tidak waras pulang saja ... apa yang kau cari di sana? Dan juga, apa maksud pertanyaanmu? Jangan bilang kau berhubungan dengan istri orang!!"
"Oho tidak, Pa!! A-aku baru saja menonton drama, Pa dan dialognya terngiang jadi ak_"
"Sinting, pulang atau papa coret dari KK!!"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -