
Sebulan kemudian, usai kasus dari rumah angker telah tuntas. Alan terbebas dari hukuman yang telah diberikan oleh orangtuanya. Ia juga beruntung mendapat keringanan hukuman karena Albert menjelaskan semuanya kepada orangtua Alan.
Di luar dugaannya, orangtua Alan percaya dengan penjelasan dari Albert. Ia membuat skenario seolah-olah Alan telah mengikuti les bela diri tanpa diketahui oleh mereka berdua. Bukti-bukti palsu juga cukup menunjang skenario yang dibuat oleh Albert sedemikian rupa.
Skenario yang tersusun rapi selama perjalanan pulang mengantarkan Alan ke rumah membuahkan hasil. Alan senang karena ia tidak perlu membuat orangtuanya marah namun, ia juga merasa sangat bersalah karena telah membohongi orangtuanya. Walaupun demikian, Alan sangat berterima kasih kepada Albert karena telah membantunya.
*******
Keesokan harinya, Alan pergi ke dapur untuk sarapan bersama orangtuanya. Ia duduk sambil membuka lembaran buku catatan yang nantinya di kelasnya diadakan ulangan. Alan belajar memahami tiap materi dari buku tersebut.
Kemudian, Ayah Alan duduk sambil membawa laptop. Ia juga disibukkan oleh pekerjaan kantornya. Sedangkan Ibu Alan sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Di saat Ayah Alan di sibukkan dengan pekerjaannya, tiba-tiba ia mendapat sebuah notifikasi dari handphonnya.
Kemudian Ayah Alan melihat serta membaca sekilas notifikasi tersebut. Ia tersentak kaget dengan notifikasi tersebut yang melampirkan sebuah berita mengenai kasus penculikan anak. Lalu Ayah Alan memberitahukan istrinya yang sedang memasak
"Eh Bun, Ayah dapat notif berita. Coba Bunda baca."
...'Sudah hampir 1 bulan angka kasus penculikan terhadap anak dibawah umur semakin bertambah. Hingga dini hari, para polisi masih belum menemukan pelaku penculikan. Dugaan sementara pelaku penculikan ada 2 orang.'...
"Yah, kayaknya Alan kalau berangkat sama pulang sekolah nggak boleh sendirian deh." Ucap Ibu Alan
__ADS_1
"Nah setuju."
Fokus Alan teralihkan ketika ia tidak sengaja mendengar perbincangan dari kedua orangtuanya. Kemudian ia menutup buku catatannya lalu memasukkan ke dalam tas. Ibunya memperingatkan kepada Alan ketika ia ikut bergabung dalam perbincangan mereka berdua.
"Maksud Ibu?."
"Entar kalau mau berangkat sekolah jangan naik bus dulu. Biar Ayah atau Ibu aja yang nganterin kamu." Jawab Ibu Alan.
"Emangnya kenapa?." Tanya Alan
"Sekarang lagi ada kasus penculikan anak, pelakunya juga masih berkeliaran. Jadi, untuk sementara waktu Ayah atau Ibu yang bakal nganterin kamu berangkat dan pulang sekolah." Sahut Ayah Alan
Mereka tidak ingin kehilangan Alan walaupun ia kini sudah menginjak usia remaja. Ibunya juga setuju dengan pendapat sang suami ketika ia menyarankan Alan untuk senantiasa memberi kabar saat Alan pergi keluar rumah.
Sarapan telah matang, mereka bertiga makan bersama lalu Ayah Alan bergegas mandi untuk pergi kerja. Sedangkan Alan diantar oleh Ibunya pergi ke sekolah. Ia juga berpesan kepada Alan untuk selalu waspada dengan orang yang tidak dikenal atau orang yang baru dikenal.
Alan hanya menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah katapun ucapan dari Ibunya. Namun, ia sangat penasaran dengan pelaku tersebut. Ia ingin sekali menangkap pelaku penculikan anak dibawah umur serta lokasi markasnya.
*******
__ADS_1
Sesampainya di sekolah, semua teman sekelas Alan membahas tentang kasus penculikan anak yang sedang viral. Mereka berbondong-bondong mencari pelaku dengan mengaitkan berbagai teori yang beredar. Bahkan para guru juga ikut membahas dan juga memperingatkan kepada para murid untuk selalu waspada.
Ujian yang nantinya akan diselenggarakan menjadi tertunda karena pihak sekolah tiba-tiba mengadakan rapat guru. Mayoritas murid pergi ke kantin sedangkan Alan tetap duduk di bangkunya membaca beberapa artikel tentang kasus penculikan anak.
Alan terkejut ketika ia baru menyadari bahwa korban penculikan rata-rata lahir di bulan Januari, Mei dan Desember. Kemudian ia membuat list nama korban yang lahir di bulan tersebut lalu mengaitkan dengan teori dari teman-temannya.
Kayaknya ini cukup nggak masuk akal sih, tapi aku harus nyoba dulu deh. Siapa tahu teori teman-teman ada benarnya. Batin Alan
Saat ia sedang sibuk membaca artikel di handphonnya, tiba-tiba terdengar suara jeritan dari kelas sebelah. Teman-teman Alan yang berada di dalam kelas bergegas keluar untuk melihat jeritan suara tersebut. Alan tidak peduli dengan suara jeritan tersebut, ia mengganggap kalau itu hanyalah sekedar gurauan.
Namun, salah satu murid tiba-tiba berteriak meminta tolong dengan suara lantang sampai membuat semua murid bergerombolan menuju kelas sebelah. Alan terkejut, ia memasukkan list tersebut ke dalam kolong meja, kemudian bergegas keluar kelas.
Di saat ia keluar kelas, Alan melihat banyak para murid bergerombolan di depan kelas. Lalu ia melihat 3 siswi yang sedang digotong oleh guru dan juga murid yang lainnya. Alan juga melihat beberapa murid yang sedang berjongkok sambil menutup telinganya.
Alan yang menyaksikan kejadian tersebut, ia di buat kebingungan sesaat. Bulu kuduk Alan mendadak merinding seakan ada kehadiran makhluk astral di sekitarnya. Kemudian ia menghampiri teman akrabnya lalu menanyakan tentang kejadian tersebut.
"Eh Jauzan, emangnya tadi ada apaan?." Tanya Alan sambil menepuk pundak temannya
"Oh Alan.... Aku juga nggak tahu sih, aku aja habis dari kantin. Tapi katanya temen-temen sih ada yang kesurupan, nggak tahu sebabnya apaan." Jawab Jauzan
__ADS_1