
Siap sudah Shaila sore ini menghadapi Arka. Setelah ditinggal Arka, Shaila terpaksa merapikan ruang perpustakaan itu sendiri dan membuatnya harus pulang dua puluh menit lebih telat.
Kejadian kemarin mengajari Shaila tentang sifat lelaki itu yang seenaknya dan tidak bertanggung jawab. Jadi hari ini gadis itu sudah siap dengan segala kemungkinan mulai dari Arka tidak mau mengerjakan hukumannya dan memilih tidur atau main game, Shaila sudah siap.
Saat istirahat dia sudah meminta ijin kepada pelatihnya untuk tidak mengikuti latihan hari ini karna dia ingin fokus mengawasi Arka menjalani hukumannya.
Semua kemungkinan yang tadi telah disebutkan dipikirnya apa yang akan terjadi, namun Shaila lupa -atau tidak terpikir sama sekali tentang Arka yang tidak akan datang ke perpustakaan walau sudah hampir empat puluh menit Shaila menunggu.
Yang benar saja! Apa yang sebenarnya dilakukan lelaki itu sampai membuat Shaila kesal dua hari berturut-turut? Shaila menoleh dan mendapati tumpukkan buku yang baru saja dikembalikan oleh para murid yang meminjamnya.
Awas saja Arka, Shaila tak akan membiarkannya begitu saja besok. Sudah cukup dua hari ini dia pulang telat karna lelaki jangkung itu. Shaila akan membalasnya.
*****
"Lo mau kemana sih? Kayak mau ngambil gaji aja jalannya cepet banget," celetuk Mela yang berjalan di belakang Shaila yang seperti sedang mengikuti lomba jalan cepat.
"Gue harus buru-buru ke kelas Arka, Mel, kalau nggak dia bakal kabur lagi."
"Arka? Maksud lo kak Arka?"
"Ada berapa Arka sih di sekolah ini?" Shaila berbelok menaiki tangga "Oke gue ganti pertanyaannya, ada berapa Arka yang suka bikin emosi?"
"Woy, kakak kelas lo tu. Panggil kakak"
"Dia gak pantes gue panggil kakak, sumpah."
"Ih Lala jangan cepet-cepet dong jalannya!" Keluh Mela yang mengekor di belakangnya.
Sepertinya mengikuti Shaila ke kelas Arka bukanlah pilihan yang tepat, seharusnya dia pulang saja dan bertemu dengan pacar kesayangannya, Bayu. Namun mau bagaimana lagi, Mela juga penasaran mau melihat kakak kelasnya yang ketampanannya telah melegenda itu dari jarak dekat.
Shaila berhenti di depan pintu kelas 3-3, kelas Arka. Berkali-kali gadis itu dan Mela meminta maaf kepada kakak kelas yang ia tabrak, biar bagaimanapun Shaila tak ingin menjadi adik kelas yang durhaka.
Shaila meneliti setiap sudut kelas Arka yang sudah mulai sepi dengan matanya dan menemukan sosok lelaki itu sedang tertawa bersama temannya di meja paling belakang dekat dengan jendela, lelaki itu menaikkan kedua kakinya ke atas meja.
"ARKAAA!!"
Teriakkan Shaila membuat para murid yang berada di kelas maupun koridor lantai tiga menoleh menatapnya bingung dan ingin tau apa yang sedang terjadi.
Arka memanjangkan lehernya untuk melihat siapa yang memanggilnya dengan suara kencangnnya itu. Setelah mengetahui siapa pelakunya, Arka justru menghiraukannya dan kembali mengobrol bersama temannya.
Dihiraukan seperti itu tentu saja membuat Shaila kesal, gadis itu melangkah masuk menghampiri Arka dan teman-temannya walaupun sudah dicegah oleh Mela.
"Ngapain masih di sini? Cepet ke perpus!"
"Iya,"
"Arka!!"
"Hmm?"
"Cepet!"
"Iya,"
Teman-teman Arka yang mengitari hanya menjadi penonton di antara Shaila yang wajahnya memerah karna marah dan Arka yang sibuk dengan ponselnya.
"Bentar,, bentar.. lo gak tau dia siapa?" tanya Zaki yang bingung melihat sikap Shaila kepada Arka.
"Arka Putra Atmadjaya, kenapa?" jawab Shaila.
__ADS_1
Zaki mengangguk. "Tuh lo tau, tapi masa iya lo gak tau kalo dia preman di sekolah ini?"
Shaila yang sudah kesal karna Arka ditambah lagi dengan ocehan tak penting Zaki lantas melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Zaki. "Preman sekolah, troublemaker, suka bikin nangis guru, apa yang gue lewatin?"
"Tuh lo tau semuanya, kok lo gak takut sama dia?" selama ini memang tak ada satupun yang berani kurang ajar kepada Arka di sekolah ini -guru sekalipun, makanya Zaki heran melihat tingkah Shaila yang seperti tak punya takut.
"Dia manusia -gue manusia, dia makan nasi -gue makan nasi, apa yang harus gue takutin?"
"Ya, tapi kan-"
"Udah ayo cepet sih, lelet banget jadi cowok." Shaila menarik tangan Arka yang masih sibuk dengan ponselnya bahkan di tengah perdebatan antara sobatnya dan Shaila.
Lagi-lagi Arka melepas tangan Shaila. "Dih dibilang jangan pegang-pegang, modus lo ah!"
Baik teman-teman Arka maupun Mela yang hanya menjadi penonton di belakang Shaila tertawa melihat ekspresi Shaila.
Arka berdiri dan menyampirkan tas punggungnya di punggung kanannya. "Lo pada balik duluan aja, ntar jam tujuh gue ke basecamp," ucap Arka sambil lalu.
Reyhan menatap punggung sahabatnya yang berjalan menjauh yang diekori oleh dua orang gadis. "Just 'Arka', huh?" gumamnya yang tak dapat didengar siapapun.
Shaila dan Mela mengikuti Arka keluar kelasnya dan menuruni tangga hingga ke lantai dasar. Mela menahan tangan Shaila saat gadis itu akan berbelok ke arah gedung belakang sekolah.
"Ya ampun, Mel. Gue lupa ada lo," Shaila menepuk dahinya.
"Gak papa, that was such a nice view, though. Lagian juga gue yang maksa ikut tadi."
"Ya udah lo sana balik, Bayu pastii udah nunggu, kan?"
Mela nyengir. "Daritadi," Mela menatap layar ponselnya dan nama My Bae Yu ❤ terpampang di layar. "Gue duluan yah, La.
Shaila meringis merasa bersalah. "Iya sana, hati-hati."
Walaupun Mela tidak melanjutkan kata-katanya, namun Shaila mengerti apa yang dia maksud karna nada bicara dan mata Mela yang berkedip jahil tadi itu.
Shaila mendengus. "Gak akan gue cinlok sama manusia macam dia."
Shaila masuk ke dalam perpustakaan yang saat ini tengah ramai oleh siswa yang sedang memilah buku yang akan mereka pinjam. Tumben rame, udah pasti ada guru yang ngasih banyak tugas yang make research nih. Batin Shaila.
Di tengah keramaian, Shaila tak menemukan keberadaan Arka. Kemana lelaki itu? Tidak mungkin kabur begitu saja kan? Oh, Shaila tau! Dia pasti berada di ujung lorong sana sudah bersiap untuk tidur.
Dengan langkah besar, Shaila melewati lorong rak buku dan benar saja, Arka sedang merebahkan tubuh tingginya di atas kursi panjang -seperti biasa walaupun kali ini matanya tak terpejam justru sibuk melucuti komik naruto di depannya.
"Lo ke sini buat ngejalanin hukuman lo yah bukan buat santai-santai!"
Arka hanya melirik Shaila sekilas sebelum akhirnya fokus pada komiknya lagi. "At least gue dateng."
"Jangan bikin gue kesel, cepet kerjain tugas lo!"
"Hmm..."
"ARKA! Lo-"
"Kak, aku mau nanya buku ini dong." Seorang murid perempuan menghampiri Shaila dan menyodorkan sebuah buku pada Shaila.
"Oh iya, mau nanya apa?"
Bukannya menjawab, siswi kelas satu tersebut justru menatap Arka dengan terkejut dan kagum. Dia terkejut karna tak menyangka akan menemukan seorang Arka di dalam perpustakaan, dan kagum karna postur tubuh dan wajah lelaki itu yang sangat sempurna dilihat dari dekat.
Shaila yang menyadari hal itu tentu saja kesal, dia memegang lengan gadis di depannya. "Kita bicara di depan aja yah."
__ADS_1
Walaupun sudah ditarik secara lembut oleh Shaila, siswi di sampingnya ini masih saja menolehkan wajahnya ke arah Arka dan beberapa kali berhenti di tempat membuat Shaila menariknya sedikit lebih kencang.
Sampai di meja administrasi, terlihat beberapa murid yang masih sibuk memilah buku-buku yang akan mereka pinjam, tugas apa yang sebenarnya akan mereka kerjakan?
"Jadi kamu mau nanya apa?" tanya Shaila pada gadis berambut pendek di depannya.
"Ah, itu kak... itu..."
Shaila menaikkan alisnya, menunggu kelanjutan pertanyaan orang di depannya. "Yaa?"
"Kak Arka tiap hari ada di sini yah?"
Gubrak. Begitulah yang saat ini sedang Shaila rasakan, sepertinya gadis di depannya ini telah kehilangan pertanyaannya setelah melihat Arka tadi. Sebegitu menghipnotiskan kah sosok Arka bagi para gadis? Shaila tak tau, yang ia tau hanya lelaki itu sangat menyebalkan.
"Nggak kok, cuma hari ini aja."
Oke, Shaila berbohong. Itu karna dia tak mau perpustakaan yang dikhususkan untuk orang belajar justru akan menjadi tempat berkumpulnya para fans Arka.
"Oh gitu, ya udah deh, makasih kak."
Gadis di depannya tadi berjalan menuju tempat Arka dan meninggalkan buku -yang Shaila yakin ingin ia gunakan untuk tugasnya. Sudahlah, biarkan saja gadis tadi berfantasi tentang Arka, Shaila tak ingin menghancurkan fantasi indahnya tentang lelaki itu.
Shaila menoleh saat seseorang menepuk bahunya. Seorang murid lelaki yang ingin bertanya tentang buku yang sedang ia pegang, di belakangnya terdapat sebuah antrian oleh murid yang ingin menanyakan tentang isi buku. Baiklah, sepertinya sore ini akan menjadi sore yang panjang.
Sudah hampir empat puluh menit Shaila berlalu namun Shaila masih berkutat dengan para adik kelasnya yang sedang mengantri untuk meminjam buku yang telah mereka pilih. Ini sudah hampir jamnya untuk hukuman Arka berakhir, atau memang sudah waktunya?
Arka menghampiri Shaila yang saat ini terlihat tengah kesusahan di depan komputer yang mendadak eror. Dengan santai, lelaki itu mengetuk meja di depan Shaila.
Shaila menoleh dan membulatkan kedua matanya melihat Arka yang telah menenteng tasnya. "Lo mau kemana?"
Arka menunjukkan jam berwarna hitam di tangan kirinya kepada Shaila. "Balik, udah jamnya."
"Lo kan belum beresin buku!"
"Kata siapa? Gue udah beresin."
"Serius? Semuanya?"
Arka menggeleng. "Cuma komik yang tadi gue baca doang,"
Mulut Shaila terbuka lebar, apa lelaki ini sedang bercanda? "Lo kan-"
"Kak, masih lama yah? Udah mau maghrib nih," keluh seorang lelaki di depannya yang diiyakan oleh beberapa temannya.
"Ah iya sebentar, ini udah-"
"Gue duluan, semangat!!"
"ARKA!! Tunggu jangan-"
"Kak buruan!"
"Ah iya!"
Shaila gelisah antara ingin menghentikan Arka yang sudah keluar dari ruangan dengan para adik kelasnya yang berbaris untuk mencatat buku yang mereka pinjam. Ya ampun, sepertinya hari ini dia akan pulang malam. Dasar tiang listrik!! Batin Shaila.
*****
TBC
__ADS_1