My Beloved Stepmother

My Beloved Stepmother
BAB 26 - Masih Sama


__ADS_3

Jika biasanya Lucas bangun siang dalam keadaan tidak terarah, berbeda halnya dengan hari ini. Pagi-pagi sekali dia sudah bersiap untuk ke kamar Zora, sudah tentu Lucas ingin menyapa wanitanya.


Sedikit menyebalkan memang, seharusnya dia tidur sekamar saja. Susah payah Lucas merayu Daddy Julian tapi keputusannya tetap sama. Pria itu beralasan khawatir nanti Lucas justru mengganggu ketenangan Zora, padahal menurut Lucas dengan cara itu Zora akan jauh lebih tenang.


Kendati demikian, dia terpaksa menurut karena sang ayah berjasa besar dalam menemukan kembali cintanya. Tiba di kamar itu, Zora masih terlelap begitu juga dengan beberapa maid yang menjaganya.


"Tuan datang terlalu pagi, Nona masih tidur," tutur Sofia pelan, khawatir jika pria yang pernah dia saksikan menggila waktu itu kembali kumat nantinya.


"Kau pikir aku buta, Sofia?"


Ya, memang salah Sofia yang mengatakan hal itu. Agaknya Lucas masih marah karena semalam Sofia sempat menghalanginya kala Lucas hendak memandikan dan mengganti pakaian Zora, sungguh pendendam.


"Maaf, Tuan."


"Kau boleh keluar, bawa sekalian teman-temanmu," pinta Lucas tak terbantahkan, untuk yang kali ini Sofia terpaksa patuh karena tidak ingin kembali menjadi sasaran amarah tuannya.


Tidak butuh waktu lama bagi Lucas untuk menyingkirkan orang-orang yang membatasi ruang geraknya. Dia agak sedikit tidak bebas jika berada dalam pengawasan wanita-wanita cerewet itu, tadi malam saja dia sempat beradu mulut bersama Sofia ketika hendak membersihkan tubuh Zora.


"Ah kau cantik sekali ... aku hampir gila karena merindukanmu, Zora!!"


Gemas, ingin marah dan kesal bersatu padu dalam diri Lucas. Zora tega meninggalkan dan menyiksa dirinya dalam kerinduan, sejuta kalimat umpatan ingin dia lontarkan pada wanita ini andai nanti dia terbangun.

__ADS_1


Tidak hanya pergi sendiri, tapi dia juga membawa serta buah cinta mereka dan hal itu yang semakin membuat Lucas seolah hilang akal sehat. Dia menghela napas panjang seraya mengusap lembut perut Zora, Bisa-bisanya dia pergi tanpa membawa apapun.


Tidak sabar jika harus menunggu dia terbangun, Lucas mengusap pelan wajah dengan harapan wanita itu akan terjaga. Hal itu tidak mempan tentu saja, dia mengambil posisi dan membangunkan Zora dengan cara yang sedikit berbeda.


Sesuai dugaan, cara ini lebih baik untuk membangunkan seseorang. Tanpa perlu bersuara dan mengeluarkan tenaga, Zora perlahan terjaga kala merasakan napasnya kian sesak. Lucas menyerangnya tanpa ampun, hingga pukulan di dada mulai terasa barulah pria itu melepaskan ciumannya.


"Hai, kau bangun juga akhirnya," sapa Lucas seraya tersenyum tipis dan mengusap pelan bibir Zora yang basah akibat ulahnya.


Antara sadar dan tidak, Zora masih terbang di awang-awang dan merasa terjebak dalam mimpi. Mimpi buruk dicium Julian yang membuatnya sesak napas itu akhirnya berakhir jua, lantas apa ini mimpi lagi? Andai benar akan lebih baik dia mimpi selamanya.


"Kau kenapa? Apa ada yang sakit?"


Sadar jika Zora justru mematung pasca mendapat kecupan darinya, Lucas menepuk pelan wajah cantik itu. Mata Zora seolah kosong, dia menatap ke arahnya, tapi mata itu seolah tidak mengenali dirinya.


Jelas saja pria itu tersenyum simpul mendengar ucapan Zora, entah apa maksudnya, tapi jemari lentik Zora yang mencoba menggapai wajah Lucas seolah menegaskan jika dia benar-benar merindukan Lucas juga.


"Kau tidak bermimpi, aku di sini, Zora sadarlah."


Antara kasihan dan bahagia, Lucas menarik tangan Zora untuk menyentuh wajahnya. Meyakinkan jika dia benar-benar ada dan nyata, tidak seperti dugaan Zora yang sebatas mimpi belaka.


Zora mengerjap pelan, dia menatap lekat wajah tampan Lucas yang benar-benar dia gapai pagi ini. Ya Tuhan, dia tidak sedang bermimpi dan secepat itu Zora memerah dengan mata yang kini membasah.

__ADS_1


Begitu cepat dia bangkit dan duduk di hadapan Lucas, bibirnya yang pucat tampak berusaha hendak mengutarakan sesuatu. Matanya terus tertuju pada Lucas sebelum kemudian tangis itu pecah pada akhirnya.


Kali pertama Zora menghambur ke pelukan Lucas tanpa aba-aba. Dia masih digenggam ketakutan, tubuhnya masih bergetar dan hanya berani memeluk Lucas untuk beberapa waktu saja.


"Lucas ... kenapa kau di sini? Ayahmu akan marah, jangan membuat masalah." Dia berucap lirih, setakut itu Zora jika kejadian enam bulan lalu kembali terjadi, sungguh.


"Aku ingin bersamamu, kenapa kau memintaku pergi, Zora?"


"Kau gila? Apa tidak belajar dari pengalaman, Lucas? Kau lupa siapa ayahmu, aku saja bisa tertangkap meski sudah pergi sejauh mungkin!! Sana pergi, aku tidak mau kejadian itu terulang lagi."


"Polos sekali, bisa-bisanya kau pergi sementara pikiranmu masih sesempit ini," ungkap Lucas dalam hati kemudian tertawa hambar, mungkin ketakutan dalam diri Zora sebesar itu hingga dia tidak dapat berpikir jernih.


"Aku serius, Lucas ... kau tahu? Aku sudah pergi sejauh mungkin dan ayahmu bisa menemukanku!! Itu artinya dia tidak main-main, dan bisa jadi dia akan membunuhmu nanti."


"Jika demi dirimu aku tidak masalah walau harus mati, Zora." Ketakutan Zora justru dia jadikan senjata untuk memastikan bagaimana perasaan Zora padanya.


"Aku yang tidak mau."


"Kenapa? Apa kau takut kehilanganku?" tanya Lucas tersenyum tipis, santai sekali dia bicara seolah tidak ada yang akan menjadi masalah. Padahal, wajah Zora sudah pucat pasi memastikan pintu kamar yang masih tertutup rapat.


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2