My Problem Is You

My Problem Is You
Episode 03


__ADS_3

Sesampainya di rumah Pak Dosen, Faris menyuruh Dion untuk tetap menunggu dan ia juga berpesan kepada Dion untuk tidak mengulangi kejadian tadi.


"Dion, kamu tunggu sini. Aku mau ngumpulin tugasku bentar dan nggak usah ngilang lagi oke?."


Faris mulai kesal dengan Dion ketika ia tidak menanggapi ucapannya dan hanya menganggukkan kepala. Tak ingin memperpanjang masalah, ia meninggalkan Dion dan bergegas mengumpulkan tugasnya.


Faris mulai mengetuk pintu sambil memegang lembaran tugas kuliahnya. Tak berlangsung lama, Pak Dosen menghampiri Faris dan membukakan pintu. Kemudian ia mencium kura tangan Pak Dosen sambil memberikan lembaran tugas kuliahnya.


Mereka berdua berbincang-bincang mengenai tugas yang telah diberikan. Pak Dosen juga sangat senang dengan attitude Faris ketika ia mengobrol dengannya.


"Tadi kamu ke sini sama siapa?." Tanya Pak Dosen


"Sama temen pak"


"Temennya mana?, kok nggak diajak ke sini?."


"Hehehe~. Itu saya suruh nunggu di depan sana." Jawab Faris sambil menunjuk ke arah depan gerbang


"Mana?, kok nggak ada"


Faris tersentak kaget ketika ia melihat temannya yang tiba-tiba saja menghilang. Kemudian Faris segera bergegas keluar untuk memastikan bahwa yang ia lihat adalah salah. Ternyata penglihatan Faris sedang tidak bermasalah, Dion pergi meninggalkan Faris entah kemana.


Tiba-tiba Faris kepikiran waktu sedang memarahi Dion. Ia menduga bahwa Dion bukan menghilang namun masih kesal dengan ucapannya. Faris merasa sangat bersalah kepada Dion kemudian ia mencoba menghubunginya tapi tidak ada respon sama sekali.


Di saat itulah Pak Dosen beserta anaknya mulai menghampiri Faris. Kemudian Faris menjelaskan semuanya kepada mereka berdua dengan mata yang telah berkaca-kaca. Pada akhirnya mereka berdua membantu Faris untuk mencari Dion di sekeliling kampung.


"Hendra dan Faris coba kalian cari mulai dari selatan dulu biar Bapak yang mencari dari arah timur."


"Iya pak." Jawab Hendra

__ADS_1


Mereka mencari Dion dengan terpisah karena sebuah persimpangan. Tak lupa Faris dan Hendra bertanya kepada penduduk sekitar demi mendapatkan sebuah petunjuk. Ekspetasi tak seindah realita, penduduk sekitar juga tidak mengetahui perginya Dion, yang padahal beberapa orang melakukan aktifitas di luar rumah.


Sambil mencari, Faris mencoba menghubungi Dion namun ia sedari tadi tidak mendapatkan respon sama sekali dari Dion. Faris berharap seandainya Dion telah di temukan, ia akan segera meminta maaf dengan sangat tulus atas perbuatannya tadi.


*******


Mereka bertiga kembali dengan tangan hampa. Pak Dosen juga tidak mendapatkan sebuah petunjuk sama sekali dari penduduk sekitar. Seketika itu juga, Hendra baru sadar kalau ia memasang cctv di depan rumahnya sedari kemarin bersama teman-temannya.


Mereka bertiga bergegas menuju kamar Hendra untuk melihat perginya Dion ke arah mana. Mereka bertiga menaruh sebuah harapan besar berharap menemukan petunjuk setelah melihat rekaman cctv.


.


.


.


.


Hendra sengaja memasang cctv tersebut dari segala sudut kampung demi keamanan masyarakat. Tak hanya itu, kamera cctv lainnya juga memperlihatkan bahwa Faris menuju rumah Pak Dosen seorang diri tanpa ditemani oleh Dion. Namun yang membuatnya mereka tercengang, Dion tiba-tiba muncul dari belakang Faris ketika hendak sampai di rumah Pak Dosen.


Pak Dosen yang melihat Faris terduduk, ia menyuruh Hendra untuk mematikan layar cctv dan segera membantu Faris untuk bangun. Kemudian Hendra memapah Faris dan mengistirahatkan di ruang tamu.


Seketika suasana menjadi hening, Faris meminum segelas air yang telah diberikan oleh Pak Dosen. Faris sangat tidak percaya kalau dirinya mengalami hal tersebut untuk kedua kalinya. Ia berharap bahwa kejadian tersebut hanyalah sebuah ilusi namun sesekali Faris mencoba untuk berfikir positif, pada akhirnya ia gagal karena sebuah bukti dari rekaman cctv tadi.


Tiba-tiba bunyi handphon Faris yang tergeletak di atas meja berdering. Memperlihatkan ada seseorang yang sedang menghubunginya, semua mata tertuju pada layar handphon tersebut. Mereka tersentak kaget sekaligus merinding ketika layar handphon tersebut memperlihatkan bahwa orang yang menelpon Faris adalah Dion.


Faris yang tidak berani mengangkat panggilan tersebut menyuruh Hendra untuk menjawabnya. Kemudian Hendra mengeraskan suara panggilan tersebut agar Pak Dosen dan Faris juga ikut mendengar percakapannya.


"Halo"

__ADS_1


'Eh Faris, jadi nggak sih?. Katanya mau ke rumahku, aku dari tadi nungguin lho. Ini aku sekarang lagi di rumahmu, katanya Ibumu kamu dah pergi dari tadi. Lah gimana sih?'


"Maaf, ini siapa?"


'Aku Dion, lah ini siapa?, terus Faris mana?-'


Hendra tersentak kaget ketika Faris merebut ponsel lalu mematikannya. Ia segera pamit kepada mereka berdua serta mengucapkan terima kasih. Pak Dosen mengerti dengan situasi yang dialami oleh Faris.


*******


Sesampainya di rumah, Faris menaruh barang belanjaan Ibunya di atas meja dan bergegas menuju ke kamar kemudian menguncinya. Faris terus menerus mengingatnya bak film sedang di putar berulang kali.


Seperti tato yang ada di tubuh walaupun sudah dihilangkan akan tetap membekas. Traumanya dengan hal ghaib membuat dirinya yang pada awalnya tidak percaya kini menjadi percaya. Sejak saat itu, kini Faris mudah terkejut dan ketakutan.


Hari demi hari ia lalui namun kondisi Faris belum juga membaik. Pesan dari Dion ia abaikan untuk sementara agar tidak teringat kembali tragedi waktu itu. Tak ingin rasa traumanya berkesinambungan, ia mencoba untuk melawannya dan ingin segera mencari sebuah solusi dengan cara mengobrol bersama Dion dan juga Alan


Kemudian Faris beranjak dari tempat tidurnya lalu mengirimkan sebuah pesan kepada Dion untuk datang ke rumah Alan. Dion yang kebingungan dengan isi pesan dari Faris, ia memilih menuruti ajakan dari Faris. Sempat meragukan ajakannya namun ia sangat penasaran dengan kejadian yang ditimpa oleh temannya.


*******


Sesampainya di rumah Alan, Faris melihat Dion yang baru saja datang. Ia tersentak kaget sekaligus ketakutan karena Faris masih mengingat dengan sangat jelas senyuman Dion ke arah kamera cctv waktu itu. Walaupun itu bukanlah Dion namun Faris masih gemetar ketakutan.


Faris mencoba untuk memberanikan diri memastikan bahwa yang sedang di hadapannya adalah manusia. Melihat Dion menyapa dari kejauhan, seketika tubuh Faris merinding ketakutan. Senyuman dari Dion sama persis dengan yang Faris lihat di kamera cctv. Faris berdoa meminta kepada Tuhan untuk senantiasa melindungi dari segala gangguan makhluk astral.


Tiada cara lain, Faris menepuk lengan Dion dengan sangat keras ketika Dion mulai menghampirinya.


"Eh sakit tau!." Ucap Dion dengan raut kesal


"Ah maaf, aku hanya memastikan aja." Balas Faris

__ADS_1


"Memastikan apaan?." Tanya Dion sambil mengelus lengannya yang terasa sakit.


Dion terkejut sekaligus ikut merinding ketika Faris menjelaskan semua kronologi kepadanya. Tanpa pikir panjang dan ingin memuaskan rasa penasarannya, Dion memotong cerita Faris dan menyuruhnya untuk segera menemui temannya yakni Alan.


__ADS_2