
Hari ini adalah hari yang sangat aku benci, bagaimana tidak aku merasa sakit hati. saat bel pelajaran telah usay, aku dan kimoro keluar kelas dan menuju ke parkiran sepeda.
setelah itu aku dan kimoro pulang, di perjalanan aku bertanya kepada kimoro.
" kimoro bukannya kamu memiliki seseorang yang menjagamu dari dulu?" tanyaku.
kimoro tidak menjawabku, dan aku memanggilnya.
" kimoro, kimoro kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?" tanyaku.
" maafkan aku soal kejadian di sekolah tadi, aku benar-benar minta maaf telah menyakiti perasaanmu" pukas kimoro.
" aku sudah melupakannya, apa kamu mendengar pertanyaanku tadi, kalau kamu degar pertanyaanku aku minta kamu menjawabnya." pukasku.
" benar, aku memiliki seseorang yang menjagaku, tapi perasaanku dia hanya menjagaku, ketika aku sedang terkena masalah. kalau tidak salah dia juga pernah mengatakan kalau dia membutuhkan setetes darah orang lain, darah yang memiliki tanda lahir sepertiku" pukas kimoro.
dalam hatiku, aku sebenarnya muak berbicara dengan kimoro, tapi karena dia sudah tinggal bersamaku tidak mungkin aku membencinya.
" Kimoro maksudmu memerlukan darah, aku tidak mengerti dan tolong jelaskan kepada ku" pukas ku sambil menatap kimoro.
" kau dengar ini baik-baik, aku sekarang mencari orang yang memiliki tanda lahir sepertiku,dan aku ingin lepas dari bebanku selama ini, aku tidak tahan kalau harus menyakiti diriku sendiri, dan aku ingin memberi darah orang tersebut untuk Moro( sosok yang menjaga kimoro )" ujar kimoro dengan muka tertunduk dan terlihat seperti ingin menangis.
" apa kau tega menyakiti orang tersebut demi dirimu sendiri? kau tidak perlu bersedih dengan hal itu aku akan membantumu." pukasku sambil aku menepuk pundaknya.
" bagaimana pun aku harus melakukannya, ya walaupun aku menyayangi orang tersebut.aku berharap aku bisa lepas dari ini semua" pukas kimoro.
"bagai mana kalau orang yang memiliki tanda dan kotak itu adalah teman dekatmu" tanyaku.
" ya aku harus melukainya, bukan aku sebenarnya tapi Moro sendiri (nama sosok yang di berikan kimoro)" jawab kimoro.
" aku bertanya kepadamu sekali lagi, bagai mana kalau orang yang memiliki tanda lahir itu, ada di hadapanmu sekarang?" tanya ku lagi.
" maksudmu?" tanya kimoro dengan heran dan terus memperhatikanku.
" Buka tanganku" kataku sambil memberikan tanganku kepada kimoro. dan saat itu juga kimoro membuka genggaman tangan tanganku.kimoro sangat terkejut melihatnya dan kemudian dia bertanya.
" kamu memiliki tanda lahir itu, tapi kenapa kamu tidak memiliki kotak tua itu" tanya kimoro dengan sangat heran.
" aku juga tidak tahu" jawabku dengan berbohong.aku berusaha mengalih kan pembicaraan.
" kimoro ayo kita mengayuh sepeda dengan cepat, " pukasku.
" ok, siapa paling cepat sampai" jawab kimoro.
kami berdua mengayuh sepeda dengan sangat cepat, setelah tiba di rumah kimoro mengatakan kalau aku harus mengikutinya nanti malam ke ruangan yang pernah dia gunakan.
__ADS_1
dan aku menjawabnya aku setuju dengan ajakannya.setelah itu aku dan kimoro memasak makanan untuk kamu berdua.
sesudah kami berdua meyelesaikan semuanya itu, kami berdua makan bersama, aku memperhatikan kimoro, yang sedang melahap makanannya. kemudian kimoro melihatku dan dia heran kemudian bertanya kepadaku.
" kenapa kau memperhatikanku dari tadi? " tanya kimoro.
" tidak, aku hanya ingin melihatmu saja" jawabku dengan tersenyum dan terus menatap kimoro.
" jangan melihatku seperti itu" kata kimoro dengan wajah serius.ngomong-ngomong aku minta maaf soal tadi,aku berkata kasar kepadamu." pukas kimoro.
" tidak apa " jawabku dengan tersenyum.
" apa kamu tidak keberatan dengan permintaanku, aku hanya ingin lepas dari ikatan antara aku dan Moro.
" maksudmu?" tanyaku dengan heran.
" kau tahu seteiap malam aku bertemu dengan Moro, dia selalu mencekik leherku hingga aku tidak bisa bernapas.
aku menetap mata kimoro.
" kimoro tatap mataku, kenapa kamu harus bersedih, tenag saja aku akan membantumu." pukasku.
" aku menghargai kepedulianku itu, tapi ini bersangkutan dengan hidup atau mati" pukas kimoro sambil menangis di hadapanku, aku kemudian merangkulnya.
"ini sama sekali tidak masalah untuku, jika aku mati ,aku akan memberikan mu tugas untuk menjaga rumah ini dengan baik" jawabku sambil bercanda.
setelah kami berdua selesai makan dan membersihkan semuanya, aku dan kimoro pergi ke ruang tamu untuk menonton tv, saat kami berdua duduk di sofa, aku melihat kimoro sedang melamun dan aku menegurnya, tapi apa boleh buat aku sudah menegurnya tapi dia tidak mendengar kan ku.
" kimoro, kimoro" panggilku sambil menepuk bahunya.
" maaf aku tidak mendengarkan panggilan mu, aku terus memikirkan tentang dirimu" pukas kimoro dengan sedih.
" tidak apa, jangan memikirkan ku, aku sendiri yang ingin melakukannya" jawabku sambil menatap kimoro.
setelah kira-kira jam tujuh malam, kimoro mengajakku keruangan itu,untuk menemui Moro. saat kami berdua menuju ke kamar itu, kimoro terus memegang tanganku denagn erat.
" kimoro kamu takut dengan ini" tanyaku, aku csengaja bertanya seperti itu, karena tanganku sangat sakit di genggamnya dengan kuat.
" tidak " jawabnya singkat.
" sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanyaku.
"aku akan melukai tanganku" jawab kimoro sambil melukai tangannya dengan pisau agar mengeluarkan darah.
aku melihat kimoro, sepertinya dia ragu untuk melukai tangannya sendiri,dan aku berkata.
__ADS_1
" kimoro aku akan mengantikan mu, mana pisaunya?" tanyaku.
" tapi... " jawabnya aku melihat kimoro dia tidak mau memberikan pisau itu kepadaku
" kimoro" kataku sambil merampas pisau itu darinya.dan kemudian aku melukai telapak tanganku sendiri, darah pun langsung keluar, kalau aku mengoles darah ku kelukisan itu.
tiba-tiba, Moro keluar dari lukisan itu.
" kimoro siapa dia ini" tanya Moro.
" kau tidak perlu tahu siapa aku, aku disini ingin mengatakan kepadamu, jangan pernah mengganggu kimoro lagi" pukasku dengan nada sedikit naik.
" aku tidak peduli" jawabnya.
" aku yang peduli, apa mau mu dengan kimoro." pukas ku.
" aku ingin membunuh mu!" pukasnya.
" aku yang akan menghabisi mu terlebih dahulu" jawabku.
" kau memegang ku saja tidak bisa, apalagi meghabisiku" pukasnya dengan nada sombong.
"selamat tinggal" kataku.
tiba-tiba Moro langsung mencekik leherku, kimoro berusaha membantuku, tapi sayangnya dia sudah terjatuh, akibat di dorong Moro dan kimoro hanya bisa melihatku dan dia meratapku dengan tangisan.aku berusaha melepas cekikkan itu tapi aku tidak bisa.
tiba-tiba terpikir olehku kalau dia bisa lenyap Hanay dengan satu cara yaitu membakar kotak tua Yang ada di tangan kimoro dan membakarnya dengan korek yang aku pegang.
tiba-tiba Moro hilang setelah aku membakar nya dengan api sosok itu hilang dari hadapanku.sebelum dia menghilang dia mengatakan tunggu pembalasanku.aku terus menahan rasa sakit di tanganku dan tanganku terus mengeluarkan darah.kemudian aku berusaha untuk berdiri dan aku sangat kesesakan karena Moro mencekik ku sehingga aku susah untuk bernapas.setelah semuanya normal kembali, kimoro berdiri dan memegang tanganku.dan aku menjerit kesakitan.kimoro membawaku ke ruang tamu, di situ kimoro langsung mengobati lukaku.belum lama setelah itu,jino menelpon kimoro, mereka berdua berbicara di telepon dengan sangat gembira terdengar candaan di antara mereka berdua.kimoro melupaiku, padahal dia belum selesai mengobati lukaku.dalam hatiku, aku membencimu kimoro dan aku juga memperdulikan dirimu.tapi kenapa kau melakukan ini kepadaku.aku berusaha mengobati lukaku sendiri tapi aku tidak bisa tiba-tiba kimoro berkata kepadaku.
" laudi, aku pergi sebentar kerumah jino, orang tuanya menyuruhku kesana" kata kimoro sambil menuju pintu luar.
" tapi bagai mana dengan tanganku, kau belum selesai mengobatinya" pukasku dan aku menjerit kesakitan.
" kau lanjutkan saja, aku pergi dulu " jawab kimoro dan kemudia pergi.
" aku hanya melihatnya, padahal aku ingin mengatakan kalau kepalaku sekarang sedang sakit.. tapi sudahlah mungkin itu lebih berguna baginya, dari pada merawatku" pukasku.
setelah beberapa lama aku menunggu kimoro, aku memilih untuk pergi ke kamarku, saat aku sedang menaiki tangga, tiba-tiba sosok hitam datang dan mendorongku dari tangga, aku pun terjatuh dan terguling sampai kebawah, sosok itu datang dan berkata.
" Bagai mana apa ini cukup, dan kemudian dia menghisap darah dari luka di tanganku, aku menjerit kesakitan, tapi dia hanya sebentar dan kemudian pergi begitu saja. aku meraba kapalaku, dan ternyata kepala berdarah, aku hanya bisa terbaring dengan lemah sambil menjerit menahan kesakitan.aku berusaha untuk duduk, dengan darahku aku menulis di lantai, yang bertuliskan.
" kimoro aku menunggumu"...
aku kemudian jatuh terbaring dan pingsan di tempat itu tanpa mengingat apa-apa...
__ADS_1
berlanjut...