
Semenjak kejadian dimana Abella mengetahui penyebab kecelakaan Sang Mama, gadis itu lebih banyak diam. Bahkan saat pembagian ijazah dan kelulusan gadis itu terlihat sendu, padahal Satya dan Alex datang menemaninya- kecuali Bramono. Pria itu tidak lagi menunjukan batang hidungnya, atau lebih tepatnya Abella yang tidak lagi mau bertemu dengan Sang Papa.
Bramono memilih tinggal di apartemen sewaan nya, penolakan yang Abella berikan dan juga kekecewaan Sang putra membuatnya tersentil. Mungkin kali ini dia akan membiarkan kedua anaknya tenang terlebih dahulu, setelah semuanya terkendali barulah dia akan kembali ke rumah itu dan menemui Alex serta Abella.
Karena mau bagaimana pun dirinya masih memiliki hak di rumah itu, walaupun tidak dapat memiliki dan menjual setidaknya bisa menempatinya juga. Dia tetap suami dari mendiang Rima istrinya dan itu tidak bisa di bantah.
"Besok aku harus pulang dulu ke kampung. Kamu gak apa apa kalau aku ting-,"
"Gak apa apa kok, disini ada Kak Alex sama Kak Nindi. Kamu jangan khawatir, hati hati ya- cepet balik tapi." Abella melebarkan senyumannya.
Dia memperlihatkan sikap baik baik saja pada kekasihnya, Abella tidak ingin melihat Satya khawatir dan membatalkan kepulangannya ke kampung untuk menemui ibunya di liburan semester ini. Jujur dirinya juga ingin ikut ke kampung asal Satya, tapi dia dan Satya baru berpacaran belum resmi jadi rasanya tidak enak saja kalau ikut.
Abella takut kalau ibunya Satya akan berpikir macam macam, pasti akan ada berita heboh kalau dia ikut.
"Aku cuma satu minggu aja kok disana. Jangan pernah matiin ponsel kamu, telepon tiap hari, baca pesan dan balas cepat. Aku janji gak bakalan lama, aku cuma mau nengok ibu- kamu jangan banyak pikiran apa pun. Inget kata dokter, istirahat jangan banyak pikiran, biarkan semua yang berlalu, ikhlaskan."
__ADS_1
Abella mengangguk, senyumannya kembali hadir. Dia segera mendekat pada Satya saat pria itu merentangkan kedua tangannya, Abella memejamkan mata menikmati dekapan hangat sang kekasih yang akan berjauhan dengannya selama beberapa waktu ini.
Hal seperti ini memang sudah biasa Abella rasakan, saat di sini saja Satya sering meninggalkannya selama berhari hari untuk mengikuti olimpiade, jadi perpisahan satu minggu ini anggap saja Satya tengah menjalani olimpiade nya.
💕
💕
💕
Tidak terasa sudah tiga hari ini keduanya berpisah. Komunikasi mereka berdua masih lancar, setiap hari Satya menelpon Abella dan begitu pula Abella yang sering mengirim pesan pada pria itu.
"Lo cuma chatan doang sama, Kak Satya?" Nadira yang sedari tadi hanya diam memperhatikan sahabatnya akhirnya angkat bicara.
Gadis yang tengah menikmati minuman serta makanan yang di pesannya itu menatap sang sahabat yang belum menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Gue sebenarnya pingin banget nelpon dia duluan, tapi ya gitu gak enak lah sama ibunya. Satya pasti lagi menikmati waktu sama ibunya sekarang, gue gak boleh egois ih gak baik. Udah lama Satya gak pulang dia pasti kangen sama ibunya di kampung, syukur Satya bisa nelpon gue tiap hari."
Nadira terdiam, dia mengangguk pelan sembari menyeruput minuman dinginnya. Kedua matanya mengedar, dia menatap orang yang lalu lalang masuk kedalam cafe.
Sementara Abella, gadis itu terlihat sibuk menatap layar ponselnya. Sudut bibirnya terangkat saat mendapat pesan balasan dari sang kekasih. Dia senang karena Satya baik baik saja, pasti pria itu sedang menikmati waktunya bersama sang ibu.
Ya memang benar, Satya tengah menikmati waktu liburannya bersama sang ibu. Bahkan pria itu sampai ikut ke sawah untuk menanam padi, dan pastinya Satya menjadi pusat perhatian orang orang disana termasuk para gadis lajang.
Seperti sekarang ini, saat beristirahat jam makan siang Satya menjadi pusat perhatian ibu ibu- bahkan ada yang terang terangan memintanya menjadi menantu. Banyak acara makcomblang dadakan di area persawahan, membuat pria bertubuh tinggi itu ingin segera pulang ke rumah karena semakin risih.
"Jang Nicho mah sama anak saya aja lah, sama sama sarjana, cantik, anggun, pasti Jang Nicho suka deh."
"Sama anak gadis saya aja. Dia udah kerja di Bank, udahlah Mak Lela kita jodohin aja mereka ya!"
Beberapa ucapan emak emak itu kian membuat Satya menghela napas pelan, dia tidak menyahut- hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan membuat emak emak itu kian bersemangat.
__ADS_1
Padahal dulu tidak ada satu pun orang yang mau dekat dengan dirinya dan sang ibu karena mereka hidup serba kekurangan, tapi sekarang?