My Problem Is You

My Problem Is You
Episode 12


__ADS_3

Di saat yang lain mencoba menenangkan temannya yang sedang menutup telinganya. Alan meminta kepada Jauzan untuk mengantarkan ke salah satu para murid yang sedang menutup telinganya. Jauzan yang selaku bagian dari osis, ia menyarankan Alan untuk pergi ke ruang BK.


"Tadi aku dapet info dari temenku, kalau ada salah satu murid yang sedang di rawat di ruang BK." Ucap Jauzan


"Ruang BK?." Tanya Alan kebingungan


"Iya, ruang BK. Soalnya di UKS udah penuh, makanya ada yang dibawa ke ruang BK." Jawab Jauzan


Saat mereka berdua hendak menuju ke ruang BK, para Guru tiba-tiba menyuruh semua murid untuk bergegas pulang ke rumah dan di saat bersamaan terdengar suara jeritan sangat keras dari tiap kelas. Jeritan dari mereka saling sahut menyahut sampai membuat semua murid ketakutan lalu pergi meninggalkan sekolah.


Para Guru kuwalahan menangani murid yang sedang kesurupan. Bahkan para OSIS yang sedang bertugas meninggalkan sekolah untuk mencari aman. Mayoritas dari mereka mulai menghubungi orangtuanya masing-masing untuk segera menjemput sembari menangis sesenggukan.


"Eh Lan kayaknya aku juga mau pulang deh." Ucap Jauzan


"Ha, pulang?. Katanya kamu mau nganterin aku ke ruang BK."


"Wah gila, iya aku juga mau ke ruang BK tapi lihat kondisi lah. Ini udah parah banget loh."


"Ya udah deh terserah."


Mereka berdua bergegas masuk ke kelas untuk mengambil tas lalu pergi pulang ke rumah. Namun berbeda dengan Alan, ia sangat penasaran tentang kejadian kesurupan massal yang ada di sekolahnya. Jauzan bergegas keluar meninggalkan Alan sendiri di kelas. Ia setengah berlari sambil menelpon orangtuanya.

__ADS_1


Suasana menjadi hening ketika para murid pergi meninggalkan sekolah. Di saat Alan keluar dari kelas, ia melihat seorang cowok berambut pirang. Cowok itu memakai seragam sekolah namun seragamnya sedikit berbeda dengan Alan.


Ternyata Alan tidak sendirian di sekolah, ia melihat satu murid yang tak kunjung pulang ke rumah di kala situasi yang mencekam ini. Alan mengabaikan murid tersebut dan menutup pintu kelas.


"Wah hebat juga itu anak. Udah tahu ada kesurupan massal di sekolah ini, malah dia santai-santai tak kunjung pulang. Kayak nggak ada beban aja hidupnya." Gerutu Alan sembari menutup pintu kelas.


Usai menutup pintu kelas, secara tidak sengaja Alan melihat gelagat dari murid tersebut sedikit aneh. Ia terus memandangi tanpa menyapa dan seketika Alan merasakan keanehan dari murid tersebut. Seragam yang dikenakannya tidak identik dengan seragam sekolah yang ia pakai.


Sempat terpikirkan dibenak Alan kalau seragam yang dikenakan murid tersebut adalah seragam keluaran yang terbaru. Namun, di saat Alan keluar waktu ada kejadian suara minta tolong, ia tidak melihat salah satu diantara para murid yang mengenakan seragam yang berbeda.


Hanya saja ia melihat beberapa murid mengenakan kaos olahraga. Ia sangat penasaran dan ingin menyapa murid tersebut. Murid tersebut berjalan menuju ruang laboratorium ketika Alan mencoba menghampirinya.


Alan ingin sekali segera mengakhiri kasus kesurupan massal yang ada di sekolahnya. Pertama kali ia menyaksikan kejadian tersebut di saat ujian kelas 3 hendak dimulai. Alan bergegas menghampiri murid tersebut namun saat ia masuk ke dalam laboratorium, Alan tidak menjumpainya.


Tiba-tiba, ada seseorang menepuk pundak Alan dari belakang. Alan tersentak lalu menoleh ke belakang dan rupanya itu adalah Edwin, sahabat sekaligus teman sekelas Alan.


"Kamu ngapain masih di sini?." Tanya Edwin


"Lah kamu ngapain kok masih di sini juga, bukannya kamu disuruh pulang?." Tanya balik Alan


"Ditanya bukannya jawab malah nanyain, gimana sih.... Aku tuh masih ada tugas, di suruh ngemastiin sama Guru BK apa semua murid udah pulang belum." Jawab Edwin

__ADS_1


"Oalah. Eh tadi kamu liat ada murid masuk ke lab nggak?." Tanya Alan


"Enggak, lah aku aja liat kamu mau ke lab." Jawab Edwin


"Maksudnya?."


Kemudian Edwin menjelaskan kepada Alan, saat ia sedang diberi tugas oleh Guru BK untuk memastikan semua murid pulang ke rumah. Ia melihat Alan yang tengah mengendap-endap menuju ruang laboratorium. Edwin memanggil Alan dengan kencang namun Alan tak merespon panggilan darinya.


Dengan segera Edwin menghampiri Alan yang sedang menuju ruang laboratorium. Saat hendak menghampiri Alan, Edwin melihat pintu kelasnya yang masih terbuka lebar. Padahal, semua pintu kelas telah terkunci hanya saja pintu kelasnya saja yang masih terbuka.


Edwin teringat sesuatu tentang kelebihan yang dimiliki oleh sahabatnya ketika ia sedang menutup pintu kelas. Ia takut kalau Alan terpengaruh oleh bujukan dari makhluk astral. Dengan segera Edwin bergegas mengunci pintu kelas lalu menghampiri Alan.


___________________________________


Kala itu Alan juga pernah terpengaruh oleh bujukan makhluk astral ketika ia sedang bermain di sebuah taman. Mereka menampakkan diri di depan Alan lalu membujuknya dengan meminta pertolongan. Alan yang sempat tidak percaya dengan dunia mereka ia merasa iba dan pada akhirnya mengikuti perginya makhluk astral tersebut.


Namun naasnya, Alan tertipu dengan ajakan dari mereka. Ia terjatuh ke sebuah lubang sedalam 3 meter tanpa ada orang lain yang mengetahuinya. Setelah puas menertawakan Alan, mereka tiba-tiba menghilang.


Edwin yang hendak membeli es krim, ia mendengar suara seseorang yang sedang meminta tolong. Dengan segera ia mencari sumber suara tersebut. Setelah menemukannya, Edwin bergegas pergi menemui orang lain untuk meminta bantuan.


Para warga sekitar saling membantu untuk mengeluarkan Alan dari lubang tersebut. Pada akhirnya, Alan dapat keluar dari lubang itu sambil menangis sesenggukan.

__ADS_1


__ADS_2