
Kini semua pertanyaan Alan sudah terjawab. Ia meminta maaf kepada Albert telah menuduhnya sebagai dalang dibalik kasus rumah angker tersebut.
"Aku minta maaf sudah menuduhmu." Ucap Alan sambil merundukkan kepala.
Albert menghiraukan permintaan maaf dari Alan, ia berjalan keluar dari gang tersebut. Alan memanggil Albert untuk membantunya berdiri karena kondisi yang dialami masih lemas Namun, Albert tetap menghiraukannya. Sesekali Alan mencoba untuk berdiri sendiri, pada akhirnya ia terjatuh.
Alan merasa bahwa Albert masih kesal dengan perlakuannya yang sembrono. Ia terus mencoba untuk berdiri namun selalu berakhir terjatuh.
Mau gimana lagi, ini juga ulah ku sendiri. Batin Alan
Alan beristirahat sebentar untuk mengumpulkan tenaga sekaligus meratapi semua kesalahannya. Ia merundukkan kepala memandangi aspal yang basah karena tetesan hujan. Alan hampir menangis karena ia takut kalau orangtuanya akan mengetahui hal ini. Ia tahu bahwa orangtuanya akan sangat marah kepada Alan karena sudah melanggar janji yang dibuat oleh mereka bertiga.
Namun di lain sisi, orangtuanya pasti akan mengekang Alan membantu orang lain saat sedang mengalami sebuah masalah yang berhubungan dengan dunia ghaib. Mereka tidak ingin anaknya mengalami kejadian yang serupa. Mereka hanya ingin melindungi Alan dari kejinya dunia ini.
Alan akan mendapat sebuah masalah yang sangat besar ketika mereka melihat anaknya pulang dengan banyak luka di badannya. Ia pasrah dan berani tanggung jawab karena semua ini atas perbuatannya sendiri
Huh mau gimana lagi, berani berbuat harus juga berani tanggung jawab... Aku juga harus nerima resiko dari orangtua. Batin Alan.
Sesaat kemudian, Albert mengulurkan tangannya untuk membantu Alan berdiri. Ia memapah Alan, lalu menawarkan kepadanya untuk mengobati luka tersebut di rumah Albert. Alan termenung sesaat ketika mendengar tawaran dari Albert.
Alan takut kalau Albert akan menyakitinya saat berada di rumah layaknya ia sedang disekap. Kemudian, Alan menolak tawaran dari Albert. Ia meminta kepada Albert untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Alan siap menanggung semua resiko yang ia akan hadapi nanti. Yang terpenting dirinya merasa aman ketika sedang berada di rumah.
"Kamu tungguin di sini bentar, aku antar kamu pakai mobilku dulu." Pintah Albert kepada Alan
__ADS_1
"I-iya."
*******
Di lain sisi...
Kayla bertemu dengan Faris dan juga Doni. Ia mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu mereka berdua. Kayla meyakinkan mereka Faris ketika ia melihat Doni yang tidak percaya dengan ucapannya. Kemudian Faris membisikkan sesuatu kepada Dion.
"Eh kayaknya dia nggak bohong deh." Ucap Faris
"Darimana kamu tahu kalau ni anak nggak bohong?." Tanya Dion
"Coba kamu lihat tangannya, banyak yang lecet."
"Ah udahlah, kita nurut aja. Feeling-ku dia jujur deh." Jawab Faris
"Ah terserah lah." Ucap Dion dengan mengeluh.
Faris menyarankan kepada Kayla untuk menunggu hujan reda. Ia juga memberi Kayla minuman kopi yang telah ia beli di stan pinggir kampus.
Usai hujan reda, Kayla mengantarkan mereka berdua menuju gang tadi untuk menemui Alan dan juga Albert. Dion terus menggerutu seakan dugaannya benar. Kayla yang tidak sengaja mendengar Dion menggerutu, ia memilih untuk tetap diam karena Kayla tidak dapat memberi penjelasan secara spesifik.
Saat hendak sampai di gang tersebut, Kayla melihat Albert yang tengah berdiri sambil memainkan ponsel. Albert yang melihat Kayla menepati sebuah janjinya, ia mengucapkan terima kasih lalu menyuruh Kayla untuk segera pulang.
__ADS_1
Di saat mereka berdua bertemu dengan Albert, perasaan Faris mendadak tidak enak ketika ia saling berkontak mata. Begitupun dengan Dion, ia melihat sekeliling area sangat sepi dan sunyi. Ia hanya dapat menelan ludahnya dengan berat.
"Maaf, kenapa anda mau bertemu dengan kami?." Tanya Faris
"Nggak usah terlalu formal sama aku... Aku cuma mau menyampaikan kepada kalian berdua, untuk tidak mencari asal usul dari rumah angker itu."
Mereka tersentak kaget ketika mendengar ucapan dari Albert. Usai mengumpulkan keberanian, Dion bertanya kepada Albert dengan spontan.
"Lah kamu tahu ini darimana?. Terus, emangnya kenapa kalau kita pingin tahu asal usul dari rumah angket itu-." Tanya Dion yang disela oleh Albert
"Kalau kalian ingin masih hidup, segera lupakan tentang kejadian dari rumah angker itu... Pelakunya sudah mati, jadi kalian jangan berani mencoba untuk menguaknya!!." Sela Albert sekaligus menitahkan mereka berdua.
"Sebaiknya kalian cepat pulang, atau bakal ada seseorang yang sedang mendengar pembicaraan kita." Tambah Albert lalu pergi meninggalkan Faris dan juga Dion.
Mereka berdua termenung sesaat. Kemudian Dion yang baru menyadari ucapan dari Albert, ia menyuruh Faris bergegas untuk pulang ke rumah. Faris masih kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh Albert. Ia bertanya kepada Dion namun pertanyaannya dihiraukan.
Dion tidak dapat memberikan jawaban kepada Faris karena suatu alasan. Ia hanya dapat menyarankan kepada Faris untuk menuruti ucapan dari Albert. Di saat itulah, ponsel Faris berdering. Ia melihat layar handphonnya dan rupanya Alan sedang menelepon.
Faris mengangkat panggilan dari Alan, ia sangat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Alan. Dion, Albert dan juga Alan mengatakan hal serupa yakni menyuruh Faris untuk melupakan kasus dari rumah angker tersebut. Alan mengatakan kepada Faris kalau ini untuk kebaikannya.
Alan juga meminta maaf kepada Faris dan Dion karena telah pergi meninggalkan mereka berdua dengan alasan kerja kelompok. Dengan segera Alan menutup telepon tersebut. Kemudian Faris mengerutkan dahinya seakan ia masih dibuat kebingungan oleh mereka bertiga.
Namun pada akhirnya Faris memilih untuk mengikuti saran dari mereka bertiga untuk antisipasi. Faris dan Dion kembali ke kampus lalu pulang ke rumah.
__ADS_1
Apaan sih, sumpah aku nggak paham... Tapi ya udah lah biarin, yang penting aku selamat. Batin Faris