My Lovely Busybody Girl

My Lovely Busybody Girl
11 - Suapin


__ADS_3

"LALA!! TANGAN LO KENAPA?!" Mela yang baru saja sampai di depan kelas histeris melihat teman sebangkunya yang saat ini memakai cast di tangan kirinya.


Shaila hanya tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapih. "Gak papa, kok."


"Gak papa gimana? Beritanya udah kesebar di seluruh penjuru sekolah masalah lo yang ditabrak motor Kak Arka, tau gak?" ujar Mela melebih-lebihkan.


Memang sepanjang dia berjalan di koridor, teman-teman sekolahnya heboh memperlihatkan video yang mereka rekam kemarin tentang Shaila yang tergeletak di samping motor Arka hingga lelaki itu yang menggendongnya.


"Ini bukan gara-gara dia kok, emang gue nya aja yang lagi sial sampe begini deh. tapi gak papa, seenggaknya gue udah bisa naklukin dia dong," ucap Shaila dengan bangganya.


Mela merapatkan duduknya pada Gita dengan antusias. "Maksud lo naklukin dia tuh apa?" Mela menutup mulutnya yang melebar bersamaan dengan kedua matanya. "Jangan bilang kalian jadian? Makanya kemaren main gendong-gendongan gitu?"


Kedua alis Shaila terpaut, bagaimana bisa sahabatnya ini memikirkan hal sejauh itu. "Nggak lah! Siapa yang jadian? Lo ada-ada aja sih mikirnya, Mel."


"Lah trus maksudnya naklukin itu apa?"


"Dia bakal jalanin hukumannya tanpa gue paksa lagi. Ada untungnya juga tangan gue begini."


Mela memukul kepala Shaila dengan bukunya. "Lo tuh yah, bukannya sayang sama diri sendiri malah cari masalah sama dia sampe tangan lo sendiri begini. Kan kemaren lo sendiri yang bilang mau berhenti ngurusin dia!"


Shaila mengelus lembut kepalanya yang tadi dipukul oleh Mela. "Yah kan namanya juga manusia, bisa berubah-ubah. Lagian gue setuju sama Pak Rasyudin kalo Arka itu sebenernya orangnya baik, buktinya dia kalo bawa motor tuh taat banget sama rambu lalu lintas, gak ada ngebut ataupun nyerobot gitu," ucap Shaila menceritakan hal yang mengagetkannya kemarin.


Mela melakukan gerakkan seakan ingin memukul Shaila hingga gadis itu mengedipkan matanya takut. "Itu mah engkong gue juga begitu! Lo sih ada-ada aja, La. Tau deh gue gak peduli, liat aja kalo besok-besok lo disusahin sama tuh orang gak bakal gue tolong!" ancam Mela.


"Emang selama ini lo pernah nolong gue lagi kesusahan sama tuh orang?" cibir Shaila.


Mela menoleh dan ingin memukul Shaila saat Turut, guru Bahasa Inggris mereka sudah berada di depan kelas yang tiba-tiba menjadi sepi. Shaila menjulurkan lidahnya pada Mela yang sekarang terlihat gemas dengannya.


Sedangkan di lantai yang berbeda, kelas Arka sedang dalam pelajaran Bahasa Indonesia yang diajar oleh guru bernama Lisa. Guru berkacamata tersebut menghentikan acara mengajarnya saat melihat sesuatu yang membingungkan.


"Reyhan, Zaki, kalian ngapain di situ?" tanya Lisa pada dua orang murid yang duduk tenang menyimak pelajarannya di bangku paling pojok.


Yang dipanggil hanya mengerutkan dahinya. "Belajar lah Bu, masa maen bekel. Gimana sih Ibu ini," jawab Reyhan yang membuat seisi kelas tertawa.


"Yang saya tanya kenapa kalian masuk? Bukannya kalian sedang diskors?"


Zaki menggaruk kepalanya dan menyengir memperlihatkan deretan gigi rapihnya. "Kita lupa kalo lagi diskors, Bu."


"Sekarang kalian ingat, kan? Kalo gitu keluar!" ucap Lisa dengan tegas.


"Ey, jangan gitu lah, Bu. Nanggung nih kita mau belajar juga."


Lisa menghela nafas berat, seharusnya dia tahu kalau dirinya saja tidak bisa berurusan dengan ketiga biang kerok di kelasnya itu. Lisa meletakkan buku yang sedang ia pegang, dia lalu keluar dari kelas.

__ADS_1


"Wah mau ngapain tuh si Ibunya Dora?"


Ibunya Dora adalah panggilan mereka untuk Lisa karna potongan rambut guru itu sama seperti kartun kesukaan anak perempuan tersebut.


"Jangan-jangan mau manggil Parasut lagi, Rey."


Dan benar saja, tak lama kemudian seorang guru paruh baya yang membawa sebuah rotan di tangannya datang diikuti oleh Lisa di belakangnya. Rasyudin berdiri di depan kelas sambil bertelak pinggang.


Rasyudin menunjuk Reyhan dan Zaki dengan rotannya. "Kalian berdua... ikut saya."


"Ya elah, Pak. Kita kan lagi belajar loh masa disuruh keluar? Gak berprikeguruan nih Bapak," ujar Zaki yang lagi-lagi membuat kelas tergelak.


Rasyudin melotot menatap kedua murid nakalnya itu. "Ikut atau saya seret sampai gerbang?"


"Ih Bapak mah sadis banget, kalah badut di film It, mukanya sih sama padahal," ucap Zaki tanpa dosanya.


Semakin ramai suasana kelas dengan tawaan para murid. Rasyudin yang sudah semakin emosi menghampiri Zaki dan Reyhan dan membuat kedua lelaki tampan itu berdiri tanpa disuruh.


"Kita keluar, Pak. Oke? Gak selek, kan?" tanya Reyhan sambil membawa tasnya melewati sisi lain di samping Rasyudin.


"Ka, kalo udah balik telpon yah, kita di kantin," teriak Zaki dari depan pintu kelas.


"Gak ada kantin-kantian, kalian langsung pulang!" perintah Rasyudin.


"Kalian ini..."


Reyhan dan Zaki berlari keluar menghindari Rasyudin yang sudah mengambil ancang-ancang akan memukul mereka dengan rotan miliknya. Mau tidak mau mereka harus pulang walaupun tak tahu apa yang harus mereka lakukan di pagi hari seperti ini.


Rasyudin meminta maaf kepada Lisa karna kedua murid 'kesayangannya' itu sudah mengacaukan pelajarannya, dia lalu melirik sebentar pada Arka yang tengah membaringkan kepalanya di atas meja beralaskan tangan kanannya yang terjulur ke depan, seakan tak terganggu oleh keributan yang kedua sahabatnya buat tadi.


Rasyudin mendesah sebelum akhirnya keluar dari kelas, dia akan mempercayakan anak itu kepada Shaila. Rarsyudin yakin kalau Shaila dapat mengubah Arka mencari jati dirinya yang sebenarnya.


*****


Jam istirahat di kantin SMA Bumi Putera sangatlah ramai, semua meja dan bangku terisi penuh oleh para murid yang sedang menghabiskan waktu istirahat mereka dengan makan ataupun hanya berbincang saja.


Hal itu membuat Shaila dan Mela kesusahan mencari tempat duduk, kepala mereka mulai sakit menoleh ke segala arah mencari tempat duduk. Wajah Shaila berbinar saat matanya menemukan sebuah meja yang hanya diisi oleh satu orang.


Shaila mengajak Mela yang membawa dua mangkok bakso milik mereka berdua untuk mendekat. Mela kaget saat mengetahui sang penunggu bangku itu adalah Arka, pantas saja tidak ada yang berani untuk duduk di sana.


Shaila tanpa takut duduk di hadapan Arka, sedangkan Mela tampak ragu karna lelaki itu memberikan keduanya tatapan tidak suka, ditambah lagi Arka sedang merokok saat ini. Shaila menarik tangan Mela untuk duduk di sampingnya.


"Hai, Arka," sapa Shaila dengan riangnya tak memperdulikan tatapan mematikan lelaki di depannya. Saat ini Shaila mengundang tatapan penasaran seluruh murid yang melihat kejadian itu.

__ADS_1


"Ngapain lo di sini?"


"Ngapain menurut lo? Ya makan lah!" Shaila menatap meja di depan Arka yang hanya diisi oleh sebuah kotak rokok dan juga segelas es cappuccino. "Lo gak makan?"


"Bukan urusan lo!"


Shaila mencibir Arka dengan bibirnya, dia melirik sebatang rokok yang diapit oleh jari telunjuk dan jari tengah Arka. Shaila harus melakukan sesuatu agar Arka menghentikan kegiatan merokoknya tapi tidak dengan terlalu kentara karna sudah pasti lelaki itu tak akan menurutinya, lalu apa yang harus dia lakukan?


Shaila tersenyum saat sebuah ide muncul begitu saja di kepalanya. "Arka, suapin gue dong!"


Mela yang sedang asyik mengunyah baksonya menjadi tersedak mendengar permintaan gila Shaila, begitupun dengan penghuni kantin yang menatap Shaila dengan pandangan tak percaya, bahkan beberapa dari mereka mulai merekam kejadian langkah itu.


Arka menatap Shaila seakan dia sedang menatap segerombolan pinguin di Kebun Binatang Ragunan. "Apa lo bilang?"


"Ih Arka ganteng-ganteng bolot. Suapin!" ulang Shaila, kali ini dengan suara yang lebih tinggi.


"Kenapa harus disuapin?"


"Kan tangan gue lagi sakit." Shaila mengangkat tangan kirinya yang sedang memakai gips.


"Kan yang sakit tangan kiri lo, tangan kanan lo masih bisa digunain yah!"


"Tetep gak bisa, keseimbangan gue jadi terganggu gara-gara tangan kiri gue ini, yang ada nanti gue makannya belepotan."


Mela mendengus mendengar alasan tak masuk akal sahabatnya itu.


"Gak ada, gak mau gue. Makan aja sendiri!"


Shaila berlagak memasang wajah sedih. "Ya udah kalo gak mau, biar gue makan sendiri. Jadi nyesel gue nolongin lo kemarin sampe tangan gue jadi begini," keluh Shaila dengan suara kecil namun masih dapat Arka dengar.


Arka menghela na0as berat, dia yang paling membenci hutang budi dan merasa bersalah pun akhirnya menyerah. "Ya udah siniin!" Arka mengambil bakso yang Shaila sodorkan.


"Rokoknya matiin dulu!"


"Bawel lo!" Arka mematikan rokoknya di kolong meja dan melemparkan puntungnya ke tempat sampah di sampingnya.


Shaila tersenyum penuh kemenangan dan menerima suapan demi suapan yang Arka berikan. Baik Mela ataupun seisi kantin menatap kejadian langka itu dengan tak percaya, jepretan demi jepretan mereka abadikan untuk mengingatkan mereka bahwa kejadian ini pernah terjadi di sekolah mereka.


Arka merasa beruntung karna saat ini kedua sahabatnya sedang tidak ada di sini, karna kalau mereka melihat hal ini, Arka yakin kalau keduanya tak akan tinggal diam dan justru lebih heboh dari orang-orang yang sedang memotret ataupun merekamnya sekarang.


*****


TBC

__ADS_1


__ADS_2