My Lovely Busybody Girl

My Lovely Busybody Girl
14 - Adik Reyhan


__ADS_3

Arka meletakan sebuah mangkok berisi mi ayam dan es teh manis di depan Shaila yang sedang asyik mengobrol. Shaila menatap mi ayam tersebut dengan berbinar, dia memang tadi menyuruh Arka untuk membelikannya makanan favorit para murid itu di kantin.


“Ini makanan buat adik kelas gue yang ngeselin,” ucap Arka dengan penekanan pada kata ‘adik kelas’ seraya mengambil tempat duduk di samping Reyhan.


Senyum Shaila menghilang, dia menatap Arka dengan tajam.


“Napa lo ngeliatin gue kayak gitu? Awas naksir."


“Dih, najis gue naksir sama orang kayak lo, gak akan!”


“Yakin? Ntar malah ngejar-ngejar gue, lagi.” Arka mengaduk mi ayam di depannya menggunakan sendok dan garpu.


“Nih yah, umpamanya tuh kalo lo jadi cowok single terakhir di dunia ini, gue lebih baik dimadu deh daripa—“


Arka menghentikan ucapan Shaila dengan menyumpal mulutnya dengan mi ayam yang ia suapi. “Gimana? Enak?”


Mau tidak mau Shaila mengunyah mi ayam yang dipaksa masuk ke dalam mulutnya dengan susah payah, tatapan tajamnya pada Arka tidak pernah terputus.


Mela yang melihat keakraban sahabatnya dengan kakak kelasnya tersebut hanya tersenyum simpul. Mela merasa berkat Shaila, dia juga menjadi dekat dengan Reyhan dan Zaki, walaupun tidak terlalu dekat dengan Arka karna lelaki itu seperti memiliki kepribadian yang susah untuk didekati perempuan, dia tak peduli dan seperti menutup diri dari kaum hawa, tapi berbeda jika bersama dengan Shaila.


“Kalian cocok deh, serasi banget jadi pasangan.”


Reyhan dan Zaki mengikuti arah pandang Mela dan menatap Arka dan Shaila yang kebingungan secara bergantian. Tangan Arka yang masih memegang sendok di mulut Shaila membuat mereka berdua tampak konyol.


“Eh iya bener, kok gue baru sadar yah. Lo kayaknya cocok, deh," sahut Zaki.


Reyhan meringis sambil menatap Arka, dia lalu mengangkat kedua bahunya dengan kedua alis juga ikut terangkat.


“Dih dibilangin gue ogah dipasang-pasangin sama tiang listrik kayak gini,” ucap Shaila tak terima. “Mending gue sama Kak Reyhan atau Kak Zaki aja.”


“Dengan senang hati gue juga mau,” sambar Zaki yang dihadiahi jitakan oleh Reyhan.


“Lo mah kambing dibedakin juga mau aja!”


“Berarti lo bilang kalo Shaila mirip kayak kambing dibedakin, dong?” Zaki menatap Shaila sambil menunjuk Reyhan. “Parah, La.”


“Ini otak lo sekali-kali pake buat mikir deh, Zak, jangan buat pajangan aja.”


“Ye songong lo, gue juga make otak buat mikir,” Zaki mendekat ke arah Reyhan. “Mikirin ‘toge pasar’, tapinya.”


Sebuah jitakan kembali mendarat di kepala Zaki, kali ini dari Arka. “Bego, ada cewek nih di sini.”


Baik Shaila ataupun Mela hanya menatap kejadian itu dengan bingung, mereka tidak mengerti kenapa Zaki membawa ‘toge pasar’ ke dalam obrolan ini.


Melihat sorot mata bingung dari kedua adik kelasnya membuat Arka mengernyitkan dahi. “Lo gak tau ‘toge pasar’ tuh artinya apa?”


Mendapat gelengan kepala dari Shaila dan Mela membuat Arka dan Reyhan menghembuskan napas lega, setidaknya mereka tidak terkontaminasi dengan pikiran kotor Zaki. Setidaknya itu yang mereka pikirkan sampai akhirnya—


“Toge pasar tuh artinya ***** gede pantat besar,” ucap Zaki dengan polosnya dan suara yang lantang, tak ayal membuat beberapa orang di sana menoleh ke arah mereka.

__ADS_1


Reyhan menepuk keningnya, Arka mendesah pasrah, Shaila dan Mela menatap Zaki tidak percaya, sedangkan Zaki? Lelaki itu hanya tersenyum bangga dan tanpa dosa seakan dia baru saja memberitahu kunci jawaban ujian pada kedua adik kelasnya.


Shaila terbatuk, entah tersedak apa, dia lalu melirik jam berwarna biru di tangan kirinya. “Me-Mel, bentar lagi masuk nih, balik yuk,” ucap Shaila pada Mela yang masih termenung di sebelahnya.


“O-oh iya, La, ayo balik.”


Shaila dan Mela bangkit dari tempat duduknya, dia lalu pamit pada ketiga kakak kelasnya yang mana dua di antaranya hanya menjawab dengan anggukan lemas. Zaki menatap kepergian Shaila dan Mela dengan bingung, dia lalu menatap kedua sahabatnya.


“Mereka kenapa, dah?” tanya Zaki dengan polosnya.


Reyhan mengambil es cappuccino Zaki dan menyumpal mulut lelaki itu dengan sedotan yang berada di dalam gelas. “Minum ini aja lo ampe kenyang,” Reyhan mendesah. “Gak ada harapan nih temen lo," lirih Reyhan pada Arka.


*****


Sabtu pagi hari ini merupakan Sabtu pagi yang melelahkan bagi Shaila, karna sepagian ini dia sudah menjalani serangkaian pemeriksaan di bagian ortopedi bersama dokter bernama Albert. Bukan menjalani terapi rehabilitasi atau apa, Albert hanya memeriksa bagaimana keadaan tulang Shaila dengan melakukan ronsen.


Keadaan lengan kiri Shaila memang cukup jauh lebih baik daripada terakhir kali dia bertemu dengan Albert, yaitu sepuluh hari yang lalu saat Arka mengantarnya ke sini setelah dia terlempar oleh motor lelaki itu, namun Albert memutuskan belum saatnya bagi Shaila untuk melakukan rehabilitasi medis karna keadaan tulangnya yang masih rawan saat ini, jadi Shaila hanya mengganti gips nya yang sudah menguning menjadi cast baru yang berwarna putih bersih.


Selesai dengan semua penjelasan dokternya, Shaila pun berjalan keluar dari bilik ruangan berwarna putih itu. Dengan gips baru yang masih melingkar di lehernya, Shaila berjalan santai menuju pintu utama rumah sakit, dia berhenti saat matanya menangkap sesosok yang ia kenal.


Di sana, di deretan bangku tunggu di pojok sana tengah duduk seorang lelaki yang ia kenal. Shaila melangkahkan kakinya menuju lelaki berkaus hitam tersebut. Lelaki yang tengah menunduk dengan badan membungkuk ke depan dan kedua siku bertumpu di atas pahanya itu mengangkat kepalanya saat melihat sepasang sepatu berwarna hijau army di depannya.


“Halo, Kak Rey. Lagi apa?” sapa Shaila dengan senyum ceria.


Wajah Reyhan yang tadi sempat kusut terlihat lebih cerah sekarang. “Eh, Shaila. Lo sendiri ngapain?”


Shaila mengangkat tangannya. “Konsul. Kakak belom jawab pertanyaan gue loh, lagi ngapain?” ulang Shaila.


Shaila menngikuti arah yang ditunjuk oleh Reyhan. Sebuah ruangan dengan pintu kaca dengan tulisan cancer ward di tengahnya. Shaila tahu betul ruangan apa itu, mendadak perasaannya jadi tidak enak. Gadis yang memakai cardigan berwarna senada dengan sepatunya itu mengambil duduk di sebelah Reyhan.


“Kemo?”


“Yup,”


“Kenapa gak tunggu di dalem?”


“Gak tega gue liat adek gue lemes gitu, lagian bentar lagi juga selesai.”


Hening di antara mereka, Shaila yang biasanya ceria pun terlihat tak bisa menemukan kata-kata apa yang cocok untuk dikatakan di saat seperti ini. Bukan kata-kata yang hanya merupakan basa-basi semata, namun sesuatu yang dapat membuat lelaki di sampingnya ini tidak seperti kehilangan harapan seperti sekarang.


“Kakak gue juga punya penyakit kanker,” seru Shaila tiba-tiba, membuat Reyhan menoleh. “Kanker otak, sejak kecil.”


Reyhan terkesiap mendengarnya. “I’m sorry to hear that,”


Shaila tersenyum simpul. “Gue juga pertamanya sama kayak lo gini, Kak. Hopeless, padahal kakak gue yang sakit. Gue selalu nganterin dia saat dia kemo, walaupun gue gak dibolehin masuk karna gue masih kecil. Seharusnya gue yang selalu ngehibur dia buat gak sedih atau nyerah karna penyakitnya, tapi justru dia yang terus-terusan ngehibur gue dengan bilang kalo dia bakal baik-baik aja, dia juga gak pernah lupa senyum walaupun gue tau seberat apa beban yang dia derita.”


“Pasti kakak lo orang yang kuat, yah.”


Shaila mengangguk setuju. “Dia kuat banget, tapi sayangnya dia udah meninggal.”

__ADS_1


Reyhan menoleh ke arah Shaila, menatap wajah cantik yang sedang muram itu dari samping.


Shaila yang menyadari perkataannya tadi menoleh dengan cepat dan meralat ucapannya. “Bu-bukan karna kankernya, Kak. Kemo-nya hampir berhasil kok, dia hampir dinyatakan bebas dari kanker kalo aja dia terus ngejalanin itu. Dia meninggal karna kecelakaan, sama kayak orangtua gue," ralat Shaila agar Reyhan tidak berpikiran negatif.


Namun bukan hal itu yang Reyhan pikirkan, namun kenyataan bahwa gadis di sampingnya itu kehilangan kakak sekaligus orangtuanya dalam sebuah kecelakaan. Lalu sekarang dia hidup dengan siapa? Apa dia punya adik atau kakak yang lain? Hal itulah yang dipikirkan oleh Reyhan.


“Kakak lo meninggal karna kecelakaan apa?”


Shaila menghirup nafas panjang. “He was a racer, dibalik penyakitnya yang ganas, dia itu seorang pembalap yang handal. Bahkan kalo dia gak meninggal, udah pasti dia bakal berjejer sama pembalap kelas dunia dan jadi perwakilan Indonesia.” Shaila terlihat menerawang. “Tapi akhirnya takdir berkata lain, kakak gue meninggal di sirkuit karna permintaan bodoh gue.”


Reyhan terdiam mendengarnya, mendengar hal itu membuat Reyhan yakin kalau Shaila sempat mengalami waktu yang berat untuk hal itu. Shaila menoleh dan tersenyum simpul kepada Reyhan.


“That’s why, gue benci banget sama kebut-kebutan dan pembalap, bahkan gue sempet kena PTSD kalo ngeliat kebut-kebutan gitu... walaupun sekarang belum sepenuhnya sembuh, tapi udah lama ini gue gak kena serangan itu lagi.”


“Lo berarti benci sama Arka, dong?” lirih Reyhan yang lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.


Shaila menoleh dengan kening berkerut. “Apa, Kak?”


Reyhan menggeleng. “Gak, bukan apa-apa.”


Shaila mengangguk. “Lo tenang aja, Kak. Your sister is absolutely gonna be alright, percaya deh," ucap Shaila dengan yakin sambil memamerkan deretan gigi putihnya.


Reyhan tersenyum melihat senyuman itu, entah kenapa saat melihat senyum ceria Shaila dapat membuat hari Reyhan menjadi lebih cerah.


Seorang gadis berambut panjang keluar dari ruangan di depan mereka, Reyhan berdiri dan menyambut kedatangan gadis tersebut. “Kamu gak papa? mau istirahat dulu?”


Gadis di depan Reyhan menggeleng sambil tersenyum manis, “Tadi aku udah istirahat di dalam lama banget.” dia lalu melihat Shaila yang berdiri di depannya. “Kakak... siapa?”


Shaila tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Gue Shaila,”


Gadis cantik itu menerima uluran tangan Shaila. “Rena,” Rena menatap kakaknya dengan senyum jahil. “Pacar Kak Reyhan, yah?”


Reyhan terkesiap. “Bukan, dia adik kelas kakak.”


“Bohong, kakak mana mau ngobrol berduaan sama cewek gitu? Udah jelas ada apa-apanya,”


“Kayaknya efek kemo juga bikin otak kamu agak eror, yah?”


Rena memukul perut Reyhan yang membuat lelaki itu tertawa, Reyhan menatap Shaila yang menatap mereka dengan tersenyum. “La, gue balik duluan yah. Atau lo mau ikut sama kita? Gue anterin.”


“Gak usah, Kak. Gue balik naik taksi aja,”


“Oh gitu, ya udah. Kita duluan yah, lo hati-hati.”


“Kita dulu yah, Kak Shaila. Sampai ketemu lagi,” ucap Rena sambil melambaikan kedua tangannya.


Shaila menurunkan kedua tangannya, dia menghela napas melihat kedua adik kakak tersebut berjalan keluar dari rumah sakit. Tiba-tiba Shaila rindu dengan kakaknya, rindu dengan sosok kakaknya yang hangat. Sepertinya hari ini dia akan menemui keluarganya dulu.


*****

__ADS_1


TBC


__ADS_2