
Abella memberikan helm yang di pakainya pada Satya, pagi ini keduanya memutuskan untuk pulang ke kediaman Suherman. Beruntung ini hari minggu jadi mereka berdua tidak disibukan oleh sekolah dan kuliah.
Senyuman Abella terus saja mengembang, dia menuntun Satya agar berjalan lebih cepat. Hari ini Abella ingin menghabiskan waktu bersama kekasihnya, jarang sekali mereka pergi berdua di hari weekend- karena biasanya di hari sabtu atau pun minggu Satya lebih sering berkutat dengan laptopnya dan sorenya dia akan bekerja paruh waktu.
"Nanti kita ke danau aja ya. Bawa tikar sama makanan, aku mau kita piknik disa-,"
"Aku gak nyangka kalau Papa yang jadi penyebab Mama kecelakaan!"
Ucapan Abella terputus saat mendengar suara seseorang yang sudah lama tidak ditemuinya, tapi yang lebih membuat gadis itu tercengang adalah ucapan yang di lontarkan orang itu.
Penyebab kecelakaan Mamanya?
"By," panggilnya lembut.
Satya lebih mendekat, dia dengan cepat merangkul tubuh Abella yang mematung. Gadis itu terdiam, wajahnya berubah pucat dan begitu tegang. Dia yakin kalau Abella tengah shock setelah mendengar ucapan seseorang yang berasal dari dalam rumah.
__ADS_1
Dirinya juga terkejut, apa maksudnya dengan penyebab kecelakaan Mama kekasihnya ini?
"Papa gak pernah mau kalau Mama kamu seperti itu Alex. Papa- Papa sama Mama kamu cuma salah pah-,"
"Salah paham yang seperti apa? Jadi menurut Papa selingkuh di belakang Mama adalah sebuah salah paham samata?"
Tubuh Abella kian gemetar, dia memeluk Satya dengan erat- mencari perlindungan agar dirinya tidak semakin ambruk.
"Papa enggak selingkuh! Papa cuma-,"
"Jangan mengelak Pa! Jangan Papa kira aku gak tahu apa yang sudah Papa lakukan selama ini. Aku membiarkan Papa bebas bukan berati aku enggak tahu, aku kira Papa bakalan berubah dan enggak bakalan membahas masalah ini terlebih saat ada Abel. Aku yakin dia akan semakin terluka saat tahu kalau kematian Mama itu ada sangkut pautnya sama Papa. Kalian bertengkar karena Mama memergoki Papa selingkuh, lalu kecelakaan itu terjadi dan itu semua gara gara Papa!"
Dan tidak lama terdengar dengan kecil keluar dari pria yang sedari tadi mengecam Bramono, pria itu pun mengikuti tatapan Sang Papa yang mengarah ke satu titik.
Dia terkejut saat melihat sang adik, tapi tidak bisa berbuat apa pun karena dirinya tahu kalau adiknya pasti sudah mendengar semuanya. Mau mengelak pun tidak akan mungkin bisa, sang adik bukan lagi anak TK yang bisa di bohongi.
__ADS_1
"Jadi Papa yang udah buat Mama pergi?"
Kedua mata Abella berembun, dia berkedip pelan membuat bulir air mata menetes tanpa permisi. Kedua tangannya masih merangkul lengan Satya, mencari kekuatan agar tubuhnya tidak limbung atau bahkan memberikan respon yang sebaliknya.
"Abel, kamu salah deng-,"
"JADI MAMA PERGI ITU GARA GARA PAPA?! PAPA UDAH SELINGKUH SEBELUM MAMA PERGI NINGGALIN AKU SAMA KAK ALEX?!"
Abella menjerit lebih kencang, gadis itu semakin emosi di buatnya bahkan perlahan limbung, tapi tubuhnya berhasil Satya tangkap sebelum menyentuh ubin. Abella menangis histeris, dulu dia selalu mengenyahkan pikiran buruk itu dari kepalanya. Abella menganggap kalau kecelakaan yang dialami Sang Mama adalah takdir dari Tuhan bukan salah siapa pun.
Tapi setelah mendengar semua ini, pikiran buruk itu tidak salah rupanya. Papanya memang penyebab kecelakaan yang menewaskan Sang Mama, karena dulu Abella melihat kedua orang tuanya bertengkar didalam kamar saat pulang sekolah hingga akhirnya peristiwa bahas itu terjadi.
"Kenapa Papa jahat banget sama kita? Kenapa harus Mama yang pergi, KENAPA ENGGAK PAPA AJA YANG PERGI!" Abella semakin histeris sebelum gadis itu tidak sadarkan diri didalam dekapan kekasihnya.
Satya panik bukan main, termasuk Alex yang sedari tadi membiarkan adiknya menggila. Tapi tidak untuk Bramono, pria itu tercengang hebat saat mendengar ucapan yang dilontarkan anak bungsunya.
__ADS_1
Kenapa enggak Papa aja yang pergi?! Kalimat itu terus saja berputar didalam otaknya bagaikan kaset rusak.