
Usai melontarkan semua anak panah ke atas, Alex mencoba merasakan energi dari para makhluk astral yang berada dibalik perisai. Semua para makhluk astral tumbang dan tak menyisahkan satupun. Dengan segera Alex memadatkan energi supranaturalnya di tangannya untuk menarik Alan keluar.
Tak butuh proses yang sangat lama, dengan mudahnya Alex berhasil membawa Alan keluar. Kemudian ia menghisap seluruh energi dari perisai tersebut lalu menghancurkannya. Alex tidak akan menyia-nyakan kesempatan ini di depan mata. Setelah itu, Alex keluar dari alam bawah sadar Alan.
Kemudian Albert menyuruh Alex untuk segera menonaktifkan dead eye tersebut. Ia merasa takut kalau raganya sepenuhnya akan diambil alih oleh Alex. Mendengar Albert Menyuruhnya untuk segera menonaktifkan dead eye, Alex tertawa sekaligus meledek Albert
"Hahaha~, emangnya nggak boleh ya aku tinggal di sini untuk sementara waktu?."
"Nggak. Ini ragaku dan kamu nggak berhak seenaknya mengambil milik orang lain."
"Duh ceramah lagi, sebel aku."
"Sebaiknya kamu cepat menonaktifkan dead eye ini, kalau nggak aku akan berbuat kasar sama kamu."
"Nggak mau."
"Sekarang kamu berani sama kakakmu sendiri?!!."
"Cih. Iya deh aku nurut."
Perlahan semua kembali seperti sedia kala ketika Alex menonaktifkan dead eye tersebut. Hanya saja gerimis masih membasahi mereka berdua. Albert terengah-engah dan sedikit lemas ketika ia mengaktifkan dead eye.
"Hah, kayaknya aku harus banyak berlatih mengontrol energi biar nggak kelelahan." Ucap Albert
Sesaat kemudian Alan membuka matanya lalu ia tersentak kaget ketika orang yang berada di depannya adalah Albert. Albert mencoba menenangkan Alan yang baru siuman. Ia menjelaskan semua apa yang terjadi selama Alan pingsan.
__ADS_1
"PERGI KAMU DARI SINI!!... TOLONG!!."
"Hei diam, aku nggak akan menyakitimu lagi." Ucap Albert
"Nggak, aku nggak percaya."
"Aku tadi udah nyelamatin kamu, masa kamu nggak percaya?."
"Nggak!!."
"Hah terserah lah... Tentang perkelahian kita tadi, aku minta maaf. Aku cuma nggak mau aja ada orang lain yang tahu tentang rumah angker itu."
"Ha?, maksudnya?."
Seandainya ia tidak menjalankan tugas tersebut, Albert akan kelaparan. Ia menjalani semua jenis pekerjaan untuk memperoleh uang agar dapat bertahan hidup.
"Kalau kamu mau tanya tentang buku yang aku berikan sama temanmu itu, aku memang sengaja memberikan buku itu kepadanya." Jelas Albert
"Lah kenapa?, atau jangan-jangan kamu memang sengaja mau nyelakahin kak Faris?." Tanya Alan
"Oh jadi dia namanya Faris. Tolong sampaikan permintaan maafku sama dia.... Aku bukan mau nyelakahin Faris, tapi aku mau minta bantuan sama dia dengan sebuah petunjuk yang terdapat di buku tersebut." Jawab Albert
"Kenapa nggak minta bantuan sama orang lain atau polisi?." Tanya Alan yang sedikit kebingungan.
"Kalau minta bantuan sama polisi itu akan menjadi bahaya bagiku, karena aku dulunya adalah anak magang yang pernah menjadi Sopir mobil dari rumah itu.... Waktu itu aku nggak sengaja lewat kampus terus liat ada satu mahasiswa yang belum pulang jadi aku berikan saja bukunya sama dia."
__ADS_1
"Sopir?."
"Iya Sopir. Akan sangat mudah bagi pelaku untuk menangkapku kalau aku menguak kebenaran dari rumah angker tersebut..... Waktu itu sebelum saudaranya meninggal, aku adalah orang pertama yang dicurigai oleh pelaku karena ia tahu kalau aku datang bukan hanya sekedar bekerja namun menjalankan sebuah tugas." Jelas Albert
Kemudian Alan bertanya kepada Albert untuk memuaskan rasa keingintahuannya tentang rumah angker tersebut. Mengandalkan kelebihan yang ia miliki yakni mata batin juga membuatnya sedikit kebingungan.
Visualisasi yang Alan lihat tidak menjelaskan semua kejadiannya dengan runtut melainkan secara acak. Hal itu juga membuat Alan disibukkan dengan mengaitkan segala teori yang terlintas di benaknya.
"Oh jadi gitu... Bentar, terus katanya kak Faris kamu ngebuang kayak semacam benda tajam."
"Oh tentang itu, aku minta maaf sudah membuat Faris terkejut. Aku sengaja ngebuang pisau untuk menghilangkan bukti yang telah aku perbuat."
Albert menjelaskan kepada Alan tentang dirinya yang tengah dikejar oleh hewan peliharaan pelaku yakni 3 ekor anjing. Albert mempunyai sebuah rencana untuk menggiring 3 anjing tersebut ke suatu gang yang sepi lalu dengan segera ia membunuhnya.
Seandainya Albert sembunyi dari kejaran anjing tersebut, tidak lama kemudian ia akan tertangkap karena penciuman sangat tajam yang dimiliki oleh anjing. Maka dari itu, tidak ada pilihan lain selain membunuh anjing tersebut.
Albert berusaha menghindari serangan dari ketiga anjing tersebut agar ia tidak tergigit. Albert menendang anjing tersebut ketika meloncat ke arahnya. Ia menendang sangat keras sampai anjing tersebut tak kuasa untuk berdiri. Lalu Albert mulai menusuk perut anjing tersebut dengan menggunakan pisau.
Albert lega ketika ia berhasil terhindar dari kejaran anjing tersebut. Albert bukan hanya sekedar membunuh namun ia mencoba membuat anjing tersebut mati seolah-olah telah saling berkelahi dengan kawanannya.
Dengan itu, masyarakat akan membuang mayat anjing tersebut tanpa mengotopsi terlebih dahulu layaknya seperti manusia. Sebelum berkelahi dengan 3 anjing tersebut, Albert telah memakai sarung tangan dan mencoba untuk terhindar dari bercak darah yang ditimbulkan ketika ia sedang membunuhnya. Setelah itu ia pergi meninggalkan lokasi kejadian.
Kini semua pertanyaan Alan sudah terjawab. Ia meminta maaf kepada Albert telah menuduhnya sebagai dalang dibalik kasus rumah angker tersebut.
"Aku minta maaf sudah menuduhmu." Ucap Alan sambil merundukkan kepala.
__ADS_1