My Lovely Busybody Girl

My Lovely Busybody Girl
15 - Pembalap


__ADS_3

Motor sport berwarna merah itu melaju dengan sangat cepat, di belakangnya terdapat setidaknya lima motor dengan penampilan yang sama dan berbagai warna tengah mengejarnya dengan kecepatan yang juga di atas rata-rata. Dia melewati setiap tikungan dengan begitu tajamnya hingga lututnya hampir saja menyentuh aspal.


Pengendara motor sport berwarna merah itu mengendarai motornya dengan sangat cepat memasuki sebuah area yang bergaris hitam putih, diliriknya seseorang yang melambaikan sebuah lap board yang bertuliskan LAST LAP dan membuatnya semakin bersemangat untuk menjadi yang terdepan.


Sang pembalap sekali lagi mengitari sirkuit besar tersebut dan tentu saja masih diikuti kelima pembalap lainnya di belakang. Saat akan menyentuh finish line, pembalap tersebut melakukan sebuah atraksi wheelie atau mengangkat roda depannya sambil melaju ke depan. Saat pembalap sudah sepenuhnya melewati garis finish, sebuah bendera finish bermotif kotak hitam pun dikibarkan.


Riuh penonton semakin ramai melihat kemenangan yang sudah mereka prediksi itu. Sang pembalap membuka helm-nya dan turun dari motor sport berwarna merahnya. Lelaki tampan itu menyalami beberapa crew yang berlari ke arahnya dan terlihat gembira dengan kemenangannya.


Seorang lelaki berjalan menuju dirinya dan memberikannya sebotol air mineral yang langsung diteguk. "As expected, keren banget pembalap kita satu ini," seru Zaki yang mengikuti langkah sahabatnya yang memasuki sebuah ruangan dimana sahabatnya yang lain sedang duduk.


"Keren lo, Ka," ujar Reyhan sambil mengangkat kedua jempolnya.


"Kalo kayak gini terus lo bisa jadi pembalap profesional, Ka!" seru Zaki seraya memijit bahu Arka yang masih memakai wearpack.


Arka membuka zipper pada wearpack nya dan mengibas-ngibaskan tangannya ke wajahnya yang berkeringat. "Gak minat, ini hobi aja."


"Sayang loh kalo cuma dijadiin hobi doang,"


Seorang lelaki paruh baya memakai polo shirt berwarna hitam, lelaki itu tertawa sambil menepuk-nepuk tangannya yang memegang sebuah amplop coklat tebal. "Arka, Arka... keputusan lo buat nolak tawaran gue buat jadi professional racer masih belom berubah?"


Arka bangkit dan menarik zipper pada wearpack nya sampai ke bawah, lelaki berambut coklat itu lalu meletakkan wearpack berbahan tebal itu di sandarang kursi. "Udah gue bilang gue gak minat, dan itu gak bakal berubah.


Sesungguhnya Arka tidak sepenuhnya bicara jujur, dia juga memiliki keinginan untuk menjadi seorang pembalap profesional, namun dia sadar kalau dia tak akan pernah bisa berkarir di bidang itu karna Papa nya sudah memiliki rencana masa depan untuknya. Masa depan yang sudah tertata rapih.


"Sayang gue sebenernya ngebiarin talent bagus kayak lo gini, ya tapi mau gimana lagi." Lelaki itu menyerahkan amplop yang ia bawa kepada Arka. "Udah gue potong 25% kayak biasa,"


Arka mengambil amplop itu dan segera menyambar tas punggungnya. Arka memberi isyarat pada Reyhan dan Zaki agar keluar. "Lo gak mau itung dulu duitnya?" tanya lelaki paruh baya itu pada Arka yang tak menghitung uang yang diberikan padanya.


Arka mengangkat amplop coklat yang ia pegang ke depan wajah lelaki paruh baya itu. "Gue percaya sama lo," ucap Arka sambil berlalu.


Ketiga lelaki tampan tersebut keluar dari arena sirkuit, terdengan suara mesin motor yang sangat memekakan telinga. Di sini, di sirkuit ini adalah tempat Arka melepaskan penatnya. Dia bersama beberapa pembalap lain selalu berhadapan di sirkuit ini untuk menentukan siapa yang terbaik, tentu saja tidak dengan percuma.


Para pembalap melakukan taruhan dengan jumlah uang yang tidak sedikit, bahkan para penonton juga merelakan uang mereka untuk bertaruh pada pembalap pilihan mereka. Dan sebagian besar pertaruhan itu selalu dimenangkan oleh Arka, pembalap muda berbakat.


Ini bukanlah merupakan balapan profesional, hanya anak-anak dari beberapa keluarga kaya yang menghilangkan stres dan penat mereka dengan memacu adrenalin dan kecepatan yang seperti membawa mereka terbang.


Jika ada yang bilang 'jadi anak orang kaya mah enak, gak perlu pusing mikirin duit', maka orang-orang yang berada di sirkuit itu akan menjawab 'serius? Coba aja lo gantiin posisi kita sehari, rasain gimana stresnya karna tuntutan para orangtua yang mau kita ngelakuin ini dan itu buat jadi yang terbaik dan bisa lebih dibanggakan dari penerus rivalnya'. Jadi, balapan adalah alternatif mereka untuk melepas penat.


Arka, Reyhan dan Zaki keluar dari area sirkuit dengan motor besar mereka, melaju di lalu lintas yang tidak terlalu ramai di Minggu sore. Tentu saja Arka melajukan motornya sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

__ADS_1


Arka memang seorang pembalap, namun dia hanya menggunakan kebut-kebutan tersebut di area sirkuit, bukan di jalanan. Arka merasa kalau orang yang kebut-kebutan di jalan adalah orang bodoh, hanya orang bodoh yang akan melakukan hal itu, dan Arka terlalu pintar untuk dimasukkan ke dalam kategori itu.


Selama hampir setengah jam melajukan motornya, akhirnya ketiga motor besar itu berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar putih dan dihiasi dengan pepohonan rindang. Beberapa saat kemudian, segerombolan anak-anak keluar menyambut ketiganya.


"Kak Arka, udah lama gak ke sini."


"Kak Reyhan kok jarang main ke sini sih?"


"Kak Zaki, ayo ceritain cerita lucu lagi, udah lama gak diceritain Kak Zaki."


Begitulah kira-kira keriuhan di antara anak-anak yang masih mengerubungi ketiga sahabat itu. Arka turun dari motornya dan meletakkan helmnya di atas tangki motornya, dia tersenyum dan memeluk anak-anak di depannya, diikuti oleh Reyhan dan Zaki.


"Kalian kangen sama kakak, yah?"


"Iya, Kak, kangen banget."


Seorang wanita paruh baya memakai jilbab berwarna abu-abu keluar dari pintu dan tersenyum melihat ketiga orang remaja yang sudah sangat ia kenal. "Kalian udah datang?"


Arka, Reyhan dan Zaki melepas pelukannya, mereka lalu berjalan menghampir wanita paruh baya itu dan menyalami tangannya. "Iya, Bunda. Maaf yah kita jarang dateng sekarang, lagi sibuk," ucap Arka.


"Sibuk mikirin cewek, Bun," ucap Zaki membuat Arka harus menyikutnya.


Yunita, atau yang biasa dipanggil Bunda itu tersenyum simpul, dia sudah tahu maksud dari anak lelaki di depannya itu. "Di ruangan bunda aja, yuk."


"Rey, Zak, bentar yah."


Reyhan dan Zaki menganggukkan kepala mereka, mereka lalu memutuskan bermain dengan kumpulan anak-anak yang menatap penuh harap kepada mereka. Sepertinya sudah sangat lama sejak mereka datang ke panti asuhan ini.


Ketiga orang sahabat itu memang bukanlah donatur tetap di Panti Asuhan Pelita Cahaya, namun mereka selalu menyisihkan uang jajan mereka untuk keperluan panti asuhan tersebut. Uang taruhan yang Arka menangkan juga, seluruhnya selalu dia pakai untuk disumbangkan kepada panti asuhan ini, seperti yang dia lakukan saat ini.


Arka tak pernah memakai uang hasil menang taruhannya untuk dirinya sendiri, jika tentang uang, dia tak pernah kekurangan, itulah kenapa dia selalu menyumbangkan uang yang ia menangkan kepada yang lebih membutuhkan.


Tidak berapa lama Arka keluar dari ruangan bercat putih tersebut, dia lalu duduk di samping Reyhan yang sudah selesai bermain bersama anak-anak. Reyhan menoleh dan melirik Arka yang duduk di sampingnya dengan sekilas.


"Udah?"


"Hm,"


Keduanya terdiam, mereka menatap ke arah depan dimana Zaki sedang menceritakan sesuatu yang lucu dengan hebohnya kepada kumpulan anak-anak yang sedang tertawa menatapnya sambil duduk dia tas rerumputan.

__ADS_1


"Kemaren gue ketemu Shaila di rumah sakit,"


Arka menoleh. "Ngapain?"


"Konsul katanya,"


Arka mendesah. "Itu anak kenapa gak minta gue anterin, sih? ****."


Reyhan terdiam, dia sedang menyusun kata-kata untuk memberitahukan Arka tentang hal yang kemarin Shaila katakan. "Dia benci kebut-kebutan katanya."


"Gue tahu,"


"Dia juga benci pembalap."


Sontak Arka menoleh dan menatap figur Reyhan yang tertimpa cahaya di atasnya. "Maksud lo?"


"Kakaknya meninggal waktu lagi balapan, dia juga punya riwayat PTSD."


"Trus maksud lo ngasih tau itu ke gue apa?" Arka memainkan buku-buku jarinya.


"Biar lo siap-siap aja,"


"Buat?"


"Supaya lo bisa ngontrol diri dan mutusin buat ngelepas yang mana."


"Gue gak ngerti maksud lo,"


Reyhan mendengus. "Lo terkadang tuh lemot banget, tau gak? Gue gak mau ngasih tau lo maksud gue sebenernya apa, itu tugas lo buat nyari tau sendiri. Tapi sebagai sahabat lo, gue pengen yang terbaik buat lo makanya gue ngomong gini ke lo."


"Tapi gue—"


Reyhan berdiri dari duduknya dan memotong ucapan Arka. "Sekali-kali buka hati lo, liat siapa yang ada di situ, jangan terlalu terpaku sama masa lalu lo."


Arka hanya bisa terdiam memandang kepergian Reyhan yang sedang berjalan mendekati Zaki, dia benar-benar tak mengerti maksud dari sahabatnya itu. Apa hubungan hatinya dan masa lalunya dengan semua ini?


Tau lah, pusing.


*****

__ADS_1


TBC


__ADS_2