My Lovely Busybody Girl

My Lovely Busybody Girl
10 - Tanggung Jawab


__ADS_3

Shaila berlari keluar dari kelasnya, menyenggol beberapa temannya di lorong sekolah. Karna ceramah dadakan dari guru Fisika nya membaut Shaila telat tujuh menit untuk menjemput Arka.


Saat istirahat tadi dia sudah berbicara dengan Rasyudin tentang dirinya yang akan mencoba kembali menjadi penanggung jawab hukuman Arka dan tentu saja Rasyudin senang mendengarnya.


Rasyudin memang sudah tak tahu lagi harus melakukan apa pada lelaki itu, Gito sudah memberinya wewenang untuk memberinya hukuman asal tidak dengan cara menskors dirinya karna hal itu hanya akan membuat Arka menimbulkan masalah lain di luar sekolah.


Untuk kedua kalinya Shaila mendapatkan kepercayaan dari guru BK panutannya, dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk ‘menjinakkan’ Arka.


Shaila sudah akan masuk ke dalam kelas Arka saat ujung matanya menangkap sosok lelaki jangkung itu yang sedang menuju area parkiran. Dengan cepat Shaila berlari menuju tangga. Dia sudah bersumpah akan berusaha merubah Arka dan dia serius akan hal itu, maka dari itu dia tak akan membiarkan Arka lolos begitu saja.


Shaila sudah berhasil berada di loby sekolahnya dan mendapati motor Arka yang sudah akan keluar dari gerbang sekolah. Shaila dengan cepat menghadang motor Arka dan membuat lelaki itu mengerem dengan mendadak.


Arka membuka kaca helmnya. “Lo ngapain sih, ****?! Kalo mau nyari mati jangan di sini, minggir!”


“Kan udah gue bilang nanti gue jemput, kenapa lo malah pergi?”


“Emang lo siapa gue? Udah minggir lo!”


“Gak mau!”


“Minggir apa gue tabrak?” ancam Arka yang sudah siap memegang gas motornya.


Shaila menjadi goyah, tentu saja dia tidak akan senekat itu, Shaila masih ingin hidup dan menurutnya enam belas tahun adalah umur yang masih sangat muda untuk mati. Dengan perlahan Shaila menyingkir dari hadapan Arka.


“Nah, gitu dong.”


Shaila mencebikkan bibirnya. Matanya melihat sebuah mobil yang sedang melaju dengan sangat cepat di depan sana, Arka yang sudah akan menjalankan motornya tanpa melihat ke arah samping kirinya tentu saja tak tahu akan datangnya mobil yang sudah berjarak beberapa meter darinya itu.


Tanpa pikir panjang Shaila melemparkan tubuhnya pada motor Arka dan membuatnya terjatuh setelah mengenai bagian depan dan kaca spion milik Arka, motor Arka pun bisa saja jatuh dan menimpa Shaila jika lelaki itu tidak menahannya dengan kaki panjangnya.


Dengan kesal Arka membuka helmnya dan menatap Shaila yang berada di atas tanah itu dengan kesal. “Lo bener-bener sakit jiwa, yah? Lo bisa aja mati tadi, mikir gak sih lo?!” tanya Arka dengan nada yang tinggi hingga beberapa murid yang lewat berhenti untuk menonton.


“Kalo gue gak ngelakuin itu bisa-bisa lo yang mati, ****!” balas Shaila.


Arka menoleh ke arah kanan dan melihat mobil yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata sudah jauh di depan sana. Arka mendesah, ia turun dari motornya dan berlutut di samping Shaila.


“Lo gak papa? Bisa diri, gak?”


“Kaki gue sih gak papa, tapi kayaknya tangan gue yang kenapa-napa, deh.”


Arka menatap tangan kiri Shaila yang sedang ia topang menggunakan tangan kanannya, lelaki itu lalu menyentuh tangan Shaila dan membuat gadis itu meringis kesakitan, sepertinya tangannya baru saja terkilir.

__ADS_1


“Ayo ke rumah sakit.” Arka menolong tubuh Shaila untuk berdiri, dia lalu berjalan menuju motornya kembali.


“Naik itu?” Shaila menunjuk motor milik Arka.


“Nggak, naek becak, ya iya lah naek ini! Gak usah banyak bacot, naek!”


Shaila menggeleng dengan keras. “Ogah! Mending gue naek taksi atau bis aja daripada naek benda laknat kayak gitu.”


Arka yang sudah memakai helmnya berjalan mendekati Shaila lagi. “Lo dari kemaren kenapa sih? Benda laknat ini yang bakal nyelametin lo dan nganter lo ke rumah sakit. Ayo!” Arka menarik tangan kanan Shaila.


“Ih gak mau!”


Dengan paksa Arka menggendong tubuh Shaila untuk duduk di jok belakang, pemandangan itu disaksikan oleh beberapa murid yang baru saja keluar dari gedung sekolah. Mereka tak menyangka seorang Arka bisa menjadi sosok perhatian seperti itu.


“Arka, gue gak mau, gak ada helmnya.”


Arka memakaikan Shaila helm berwarna merah yang baru saja dia pinjam dari teman sekelasnya yang baru saja keluar dari sekolah. “Gak ada alasan!”


Arka menjalankan motornya keluar area sekolah, di belakangnya Shaila memeluk perutnya dengan erat menggunakan tangan kanannya yang meremas seragam depan Arka sambil menutup rapat kedua matanya. Dapat Arka rasakan di punggungnya detak jantung Shaila berdetak begitu cepat.


Sepuluh menit perjalanan, Arka menghentikan motornya di area parkir sebuah rumah sakit yang terletak tak jauh dari sekolahnya. Shaila turun dari motor Arka dan langsung berjongkok sambil memegangi dadanya.


Arka menghampiri Shaila dan ikut berlutut di sampingnya. “Lo kenapa? Ada yang sakit lagi?”


Sejujurnya, karna beberapa hal membuat Shaila trauma naik motor apalagi kebut-kebutan, itulah kenapa selama ini dia lebih memilih naik taksi atau bis daripada ojek online apalagi membawa mobil sendiri.


Setelah melakukan beberapa pemeriksaan hingga melakukan ronsen pada tangan kirinya, Shaila dan Arka keluar dari ruangan dengan pintu berwarna putih setelah dokter spesialis ortopedi membacakan hasil ronsen milik Shaila


Dokter menyatakan tulang pada tangan kiri Shaila mengalami fracture dan membuatnya harus melakukan beberapa terapi atau rehabilitasi selama beberapa minggu -bahkan beberapa bulan ke depan. Bagian mengagetkannya adalah Shaila tidak bisa lagi bermain voli karna dapat mengganggu proses penyembuhan pada tulangnya.


Arka berjalan di samping Shaila dengan pelan dan tanpa suara, dia jadi merasa  bersalah karnanya.


“Lo... gak papa?”


Shaila menoleh dan tersenyum simpul. “Kalo gue bilang gak papa, lo percaya gak?”


Arka mengedikkan bahunya.


“Ya seenggaknya gue punya alasan buat berhenti main voli.”


Arka menoleh dengan cepat, berhenti bermain voli? “Kenapa berhenti? Bukannya lo suka sama olahraga itu?”

__ADS_1


Shaila berhenti di depan loby rumah sakit. “Suka sih, tapi rasa suka gue terhadap voli terbentuk karna paksaan ortu gue, bukan karna gue emang suka olahraga itu dari awal. Dan selama ini gue selalu nyari alasan yang tepat buat berhenti dari olahraga itu.”


Shaila menoleh dan tersenyum kepada Arka. “Bokap nyokap gue mantan atlit, kakak gue juga atlit, tunggu... pembalap masuk kategori atlit gak, sih?” tanya Shaila lebih pada dirinya sendiri, dia lalu mengangkat kedua bahunya. “Tau lah, pokoknya keluarga gue itu keluarga atlit.”


“Katanya lo udah gak punya keluarga.” Arka mengingat perkataan Shaila saat sang dokter meminta gadis itu memanggil walinya.


Hening sesaat, Shaila seperti sedang merangkai kata-kata untuk menjawab Arka. “Sekarang emang gak punya... keluarga gue udah meninggal.”


Tentu saja hal itu langsung membuat Arka jadi menyesal telah mengatakan hal seperti itu, seharusnya dia bisa peka pada keadaan ini. Dia jadi teringat akan pertemuannya dengan Shaila beberapa hari lalu di pemakaman.


Shaila menoleh ke arah Arka dan tersenyum dengan lebar. “Ngomong-ngomong, gue gak nyangka loh orang kayak lo bawa motornya taat rambu lalu lintas gitu. Berhenti pas lampu merah padahal jalanan lagi sepi sampe diklaksonin gitu, dan kecepatan motor lo juga masih di batas normal.”


Arka mendengus. “Lo pikir gue tipe orang yang bakal bawa motor ugal-ugalan di jalan?”


Shaila mengangkat kedua bahunya. “Dengan motor lo yang kayak gitu, iya. Apalagi seorang Arka yang suka buat keributan, jadi wajar lah kalo lo juga suka buat keributan di jalan.”


“Kebut-kebutan di jalan itu cuma buat orang-orang **** aja, dan gue terlalu pinter buat masuk ke golongan itu.”


Shaila tertawa mendengar ucapan Arka, dia lalu memukul lengan Arka dengan tangan kanannya. “Tumben lempeng otak lo. Buat kali ini gue setuju sama lo.”


Arka bingung, kenapa gadis itu masih bisa tertawa seperti itu di saat dia baru saja kehilangan sesuatu yang sudah mulai ia sukai. Lagi-lagi Arka merasa bersalah dan berhutang budi, dan dia sangat membenci jika dia harus berhutang budi pada orang lain.


“Gue bakal tanggung jawab sama lo.”


Shaila membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Arka yang tiba-tiba. “A –apaan? Tanggung jawab apaan? Lo gak ngapa-ngapain gue, kan!” Shaila melangkah mundur dari Arka dan menutupi dadanya dengan tangan kanannya.


Arka menjitak kepala Shaila dengan tangannya. “Lo mikir apaan sih? Maksud gue, gue bakal tanggung jawab sama lo karna tangan lo begitu gara-gara gue, jangan mikir yang enggak-enggak!”


Shaila tertawa canggung, dia merasa malu sudah memikirkan hal yang tidak-tidak. “Oh itu! Ya iya lah, udah pasti lo harus tanggung jawab sama tangan gue masa mau kabur gitu aja.”


“Gue tanggung jawab karna gue gak suka hutang budi sama orang lain bukan karna yang lainnya, jadi jangan ge-er. Dan gue juga cuma tanggung jawab sampe tangan lo sembuh aja, inget tuh.”


“Iya,, iya. Seenggaknya lo mau tanggung jawab juga gue udah seneng kok. Berarti mulai besok lo harus dengan sukarela dateng ke perpus! Gak ada bantahan, gak ada alesan, gue gak mau lo kabur gitu aja kayak tadi!”


“Iya, bawel! Udah ayo balik, gue anter lo.”


Shaila terlihat sanksi mendengar ajakan Arka, tadi saja jantungnya terasa sudah akan melompat keluar walaupun Arka membawa motornya dengan kecepatan normal. Namun jika dia terus menghindari hal ini, dia tak tahu akan sampai kapan dia terus bersembunyi di balik traumanya itu.


Dengan ragu Shaila mengangguk dan mengikuti Arka yang berjalan menuju parkiran motor. Setidaknya Shaila akan mempercayai Arka kali ini saja.


*****

__ADS_1


TBC


__ADS_2