My Lovely Busybody Girl

My Lovely Busybody Girl
19 - Modus Arka


__ADS_3

Kindly reminding: vote before you read, don't forget to breathe because this story contains absurd things that will make your heart flusters. Now, let's enjoy the story ^^


*****


Arka terbaring di atas sofanya, jari tangannya terus menari di atas layar ponsel pipihnya. Di sampingnya ada Reyhan dan Zaki yang masih sibuk dengan stick PS di tangan mereka, larut dalam pertandingan bola sengit hingga tak ayal kata-kata umpatan pun sering terucap.


“Wanjir, hampir aja!” keluh Reyhan yang tak berhasil mencetak gol pada gawang Zaki.


“Ye off-side tuh, gimana sih nih wasitnya? Off-side tuh, Sit! Wah parah, pasti wasitnya gak sekolah di jurusan IPA nih makanya gak ngerti sudut-sudut,” omel Zaki yang semakin tak masuk akal.


Reyhan menendang Zaki dengan kaki kanannya hingga lelaki itu terjungkal. “Gak ada hubungannya, ****!”


Arka tak menghiraukan kebisingan yang terjadi di dalam apartemennya, entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang kurang. “Kosong, bro,” lirih Arka.


Zaki memiringkan kepalanya ke arah Arka, namun dia tak menoleh. “Gimana kosong, sih? 3-2 tuh,” ucap Zaki sambil menunjuk sebuah skor yang berada di tengah layar televisi.


Arka lagi-lagi tak menghiraukan ucapan tak jelas sahabatnya itu, keningnya mengernit saat menemukan chat room dengan Shaila di salah satu aplikasi chatting miliknya. Senyum Arka mengembang saat sesuatu melintas di pikirannya.


Arka PA: Woy, kayaknya pulpen gue ketinggalan di perpus deh kemaren.


Tak butuh waktu lama bagi Arka untuk mendapatkan balasan dari Shaila.


Pasien RSJ: Kok bisa? Kemaren kan lo gak ngeluarin apa-apa.


Arka mendengus, memang dia kemarin tidak mengeluarkan apa pun dari dalam tasnya.


Arka PA: Ya gak tau gue juga, pulpen gue pada gak ada di tas.


Besok ada ulangannya si Ibu nya Dora pula, mati lah gue gak punya pulpen.


Pasien RSJ: Tinggal beli di warung atau koperasi sih, ribet banget idup lo kayak pengungsi.


Arka terkekeh melihat balasan Shaila, di pesan seperti ini saja gadis itu masih berani mengatai dirinya. Reyhan sedikit menoleh dan kebingungan dengan Arka yang tertawa sendiri.


Arka PA: Gue mau beli di toko buku, anterin gue!


Pasien RSJ: Dih ngapain beli di toko buku sih? kan besok beli di koperasi juga bisa.


Arka PA: Gue gak bisa make pulpen murah kayak gitu.


Gak ada alasan lagi, gue otw sekarang!


Pasien RSJ: Lo gak serius kan? Hello... this is my holy Sunday evening, y’know?


Arka terkekeh lagi, dia lalu bangkit dan menggeser tubuh kedua sahabatnya agar menyingkir dari jalannya. Arka berjalan menuju kamarnya sambil tersenyum tidak jelas.


“Lo udah minum obat kan, Ka?” tanya Reyhan di sela permainnya.


“Hah?” sahut Arka dari dalam kamarnya, dia mengganti bajunya menjadi kaus berwarna putih dan sebuah jaket bomber berwarna hijau army.


Baik Reyhan dan Zaki mengalihkan pandangan mereka sesaat pada sosok Arka yang sudah rapih keluar dari kamarnya menenteng sebuah sepatu berwarna putih yang terkenal dengan tiga strip nya. Arka duduk di sofa yang tadi ia tempati, dia memakai sepatunya sambil memandangi setiap balasan dari Shaila.

__ADS_1


“Temen lo satu ini kenapa sih, Rey?” Zaki menyenggol lengan Reyhan, sengaja berbicara dengan nada keras agar Arka mendengarnya.


“Kayaknya sih lupa minum obat deh,”


“Berisik lo pada! Yang penting udah gak kosong nih,” balas Arka sambil tersenyum pada ponselnya.


“Emang daritadi gak kosong, ****! Ini aja udah 3-3,” jawab Zaki semakin tak mengerti dengan Arka.


Arka menepuk pundak Reyhan dan Zaki secara berbarengan. “Gue keluar dulu, kalo mau balik jangan lupa matiin tv sama kunci pintu.”


“Lo mau kemana, woy?”


Arka yang sudah membuka kenop pintu berbalik dan menatap Reyhan. “Date?”


Di tempat lain, di waktu yang sama, Shaila terlihat tengah frustasi dengan balasan pesan dari Arka dua puluh sembilan menit yang lalu.


Tiang listrik: Omw


“Ini anak bener-bener geblek, apa yah?”


Shaila yang tengah asyik berbaring di atas kasurnya sambil menonton video konser dari penyanyi favoritnya, Shawn Mendes langsung bangun dan membasuh wajahnya di dalam kamar mandi. Dia melirik tangan kirinya yang sudah tidak memakai gips.


Tadi pagi Shaila pergi ke rumah sakit untuk melakukan terapi, dokternya sudah menyarankan Shaila untuk melepas gips-nya dilepas, dan dengan senang hati Shaila pun menyetujuinya. Walaupun keadaan tangan Shaila belum selentur dulu, namun dia sudah bisa menggerakkan tangan kirinya itu walau dengan pelan.


Shaila keluar dari kamar mandi dan menatap sebuah gips berwarna putih yang berada di atas meja belajarnya, tidak ada coretan yang Arka buat. Shaila berpikir sebentar, apa dia harus keluar seperti ini? Tapi dia takut kalau nanti tiba-tiba Arka melepaskan tanggung jawabnya begitu saja karna Shaila sudah sembuh.


Sebuah bel di pintu membuat Shaila tidak dapat berpikir lebih lama, Shaila mengganti bajunya dengan baju apa saja yang ia lihat pertama kali, gadis itu lalu mengambil gips di atas meja itu dan memakainya dengan asal.


Bohong dikit gak pa-pa kan? Pikir Shaila


*****


“Bentar, elah. Lagian siapa yang nyuruh langsung pulang?” Arka mengambil sebuah pulpen dengan isi tiga.


“Trus mau ngapain abis ini?”


“Makan?” ucap Arka, lebih seperti pertanyaan.


Shaila menghela napas panjang. “Ya udah kalo gitu, gue mau liat novel dulu aja sambil nungguin lo daripada gabut gini. ntar kalo lo udah selesai, telpon gue aja.”


Arka menolehkan kepalanya menatap kepergian Shaila, dalam hati dia merutuki kebodohannya. Dia memang bukanlah seorang yang pintar mengambil kesempatan dalam urusan cinta. Buktinya seperti sekarang, niat awalnya dia hanya mau menjahili Shaila, namun setelah mereka berjalan seperti ini, Arka justru tak tahu harus melakukan apa selanjutnya. Tunggu sebentar, apa barusan dia bilang urusan cinta?


Arka menggelengkan kepalanya dengan keras, dia memang tak tahu apa yang sedang dia rasakan pada Shaila, dia hanya merasa nyaman berada di sekitar gadis itu karna Shaila bukanlah tipe orang yang akan heboh sendiri dan mengejar-ngejarnya seperti yang dilakukan oleh banyak gadis.


Walaupun Arka tak mengetahui perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini, namun dia hanya akan terus mengikuti alur dari semua kisahnya bersama dengan Shaila. Entah bagaimana akhirnya nanti, Arka sudah terlalu nyaman bersama gadis itu sampai tak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu.


Di sisi lain, Shaila sedang menatap satu persatu sampul novel yang tentu saja bertema percintaan masa muda. Shaila memang belum pernah merasakan bagaimana jatuh cinta atau berpacaran, namun dia tidak menepis keinginannya untuk merasakan hal itu, hanya saja dia memang belum menemukan orang yang tepat.


Saat Shaila sedang membaca sinopsis dari sebuah novel yang sedang ia pegang, seorang lelaki datang mendekatinya. Lelaki yang memakai kemeja flanel berwarna biru itu menyentuh pundak Shaila hingga gadis tersebut sempat terlonjak karna kaget.


Shaila menoleh, mengira orang yang menyentuh pundaknya tadi adalah Arka. Shaila terdiam saat mengetahui orang di depannya saat ini bukanlah Arka melainkan Bayu, pacar Mela. Bayu tersenyum dengan lebar saat melihat wajah Shaila.

__ADS_1


“Gue pikir gue salah liat, bener lo ternyata.” Bayu tersenyum mengetahui dugaannya benar. “Lo ngapain di sini? Sendirian aja?”


“Oh? Ah, gue gak sendirian kok, gue lagi sama temen,” jawab Shaila setelah menyadarkan dirinya.


“Temen lo mana?”


Shaila menunjuk asal belakangnya. “Di sana,”


Bayu mengangguk-angguk​-anggukkan kepalanya. “Udah makan belum? Mau dinner bareng?”


“Gue lagi sama temen gue, Bay.”


“Temen lo suruh balik aja, atau kalo mau gabung juga gak pa-pa, kok.”


Shaila menggaruk tengkuknya, dia masih merasa tidak nyaman berada berduaan saja dengan Bayu seperti ini. Shaila tak menyadari kalau di belakangnya Arka sudah datang dengan membawa sebuah kotak berisi pulpen yang dia ambil dengan asal tadi.


Arka menatap Shaila yang sedang berbicara dengan seorang lelaki seumuran mereka, dia berpikir kalau mereka berdua sudah saling mengenal karna senyum di wajah lelaki itu tak pernah hilang seakan dia baru bertemu dengan teman lama.


Melihat dari ekspresi Shaila yang hanya tersenyum kaku, Arka dapat menyimpulkan kalau gadis itu tidak nyaman berbincang dengan lelaki berjambul tersebut. Arka berjalan menghampiri Shaila dan merangkul pundaknya dari belakang.


“Udah nemu bukunya?”


Shaila menoleh kaget pada Arka yang tiba-tiba merangkulnya. “I-itu... gak ada yang bagus, gak jadi beli kayaknya.”


Arka mengangguk, pandangannya kini bertemu dengan lelaki di depannya yang lebih pendek darinya. Sebenarnya Bayu bisa dibilang tinggi, 175cm adalah tinggi badan yang ideal bagi lelaki Indonesia, hanya saja jika dia bersanding dengan Arka yang memiliki tinggi 181cm, perbedaan tinggi mereka jelas terlihat.


“Lo... Arka, kan?” tanya Bayu sambil memicingkan matanya, dia merasa seperti pernah mengenal wajah Arka.


Arka mengangkat wajahnya. “Lo siapa?”


“Gue Bayu Prakarsa, SMA Yudhistira.”


Arka mengangguk-anggukkan kepalanya. SMA Yudhistira juga merupakan sekolah ‘jajahan’ Arka, mereka telah mengaku kalah dan tunduk di bawah kendali Bumi Putera. Arka pernah datang ke Yudhistira untuk saat jam pelajaran untuk menghajar murid yang melecehkan salah satu siswi Bumi Putera –yang juga teman sekelas Arka- sampai hampir memerkosanya, saat itu Arka masuk ke dalam sekolah dengan paksa dan menghajar sang pelaku –yang merupakan teman sekelas Bayu, di kelasnya dan disaksikan oleh tiga puluh empat teman sekelas dan juga guru yang saat itu sedang mengajar. Itu lah kenapa Bayu mengenal Arka yang sudah melegenda di sekolahnya.


“Lo kenal sama Shaila?”


“Dia temen satu sekolah sama gue waktu SMP, gue juga cowoknya Mela, jelas Bayu, dia lalu menunjuk Arka dan Shaila bergantian. “Kalian... pacaran?”


“Nggak, kok. Dia kakak kelas gue.”


“Oh gitu.” Bayu menatap tangan Arka yang masih merangkul pundak Shaila. Temen macam apaan? Pikirnya.


“Lo udah selesai ngobrolnya? Gue mau ngajak Shaila makan soalnya,” ucap Arka dengan dingin.


“Oh udah kok, sori ganggu yah. Sampai ketemu lagi, La,” ujar Bayu sambil berlalu.


Shaila melirik tangan Arka yang masih menempel di pundaknya. “Orangnya udah pergi, ini dilepas bisa, kali.”


Arka seakan tersadar lalu melepas tangannya. “Sori, keterusan,” ucapnya sambil menunjukkan deretan giginya.


“Udah selesai, kan? Bayar deh buru, biar bisa langsung makan, udah mau malem ini,” ucap Shaila meninggalkan Arka yang masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


Arka memang tak mengerti nama perasaan yang dia miliki kepada Shaila, namun dia tidak bodoh untuk tahu perasaan tidak enak yang ia rasakan saat melihat Shaila sedang berbicara dengan Bayu tadi adalah perasaan cemburu. Lalu apakah Arka benar-benar menyukai Shaila? Arka mengangkat bahunya, dia sudah seperti orang bodoh memikirkan hal yang tidak jelas.


TBC


__ADS_2