
"Akhirnya bisa lepas. Hei bocah!!, kabut putihmu nggak akan bisa menandingiku."
"JANGAN MENDEKAT, PERGI KAMU DARI SINI!!!.... Atau nggak aku akan-."
"Akan apa?, mau melawan aku lagi?.... Cih, sebenarnya aku nggak mau ngelawan cewek tapi mau gimana lagi."
Energi Kayla telah terkuras habis, ia sudah tidak sanggup untuk melawan Albert bahkan memanggil sosok bayangan yang membantunya perlu energi yang cukup besar. Albert mulai menghampiri Kayla dan juga Alan sembari mengepalkan tangannya.
Aku harus melindungi anak ini, tidak ada cara lain selain bertarung dengannya walaupun musuhku tak sepadan, aku akan mencobanya. Batin Kayla
Kayla berlari menuju Albert sembari mengayunkan genggamannya. Kayla mencoba untuk bangkit walaupun energinya telah habis, setidaknya ia memiliki sedikit peluang untuk menghajar Albert. Di situasi saat ini, Kayla hanya bisa mengandalkan keberuntungan dan teknik bela diri yang ia kuasai.
Albert yang melihat ketangguhan dari Kayla, ia juga mulai serius dalam bertarung. Ia sangat menyukai ketika musuhnya sudah tidak sanggup untuk melawannya. Dengan ini, pekerjaan Albert akan jauh lebih mudah.
Kayla menargetkan untuk memukul perut Albert namun serangannya ditangkis dengan sigap olehnya. Albert yang ingin sekali menjatuhkan lawannya sedari tadi, namun serangannya terus menerus ditangkis karena Kayla pandai membaca pergerakan lawan.
Albert yang sangat kesal sekaligus marah, ia mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menumbangkan Kayla dengan secepatnya. Di saat pergerakan Kayla mulai lengah, Albert mendapat sebuah kesempatan untuk menyerang Kayla. Ia menarik baju Kayla kemudian menghempaskannya ke tembok dengan sangat keras.
Kini Kayla tak kuasa untuk bangkit kembali menyerang Albert sebab tubuhnya menghantam sangat keras ke tembok. Ia hanya dapat menyaksikan Alan terbunuh ditangan Albert. Kayla sangat menyesal karena tidak berhasil menolong orang yang sedang mengalami kesulitan.
Albert terus berjalan menghampiri Alan sembari mengepalkan tangan. Entah apa yang akan dilakukan oleh Albert kepada Alan, Kayla hanya berharap Alan cepat sadar dari pingsannya.
Pikiran yang terus berkecamuk membuat Kayla sangat ketakutan, ia memohon kepada Albert untuk tidak membunuh Alan.
"Aku mohon, tolong jangan bunuh dia, bunuh aku saja." Ucap Kayla
Albert menghiraukan permohonan dari Kayla, ia terus melangkah menghampirinya lalu memegang kepala Alan. Kayla yang tak sanggup melihat orang yang telah gagal ditolong, ia memilih memejamkan matanya.
.
.
.
__ADS_1
.
Tiba-tiba, tambang yang terikat di tangan Kayla sedang dilepaskan oleh seseorang. Kayla yang tersentak kaget lalu ia membuka matanya dan melihat ke arah orang itu. Rupanya yang sedang membukakan ikatan tambang tersebut adalah Albert sendiri.
"Cepat bantu aku menyadarkan dia."
Kayla termenung sesaat lalu memandangi Albert. Ia dibuat kebingungan dengan perubahan tingkah laku yang begitu cepat dari Albert. Sempat terlintas di benak Kayla bahwa Albert adalah tipe orang yang tidak tega menghadapi musuhnya yang sedang sekarat.
Atau jangan-jangan dia lagi dalam pengaruh iblis?. Batin Kayla
Setelah tambang telah lepas, Albert memapah Kayla lalu menggiringnya menuju Alan yang terbaring pingsan. Ia mengatakan kepada Kayla bahwa Alan sedang dalam bahaya.
"Maksudnya?." Tanya Kayla
"Dia emang pingsan tapi di lain sisi aku merasakan bahwa anak ini sedang dalam bahaya... Sekarang aku minta sama kamu untuk menyelamatkan anak ini."
"Tapi aku-"
"Iya-iya sebentar."
Kayla termenung sesaat lalu ia baru memahami ucapan dari Albert. Kemudian Kayla mencoba merasakan jiwa Alan dengan cara menyentuh tangannya. Seketika ia sekilas melihat Alan yang sedang terjebak di ilusi dunia ghaib.
Kayla sangat ingin menolongnya namun ia tidak mempunyai energi sama sekali. Albert termenung sesaat lalu ia meminta Kayla untuk memanggil Faris dan juga Dion.
"Ha?, aku nggak tahu siapa mereka."
"Mereka berdua ada di kampus dekat sini... Salah satu diantara mereka memakai jaket berwarna abu-abu."
"Tapi aku nggak tahu mereka yang man-."
"Apa kamu ingin mati?!!." Sela Albert.
Kayla menuruti ucapan dari Albert, ia pergi ke kampus meskipun rasa sakitnya belum memulih. Albert mengancam kepada Kayla untuk tidak memberitahukan siapapun tentang kejadian ini kepada orang lain. Seandainya Kayla melanggar, Albert memastikan bahwa Kayla keesokan harinya akan mati.
__ADS_1
"Jangan coba-coba memberitahukan kepada siapapun atau tidak kamu akan mati besok. Paham." Tegas Albert
Di saat Kayla pergi meninggalkan mereka berdua, Albert memikirkan sebuah cara untuk menyelamatkan Alan yang tengah terkurung di ilusi dunia ghaib. Sesaat kemudian, ia mendengar bisikan di telinganya dari makhluk astral yang menyarankan kepada Albert tentang dead eye.
Albert menolak saran yang diberikan makhluk astral tersebut karena itu membuat dirinya kesakitan sekaligus emosi yang tak terkontrol. Makhluk tersebut tersebut terus menerus membujuk Albert untuk melakukan dead eye.
Udah yakin aja sama aku. Kalau kamu nggak mau ngelakuin dead eye secepatnya, anak itu bakalan mati.
"Kamu tahu Alex, aku nggak akan tertipu dengan trik murahanmu itu." Tegas Albert
Benarkah?, jadi kamu masih mau ngalamin penyesalan untuk yang ke tujuh kalinya ini?.
"Aku punya rencana sendiri, aku akan-"
Dasar manusia banyak omong
Makhluk tersebut tiba-tiba masuk ke dalam raga Albert tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Kemudian Alex melakukan dead eye tanpa persetujuan dari Albert.
Di saat itulah dead eyes tersebut bekerja. Albert meneteskan air mata darah lalu keringatnya bercucuran terus menerus. Langit yang cerah kini menjadi mendung kemudian terdengar suara burung gagak seperti memperingatkan kepada kawanannya akan ada ancaman yang sedang tiba.
Kucing dan anjing saling sahut menyahut, seketika itu juga gerimis melanda mereka berdua. Mata kanan Albert yakni bagian pupil mata perlahan mulai melebar sampai menutupi sklera. Para Ibu-ibu yang sedang mengandung tiba-tiba mulai merasakan hawa tidak enak disekitar tubuh mereka.
Bibir Albert perlahan mulai sedikit mengering walaupun terkena tetesan hujan. Setelah itu, Alex yang sedang berada di raga Albert, kemudian ia memegang dahi Alan. Ia merasakan energi yang sangat besar menyelimuti Alan.
Di saat Alex masuk, ia terhalang oleh sebuah perisai yang tidak terlihat. Alex mencoba menghancurkannya namun tak kunjung berhasil. Perisai tersebut sangat kuat karena para makhluk astral bekerja sama untuk membentuk perisai dan dimana tidak sembarangan makhluk astral yang dapat keluar masuk sesukanya.
Alex memikirkan sebuah cara untuk dapat melewati perisai tersebut tanpa menghancurkannya. Alex bersandar di perisai tersebut lalu tiba-tiba ia merasakan energinya yang sedang ditarik oleh sesuatu. Alex tersentak kaget dengan segera ia menjaga jarak menjauhi perisai tersebut.
Kemudian terlintas dibenak Alex, ia memutuskan untuk melontarkan anak panah karena ia mengetahui kinerja perisai tersebut.
"Kalau aku nggak dibolehin masuk, biar energiku aja yang masuk."
Satu persatu Alex melontarkan anak panahnya ke atas karena ia tahu jikalau ia memanah dari depan, belakang atau samping, para makhluk astral yang sedang mengelilingi Alan dengan mudah melihat adanya serangan.
__ADS_1