
Siapa yang tak mengenal Arka? Seluruh penjuru SMA Bumi Putera sudah mengetahui siapa lelaki itu. Walaupun hanya dari rumor yang mereka dengar, namun rumor itu menjadi sebuah fakta yang terpampang nyata dengan sendirinya saat berjalannya waktu.
Rumor tentang ketampanannya? Itu adalah rumor pertama yang langsung dinyatakan sebagai fakta nyata sesaat setelah melihat wajahnya, bahkan ujung hidungnya saja sudah mengatakan bahwa dia bisa jadi seorang model jika ia mau.
Rumor tentang kekayaannya? Sebulan setelah masuk di SMA Bumi Putera, Arka merelakan ponsel keluaran terbarunya yang dicuri saat dia sedang bermain sepak bola bersama teman-temannya. Bahkan saat acara MOS, dia satu-satunya peserta yang membawa kendaraan bermotor yang bernilai puluhan juta.
Rumor tentang kenakalannya? Itu bukanlah sebuah rumor lagi, bahkan seluruh guru di sekolah ini sudah angkat tangan jika berurusan dengan anak itu.
Rumor tentang kekuatannya? Beberapa bulan setelah dia menjadi siswa di SMA Bumi Putera, seorang kakak kelas tiga yang mengaku sebagai pentolan dari sekolah itu memojokkan Arka di gedung belakang sekolah yang tak berpenghuni karna mereka tak suka dengan Arka yang tak menyapa mereka ataupun menundukkan pandangannya saat bertemu pandang dengan mereka. Namun apa yang terjadi? Tujuh orang yang memojokkannya itu langsung dikirim ke rumah sakit dan mengalami beberapa luka di wajah dan tulang mereka, Arka sendiri? Tentu saja tak tersentuh.
Rumor tentang kepintarannya? Mungkin inilah satu-satunya rumor yang masih dicurigai kebenarannya, namun semua orang bukannya menutup mata dengan nilai Arka yang selalu berada di atas angka 8 walaupun dia tidak pernah menyimak pelajaran melainkan tidur di atas mejanya. Lalu bukankah itu sudah cukup membuktikan?
Karna hal-hal itulah Arka menjadi disegani oleh murid di sekolahnya, bahkan setelah insiden dia menghajar pentolan dari sekolah itu membuat kakak kelas sebelumnya tunduk dan menunjuknya sebagai ketua yang baru.
Seperti saat ini, saat dia dan kedua temannya menunjukkan wajah di depan kantin yang sudah terisi penuh, hampir semua orang mengosongkan tempatnya untuk Arka. Tentu saja, lelaki itu mengambil tempat yang nyaman untuk dirinya dan kedua sahabatnya merokok tanpa diketahui oleh guru-guru.
Zaki pergi ke area para pedagang kantin dan sambil melihat keadaan sekitar, tangannya merogoh ke lubang yang berada belakang tembok yang ditutupi oleh potongan kayu. Tangannya keluar dari lubang itu sambil membawa sebuah bungkus rokok.
Orang pertama yang menyambar rokok dari tangan Zaki adalah Reyhan yang langsung mengeluarkan korek dari saku celananya, Arka dan Zaki mengikuti. Pemandangan ketiga sahabat itu sedang merokok di sudut kantin merupakan hal yang biasa bagi murid-murid dan pedagang di sekolah ini.
“Bentar lagi kita kan mau lulus nih, pada lanjut kemana lo?” tanya Reyhan memecah keheningan kedua sahabatnya yang larut dalam pikiran mereka.
“Tau lah, gak mikirin gue, kalo ortu sih nurut aja mau gue kemana juga. lo sendiri?” tanya Zaki.
“Nyokap sih gak terlalu maksain gue masuk kemana, tapi bokap mau gue kuliah di luar,” jawab Reyhan.
“Luar apaan? Luar angkasa? Gih sana, gak usah balik lagi yah lo.”
"Luar negeri, sarap!" Reyhan mendorong kepala Zaki ke belakang. “Lo sendiri gimana, Ka?”
Yang ditanya justru asik menghisap rokoknya sambil mengangkat pundak. Kumpulan asap keluar dari mulut dan hidungnya.
“Arka mah gak usah pusing-pusing mikirin masa depan, otak sama duit punya dia, koneksi juga udah pasti banyak," jawab Zaki yang melihat tak ada reaksi dari sahabatnya.
“Sok tau lo, jigong kuda," ucap Arka di sela rokok yang berada di ujung bibirnya.
“Yah emang bener, upil gajah,” sambut Zaki tak terima.
“Lo belek kudanil,”
__ADS_1
“Lo daki badak,”
“Lo congek jerapah,”
Reyhan hanya menggeleng melihat kedua sahabatnya yang saling menyela. Hisapan di rokoknya terhenti, begitu juga dengan Zaki, mereka langsung membuang puntung rokok mereka ke kolong meja dan mengambil bungkus rokok yang ada di atas meja.
Zaki dan Reyhan memberikan kode kepada Arka dengan mengedikkan dagu mereka ke arah belakang Arka. Bukannya tak tahu, Arka sebenarnya tahu kalau kedua sahabatnya itu sedang memberinya kode karna ada guru mereka datang.
Dengan santainya Arka menoleh dan mendapati Rasyudin, guru BK SMA Bumi Putera sudah berdiri di belakangnya. Arka mengangkat rokok di tangannya dan tersenyum.
“Rokok, Pak?”
Ditanggapi santai seperti itu, Rasyudin menarik napas berat, mencoba mengontrol emosinya. Dia tak bisa kehilangan kendali di depan para muridnya yang saat ini sedang memperhatikannya walaupun dia sangat ingin sekali menjewer kuping Arka sampai putus.
“Arka, kamu ikut Bapak,” ucap Rasyudin lalu berbalik berjalan keluar kantin.
“Doi ngefans banget sama gue kayaknya, manggil gue ke ruangannya mulu. Ganjen,” Arka membuang puntung rokoknya yang masih sisa setengah ke lantai lalu menginjaknya sampai mati saat ia berdiri. “Gue cabut.”
Reyhan dan Zaki mengangkat tangan mereka kepada Arka yang semakin menjauh. Dalam hati, kedua orang itu bersyukur karna Rasyudin tak melakukan apa-apa pada mereka. Namun mereka juga tau bahwa Rasyudin memanggil Arka bukan karna mereka merokok di sekolah namun masalah yang ada di kelas kemarin.
Arka mengetuk sebuah pintu yang di depannya terdapat tulisan Ruang Bimbingan Konseling. Lelaki itu masuk ke dalam ruangan dan tanpa disuruh langsung duduk di atas kursi berputar yang ada di hadapan meja Rasyudin, di hadapannya sudah duduk lelaki paruh baya tadi.
“Nanti akhirnya juga Bapak nyuruh saya duduk, jadi mending sekalian aja. Bapak mau ngomong apa sama saya?” tanya Arka.
Kesal. Itulah yang dirasakan Rasyudin saat ini atas sikap Arka, apalagi melihat penampilannya yang membiarkan seragamnya keluar dan celananya yang di atas mata kaki. Yang paling membuat kesal adalah tindikan di kuping kanan lelaki itu.
“Apa yang sudah kamu lakukan kepada Pak Abdul kemarin itu sudah keterlaluan,” ucap Rasyudin langsung pada intinya.
Arka yang sudah bisa menebak akar permasalahan dia dipanggil ke ruang BK lantas memutar-mutar kursi yang dia duduki dengan tidak peduli. “Kan kejadiannya udah kemarin, Pak!"
“Tetap saja, kamu gak bisa manggil seorang guru seperti itu, itu sudah sangat berlebihan dan menghancurkan pandangan orang lain tentang Pak Abdul. Apa kamu tau karna masalah kemarin itu Pak Abdul harus cuti satu minggu ke depan?”
“Yailah, baper amat tuh perawan. Lagian apa yang saya bilang fakta kok, Pak. Lagian anak-anak juga udah tau dia kayak banci.”
Rasyudin menggebrak meja. “Tapi itu tidak bisa menjadi alasan untuk kamu memanggilnya seperti itu di depan murid lain.” Rasyudin berdehem, menormalkan suaranya yang tadi sempat tinggi. “Kamu akan saya beri hukuman.”
“Not a big deal,” sahut Arka yang masih berputar di kursinya.
Rasyudin menatap Arka dengan serius. Dia tau kalau Arka tidak akan mungkin menjalani hukuman dengan serius, dia pasti akan menyuruh orang lain untuk melakukannya. Orang yang bertanggung jawab menjaganya saat dia melakukan tugasnya pun tak dapat berbuat apa-apa karna mereka sedang berhubungan dengan seorang Arka, walaupun lelaki itu tak pernah memaksa.
__ADS_1
“Gimana kabar Papa kamu?”
Deg. Kata itu membuat Arka berhenti dari kursi putarnya, wajahnya mendadak kaku. Arka kembali memutar kursinya, kali ini agar dia dapat berhadapan dengan Rasyudin. “Apa?”
“Apa kamu sudah telpon Papa kamu? Apa Bapak harus telpon dia dan memberi tau masalah ini kepadanya?”
Arka menggebrak meja di depanya dan membuat apa yang berada di atasnya menjadi bergoyang. “Jangan coba-coba hubungin tua bangka itu.”
Rasyudin tersenyum penuh kemenangan, kata itu selalu dapat membuat anak di depannya ini menjadi tunduk seketika. Yang diperlukannya hanyalah penanggung jawab yang tak mempan dengan siapa Arka, dan sepertinya dia sudah menemukannya.
“Sepulang sekolah datanglah ke perpustakaan, orang di sana akan memberitahumu apa yang harus kamu lakukan.”
*****
Dengan langkah malas, Arka menuju ke ruang perpustakaan yang bahkan dimana letaknya saja ia tak tau walaupun sudah tiga tahun bersekolah di sini. Letak perpustakaan yang berada di belakang gedung sekolah itu memang merupakan tempat yang tidak pernah Arka kunjungi.
Arka berdiri di depan sebuah pintu yang di depannya terdapat tulisan Perpustakaan. Tanpa pikir panjang ia membuka pintu dan mendapati suasana yang sangat sepi. Tentu saja, bel pulang sudah berbunyi sejak tadi, siapa juga yang mau menghabiskan waktu di tempat yang dipenuhi oleh bau buku seperti ini. Jika tidak karna terpaksa saja, Arka tidak akan datang ke tempat ini sampai lulus nanti.
Rasyudin mengatakan –atau lebih tepatnya mengancamnya- akan memberitahukan kepada Papanya jika ia menolak tugas yang diberikan. Tentu saja Arka tak mau jika sampai lelaki tua itu tau lalu kembali ke Indonesia dan menghancurkan semua kebebasan yang Arka punya saat ini.
Arka berjalan menyusuri setiap rak buku dan tak mendapati seorangpun berada di sini. Namun tadi Rasyudin mengatakan kalau akan ada yang menunggunya di perpustakaan dan memberitahunya tentang apa yang harus dia lakukan. Tidak mungkin kan kalau yang dimaksud Rasyudin adalah hantu penunggu perpustakaan ini?
Arka seperti mendengar suara buku yang dibalik. Dia berjalan di lorong di antara dua rak buku. Suara itu semakin jelas ia dengar.
Saat sudah sampai di ujung rak, Arka menoleh dan mendapati seorang gadis yang tengah serius dengan buku di tangannya. Tersiram oleh sinar matahari senja yang masuk melalui jendela kaca di hadapannya membuat sosok gadis itu semakin indah layaknya sebuah lukisan.
Tunggu. Apa pandangan Arka tidak salah? Apa gadis itu baru saja menitikkan air mata? Karna sebuah buku?
Arka terdiam menatap pemandangan di depannya. Dia tak ingin mengakuinya, namun pemandangan yang saat ini ia lihat sangatlah mengagumkan hingga membuat jantungnya yang sudah lama tak berdetak karna seorang gadis, sekarang hidup kembali.
Gadis itu mengangkat kepalanya dan menoleh. Dia melihat Arka dengan kedua alis terangkat, namun detik berikutnya gadis itu tersenyum lebar.
Setelah menutup bukunya, dia menghampiri Arka. “Udah datang yah? Halo, gue Shaila, bisa kita mulai sekarang?”
*****
TBC
__ADS_1