My Problem Is You

My Problem Is You
Episode 02


__ADS_3

Faris menceritakan kronologinya dan meminta Alan untuk membantu masalah yang sedang ia hadapi. Tentang kejadian yang dialami oleh Faris yakni saat ia di suruh Ibunya untuk membeli sesuatu ke pasar bersama Doni.


_______________________________________


Kala itu Faris yang telah menyelesaikan tugas kuliahnya, ia berinisiatif mengumpulkan hasil pekerjaannya ke rumah Pak Dosen. Namun saat ia hendak keluar rumah tanpa pamit, ia secara tidak sengaja berpapasan dengan Ibunya.


"Bu aku pamit mau ngumpulin tugas kuliah bentar"


"Iya hati-hati di jalan, nggak usah ngebut"


"Iya Bu." Ucap Faris sambil mencium kura tangan Ibunya


"Oh iya. mumpung kamu sedang keluar, tolong Ibu belikan bumbu-bumbu dapur sekalian ya. Soalnya persediaan di rumah sudah pada habis."


"Iyaaa~." Ucap Faris sambil menerima daftar belanjaan yang harus ia beli


Faris akhirnya bergegas pergi ke rumah Pak Dosen untuk mengumpulkan tugas dan menuju ke pasar membeli persediaan bumbu-bumbu dapur.


*******


Di tengah perjalanan menuju rumah Pak Dosen, Faris berhenti di tepi jalan kemudian menelpon seseorang yakni Dion. Ia ingin mengajak Dion untuk menemani pergi ke rumah Pak Dosen dan pasar.


Tak berlangsung lama Dion akhirnya mengangkat telepon dari Faris. Setelah Dion menyetujui ajakannya, Faris meminta kepada Dion untuk memberikan titik koordinat rumahnya karena ia sama sekali belum pernah mengunjungi rumah Dion.


Usai Dion memberikan titik koordinatnya, Faris pun bergegas menuju rumah Dion karena ia tidak ingin membuang waktu yang sangat berharga hanya karena menjemput Dion saja.


Di sepanjang jalan, perasaan tidak enak dan Faris merasa kalau ada barang yang ketinggalan di rumah. Saat ia mencoba kembali mengingatnya dengan jelas, Faris merasa bahwa semua keperluannya sudah ia bawa di dalam ransel.


Kayaknya semua kebutuhan udah di ransel deh. Batin Faris


Tidak ingin fokusnya teralihkan, ia melupakan hal tersebut karena Faris tahu akan bahaya kalau seorang pengendara tidak fokus dengan jalanan.

__ADS_1


*******


Sesampai di rumah Dion, Faris melihat rumah yang cukup besar dengan pagar yang terkunci. Kemudian ia melihat dengan jelas lagi namun yang Faris lihat hanyalah keadaan rumah tersebut sepi seperti tanpa penghuni dan sedikit agak kumuh.


Faris khawatir kalau firasatnya terbukti menjadi nyata. Pada akhirnya ia memutuskan untuk segera menghubungi Dion dan menyuruhnya untuk keluar. Tiada pesan atau panggilan telepon yang terjawab dari Dion, ia merasa bahwa Dion salah mengirimi alamat rumahnya.


Faris mulai kesal dengan Dion namun ia tetap bersabar dan berusaha menghubungi untuk yang terakhir kali. Ia terus menggerutu dan ingin sekali mengumpat kepada Dion yang telah membuatnya menunggu sangat lama


"Kalau kali ini nggak ada jawaban, skip aja deh. Buang-buang waktuku yang berharga." Gerutu Faris dengan raut kesal


Tak lama kemudian, ada seseorang wanita yang tiba-tiba muncul dari arah rumah tersebut. Kemudian ia bertanya kepada Faris yang sedang mengotak-atik ponselnya.


"Mas lagi nungguin siapa ya?"


Faris tersentak kaget ketika seorang wanita tersebut bertanya kepadanya. Ia memandangi wanita tersebut memakai pakaian serba putih dengan rambut sedikit lusuh sambil membawa nampan. Faris tergagap ketika ia hendak menjawab pertanyaan dari wanita tersebut.


"A-anu.... S-saya sedang nungguin D-Dion.... M-mbak tahu dia sekarang dimana?"


Faris kembali tersentak kaget ketika tahu bahwa isi nampan tersebut adalah bunga tujuh rupa. Kemudian ia memandangi wanita tersebut yang tengah kembali masuk ke dalam rumah. Bulu kuduk Faris mulai merinding ketika ia tidak sengaja melihat noda warna merah yang terdapat di punggung wanita tersebut.


Faris tercengang sekaligus badannya terasa sangat berat untuk digerakkan. Pandangannya tak bisa teralihkan, ia terus memandangi wanita tersebut berjalan sampai masuk ke rumah. Sungguh kejadian pertama kali yang ia saksikan seumur hidupnya.


Saat wanita tersebut masuk ke dalam rumah lalu menutup pintunya, sesaat kemudian ada seseorang yang menepuk pundaknya sampai membuat Faris kaget. Ia memejamkan matanya sambil menyuruh makhluk atau entah apapun itu untuk pergi darinya. Faris juga berdoa kepada Tuhan agar diberi keselamatan.


"Hei, nungguin lama ya?"


Faris merasa familiar dengan suara tersebut. Ia mencoba memberanikan diri untuk membuka mata dan menoleh ke belakang. Faris merasa lega sekaligus bersyukur bahwa yang ia lihat adalah Dion. Walaupun demikian, keringatnya terus bercucuran sekaligus Faris merasa sangat lemas.


Gila yang tadi itu beneran?. Duh tubuhku sangat lemas tapi kalau gini terus, usahaku bakalan sia-sia. Batinnya


Faris melihat raut Dion terlihat pucat seperti orang yang sedang sakit. Bibirnya juga terlihat pecah-pecah namun saat ia bertanya kepada Dion, ia hanya menggelengkan kepala. Faris merasa bersalah kalau ia sedang mengajak orang yang tengah berjuang melawan rasa sakit hanya karena teman.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Faris menyuruh Dion segera naik ke sepeda motor dan bergegas menuju rumah Pak Dosen.


Faris berinisiatif untuk mengubah destinasi. Akhirnya ia memilih untuk pergi ke pasar terlebih dahulu lalu kemudian pergi ke rumah Pak Dosen


*******


Sesampainya di sebuah pasar, Faris mengajak Dion untuk membantu mencarikan bumbu-bumbu dapur namun Dion menolak ajakan Faris. Ia baru sadar kalau Dion sedang sakit. Akhirnya Faris menyuruh Dion untuk tetap menunggunya di sepeda motor.


Dion hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Faris masih penasaran tentang penyakit yang diderita oleh Dion. Kemudian Faris meninggalkan Dion seorang diri di tengah terik mentari yang panas.


Faris melihat sekeliling lalu menemukan seorang pedagang yang menjual semua kebutuhan yang ada di daftar belanjaan. Ia sangat lega sekaligus senang bahwa waktu yang di perlukan hanyalah sedikit untuk membeli kebutuhan yang ada di dapur.


Setelah semua kebutuhan terbeli, Faris tersentak kaget ketika melihat Dion yang tak lagi menunggunya di sepeda motor. Ia mencoba mencari sekaligus bertanya kepada orang-orang sekitar namun hasilnya nihil. Rasa cemas dan kesal mulai menyatu, Faris mulai overthinking dengan keadaan yang sedang ia alami.


Ia berusaha terus mencari sampai di bantu oleh orang-orang di sekitar. Ia juga berdoa agar Tuhan memberikan petunjuk kepada Faris. Mata mulai berkaca-kaca, detak jantung berdegup dengan kencang, rasa bersalah juga mulai memperburuk keadaan. Ingin rasanya menangis namun ia tak sanggup untuk mengeluarkan.


Tiba-tiba, Faris secara tidak sengaja melihat Dion yang keluar dari arah pemakaman yang letaknya saling berhadapan dengan parkir pasar. Ia tersenyum ke arah Faris sambil melambaikan tangan dari kejauhan. Kemudian Dion menghampiri Faris namun dengan tatapan yang tak biasa waktu pertama kali bertemu.


Faris terdiam sejenak ketika melihat perubahan dari temannya sendiri. Ia merasa lega sekaligus sedikit ada keganjalan dari kejadian tadi. Tanpa memikirkan hal yang di luar dugaan, Faris menanyakan tentang kondisi Dion saat itu juga.


"Kamu tadi kemana aja?.... Are you okay?." Tanya Faris


"I'am okay. Kamu nggak usah khawatir, aku nggak sakit kok."


Mendengar jawaban dari Dion, Faris merasa lega dan ia tak lupa mengucapkan rasa terima kasih kepada orang-orang yang telah membantunya.


Setelah itu, mereka berdua bergegas menuju rumah Pak Dosen untuk mengumpulkan tugas. Sepanjang perjalanan Faris terus memarahi Dion karena telah membuatnya khawatir.


"Waktuku terbuang gara-gara cariin kamu. Di suruh nunggu malah ngilang." Ucap Faris sambil marah


Disela-sela amarah, Faris teringat dengan kondisi temannya. Tanpa ia sadari, Dion tidak mengelak ataupun membantah perkataan dari Faris. Tak biasanya Dion bersikap mengalah, yang Faris tahu adalah Dion tipe orang yang suka mencari suatu alasan demi menutupi masalah yang sedang ia perbuat.

__ADS_1


Mungkin aku terlalu berlebihan deh. Batin Faris.


__ADS_2