My Problem Is You

My Problem Is You
Episode 14


__ADS_3

Alan menelpon orang tersebut dengan tujuan untuk membantu menyadarkan para korban yang sedang kesurupan. Ia terus menghubungi orang tersebut namun tak kunjung ada respon sama sekali darinya. Edwin yang melihat Alan sedang berusaha menelpon seseorang, ia menghampirinya lalu menanyakan orang yang sedang Alan hubungi.


"Kamu lagi nelpon siapa?." Tanya Edwin


"Temen aku, dia ahli dalam hal supranatural. Aku mau suruh dia dateng ke sini buat bantuin aku tapi, telponku dari tadi nggak diangkat." Jawab Alan sambil berusaha menelpon.


"Mungkin dia lagi sibuk."


"Kayaknya sih."


Di saat mereka berdua sedang mengobrol, tiba-tiba salah satu murid menjerit kesakitan seolah makhluk astral tersebut ingin mengambil seluruh raga murid itu. Alan dan Edwin tersentak kaget, dengan segera mereka berdua menghampiri murid tersebut. Rupanya itu adalah mantan pacar dari Edwin. Ia mencakar-cakar tembok sembari menendang-nendang kakinya.


"Alan cepat tolongin dia!!!." Pintah Edwin sembari memegang tangan mantan pacarnya.


Cewek tersebut terus mengumpat ketika Alan mencoba untuk mengeluarkan makhluk yang sedang bersemayam. Energinya sangat kuat sampai cewek itu dipegangi oleh 5 orang. Ia meronta-ronta untuk bisa bebas dari pegangan mereka. Wajah Alan terkena cakaran ketika ia mencoba menetralisir makhluk tersebut.


Alan mengeluarkan seluruh energinya untuk bisa menembus ke dalam dimensi makhluk astral tersebut walaupun ia menggunakan cara kasar, setidaknya ia dapat mengusirnya. Alan merasakan bau yang sangat busuk ketika ia berada di dalam dimensi makhluk tersebut. Ia terus mencari sembari menantangnya untuk menampakkan diri.


Tiba-tiba, kepala Alan dipukul oleh sesuatu. Ia menoleh ke belakang dan rupanya itu adalah sosok cewek berambut pendek dengan wajah yang rusak. Alan menyadari bahwa sosok tersebut adalah korban dari penculikan yang telah dikatakan oleh pria tua itu. Ia melihat penampilan sosok tersebut dengan pakaian yang sangat kumuh, bau busuk dan kuku panjang.

__ADS_1


Alan menghindari serangan dari sosok tersebut ketika ia dengan tiba-tiba menyerangnya. Aura yang dipancarkan sangatlah kuat dan berwarna merah kehitaman. Sosok tersebut sangat marah ketika ia sedang ditantang oleh seorang manusia. Alan terus menghindari serangannya dan tidak berani menyerang balik makhluk tersebut. Ia sengaja melakukan hal itu karena untuk menghadapi arwah pendendam bukanlah dengan cara bertarung.


Api dilawan dengan api akan menjadi membesar. Dilihat dari energi sosok tersebut sangatlah besar, Alan hanya dapat menghindari serangannya sembari mencoba menjelaskan sesuatu kepada sosok tersebut. Usahanya tidak semulus rencana, sosok tersebut terus menyerang tanpa henti. Alan mencoba memikirkan sesuatu untuk dapat menghentikan pertarungan ini.


Alan teringat sesuatu ketika ia mendapat sebuah informasi dari pria tua yang sedang ia hadapi tadi. Ia menaruh kepercayaan kepada pria tua tersebut kalau sosok yang sedang di hadapannya saat ini akan terdiam dan mau menurut apa yang dikatakan oleh Alan. Ia mulai menyenandungkan lagu favorit sosok tersebut di kala hidupnya. Perlahan serangan sosok tersebut melemah ketika ia mendengarkan lagu yang sedang dinyanyikan oleh Alan.


Sosok tersebut terduduk lemas dan Alan melihat energi negatif dari sosok itu mulai keluar. Wujud asli sosok tersebut juga perlahan mulai terlihat dengan segera Alan mengakhiri lagu tersebut dan menghampirinya. Alan menjelaskan niatnya kepada sosok tersebut.


"Maaf, boleh tahu nama kamu siapa?." Tanya Alan


"Namaku Rossie."


"Boleh aku tanya sesuatu kepadamu?."


"Iya aku tahu, makanya aku datang ke sini untuk membantu menyelesaikan masalahmu. Aku dengar dari teman-teman sebangsamu, katanya kamu ini korban penculikan?." Sela Alan


"Iya benar sekali, aku bukan hanya korban penculikan saja tapi aku juga korban kekerasan dan pelecehan seksual." Jelas Rossie


"Ha?!. Kok bisa sih kak?."

__ADS_1


Rossie menceritakan kronologi detik-detik ia mendapat kekerasan dan pelecehan seksual lalu berakhir terbunuh.


______________________________________


Kala itu, ia sedang pulang sekolah sendirian. Tiada siapapun orang yang sedang melakukan aktifitasnya di luar rumah dan bahkan tiada sama sekali kendaraan yang berlalu lalang. Rossie yang tak kunjung di jemput oleh orangtuanya, ia memilih untuk jalan kaki sampai ke rumahnya namun di pertengah jalan, ada mobil yang sedang menepi di depannya.


Pemilik mobil tersebut melihat ke arah spionnya untuk memastikan tiada orang yang akan mengetahui kejahatannya. Rossie tidak menunjukkan reaksi terkejut atau apapun, ia malah melewati mobil tersebut. Satu per satu orang yang berada di dalam mobil mulai keluar dengan sigap mereka membungkam mulut Rossie dengan tangannya serta mengangkat Rossie kemudian memasukkannya ke dalam mobil.


Mereka membawa Rossie ketempat sepi untuk melakukan sebuah kejahatannya. Rossie berteriak sangat kencang sembari meronta-ronta namun ia mendapatkan pelecehan langsung dari salah satu pelaku tersebut. Sesampainya di tujuan, mereka memuaskan nafsunya terlebih dahulu kemudian menelpon orangtua Rossie untuk meminta tebusan.


Salah satu diantara mereka menelpon orangtua Rossie untuk meminta tebusan sedangkan yang lainnya masih memuaskan nafsu mereka sendiri. Mereka bergantian melecehkan Rossie dengan tangisan kesakitan yang ia rasakan. Di saat Rossie menangis, ia mendapat sebuah pukulan untuk meminta Rossie menikmati bukan malah sebaliknya.


Sekitar hampir satu bulan Rossie tak kunjung di temukan dan para pelaku juga setiap minggu memuaskan rasa nafsunya kepada Rossie. Mereka tertawa melihat seorang anak SMP yang sudah tak diinginkan lagi oleh orangtuanya.


Para pelaku berpaling haluan, daripada menginginkan sebuah harta yang nantinya akan habis, mereka memilih untuk menyandera Rossie. Mereka menganggap kalau harta akan dicari dan tidak menentukan sedangkan nafsu akan senantiasa tersedia di depan mereka. Mereka juga dapat menikmatinya setiap saat.


Orangtua Rossie sangat berduka ketika para pelaku mengabarkan kalau Rossie telah tiada. Mendengar apa yang telah dikatakan oleh para pelaku tersebut, ia berniat untuk kabur dari markas pelaku tersebut. Usaha Rossie tidak membuahkan hasil, ia selalu tertangkap ketika mencoba kabur dari markas mereka.


Hingga suatu ketika, ia berhasil kabur dari markas mereka. Melihat Rossie yang kabur markas, para pelaku sangat khawatir kalau Rossie akan melaporkan kejahatannya kepada pihak polisi. Mereka semua bergegas mencari Rossie sampai ketemu, salah satu diantara mereka menyarankan untuk melenyapkan bukti kejahatannya. Tanpa berpikir panjang, mereka semua sepakat dan berusaha mencari kepergiannya Rossie.

__ADS_1


Di saat Rossie tiba di suatu perkampungan yang bukan tempat tinggalnya, ia merasa lega karena ada seseorang yang pastinya akan melindunginya dari para pelaku tersebut. Ia tersenyum bahagia saat ada seseorang yang melihat ke arahnya. Tiba-tiba, para pelaku berhasil menemukan Rossie terlebih dahulu lalu menembakinya tepat di bagian kepalanya.


Mereka semua tak segan-segan untuk berhenti menembaki Rossie sekaligus memastikan bukti kejahatannya segera lenyap. Usai menembaki, para pelaku bergegas meninggalkan tempat kejadian sembari tertawa bahagia.


__ADS_2