
Arka melangkahkan kakinya menuju perpustakaan yang terletak di belakang gedung sekolahnya, sekarang dia baru sadar bagaimana anehnya letak perpustakaan yang seharusnya berada di tempat yang sangat mudah terlihat dari luar sekolahnya menjadi tersembunyi itu.
Di perjalanan menuju perpustakaan, Arka menghentikan langkahnya saat melihat Shaila yang sedang berbincang dengan pelatihnya. Arka dapat melihat ekspresi wajah pelatihnya itu sangat kaget dan juga sedih. Sepertinya Shaila sedang memberitahukan pelatihnya itu tentang dirinya yang mengundurkan diri sebagai anggota sekaligus kapten tim voli.
Shaila membalikkan tubuhnya dan bertemu pandang dengan Arka. Arka bersumpah, tadi dia melihat raut wajah sedih gadis itu yang kini sudah tergantikan oleh senyum riang yang sangat menyebalkan untuk Arka.
Shaila mendekati Arka dengan langkah yang ringan, saat sudah sampai di hadapan Arka, senyum di wajah gadis itu tidaklah hilang. Hal itu mulai membuat Arka khawatir sekaligus takut.
“Lo jangan nakutin gue deh.”
Shaila tidak menghiraukan Arka, dia lalu menggandeng tangan Arka menuju perpustakaan. Arka yang sudah berkali-kali melakukan penolakan namun tak berhasil mengalahkan semangat Shaila saat ini.
Shaila baru melepaskan tangan Arka saat mereka sudah memasuki perpustakaan. Dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya, Shaila menatap Arka. “Lo tau kan apa yang harus lo lakuin? Atau mau gue jelasin dari awal?”
Arka menjauhkan wajah Shaila darinya, melihat wajahnya dari jarak sedekat itu membuat dirinya mual. “Gak usah, gue bisa sendiri.”
“Oke deh kalo gitu, you can start now.”
Arka meletakkan tas punggungnya di belakang meja administrasi, dia lalu mendorong sebuah meja dorong yang berisi tumpukan buku-buku di atasnya. Shaila duduk di belakang meja administrasi menatap senang ke arah Arka yang mulai menata buku menurut tulisan di sampingnya.
Kenapa tidak dari dulu saja dia seperti ini? Kalau begini kan Shaila juga tidak perlu harus marah-marah kepadanya sampai memanggilnya hanya dengan nama. Tapi Shaila mulai merasa nyaman memanggil kakak kelasnya itu tanpa embel-embel di depannya. Toh dia juga tidak tahu siapa Shaila sebenarnya.
Setelah dua puluh menit berkutat dengan tumpukan buku, akhirnya Arka selesai membereskan tugasnya. Dia menuju ke meja administrasi dan meletakkan meja dorongnya sembarangan. Shaila menatapnya masih dengan senyuman khas miliknya.
“Jangan kebanyakan senyum, serem gue lama-lama ngeliatnya.”
“Coba lo dari dulu kayak gini, kan gantengnya nambah.”
Arka mendengus mendengar perkataan Shaila, dia mengambil tasnya dan menyampirkannya di pundak kirinya. “Udah selesai, kan? Gue balik.”
“Iya, dadah. Sampai ketemu besok.”
Arka keluar dari perpustakaan meninggalkan Shaila yang saat ini entah sedang apa, Arka ingin bertanya kenapa gadis itu tidak ikut pulang dengannya namun dia urungkan karna tak mau gadis yang sering berpikiran jauh itu menjadi ge-er oleh pertanyaannya.
Butuh waktu sekitar lima menit bagi Arka untuk memasang jaket sampai menghidupkan motornya, bukan karna dia mengalami kesulitan atau apa tapi dia memang sengaja memperlambat gerakannya.
Saat membawa motornya keluar, Arka melihat Shaila yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah sambil menatap ke arah lapangan sekolah tempat teman-temannya sedang berlatih voli. Arka menjalankan motornya dan berhenti tepat di depan Shaila.
“Eh, lo belom balik?”
__ADS_1
Arka membuka kaca helmnya. “Lo sendiri ngapain di sini?”
“Gue lagi nunggu taksi,”
“Bareng gue aja, biar gue anter.”
“Nggak deh, gue naik taksi aja.”
Arka melemparkan sebuah helm berwarna merah kepada Shaila. “Gue gak nerima penolakan.”
Shaila baru saja ingin menjawab Arka, namun dia urungkan niat itu. Gadis berlesung pipi itu mendengus dan tersenyum geli sebelum akhirnya memakai helm pemberian Arka. Dengan hati-hati Shaila duduk di belakang Arka dan melingkarkan tangan kanannya di perut lelaki di depannya.
“Jangan ngebut!”
“You know I won’t.”
Dan motor Arka pun meluncur memecah kemacetan ibukota di sore hari. Shaila tak mengerti kenapa dia mau saja dengan gampangnya naik boncengan motor Arka padahal dia sangat trauma oleh motor, namun walaupun dia memang baru beberapa kali ini dibonceng oleh lelaki tampan itu, dia merasa aman dan nyaman berada di belakangnya.
*****
“Suapinnya yang bener sih!” keluh seorang gadis yang memakai cast berwarna putih yang melilit pada lehernya pada seorang lelaki di hadapannya yang sedang menyuapinya dengan soto ayam.
“Berisik lo, masih mending gue mau suapin!” balas lelaki itu tak terima.
“Suapin lagi, Aaa...” gadis itu –Shaila membuka mulutnya dengan lebar sebelum akhirnya sebuah sendok berisi kuah dan daging soto mendarat mulut di dalam mulutnya. “Minum!”
Arka yang sebenarnya sudah kesal dengan permintaan konyol gadis di depannya selama tiga hari itu hanya bisa mendengus dan menjulurkan sebuah gelas berisi es teh manis pada Shaila.
“Mmm..., enak. Makan lagi,” Shaila lagi-lagi membuka mulutnya dengan lebar.
“Arka!! Kita ba...”
Perkataan Zaki yang entah bagaimana sudah berada di dalam kantin itu terhenti, bersamaan dengan langkah kakinya dan orang di belakangnya yang sangat kaget melihat kejadian yang saat ini sedang mereka saksikan.
“Mulut lo kondisikan, ****!” tegur Reyhan yang melihat mulut sahabatnya itu seakan sudah terjatuh ke lantai.
“L–l–loo... lo Arka, kan?” tanya Zaki tak jelas seraya berjalan mendekat pada Arka yang masih sibuk dengan sendok yang berada di mulut Shaila.
“Lo berdua ngapain di sini? Kan lo masih diskors,” ucap Arka tak mengindahkan pertanyaan Zaki.
__ADS_1
“Ini si kunyuk satu maksa banget ke sini, gak punya kerjaan dia.” Reyhan duduk di samping Arka. “Ini apa-apaan sih suap-suapan gini? kayak lagi syuting drama Korea aja lo berdua.”
Zaki menjentikkan jarinya, setuju dengan ucapan Reyhan. “Iya bener, lo berdua kayak Gu Jung Pyo sama Gong Can Di, itu tuh pemain drama Korea.”
Reyhan menendang paha Zaki dengan kaki kanannya. “Goo Jun Pyo sama Geum Jan Di, ****!”
“Ih, Oppa Reyhan tau aja masa, curiga nih gue.”
Reyhan mengambil kotak tisu yang berada di sampingnya dan melemparkannya ke Zaki. “Tau lah, adek gue suka nonton itu, ****!”
Zaki mengangguk-anggukkan kepalanya. Adik Reyhan memang sangatlah menyukai apapun yang berbau Korea, tak jarang dia memaksa kakak satu-satunya –bahkan Zaki atau Arka yang sedang berkunjung ke rumah Reyhan itu untuk menonton bersamanya.
Zaki duduk di samping Reyhan dan menatap Shaila serta Mela bergantian dengan pandangan curiga, lelaki itu menunjuk Shaila. “Kalo yang ini gue tau, tapi kalo yang ini...” Zaki menunjuk Mela. “Siapa?”
“Gue Mela, Kak. Gue temennya Shaila.”
Zaki mengangguk, lalu pandangannya kembali pada Arka yang masih sibuk menyuapi Shaila. “Ini anak berdua kenapa sih? Ada apaan pake acara suap-suapan gini coba? Mesra banget, elah.”
Shaila mengangkat tangan kirinya yang terbalut gips. “Tangan gue lagi sakit gara-gara temen lo ini jadi gue gak bisa makan sendiri,” seru Shaila beralasan.
“Emang lo kidal sampe gak bisa makan pake tangan kanan?” tanya Reyhan yang saat ini sedang menyeruput es cappuccino milik Arka.
“Gue tuh ada permasalahan sama keseimbangan gitu, jadi gak bisa makan sendiri atau bakal belepotan ntar.”
Reyhan terdiam, sedangkan Zaki menganggukan kepalanya seakan mengerti apa yang sedang Shaila bicarakan. “Alesan macem apa coba,” desis Reyhan geli.
“Trus kalian berdua ngapain di sini? Katanya kan lagi diskors, tapi kok bisa ada di sini, pake seragam, lagi," tanya Shaila yang sudah selesai dengan sotonya.
“Nih si kampret tadi maksa banget manjat lewat pager belakang sekolah, katanya kangen sama Parasut.”
“Iya tadi tuh sumpah seru banget kita manjat kayak lagi syuting film James Bond gitu, nih celana gue sampe robek.” Zaki melebarkan pahanya dan memperlihatkan celananya yang sobek hingga boxer bergambar spongebob miliknya pun terlihat.
Shaila dan Mela menutup wajah mereka dengan kedua tangan, Arka melempar Zaki dengan dengan es batu dari capuccino nya yang sudah menyisakan gelas, sedangkan Reyhan menutup paha sahabatnya yang terbuka lebar itu.
“Make boxer yang bagusan kek, onta Afrika!”
“Itu paha buluk amat udah kayak roti kadaluarsa,”
Baik Shaila maupun Mela hanya tergelak mendengar ketiga sahabat itu saling melontarkan ejekan satu sama lain. Entah kenapa mereka merasakan kehangatan di antara ketiga lelaki itu, tak dihiraukannya tatapan iri para orang yang berada di kantin, mereka hanya merasa ketiga orang ini tidak seburuk apa yang diberitakan.
__ADS_1
*****
TBC