
Abella menatap tidak suka pada gadis yang tidak jauh darinya. Bola mata Abella bergerak memindai penampilan gadis asing yang di bawa oleh kekasihnya itu dari atas hingga bawah, tidak ada yang spesial, walaupun Abella akui kalau dia cukup cantik.
"Kamu siapanya Mas Nicho?"
Alis Abella naik satu baris, dia menyandarkan tubuhnya di tembok, kedua tangannya di dada sembari menyunggingkan senyum tipis terkesan sinis.
"Lo enggak perlu tau gue siapanya Satya, yang jelas gue adalah pemiliknya." Abella menekan setiap kata yang di ucapannya, menegaskan kalau pria yang bernama Satya itu hanya miliknya, hanya untuknya.
Gadis asing itu mendengus, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Terlihat sekali kalau gadis itu tidak menyukai Abella, terlebih setelah Abella mengatakan hal yang membuat kesempatannya mendekati pria yang sejak kecil dia sukai sedikit terhalang.
"Nanti sore kamu udah bisa nempatin kostan khusus cewek. Aku udah bilang sama pemilik kost nya, kalo kamu datang nanti sore!"
Satya yang tiba tiba saja masuk membuat kedua gadis itu menatap ke arahnya. Abella terlihat mengembangkan senyumannya, dia beranjak dan mendekat pada kekasihnya. Tanpa ragu Abella memeluk Satya, mendekap erat tanpa ingin melepaskannya.
"Aku kangen sama kamu," gumamnya.
__ADS_1
Abella menghirup udara dengan rakusnya, aroma tubuh Satya yang selalu dia rindukan kini dapat di ciumnya dengan jelas. Abella kian mengeratkan belitan tangannya saat Satya membalasnya tak kalah erat, keduanya saling berpelukan, saling melepas rindu tanpa peduli dengan orang lain yang ada disana.
Keduanya seakan tidak peduli, merasa kalau dunia ini hanya milik berdua.
"Kamu sudah makan?"
Satya perlahan melepaskan dekapannya, kedua tangannya membingkai wajah Abella, menyisakan anak rambut yang menutupi mata indah kekasihnya.
"Belum, aku pesenin aja ya!"
"Sekarang, kamu beresin barang barang kamu. Nanti biar aku dan Abel antar ke kostan!"
Setelah mengatakan itu Satya berlalu pergi masuk kedalam kamarnya, dia meninggalkan gadis itu sendiri dengan wajah menunduk karena cukup sakit mendengarnya.
Siapa yang tidak sakit saat pria yang disukainya malah acuh dan mengusirnya secara terang terangan.
__ADS_1
"Sebelum lo pergi, makan dulu. Gue gak mau lo pingsan karena kelaparan, nanti nyusahin cowok gue lagi!"
Kedua tangannya kembali terkepal, ekor matanya melirik tidak suka pada Abella yang masuk kedalam kamar Satya dengan wajah berbinar. Sangat berbeda sekali ketika dia berbicara dengannya, wajah polos penuh dengan kemanjaan itu sungguh membuat matanya sakit, namun sayang dia tidak bisa melakukan apa pun pada gadis berwajah dua itu.
'Sialan, awas aja bakalan aku bales!' rutuknya dalam hati.
Sedangkan di dalam kamar, Abella terlihat merebahkan diri di atas tempat tidur. Kedua matanya sibuk menatap layar ponsel milik Satya, sesekali dia tertawa pelan saat melihat video lucu yang di putar nya. Sedangkan Satya, dia yang tengah berganti pakaian hanya mengerutkan dahi, ujung bibirnya tertarik melihat tawa Abella.
Ada rasa lega saat melihat kekasihnya tertawa seperti itu. Artinya Abella sudah tidak lagi bersedih karena kepergiannya selama satu minggu ini, dan Satya bersyukur kalau kekasihnya ini baik baik saja. Dia sempat khawatir, karena Abella sempat bercerita kalau hubungannya dengan Ayahnya semakin tidak baik, dan Alex kakaknya juga tahu semuanya.
'Aku senang kamu baik baik aja, By. Teruslah tertawa kalau kamu lagi sama aku,' batinnya.
Satya mendekat pada Abella lalu mendekap perut rata kekasihnya, dan menenggelamkan wajahnya disana.
__ADS_1