
Seorang lelaki merebahkan tubuh kekarnya pada rerumputan di bawahnya, keringat di wajahnya bercampur menjadi satu dengan darah segar yang keluar dari sudut bibirnya. Dadanya naik turun dengan tak beraturan, seragamnya pun sudah berubah warna menjadi kecoklatan.
Arka bangkit dan duduk bersila saat dia sudah bisa mengatur napasnya, ditolehkan kepalanya mengitari sekelilingnya yang sudah seperti habis menjadi medan perang dengan para musuh yang sudah tumbang. Arka merogoh saku celananya untuk mencari benda pipih miliknya, namun dia hanya menangkap angin dari saku kosong itu, dia lalu menyenggol paha Reyhan yang terbaring di sampingnya.
“Rey, lo liat hp gue, gak?” tanya Arka.
“Mana gue tau, hp juga hp lo masa nanya ke gue. Tanya Zaki coba,” jawab Reyhan dengan napas yang masih tersengal.
Arka menendang tubuh Zaki yang terbaring di depannya dengan posisi menyamping, “Zak, woy, Zak, liat hp gue, gak?”
“Lah, lo berantem bawa hp?” Zaki bertanya balik.
Arka menyesal telah bertanya pada Zaki, namun apa yang dikatakan Zaki memang ada benarnya juga. Biasanya mereka akan meninggalkan ponsel mereka di dalam tas saat berkelahi, apalagi seorang Arka yang sangat tidakp eduli dengan ponselnya selain untuk bermain game.
Dengan santai Arka menelusuri setiap sudut lapangan luas itu dengan mata tajamnya, banyaknya orang yang terbaring lemas di sana membuat Arka kesulitan mencari benda berwarna hitam tersebut sampai akhirnya dia menemukannya tergeletak di samping teman yang terbaring di sebelahnya.
Arka mengambil ponselnya dan membukanya, dia terbelalak saat mengetahui ada empat puluh lima panggilan tak terjawab dan dua puluh pesan yang ia terima, dan semua itu dari Shaila.
“Anjir udah jam setengah lima,” Arka bangun dan menendang Reyhan dan Zaki pelan dengan kakinya. “Gue duluan.”
“Lo mau kemana?”
“Lo gak mau ngerayain kemenangan kita? Arka! Woy, Arka!”
Tak dihiraukannya semua panggilan dari teman-temannya, yang ia butuhkan adalah sampai di sekolah tepat waktu. Pesan terakhir yang ia terima dari Shaila adalah tujuh menit yang lalu, gadis itu mengatakan akan menunggu sampai dia datang, dan Arka tahu kalau Shaila orang yang cukup gila untuk memegang omongannya.
Walaupun terburu-buru, Arka tetap mengendarai motor sport-nya dengan kecepatan normal, dia juga mematuhi setiap rambu yang ada walaupun berkali-kali dia menerima klaksonan dan makian dari mobil di belakangnya.
Tak butuh waktu lama bagi Arka untuk sampai di sekolahnya, jarak lapangan tempatnya berkelahi dengan sekolah lawan memang tidak begitu jauh dari sekolahnya dan itu menguntungkan dirinya untuk cepat sampai.
Arka melihat Rasyudin yang sedang memegang rotan tengah mengobrol dengan satpam sekolah di depan pagar, dia lalu membelokkan motornya menuju area belakang sekolah. Arka memakirkan motornya di depan sebuah warung internet yang terletak tepat di belakang sekolahnya.
“Sore, Be,” sapa Arka pada seorang lelaki paruh baya yang memakai kopiah dan sarung duduk di depan teras warnet.
“Muka lo ngapa tuh, Ka?” Tanya lelaki yang biasa dipanggil ‘Babe’ itu.
Arka meringis. “Biasalah ,Be, anak cowok,” Arka mengambil sebuah tangga yang berada di samping warnet, dia lalu menyandarkan tangga itu pada tembok tinggi di depannya. “Be, nitip motor bentaran yah.”
Arka menaiki tangga untuk sampai ke atas tembok yang berukuran lebih dari dua meter tersebut, saat sudah berada di atas tembok, Arka melompat dan mendarat di atas rerumputan. Arka sekarang sudah berada di gedung belakang sekolahnya.
Posisi perpustakaan dari tempat Arka berada sekarang sangat lah dekat, dia hanya tinggal berjalan beberapa langkah saja untuk sampai di ruangan yang sudah sepi itu. Arka menjulurkan kepalanya dan melihat Shaila yang masih duduk di depan komputer.
“Lo seriusan belom pulang?”
Shaila melonjak kaget saat tiba-tiba ada yang berbicara, dia menghela napas kasar dan menoleh. “Lo tuh kema—“ ucapan Shaila menggantung saat melihat wajah Arka, dia berdiri dengan panik. “Muka lo kenapa?”
“Biasa lah, lelaki jantan,” jawab Arka tak acuh sambil duduk di atas kursi yang berada di dekatnya.
“Pasti berantem lo, yah?” Shaila mendekat kepada Arka, gadis itu mengangkat dagu Arka hingga wajahnya terangkat dan membalikkan wajah Arka ke kanan dan ke kiri. “Muka lo jadi tambah gak jelas gini.”
__ADS_1
“Gue gak pa-pa, kok.”
“Gak pa-pa, pala lo peyang! Tunggu bentar!”
Shaila berjalan menuju sebuah kotak yang terpaku di tembok belakangnya, dia kembali dan membawa kotak P3K. Shaila memberikan kotak P3K pada Arka dengan kasar sebelum dia menyeret sebuah kursi dan meletakkannya ke depan Arka untuk dia duduki.
Arka dapat mencium wangi Shaila dari jarak sedekat ini, wajah Shaila yang sedang serius membasuh lukanya dengan sebuah cotton bud yang sudah ia olesi dengan alkohol itu terlihat begitu menggemaskan.
“Bisa gak sih lo gak berantem mulu? Kayak jagoan aja!” omelan Shaila kembali terdengar.
“Weit, watch your mouth! Ini tuh bukan berantem, tapi bertarung!” selak Arka.
“Apa bedanya coba?”
“Beda lah, berantem itu yah tonjok-tonjokkan karna alasan yang gak jelas, sedangkan bertarung itu tonjok-tonjokkan dengan mempertaruhkan sesuatu yang berharga," ucap Arka bersemangat.
“Mempertaruhkan apaan, coba?”
“Nama baik sekolah, coy.”
“Yang ada nama baik sekolah malah rusak gara-gara kalian!” Shaila menekan cotton bud yang ia pegang pad luka di bawah pelipis Arka.
Arka meringis merasakan perih lukanya yang ditekan Shaila. “Itu kan buat orangtua, mereka cuma mentingin nilai akademik, makanya mereka langsung nge-judge sekolah gak bener kalo ada satu anak aja yang gak bener, pikiran kolot. Tapi kan yang ngejalanin sekolah ini kita bukan mereka, dan hampir semua murid gak terlalu mentingin nilai mereka bagus apa nggak asal udah lulus aja udah Alhamdulillah, yang kita –terutama cowok pentingin itu gengsi sekolah. Kita bakal nganggep sekolah itu keren dan punya reputasi bagus kalo udah bisa naklukin dan disegani sekolah lain.”
“Trus intinya apa? Kalo lo emang udah bisa disegani sama sekolah lain, what’s next?”
“Gak akan ada yang berani macam-macam sama murid sekolah kita, termasuk para ceweknya.”
Arka tersenyum simpul. Yang tadi dia katakan bukanlah seratus persen alasannya yang sesungguhnya. Arka memang ingin seluruh murid di sekolahnya disegani –apalagi para murid perempuan yang selalu diganggu oleh murid sekolah lain, tapi alasan terbesarnya adalah karna dia ingin sekedar melepaskan stresnya.
Melihat Shaila yang kesusahan sedang memotong sebuah plester berwarna bening menjadi beberapa bagian dengan satu tangannya membuat Arka mengingat perkataan Reyhan waktu di panti asuhan. Dia sekarang menjadi penasaran.
“Katanya lo trauma kalo naik motor yah?”
Tangan Shaila berhenti di udara, dia mengangkat kepalanya dan menatap Arka sekilas. “Iya, Kak Reyhan yang ngasih tau yah?”
“Alasannya apa?”
Shaila mengangkat kepalanya dan memfokuskan perhatiannya pada luka Arka. “Gue pernah cerita kan kalo Almarhum kakak gue dulunya pembalap? Dia meninggal pas lagi balapan, lagi kebut-kebutan. And guess what... beberapa jam setelahnya bokap dan nyokap gue juga meninggal karna kecelakaan pas lagi dalam perjalanan mau liat kakak gue di rumah sakit.”
Ekspresi wajah Shaila memang datar dan terkesan tidak memiliki ekspresi sedih atau syok, namun Arka dapat melihat getaran kecil pada tangan Shaila. Pasti berat untuknya menceritakan hal ini pada Arka.
“That’s why, gue agak trauma naik motor dan bawa mobil sendiri. Gue benci sama yang namanya kebut-kebutan, dalam alasan apa pun, dan gue...” Shaila menarik napas panjang. “Benci sama yang namanya pembalap. Dah selesai.” Shaila menatap sebentar luka Arka yang sudah ia tempel dengan plester sebelum akhirnya bangkit dan menuju meja administrasi.
Arka masih terdiam di tempatnya, entah kenapa saat dia mendengar bahwa Shaila membenci pembalap dari mulut gadis itu sendiri, hatinya terasa seperti berdenyut. Arka tak mengerti perasaan yang sedang ia rasakan saat ini.
Shaila berdiri di hadapan Arka. “Ayo balik.”
Arka mengangkat kepalanya dan menatap Shaila bingung. “Kan gue belum ngerapihin buku.”
__ADS_1
“Itu udah gue kerjain.”
Arka berdiri dan mengikut Shaila berjalan keluar setelah mengunci pintu perpustakaan. “Trus ngapain lo manggil gue suruh ke sini?”
“Pengen ngasih pelajaran ke lo aja, kenapa? Gak suka?”
Arka menghentikan langkahnya yang sudah akan berjalan menuju gerbang sekolah, dia melihat Rasyudin masih asyik mengobrol dengan satpam sekolah. Gak ada kerjaan lagi selain ngerumpi apa tuh si Parasut? Pikir Arka.
“Di situ ada si Parasut, La,” ucap Arka pada Shaila yang juga menghentikan langkahnya.
“Trus?”
“Tadi kan gue masuknya dari belakang, dia juga pasti udah tau gue bolos hari ini.”
“Ya salah lo sendiri pake bolos,”
Arka menarik napas panjang. “Gini deh, lo tunggu di halte depan sekolah aja nanti gue ke sana jemput lo. Gue mau ambil motor gue dulu di belakang.”
“Lewat mana?”
“Lewat tempat yang tadi gue lewatin, bentar aja kok.”
Shaila menganggukkan kepalanya. “Ya udah, jangan lama-lama.”
Bukannya berjalan lurus, Shaila justru menolehkan kepalanya ke arah lapangan dimana mantan rekan-rekan voli nya sedang berlatih. Arka tentu saja menangkap air wajah Shaila yang tiba-tiba menjadi muram.
Arka merengkuh kedua bahu Shaila dan membaliknya untuk menghadap depan. Arka menunjuk lurus ke arah gerbang. “Gerbangnya ada di situ, Neng. Inget yah jangan kemana-mana sebelum gue dateng, jangan naek taksi, apalagi ojek online, jangan ladenin cowok-cowok yang ngajak kenalan, jangan ngambil makanan dari orang gak dikenal, jangan—“
Shaila menutup mulut Arka dengan tangan kanannya. “Bawel lo, ah! Gue juga bukannya anak kecil harus diingetin gitu.”
“Bagus kalo gitu, ya udah sana gih ke halte.”
Shaila melambaikan tangan kanannya dan berjalan menuju halte. Arka menatap punggung kecil Shaila yang terus menjauh darinya. Setelah memastikan Shaila sudah tidak menoleh ke belakang dan sekarang sudah berada di luar gerbang sekolah setelah memberi salam pada Rasyudin, Arka lalu membalikkan tubuhnya menuju tempat dimana dia datang tadi.
Arka menaiki tembok tinggi itu dengan bantuan meja yang ia bawa dari depan perpustakaan. Dengan bantuan tangga yang masi,ih berada di tempat ia meletakkannya tadi, Arka sudah berada di depan warnet dan langsung menaiki motornya.
“Be, makasih yah,” ucap Arka pada seorang lelaki tua yang masih setia pada posisinya tadi.
“Yok!” jawab Babe dengan mengangkat tangan kanannya pada Arka yang sudah menjauh dengan motornya.
Arka membelokkan motornya ke arah gerbang depan sekolahnya, dilihatnya Rasyudin yang masih fokus berbincang dengan security, mereka bahkan tak menyadari motor Arka yang melewati mereka begitu saja.
Arka menghentikan motornya tepat di depan Shaila yang duduk di halte yang berjarak beberapa meter dari sekolahnya. Arka menaikkan kaca helmnya dan menatap Shaila yang masih fokus pada ponselnya.
“Neng, ikut abang dangdutan, yuk!” goda Arka.
Beberapa orang di sana kaget namun jantung mereka berdegup kencang saat Arka mengatakan hal itu, seakan lelaki itu mengatakannya pada mereka. Shaila mengangkat kepalanya dan mendengus geli, dia bangkit dan berjalan ke arah Arka.
Arka memberikan helm berwarna merah –yang sekarang sudah seperti milik Shaila- kepada gadis itu. Arka melihat Shaila agak kesusahan memasukkan kepalanya ke dalam helm hanya dengan bantuan satu tangannya langsung membantu gadis itu.
__ADS_1
Mereka yang melihat kejadian romantis itu pasti sudah berpikir kalau Arka dan Shaila adalah sepasang kekasih, ditambah lagi Arka yang terus memegangi tangan kanan Shaila untuk membantunya naik ke atas motor sport besarnya. Mereka terlihat begitu cocok dan serasi satu sama lain.
TBC