My Lovely Busybody Girl

My Lovely Busybody Girl
16 - Dear Gips


__ADS_3

“Lo Sabtu kemarin ke rumah sakit, yah?” tanya Arka pada Shaila di sela kegiatannya menyuapi gadis itu.


“Iya, kenapa?”


“Kenapa gak ngasih tau gue? kan bisa gue anter," ujar Arka sambil menyendok nasi goreng di depannya.


“Duh ilah, protektif bener kayaknya nih si boyfie,” ledek Zaki sambil tersenyum jahil dan diamini oleh Reyhan dan Mela.


“Berisik lo pada!” Arka menyuapkan nasi goreng kepada Shaila. “Kenapa?”


Shaila mengunyah nasi goreng yang berada di mulutnya sebelum menelannya. “Gue gak mau ngerepotin lo aja, lagian kan itu weekend, jadi lo harus libur jadi babu gue juga dong.”


Arka mengambil es teh manis Shaila dan memasukkan sedotan yang berada di dalam gelas itu kepada Shaila, sekarang pemandangan Arka menyuapi Shaila menjadi pemandangan yang sudah biasa bagi murid SMA Bumi Putera.


“Bisa gitu, yah? Padahal lo ngejajah gue banget kayak gini, apalagi lo adek kelas.”


Shaila menunjuk Arka dan mengadu pada Reyhan dan Zaki. “Mainnya senioritas nih, Kak. Gak banget."


“Yah lo sendiri maenannya junioritas,” ucap Arka tak mau kalah.


Reyhan menepuk pipi Arka. “Mane ada junioritas, kadang-kadang **** deh lo, untung ganteng.”


Arka tak menghiraukan Reyhan, dia masih menyuapi Shaila dengan nasi gorengnya. “Besok-besok kasih tau gue kalo mau balik ke rumah sakit. Denger, gak?!”


“Hm,,,”


Mela memutar bola matanya, dia menatap Reyhan dan Zaki di depannya. “Capek gak sih kita bertiga selalu jadi obat nyamuk di sini?”


“Tau nih, berasa dunia milik berdua deh, yang lain pada ngekos,” sahut Zaki.


“Makanya cari pacar!” seru Arka.


“Emangnya lo berdua pacaran?” tanya Reyhan dan membuat Mela dan Zaki menatap keduanya dengan antusias.


“Apaan, sih? Siapa juga yang mau pacaran sama cowok ngeselin kayak dia?”


“The same goes for me,” ujar Arka sambil memasukkan sendok ke dalam mulut Shaila dengan kasar hingga gadis itu mengaduh kesakitan.


“Sakit, ih! Udahan ah, Arka mah kasar.”


Arka mengangkat bahunya, detik berikutnya dia menyendokkan nasi goreng dan memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Mela yang melihat hal itu menjadi heboh sendiri, dia menepuk tangan Shaila dan menunjuk Arka.


“Apaan sih, Mel?”


“Itu, indirect kiss!”


Mendengar perkataan Mela yang setengah berteriak tersebut membuat Shaila dan hampir seisi kantin menoleh ke arah Arka yang sedang asyik menghabiskan nasi goreng milik Shaila dengan santainya, dia menaikkan alis saat melihat orang-orang di sekitarnya memperhatikannya.


“Lo ngapain? Itu kan bekas Shaila,” ucap Reyhan bingung dengan perbuatan sahabatnya itu.


“Trus?”


“Itu sendok juga bekas Shaila,” timpal Mela.

__ADS_1


“Trus?”


“Indirect kiss!” kali ini Mela berkata dengan nada lebih keras.


“Trus?”


Shaila menghela nafas berat, dia lalu menggeleng. “Bukan cuma ****, temen lo ini kadang juga idiot.”


“Gak usah pada lebay deh lo pada, makan dari sendok yang sama aja ampe pada heboh gitu.” Arka mengambil gelas es teh manis Shaila dan meminumnya dari sedotan yang sama dan lagi-lagi membuat Mela menahan teriakannya. “Lo gak punya penyakit dalam, kan?”


Mela mencengkram lengan Shaila yang sedang menatap kosong Arka dengan kencang. Ingin sekali Shaila memukul kepala lelaki itu dengan piring bekas nasi gorengnya yang sekarang sudah kosong, namun ia urung mengingat banyaknya pasang mata yang sedang menatap mereka, termasuk para fans Arka.


Arka bangkit dari tempat duduknya. “Udah jam segini, coy, futsal bentar lagi.” Arka menoleh pada Shaila dan mengacak rambut gadis itu, lebih tepatnya membasuh tangannya yang berminyak pada rambut Shaila. “See you after school.”


Shaila hanya terdiam dengan rambutnya yang berantakan, beberapa orang memekik iri melihat Arka mengacak rambut Shaila. Yang mereka lihat adalah sosok lembut Arka yang mengacak rambut Shaila dengan gemas, namun gadis itu tahu kalau Arka baru saja meninggalkan bekas minyak nasi goreng pada rambutnya.


Shaila mengatur nafasnya agar tidak memburu. “DASAR TIANG LISTRIK JELEK!!”


Arka yang masih dapat mendengar hal itu tersenyum lebar dan berjalan meninggalkan kantin.


*****


“Lo lagi ngapain?” tanya Arka pada Shaila yang sedang menggaruk-garuk gips-nya dengan frustasi namun berhati-hati.


“Tangan gue gatel,” seru Shaila dengan manja.


“Ya gatel tinggal digaruk lah, ngapa jadi ngelus-ngelus gips lo gitu.”


“Kalo emang segampang itu juga daritadi udah gue garuk, jari gue gak nyampe ke dalem,” ucap Shaila frustrasi.


“Lo kemana? Lah-lah, Arka lo mau kemana? Kerjaan lo belom beres, woy!” teriak Shaila pada Arka yang berlari keluar dari perpustakaan. “Tuh anak, bingung deh gue.”


Tak lama Arka kembali dengan sebuah sumpit di tangannya, dia duduk di samping Shaila dan membuka lilitan perban di leher dan pundak Shaila. Arka membawa tangan kiri Shaila yang memakai gips ke atas pahanya, lelaki itu membuka plastik yang membungkus sumpit yang ia bawa dan tanpa berbicara dia langsung memasukkan sumpit itu ke dalam gips Shaila.


Shaila meringis saat sumpit itu menyentuh kulitnya, lalu dia menghela napas lega saat sumpit itu menyentuh titik yang membuatnya risih sedari tadi. “Nah, nah itu bener di situ.”


Arka melirik Shaila sebentar sebelum akhirnya memaju-mundurkan sumpit yang ia bawa ke dalam gips Shaila. Gadis itu tentu saja dapat bernapas lega sekarang karna rasa gatalnya perlahan menghilang.


“Ngomong-ngomong, gue baru sadar kalo cast lo polos begini," ujar Arka yang membuat Shaila mengernyitkan dahinya.


“Maksud lo?”


“Mitosnya nih yah, gips itu harus dicorat-coret biar lo cepet sembuh.”


“Apaan gitu, mana ada.”


“Gak percaya? Kita coba yah,” Arka mengeluarkan sumpit dari dalam gips milik Shaila, dia lalu berjalan menuju tasnya dan mengeluarkan tiga buah spidol berbeda warna.


Shaila mengernyitkan keningnya saat Arka sudah akan menulis sesuatu di atas gips-nya dengan spidol berwarna biru. “Lo mau ngapain?”


“Berkarya,” jawab Arka singkat lalu membubuhkan tinta biru tersebut di atas gipd Shaila.


Shaila hanya diam menatap Arka yang sangat fokus pada pekerjaannya, sesekali dia berganti spidol dengan warna merah dan hitam, Shaila bahkan tak mengerti kenapa dia membawa spidol permanen berwarna tersebut ke sekolah, karna sekolah juga hanya memperbolehkan memakai spidol berwarna hitam, dan itu pun tidak permanen.

__ADS_1


Shaila tertawa melihat tulisan yang sekarang sudah berada di atas gips-nya. “Ini apaan? Arka ganteng? Nyampah banget, sumpah.”


Tulisan yang Shaila maksud adalah ukiran huruf berukuran sedang yang bertuliskan Arka ganteng, di bawahnya terdapat lagi tulisan Shaila jelek dan beberapa ukiran berbentuk matahari, mobil atau yang lain-lain, Shaila mengernyit saat melihat bagian tengah gips-nya kosong.


“Ini kok kosong?”


Arka hanya melirik Shaila sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya. “Tunggu aja,”


Arka mulai membubuhkan spidol berwarna hitamnya di atas ruang yang kosong itu, tangan Arka yang menutupi membuat Shaila tak bisa melihat apa yang sedang dia tulis. Arka terlihat sangat serius dengan spidol di tangannya, melihat sosok serius Arka seperti ini tak pelak membuat Shaila mengakui ketampanan lelaki itu.


“Dah, selesai!” seru Arka sambil mengangkat kedua tangannya.


Shaila menatap gips-nya yang dua puluh menit lalu masih begitu putih bersih, sekarang sudah seperti tembok di jalan raya yang penuh dengan coretan. Yang membuat Shaila terkejut adalah tulisan besar di ruang kosong yang tadi dia pertanyakan.


Shaila menatap Arka yang tersenyum jahil. “I-ini apaan?”


“Menurut lo apaan? Bisa baca, kan?”


Mau berapa kali pun Shaila memandang cast-nya, tulisan itu tidak akan berubah. Punya Arka, jangan deket-deket! Begitu lah bunyi tulisan tersebut yang tentu saja membuat Shaila tak dapat berkata-kata.


“Maksudnya apaan?”


“Gak ada maksud apa-apaan, bilang makasih dong lo!”


“Makasih apaan? Lo bikin tulisan gak penting gini, apus gak!” ucap Shaila tak terima, ia menyodorkan tangan kirinya.


“Yee, justru itu nyelametin lo kalo ada yang mau gangguin lo. Pas liat nama gue di situ kan jadi jiper duluan orang yang mau macem-macem sama lo.”


“Nyelametin apaan, yang ada dikira fans gila lo ntar gue. Apus ih!” Shaila masih menyodorkan tangannya.


Arka melirik jam tangan berwarna hitamnya. “Wah udah jam segini, balik yuk ntar keburu maghrib.”


Shaila menatap Arka yang berjalan menjauhinya, dia lalu mengambil tasnya dan mengikuti Arka keluar. “Apus ini sih, Ka! Gak jelas gini,” rengek Shaila sambil berjalan di samping Arka.


“Sembarangan lo! Kalo lo ke tukang tato trus tukang tato-nya ngeliat ini, gue yakin seribu delapan ratus persen tuh tukang tato mau bayarin gips buluk lo ini. Masterpiece tuh!”


“Masterpiece dari Hongkong! Cepet ih apus, ntar diliat sama fans lo.”


“Emang gue pikirin!” Arka menjulurkan lidahnya dan berlari meninggalkan Shaila.


Shaila menghentakkan kakinya ke lantai. “Ih, Arka mah ngeselin!” teriaknya seraya berlari mengejar Arka.


*****


Shaila merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan sprei bermotif bunga berwarna biru laut, sama seperti warna cat kamarnya. Entah kenapa hari ini dia merasa sangat lelah padahal dia tidak melakukan apa-apa seharian ini.


Dengan menatap langit-langit kamarnya yang bermotif seperti awan di langit yang biru seperti ini membuat Shaila tenang, memang tak ada tempat lain yang senyaman kamarnya. Pikiran Shaila kembali pada kejadian sore tadi, saat dimana Arka bermain dengan spidolnya.


Mengingat wajah serius Arka seperti sore tadi membuat Shaila tersenyum simpul. Coba aja dia cool terus kayak gitu, kan ganteng jadinya, tipe gue banget. Batin Shaila. Dia lalu menggelengkan kepalanya mencoba mengenyahkan pikiran tak jelas tersebut.


Shaila mengangkat tangan kirinya dengan bantuan tangan kanannya ke atas wajahnya, dia menatapi setiap tulisan dan gambar di sana sampai akhirnya pandangannya tertuju pada tulisan paling besar dan berada di tengah-tengah. Sekali lagi Shaila tersenyum.


Dasar Arka gila.

__ADS_1


TBC


__ADS_2