
"Tidak perlu dijawab jika keberatan ... aku hargai privasimu."
Tanpa perlu Zora jelaskan, tatapannya memperlihatkan jika dia sedikit keberatan dengan pertanyaan yang Fabian lontarkan, untuk itu dia tidak ingin mengulik lebih dalam kehidupan wanita ini. Niatnya hanya membantu, dia ingin melindungi wanita itu karena memang terlihat bingung dalam menjalani hidupnya.
"Bukan keberatan, tapi memang aku tidak punya apapun untuk diperlihatkan padamu ... nanti ya, kalau hubungan kami sudah membaik," ucap Zora tersenyum getir, hubungan dengan siapa yang dia harapkan baik-baik saat ini.
Dirinya sudah membuat kesalahan besar, dan melarikan diri adalah jalan keluar yang cukup beresiko. Sudah telanjur jauh, sebelum dia mendapatkan identitas baru maka lebih baik dia tidak banyak bicara dulu untuk saat ini.
"Aku menunggu saat itu ... akan aku buat dia menyesal karena telah membuatmu tertekan, tindakannya sungguh tidak berperikeibuan," ucap Fabian mengusap wajahnya kasar, bingung juga kenapa masih ada seorang pria yang bisa bersikap kasar hingga menekan mental seorang wanita, terlebih lagi sudah menjadi sosok istri.
Tidak ada jawaban dari Zora, dia hanya tersenyum tipis mendengar celotehan Fabian. Entah tengah menghibur atau memang begitu maksud dia bicara, yang jelas Zora merasa terhibur malam ini.
"Apa dia sebelumnya selalu kasar padamu?"
"Tidak juga, aku yang membuat kesalahan sampai akhirnya dia marah ... kehamilanku membawa bencana, dan aku pergi hanya demi bayi ini," tutur Zora mengatupkan bibirnya, perlahan dia seolah membuka tabir dibalik kesedihan yang kini dia rasakan.
"Woah benar-benar tidak sehat suamimu itu, apa dia gila? Bukankah bayi itu adalah hasil kerja sama kalian? Kenapa dia justru membencinya ketika sudah hadir dalam kandungan?"
__ADS_1
Fabian sungguh tidak habis pikir, dia yang dibesarkan dari keluarga yang begitu hangat jelas saja terkejut. Bingung saja, ternyata rumah tangga yang semenyedihkan itu benar-benar nyata adanya.
"Dia tidak gila, ketika aku hamil dia sangat bahagia," timpal Zora cepat, hatinya sedikit tidak terima kala Fabian mengutuk ayah dari bayi itu, yaitu Lucas.
"Hah? Kenapa jadi berubah lagi? Jika dia bahagia kau hamil, lalu kenapa sampai lari karena takut padanya? Jadi yang gila siapa sebenarnya?" Fabian mengerutkan dahi, demi apapun dia benar-benar merasa aneh dengan kasus semacam ini.
"Rumit memang, kepalamu akan sakit jika kujelaskan ... ada baiknya aku tidur saja, selamat malam, Bian."
Zora tidak siap untuk mengutarakan faktanya, akan seburuk apa dia di mata Fabian antar mengungkapkan jika bayi dalam kandungannya adalah benih dari putra tirinya.
"Huft kenapa dia jadi begitu? Apa aku yang salah bicara?"
Melihat reaksi Zora, pria itu tiba-tiba merasa bersalah dan kini mengatupkan bibirnya. Dia lupa jika yang dia ajak bukanlah wanita biasa, tapi wanita hamil dan tentu saja lebih sensitif dari biasanya.
.
.
__ADS_1
"Jadi yang gila siapa sebenarnya?"
Pertanyaan Fabian masih begitu membekas kala Zora masuk ke dalam kamarnya. Sempat pamit istirahat, nyatanya tiba di kamar dia kembali merenung. Satu bulan berlalu, dia berusaha untuk hidup tanpa memikirkan kedua pria itu.
Kendati demikian, tetap saja setiap kali dia menyentuh perut rata itu bayangan senyum kebahagiaan Lucas kala mendengar kabar terkait kehamilannya kembali terngiang dalam ingatat Zora.
Sedang apa dirinya? Apa dia makan dengan baik? Apa tidurnya nyenyak? Beberapa pertanyaan semacam itu selalu menghiasi hari-hari Zora. Dia tersenyum miris, hanya karena kehadirannya seorang pria yang kekurangan kasih sayang dia buat hancur lebur, Zora menyesal kenapa tidak tegas menolak Lucas kala itu.
"Aku yang gila, Fabian ... semua hancur karena aku, aku bahkan menciptakan dunia penuh luka untuk anak ini." Dia berucap seraya menatap nanar ke langit kelam, biasanya Lucas kerap menghabiskan waktu di balkon kamar untuk mengikis kesendirian, mungkin kali ini juga sama.
"Lupakan, Zora ... masih banyak yang perlu kau lakukan esok hari," ucapnya kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1