My Lovely Busybody Girl

My Lovely Busybody Girl
17 - Baper


__ADS_3

***Kindly reminding**: vote before you read, don't forget to breathe because this story contains absurd things that will make your heart flusters. Now, let's enjoy the story* ^^


*****


Arka sedang berlari bersama keliling lapangan, pagi ini adalah jam pelajaran olahraga untuk kelas XII IPA3. Mereka diperintah untuk berlari keliling lapangan sebanyak dua kali setelah melakukan pemanasan selama lima menit.


Langkah Arka terhenti saat melihat sosok yang ia kenal sedang berdiri memberi hormat pada tiang bendera. Arka menoleh dan mencari keberadaan Surya yang ternyata sedang mengendap-endap menerima telpon di pojok lapangan, Arka lalu berlari menuju Shaila.


Dengan santainya Arka berjongkok di depan Shaila yang terlihat sangat kaget akan kedatangannya. Arka terkekeh melihat keadaan Shaila yang sangat kacau di pagi ini.


"Why do I have to meet you, first thing in the morning?" keluh Shaila.


Arka semakin tertawa melihat Shaila mengeluh, dia merubah posisinya menjadi duduk bersila dan menyandarkan tubuhnya pada tiang bendera di sampingnya. "Kenapa? Telat?"


"Menurut lo?"


"Emang semalem ngapain aja sampe telat gini? jangan bilang abis mikirin gue lo yah?"


Shaila mencibir, merasa mual mendengar perkataan penuh percaya diri Arka. "Gue tendang boleh, gak?"


"Silahkan, dengan senang hati gue bisa ngeliat daleman lo," ucap Arka santai.


Shaila yang menyadari posisi Arka yang berada di bawahnya membuat dia akan dengan mudah melihat dalamannya. "Piktor! Kebanyakan temenan sama Kak Zaki sih lo."


"Dih nama orang dibawa-bawa, dosa lo." Arka melipat kedua tangannya di depan dada. "Gimana lukisan gue? bagus, gak?"


"Bikin gue mimpi buruk, makanya gue telat bangun."


"Mimpi buruk apa mimpiin gue?" Arka mengerling pada Shaila.


"Kalo lo cuma mau ngerecokin gue mending pergi aja deh, tambah capek gue ngeladenin lo."


Arka terkekeh, dia lalu berdiri dan menepukkan tangannya pada celana training-nya untuk membersihkan dari debu. "Ya udah gue pergi, jangan ngambek gitu, elah. Kalo gak kuat lambaikan tangan ke gue aja."


"Lo kira uji nyali!"


"Lagi PMS lo, yah? Pagi-pagi marah-marah mulu."


"Udah sih sana, gue panggil Pak Rasyudin, nih!" ancam Shaila.

__ADS_1


Arka lagi-lagi terkekeh, ia lalu berlari ke arah lapangan dimana teman-temannya berada sambil melambaikan tangannya pada Shaila. Shaila memperhatikan Arka yang mulai membaur pada teman-temannya yang masih berlari seakan tak ada yang terjadi.


Shaila mendesah, sakit jiwa tuh kakak kelas.


*****


"Kenapa kamu telat, La? Kayak bukan kamu aja."


Shaila terkekeh menunjukkan deretan giginya pada Rasyudin di depannya. "Saya telat bangun, Pak. Tugas banyak banget," jawab Shaila, tentu saja itu bukan alasan sebenarnya.


"Lain kali jangan telat yah, saya ngehukum kamu hormat bendera selama setengah jam juga udah saya ringanin banget karna kamu murid kesayangan saya."


"Iya saya tau kok, Pak. Bapak emang the best deh," Shaila mengacungkan ibu jari tangan kanannya.


Rasyudin tersenyum, "Kamu ada-ada aja. Ya udah kamu masuk sana, pelajaran berikutnya mau mulai sebentar lagi."


"Siap, pak. Terima kasih."


Shaila berlari ke pinggir lapangan dan mengambil tas punggungnya. Baru saja berdiri seperti itu selama setengah jam saja sudah membuat tubuhnya terasa seperti mandi keringat, jika bisa, Shaila ingin sekali mandi air dingin saat ini juga.


Saat menaiki tangga menuju lantai dua, sebuah kain tiba-tiba jatuh dan menutupi wajah Shaila. Shaila mengangkat kain yang ternyata handuk kecil berwarna biru tersebut, dia menoleh dan mendapati Arka sedang berjalan di sampingnya.


"Itu handuk buat lap muka lo, dekil banget itu muka kayak anak gasong," ledek Arka.


"Itu handuk udah gue pake buat lap keringet gue duluan sih tadi."


Shaila menghentikan kegiatannya dan menatap tajam pada Arka yang lalu tertawa.


"Canda, elah. Baper lo," Arka memberikan sebuah kaleng minuman isotonik yang dingin kepada Shaila. "Minum, nih."


"Ogah, males gue sama lo," ujar Shaila masih sambil melangkahkan kakinya.


"Ya udah kalau gak mau, gue udah baik juga." Arka meminum minuman yang ia bawa.


Shaila berhenti, ia menoleh dan menatap Arka tak percaya, detik berikutnya dia memukul perut Arka dengan kencang sampai Arka terbatuk dan minuman yang baru akan masuk ke dalam tenggorokannya tersembur keluar. "Kok diminum, sih? katanya buat gue?"


Arka mengelap air yang menuruni dagunya. "Lah, lo bilang kan gak mau barusan."


"Ya bujuk gue atau apa kek, masa gitu doang udah nyerah. Resek banget." Shaila menlanjutkan kembali langkahnya.

__ADS_1


Arka tertawa kencang dan mengikuti langkah Shaila, dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celana training-nya. Arka meletakkan kaleng minuman yang sama persis seperti di tangannya saat ini ke pipi Shaila hingga gadis itu kaget dan menoleh kepadanya. "Nih gue bawa dua, jangan ngambek ah!"


Shaila mengambil minuman dari tangan Arka, dia mencebikkan bibirnya dengan perasaan masih kesal. Arka mendengus melihat ekspresi Shaila, lelaki itu mengacak rambut Shaila.


"Muka lo lucu, kayak anjingnya Shinchan." Arka terus mengacak rambut Shaila hingga rambut panjangnya itu menutupi wajahnya. "Gue duluan yah, belajar yang bener lo!"


Setelah menyadari apa yang telah terjadi, Shaila membetulkan rambutnya yang sudah acak-acakan dengan kesal. Dia menatap punggung Arka yang berlari riang menaiki anak tangga. Dia masih kesal dengan sifat jahil Arka, namun terkadang kakak kelasnya itu akhir-akhir bersifat manis dan membuatnya salah tingkah, seperti saat ini.


Shaila menatap handuk berwarna coklat dan kaleng minuman dingin yang Arka berikan tadi, ada perasaan aneh yang menjulur di hatinya saat ini, sesuatu yang.... hangat. Shaila menggelengkan kepalanya dengan kencang.


Udah, jangan baper! This is Arka we are talking about. Pikirnya lalu melanjutkan langkahnya.


*****


Shaila dan Mela duduk di bangku kantin tempat biasa mereka duduk bersama tiga kakak kelas mereka, Shaila mengedarkan pandangannya ke seluruh kantin, tangan kanannya memegang ponsel di telinga. Nomor yang sedang ia hubungi memang tersambung, namun tak ada satu pun dari delapan panggilan darinya yang diterima.


"Mel, gue langsung ke kelasnya aja deh," ucap Shaila pada Mela yang sedang menikmati siomay di sampingnya.


"Tungguin sebentar lagi aja sih, kali aja Kak Arka lagi memenuhi panggilan alam," seru Mela.


"Enggak deh, gue samperin aja. Lo tunggu sini bentar yah."


Shaila keluar dari area kantin yang sudah mulai dipenuhi oleh murid-murid yang kelaparan. Kelas Arka yang berada di lantai tiga membuat dirinya kelelahan, sudah lama tidak berolahraga ternyata membuatnya gampang lelah, ditambah lagi dengan keadaan tangan kirinya yang membuatnya kesusahan.


Shaila telah sampai di depan kelas Arka, dia menjulurkan kepalanya ke arah tempat duduk Arka yang berada di paling ujung namun yang dia jumpai justru teman sekelas Arka yang duduk dan bercanda di sana. Shaila menghentikan seorang lelaki yang berjalan keluar kelas.


"Kak mau nanya dong, Arka kemana yah?"


"Arka gak masuk hari ini, Reyhan sama Zaki juga gak ada dari pagi," jawab lelaki berkacamata itu.


"Oh gitu, yaudah makasih, Kak."


Kemana mereka? Kenapa bolos juga tetap bersama-sama? Shaila mengeluarkan ponselnya lagi dan membuka chat room dengan Arka.


To: Tiang listrik


Dimana? Kok gak masuk? Kalo sampe pulang nanti gak dateng ke perpus, liat aja besok!


Send

__ADS_1


TBC



__ADS_2