
Usai Faris menceritakan kronologinya, Alan termenung sesaat kemudian ia meminta izin kepada Faris untuk menunjukkan alamat rumah Dion.
"Kak, apa aku boleh lihat rumah kak Dion?."
"Oh boleh, waktu itu aku sempat screenshot rumah Dion di Google maps. Awalnya aku mau ngirimin gambar itu ke Dion mau nanya bener nggak nya. Eh malah aku kelupaan gara-gara ada cewek waktu itu." Jawab Faris sambil mencari foto rumah tua tersebut
"Tapi, kok bisa sih kamu-"
"Ya mana aku tahu, kan kamu sendiri yang ngirimin..... Nah ini dia." Sela Faris
Doni tersentak kaget ketika Faris menunjukkan foto yang terdapat di handphonnya kepada Alan. Terlihat sebuah rumah yang cukup besar dengan pagar besi dan tembok yang usang. Semua yang diceritakan oleh Faris sangat persis dengan yang ada di foto.
Namun siapa sangka, Doni mengatakan kepada mereka bahwa rumah tua tersebut berada satu kampung dengan rumah Doni.
"Eh itu kan, rumah angker yang deket sama rumahku!."
"Rumah angker?." Tanya Faris
"Iya, itu rumah angker. Ya walaupun jarak antara rumahku sama yang kamu samperin agak jauhan dikit tapi aku tahu kenapa rumah itu disebut rumah angker."
Seketika itu juga, Alan mendapatkan visualisasi yang dimana rumah tersebut sudah tidak berpenghuni sejak 5 tahun yang lalu. Ia juga melihat terdapat pertengkaran sangat besar nan begitu rumit sampai mereka memilih untuk mengikuti hukum alam yakni makan atau dimakan
Alan ingin menggali lebih dalam lagi dan ia melihat sejumlah uang yang begitu banyak, sebuah pisau dan bercak darah. Alan yang tak sanggup melihat lebih lama lagi, ia memutuskan untuk mengakhirinya. Di saat itulah Doni menceritakan rumah angker tersebut kepada mereka berdua.
___________________________________
__ADS_1
Kala itu, penghuni dari rumah tersebut sangat kaya raya. Mereka enggan berinteraksi dengan para masyarakat sekitar karena adanya sistem kasta. Mereka mengikuti kasta tersebut sedari zaman nenek moyang, dimana orang yang terlahir dengan sendok emas tidak layak berbaur dengan orang yang terlahir dengan sendok perak.
Sontak hal tersebut membuat masyarakat geram terhadap penghuni rumah tersebut. Perlahan desas-desus mengenai keburukan penghuni tersebut mulai menyebar hingga satu kampung.
Hingga suatu ketika, semua penghuni rumah tersebut meninggal satu persatu dan hanya menyisakan satu orang. Masyarakat juga mulai resah akan penyebab kematian penghuni rumah tersebut. Mereka semua juga mulai menjaga jarak karena adanya rumor yang telah beredar.
Mereka semua meyakini kalau penyebab kematian penghuni rumah tersebut adalah korban pesugihan. Walaupun masih belum ditemukan adanya fakta, masyarakat tetap bersikukuh percaya akan hal tersebut. Beberapa bukti juga menunjang jikalau penyebab kematian penghuni tersebut adalah korban pesugihan.
Saat rumah tersebut sudah tidak berpenghuni lagi, para arwah yang berasal dari rumah tersebut mulai bergentayangan. Masyarakat juga banyak ditimpa oleh kejadian hal mistis. Mulai dari penampakan pembantu yang berdiri di depan gerbang, jeritan kesakitan, tangisan anak bayi dan lain-lain.
Pada akhirnya masyarakat berkumpul memutuskan untuk mendoakan para penghuni rumah yang telah meninggal tersebut. Sejak saat itu, masyarakat mulai jarang mendapatkan kejadian hal mistis.
_____________________________________
Saat Dion selesai menceritakan semua kronologi dari rumah angker tersebut, Faris teringat akan sesuatu. Ia teringat kepada seorang pria yang sedang berdiri di depan gerbang kampusnya, seperti menunggu seseorang. Faris baru menyadari kalau di kampus sudah tiada lagi mahasiswa lainnya.
Tepat di depan gerbang, langkah Faris kembali terhenti ketika pria tersebut memanggilnya. Faris merasa sangat takut namun ia tak sanggup untuk menghindar atau berlari dari pria tersebut. Tubuh Faris terdiam sesaat, ia hanya pasrah dengan keadaan.
Seandainya apa yang dipikirkan oleh Faris menjadi kenyataan, ia akan melakukan perlawan walaupun pada akhirnya ia akan tertusuk. Mengingat yang orang sedang ia hadapi membawa senjata sedangkan Faris hanya menggunakan tangan kosong. Tidak ada salahnya untuk berani mencoba, sekalipun ia menang maka keberuntungan sedang berpihak dengannya.
Saat pria tersebut mulai menghampiri Faris, tiba-tiba sebuah senjata tajam yang berada di sakunya, ia lemparkan dan masuk ke dalam selokan. Faris tersentak kaget dan ia hanya bisa menelan ludahnya ketika melihat pria tersebut melempar senjata tajam tersebut. Kemudian pria tersebut memberi Faris sebuah buku lalu pergi meninggalkannya.
Faris mengatakan kepada Alan dan Dion kalau ia tidak mengerti maksud dari buku tersebut. Isi buku tersebut bertuliskan bahasa Jawa yang tidak dimengerti oleh Faris sampai ia melupakannya. Walaupun demikian, Faris hanya mengerti satu kata dari buku tersebut yakni kata "mati"
Alan yang sangat penasaran dengan buku tersebut, ia ingin sekali melihatnya. Kemudian Alan bertanya kepada Faris tentang buku tersebut.
__ADS_1
"Terus, bukunya sekarang ada dimana?." Tanya Alan
"Ada di tas, bentar.... Nah ini." Ucap Faris sambil memberikan buku tersebut.
Di saat Alan memegang buku tersebut, ia merasakan aura yang sangat aneh di setiap lembaran. Alan tersentak kaget ketika ia mulai membuka buku tersebut dan melihat lembaran kosong dari setiap halaman. Saat berada di tengah-tengah halaman, terdapat sebuah kalimat bahasa Jawa yang bertuliskan
...'Ning sampeyan kepanggeh bocah kuwi, mugo-mugo sampeyan uga mati.'...
Melihat Alan yang terdiam sesaat, Dion dan Faris bertanya tentang makna dari tulisan tersebut. Kemudian Alan memberitahukan kepada mereka berdua.
"Jadi artinya itu gini kak. Jika kamu bertemu dengan anak itu, semoga kamu ikut mati juga." Jelas Alan
Mereka tersentak kaget ketika mendengar makna dari kalimat tersebut. Faris yang tercengang sesaat, kemudian ia bertanya kepada Alan maksud dari kata "anak itu". Sedangkan Dion berspekulasi bahwa buku tersebut diberikan langsung untuk menargetkan Faris
"Aku juga nggak tahu kak, tapi yang jelas-"
"Bisa jadi ini bukan sekedar buku tapi surat ancaman yang ditujukan sama kamu Ris." Sela Dion saat Alan belum selesai berbicara
"Kayaknya nggak mungkin deh." Ucap Faris yang masih tidak percaya dengan ucapan dari Dion
"Sudah sekarang gini aja, kak Faris masih ingat dengan ciri-ciri dari pria itu?." Tanya Alan
"Yang aku ingat. Tinggi badan pria itu mungkin sekitaran 178cm, bertopi hitam, sekilas umurnya keliatan antara 23 sampai 25 tahun." Jawab Faris
"Oh ya, aku juga nggak sengaja liat ada bekas luka kayak sayatan di tangan kanannya. Terus pas dia ngasih aku buku, bau parfumnya itu mirip banget dengan bau parfum yang biasanya Dion pakai." Tambahnya
__ADS_1
"Parfum?... Oh yang itu. Aku pakai parfum melati." Ucap Dion