
Suasana kantin itu sangat lah ramai, berpuluh-puluh murid yang sedang berwara-wiri di sekitar kantin berukuran besar itu membuat keadaan semakin terlihat ramai. Di meja paling pojok yang terletak jauh dari pintu masuk, terlihat tiga orang lelaki bersama dua orang perempuan sedang berbincang ringan.
Sudah seminggu lebih sejak kejadian langka Arka menyuapi Shaila, berita tersebut sempat menjadi berita panas dan bahkan menjadi perdebatan di homepage sekolah mereka untuk beberapa saat.
Untungnya, Arka dan teman-temannya tidak pernah membuka situs itu sehingga dia tak perlu memusingkan tanggapan orang lain, walaupun dia memang sering mendengar tentang berita yang sering mengada-ada yang diposting oleh para murid yang syok dengan kejadian itu namun dia tak pernah serius menanggapinya.
Selama itu pula Shaila dan Mela selalu menghabiskan waktu istirahat mereka dengan Arka, Reyhan dan Zaki yang sudah selesai dengan hukuman mereka pun selalu ikut meramaikan suasana dengan candaan mereka, seperti saat ini.
“Anjir yah, masa gue kan kemaren pergi ke Indoapril trus kayak biasa tuh mbak-mbaknya ngucapin selamat malem, pas gue mau bayar malah ditawarin beli pulsa, yah gue bilang aja kalo mau nomor gue minta langsung aja jangan pake modus segala, eh gue malah diusir trus di-banned gitu buat dateng ke sana. Kan sialan.”
Empat orang yang mendengar ocehan Zaki tergelak dengan kelakuan lelaki manis tersebut. “Anjir gak kuat gue, perut gue keram ketawa mulu,” ucap Shaila sambil memegangi perutnya.
“Kak Zaki mah emang jagonya bikin orang sakit perut,”
“Ya iya lah, cuma liat muka Kak Zaki aja udah bikin perut," timpal Shaila. “Untung Kak Reyhan masih waras yah,” Shaila menatap Reyhan yang saat ini sedang berusaha mengorek es batu dari botol minumnya dengan telunjuknya. “Sedikit,” ralat Shaila.
Arka menatap Shaila dengan alis bertaut, detik selanjutnya dia mendesis dan memajukan tubuhnya hingga kedua tangannya bertopang di atas meja. “Bentar deh, gue baru engeh loh kalo lo manggil Reyhan sama Zaki itu pake embel-embel ‘Kak’, tapi kok lo manggil gue cuma pake nama, yah?”
Senyum di wajah Shaila mendadak hilang, dia meneguk air ludahnya.
“Lo kelas berapa, sih?”
Shaila membatu, dia lalu tertawa awkward sambil melirik jam tangan yang kini melingkar di tangan kanannya. “Mel, kayaknya udah mau masuk deh, yuk balik.” Shaila bangkit dan mendorong paksa tubuh Mela. “Kita balik duluan yah, bye.”
Arka mendengus melihat tingkah aneh Shaila, begitu pun dengan Zaki yang tak mengerti apa yang sedang terjadi, sedangkan Reyhan yang sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan Arka hanya tersenyum geli, ternyata sahabatnya itu selama ini masih belum tahu asal-usul gadis itu.
Dari luar kantin, Rasyudin menatap Arka dan kedua temannya dengan senyum simpul. Memang ketiga orang itu masih suka membuat keributan di kelas ataupun kantin, namun dia bisa merasakan kalau Arka perlahan menjadi sosok yang lebih mudah didekati, terlebih lagi ketiga orang itu sudah tidak pernah merokok di kantin sejak Shaila dan Mela bergabung bersama mereka. Sepertinya gadis itu sudah mulai menunjukan apa yang dia bisa.
*****
Arka melangkahkan kakinya dengan ringan menuju perpustakaan, menyapa dan sesekali menyalami teman-temannya yang berpapasan dengannya. Bel pulang sekolah memang sudah berdering sejak lima belas menit yang lalu, namun lelaki itu baru keluar dari kelasnya setelah dia menyempatkan diri untuk bermain game bersama kedua sahabatnya.
__ADS_1
Arka bukannya mengabaikan tugasnya, dia bahkan sudah mengabari Shaila melalui Line, walaupun dia memakai alasan yang tidak benar. Yup, Arka dan Shaila saat ini menjadi jauh lebih dekat daripada saat pertama mereka bertemu, walaupun mereka sesekali masih berkelahi karna masalah sepele.
Arka menghentikan langkahnya di ambang pintu perpustakaan saat melihat Aldo, adik kelas sekaligus yang sering dibilang sebagai penerusnya sedang berbicara dengan Shaila. Arka menyenderkan tubuhnya di pintu dan menatap interaksi kedua orang itu.
Shaila yang tidak tahu sedang diperhatikan memberikan senyum manisnya kepada Aldo dan sesaat kemudian dia menghilang di balik rak buku di belakangnya. Aldo menatap sepatunya yang berwarna putih, lelaki berlesung pipi itu tersenyum simpul.
“Ehem." Arka berdehem dan membuat Aldo menoleh.
“Eh, Kak.” Aldo dan Arka melakukan gerakan aneh dengan saling meninju kepalan tangan mereka yang mereka sebut dengan ‘cara bersalaman cowok’.
“Lo ngapain di sini? Lo kenal sama dia?” Arka mengedikan dagunya ke arah Shaila pergi tadi.
“Iya kenal, Kak. Dia temen sekelas gue,”
Arka mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, detik selanjutnya lelaki itu tersenyum geli. “Temen sekelas lo? Kelas dua, maksud lo?”
“Iya lah, Kak. Emang sejak kapan gue tinggal kelas?”
Arka menganggukan kepalanya, dia lalu untuk kedua kalinya tersenyum geli. Shaila yang adalah adik kelasnya? Bagaimana bisa Arka tak menyadari hal itu? Sekarang lelaki itu merasa dibohongi.
Aldo mengambil buku yang Shaila sodorkan. “Thanks, yah. Besok gue balikin kok." Aldo menoleh pada Arka yang masih menatap Shaila. “Kak, gue duluan yah.” Aldo menepuk pundak Arka dan berlalu pergi.
Shaila menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Lo... udah dateng, toh? Lo bisa mulai sekarang aja biar kita bisa cepet pulang, Ka.”
“Kak,” sergah Arka dengan penuh penekanan.
Shaila mengerutkan keningnya. “Maksudnya?”
“Lo adik kelas gue, jadi wajar kan manggil gue kakak?”
Shaila tersedak mendengar perkataan Arka, walaupun dia tidak sedang memakan atau meminum sesuatu, namun dia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokkannya.
__ADS_1
Arka menepuk punggung Shaila dengan kasar hingga gadis itu terbatuk-batuk. “Kenapa, Dek? Keselek gitu,”
Shaila menepis tangan Arka. “B –biar gue bantu, biar cepet pulang.” Shaila berjalan ke arah meja berbahan stainless steel beroda yang di atasnya terdapat tumpukan buku, dia lalu mendorongnya menggunakan tangan kanannya menjauhi Arka.
Tentu saja Arka tidak bisa begitu saja melepaskan Shaila, dia mengikuti Shaila dengan tangan masih bersidekap di depan dada. “Jadi selama ini gue disuruh begini-begitu sama adek kelas, toh. Oh, harga diri gue.”
Shaila tak menghiraukan ucapan Arka yang dibuat sangat dramatis itu. Mati gue! pikirnya.
“Kok lo bisa sih nyuruh kakak kelas gampang banget gitu? Gak ada perasaan gak enak atau apa, gitu?” Arka masih berceloteh.
Shaila lama-lama merasa risih oleh lelaki itu yang masih mengikutinya sambil memberikan ceramah tentang bagaimana seharusnya seorang junior berlaku di depan senior mereka. Shaila lalu berhenti, dia berbalik dan mendapati Arka sudah menatapnya dengan kedua alis terangkat seakan sedang bertanya.
“Arka, lo tuh yah—“
“Kakak,” ucap Arka penuh dengan penekanan. “Lo gak pernah manggil gue Kakak sekalipun deh kayaknya, padahal lo manggil Reyhan sama Zaki tuh pake embel-embel itu.”
“Karna emang lo gak pantes gue panggil Kakak! Lagian gue pernah kok manggil lo Kakak waktu pertama kali ketemu.”
Arka seakan menerawang. “Kapan, yah? Perasaan dari pertama kali ketemu lo selalu manggil gue Arka-Arka aja deh.”
“Gue manggil lo Kakak!”
“Lo manggil gue Arka, bukan Kakak.”
Shaila mendengus, lagi-lagi mereka bertengkar karna masalah tak jelas. “Lo bisa bedain cara pengucapan ‘Ka’ di Arka sama ‘Kak’ di Kakak gak, sih? **** banget jadi cowok."
Arka kaget mendengar ucapan berani Shaila. “Bodo amat, sekarang gue pengen lo panggil gue Kakak, jangan nama gue aja!”
Shaila mendorong meja yang sedari tadi ia genggam. “If you are that desperately want to be called as Kakak, then act like one!” seru Shaila seraya mendorong meja itu sampai mengenai tubuh Arka. “Ini tugas lo jadi lo yang kerjain.”
Arka mengerjapkan matanya beberapa kali, dia menoleh menatap Shaila yang berjalan meniinggalkannya. Kenapa gadis itu tiba-tiba menjadi sensitif seperti ini? Padahal sangat jelas terlihat kalau Arka sedang bercanda. Arka mengedikkan bahunya. Lagi PMS kali, pikirnya.
__ADS_1
*****
TBC