My Lovely Busybody Girl

My Lovely Busybody Girl
Shaila Anggun Permata


__ADS_3

Seorang gadis tengah bersusah payah menarik sebuah gerobak ke atas jalanan yang menanjak tajam, di bagian bawah seorang ibu berusia sekitar 50 tahunan mendorong gerobak bakso yang merupakan miliknya.


Sesampainya di atas, gadis muda itu merapikan roknya yang sempat terangkat memperlihatkan setengah pahanya. Dia tersenyum saat ibu yang mendorong gerobak tadi menghampirinya.


"Makasih banyak yah, dek. Ibu gak tau kalo gak ada adek gimana jadinya ibu."


Gadis itu, Shaila, mengibaskan kedua tangannya di depan dadanya. "Gak apa-apa, bu, gak usah sungkan."


"Ngomong-ngomong, apa adek gak telat sekolahnya? Ini udah jam berapa?"


Shaila menatap jam yang melingkar di tangan kirinya lalu membelalakkan kedua matanya. "Udah jam segini. Aku duluan yah, bu. Hati-hati dorong gerobaknya." Shaila pamit dan berlari.


"Sekali lagi makasih yah dek," teriak ibu tua itu.

__ADS_1


Shaila melambaikan tangannya sebagai balasan, dia tak ada waktu untuk membalasnya. Shaila berhenti di trotoar dan mencoba menghentikan taksi saat di sebelahnya ada seorang kakek yang ingin menyebrang.


Dengan menjulurkan tangan kanannya, Shaila mengantar kakek yang ada di sampingnya tadi menyebrang. Sampai di sebrang jalan, kakek tersebut berterima kasih kepada Shaila dan pergi. Gadis itu melihat jam berwarna pink nya lagi, oh tidak, waktunya sudah banyak terbuang. Jika dia tak tiba di sekolah dalam dua puluh menit, bisa dipastikan dia akan berakhir di lapangan berpanas-panasan.


Sebuah taksi berhenti di depannya dan tanpa membuang waktu, Shaila langsung masuk ke dalamnya. "SMA Bumi Putera. Pelan-pelan aja asal cepet nyampe yah, Pak," pinta Shaila.


Rasa cemas masih menghantui Shaila, gadis itu bolak-balik melihat ke arah luar dan jam tangannya, lima menit lagi. Ayolah, dia tak bisa telat karna pelajaran pertama adalah ulangan Fisika. Walaupun Shaila membenci pelajaran itu, namun dia harus mengikuti setiap pelajaran ataupun ulangan agar nilainya di pelajaran itu tak terlalu jelek.


Taksi sampai di depan SMA Bumi Putera. Setelah memberikan selembar uang lima puluh ribuan dan berterima kasih, Shail langsung berlari ke arah gerbang yang hampir ditutup, gadis itu bahkan tak menunggu uang kembalian yang dapat dipakainya untuk membeli empat mangkuk bakso di kantin.


Shaila menghela nafas dan masuk menuju bangkunya. Teman sebangkunya sekaligus sahabatnya sejak SMP bernapas lega melihat Shaila. "Kemana aja sih lo, La? Bikin pendek umur gue deh."


"Sori, biasa ada masalah di jalan," balas Shaila sambil mengeluarkan tempat pensil dari dalam tasnya.

__ADS_1


"Masalah orang lain trus lo ikut campur, kan? Kebiasaan lo."


Shaila hanya mengulurkan lidahnya sebagai balasan. Bu Ratna, guru Fisika Shaila telah datang dengan wajah kakunya membawa tumpukkan kertas kosong di tangannya. Baiklah, sesusah apapun soalnya, Shaila sudah siap.


Mela tak habis pikir dengan sahabatnya satu ini. Dia baik atau bodoh sebenarnya? Selalu saja menolong orang yang bahkan tidak meminta bantuannya. Sebut saja dia dermawan, namun saking dermawannya dia sampai celaka sendiri karna kebaikannya itu.


Pernah suatu hari Shaila menolong sebuah kucing piaraan tetangganya yang masuk ke dalam gorong-gorong, saat dia berhasil mengeluarkan kucing dengan noda hitam dan bau di tubuhnya, justru ponsel keluaran terbarunya jatuh dan tak bisa dipakai. Belum lagi dia terserempet motor saat menyebrangi sekelompok ibu-ibu.


Itu hanya sebagian kejadian yang Shaila alami saat menolong orang, jika Mela menjabarkannya satu persatu, itu sudah cukup untuk diterbitkan sebagai novel non-fiksi pertamanya. Mela hanya berharap semoga sifat sahabatnya ini tidak akan menyebabkan sesuatu yang dapat mencelakainya lebih dari yang terburuk yang pernah ia alami. Semoga saja.


*****


TBC

__ADS_1



__ADS_2