
Kindly reminding: like before you read, don't forget to breathe because this story contains absurd things that will make your heart flusters. Now, let's enjoy the story ^^
***
Reyhan dan Zaki duduk di tempat mereka, bel akan berdering sekitar sepuluh menit lagi dan kelas XII IPA3 sudah penuh oleh para murid. Reyhan dan Zaki menatap kosong sahabatnya yang kini sedang tersenyum tidak jelas sambil menatap ponselnya. Sudah lebih dari lima belas menit Arka bertingkah seperti ABG yang sedang jatuh cinta.
"Lo sakit, Ka?" tanya Zaki membuat Arka mengangkat kepalanya.
Arka menatap Zaki sekilas, senyumnya masih mengembang di wajah tampannya. "Ah? Lo ngomong apaan?"
Reyhan menjulurkan kepalanya untuk melihat ponsel Arka yang duduk di sebelahnya, ternyata Arka sedang chatting dengan Shaila. Reyhan baru pertama kali ini melihat Arka tersenyum seperti itu hanya karna sebuah pesan singkat dari Shaila.
"Lo... jadian sama Shaila, yah?"
Arka menahan tawa mendengar pertanyaan Reyhan. "Nggak, siapa juga yang mau pacaran sama cewek gila."
"Dan lo udah ketularan gila yah senyum-senyum sendiri," seru Zaki.
"Itu lah yang dibilang kalau virus itu nyebar."
"Gue kira lo bakal jadi gay setelah putus dari Alexis," Reyhan menutup mulutnya, dia melirik Arka dengan hati-hati. "Sori."
Arka mendengus. "Ngapain lo minta maaf? Emang mau lebaran?"
Bukannya tidak mengerti kenapa Reyhan meminta maaf padanya, Arka hanya tak ingin meributkan hal kecil seperti itu. Sedangkan Reyhan merasa bersalah karna pada akhirnya telah menyebut nama 'dia'.
"Lo kayaknya semenjak kenal sama Shaila jadi berubah deh, Ka."
"Berubah gimana? Jadi power rangers?"
"Gak gitu juga, ****! Maksud gue gini, selama ini kalo gue gak sengaja nyebut nama 'dia', ekspresi lo tuh pasti berubah jadi gak enak, nah tadi pas gue nyebut tuh nama, lo malah gak ada reaksi sama sekali. Just like... lo udah sepenuhnya lupa sama dia."
Arka hanya tersenyum simpul, dia masih fokus dengan pesan dari Shaila. Gadis itu tiba-tiba mengirim chat padanya yang mengatakan dia ingin makan mi ayam di kantin, tentu saja Arka tak akan melewatkan kesempatan itu untuk menggodanya.
"Lo berdua daritadi ngomongin apaan, sih?" tanya Zaki yang sedaritadi hanya menjadi penonton.
Arka mengangkat kepalanya dan menatap Zaki. "Anak kecil gak boleh tau."
******
Arka menatap Shaila yang sedang tersenyum tidak jelas dari ujung matanya sambil menyeruput habis es cappuccino miliknya. Sejak beberapa menit yang lalu, Shaila sudah senyum seperti ini sambil menatap layar ponselnya, entah apa yang sedang ia lihat di ponsel berwarna rose gold itu.
"Pacarnya Yuni so sweet banget sumpah, gue jadi envy ngeliatin fotonya daritadi," ucap Shaila secara tiba-tiba pada Mela.
Mela memiringkan tubuhnya untuk melihat ponsel Shaila. "Iya yah, nemu dimana sih tuh anak cowok seganteng dan seromantis itu."
Yuni adalah teman SMP Shaila dan Mela, gadis manis keturunan Jawa asli itu mendapatkan pacar tampan yang adalah orang asing. Pacarnya lebih tua lima tahun dan berkebangsaan Prancis itu sangat tampan, dia juga memiliki sifat humble, humoris dan juga sangat romantis, ditambah lagi profesinya yang sudah bisa dibilang sukes di usia muda, hal itu lah yang membuat Shaila dan Mela iri padanya.
"Mana? Coba liat," pinta Zaki sambil mengambil es batu dari gelas kosongnya.
__ADS_1
"Nih," Shaila membalikkan layar ponselnya.
Zaki dan Reyhan melihat foto yang ditunjukkan oleh Shaila, sedangkan Arka hanya mencuri pandang dari tempatnya. "Romantis apaan kayak gitu? Norak!" seru Arka.
Shaila melirik Arka dengan tajam. "Ya iya lah, cowok kayak lo mana ngerti gini-ginian. Nih yah, cewek tuh demen sama cowok yang romantis, jadi nanti pacarannya gak flat gitu-gitu aja!" Shaila kembali menatap layar ponselnya dengan wajah berbinar. "Gue jadi pengen punya pacar kan jadinya."
Arka mendengus, "Ngapain punya pacar kalo kakak kelas rasa pacar aja udah ada."
Mela tersedak baksonya, es batu Zaki yang berada di mulutnya meluncur begitu saja melewati Mela, es teh yang baru saja Reyhan minum menyembur mengenai tukang mi ayam yang mengambil mangkok kosong di sampingnya, sedangkan Shaila hanya menganga menatap Arka tak percaya.
"Kode keras!" seru Reyhan sambil mengelap es teh yang membasahi mulutnya.
"Alus bener, kayak knalpot motor gue." Zaki mengangkat tangan kanannya yang langsung disambar oleh Arka, setelah itu mereka membenturkan dada masing-masing.
"Canda, ntar baper," ucap Arka kemudian.
Telat, kampret! Pikir Shaila.
"Kenapa gak sama Aldo aja? Dia juga ganteng, kok," ucap Mela tiba-tiba.
"Aldo? Aldo Prayoga maksud lo?" tanya Reyhan.
"Iya. Di tugas Fisika kan dia dapet satu kelompok sama Shaila, dan dia juga kayaknya suka sama Shaila jadi ini pasti kesempatan dia banget buat ngedeketin Shaila."
"Apaan sih lo, Mel. Jangan bikin gosip deh!" seru Shaila.
"Gosip dari mana sih, La? Anak-anak kelas juga udah tau kali kalo Aldo suka sama lo dari awal."
"Kalo gue bilang gak boleh, gimana?" tanya Arka dengan wajah dingin.
Aldo tertawa, dia mengira kalau kakak kelas panutannya itu sedang bercanda. Shaila memukul lengan Arka. "Lo mau ngomongin tugas, kan? Di kelas aja yuk, di sini ada setan," ucap Shaila sambil menoleh ke arah Arka saat mengucapkan kalimat terakhir.
"Oh ya udah kalo gitu. Duluan yah, Kak." Aldo melakukan tos dengan Reyhan dan Zaki, dia lalu mengangkat tangannya untuk menyalami Arka karna dia tak sampai jika harus melakukan dengan Arka yang berada di ujung.
Arka menatap Shaila dan Aldo yang semakin menjauh, dia menoleh ke arah Mela yang sudah akan mengikuti Shaila. "Guru Fisika lo siapa?"
*****
Shaila dan Mela membawa mangkok bakso mereka ke arah meja yang kini sudah ditempati oleh dua orang lelaki yang kini sedang bermain game di ponsel mereka sambil sesekali menyenggol satu sama lain, di hadapan mereka terdapat dua gelas yang telah kosong.
Reyhan dan Zaki mengangkat kepala mereka dan melirik Shaila dan juga Mela yang duduk di hadapan mereka dengan sekilas. Shaila menolehkan kepalanya ke sekitar area kantin, namun dia tak menemukan apa yang ia cari.
"Arka mana?" tanya Shaila.
"Dipanggil Ibunya Shinchan tadi,"
"Ibunya Shinchan?" ulang Mela.
"Bu Yulita,"
__ADS_1
Yulita adalah salah satu guru yang mengajar mata pelajaran Fisika di SMA Bumi Putera. Lagi-lagi Arka membuat sebuah nama panggilan yang langsung beken begitu saja untuk perempuan berdarah Batak ini, Ibunya Shinchan. Yulita dipanggil seperti itu karna rambutnya yang berwarna coklat, tebal dan mengembang ke belakang tersebut sangat mirip dengan karakter kartun satu itu.
"Kenapa? Masalah lagi, yah?" tanya Shaila berlagak tidak peduli sambil menyuap baksonya.
"Arka tanpa masalah itu bukan Arka namanya. Tadi pagi pas jam pertama kan pelajaran Ibunya Shinchan, nah dia kaget pas mau ngajar tapi papan tulisnya ilang," jelas Zaki dengan mata tetap fokus pada ponselnya.
"Kemana?"
"Dibawa sama Arka ke gudang lantai satu,"
Shaila dan Mela melongo mendengarnya. "Papan tulis? Papan tulis segede itu?" tanya Mela.
"Yoi,"
"Gimana cara bawanya, coba?"
"Kalo Arka mah, jangankan papan tulis yang nempel di dinding, gedung sekolah yang nempel di tanah aja bisa dia pindahin kalo dia mau."
Tentu saja Shaila dan Mela tak menanggapi omongan garing Zaki, mereka hanya tak habis pikir kalau kakak kelasnya itu bisa nekat memindahkan sebuah papan tulis besar dari lantai tiga ke lantai satu, mereka bahkan tak mau lagi memikirkan bagaimana caranya. Arka memang ajaib.
"Kok dia bisa ngelakuin itu sih? Lagi dateng jailnya apa gimana?"
"Lo tanya aja sama orangnya sendiri," Reyhan menolehkan kepalanya sedikit, menunjuk Arka yang baru saja memasuki area kantin.
Shaila mengikuti setiap gerakan Arka, mulai dari melangkahkan kakinya memasuki kantin, mengibaskan seragamnya ke atas dan ke bawah, saat Arka mengambil minuman dingin dari kulkas dan membayarnya, hingga lelaki jangkung itu duduk di hadapannya, Shaila tak memutuskan pandangannya.
"Haus, bro?" tanya Reyhan pada Arka yang sedang menghabiskan minuman dingin yang ia bawa dalam sekali teguk.
"Panas, *****. Gila tuh orang ngehukum gak kira-kira."
"Lagian lo salah sendiri gak ada kerjaan mindahin papan tulis ke bawah, kurang kerjaan banget," seru Shaila sambil mendecakkan lidahnya.
"Dia yang nyari masalah sama gue duluan!" selak Arka tak terima.
"Apa? Apa masalahnya?"
Arka memajukan tubuhnya ke arah Shaila yang sontak gadis itu juga memajukan tubuhnya. "Kepo!" teriak Arka di kuping Shaila.
Shaila memundurkan tubuhnya dan menatap Arka dengan tajam. "Ih, resek! Pengeng kuping gue!"
Arka hanya tertawa melihat Shaila yang meniupkan udara ke kupingnya melalui sebuah lingkaran yang ia buat menggunakan tangannya, lelaki itu lalu menjulurkan lidahnya. "Lagian kepo lo. Jangan kepo-kepo jadi orang, apalagi sama cowok. Kepo itu bikin penasaran, penasaran bikin kepikiran, kepikiran bikin perhatian, perhatian trus dibikin baper aja, udah, tamat riwayat lo. Ntar kalo suka sama gue kan berabe di lo nya."
Shaila melempar Arka dengan kotak tisu di depannya. "Pede banget lo, onta!"
"Onta ganteng yah?"
"Najis, tau gak?!
Arka terkekeh melihat wajah kesal Shaila, dia sangat senang melihat ekspresi yang menurutnya sangat cocok pada Shaila. Entahlah, Arka pikir saat Shaila merajuk, Shaila terlihat... cantik.
__ADS_1
*****
TBC