
Hana perlahan membuka mata, kepala nya terasa sangat sakit. rasanya seperti kepalanya akan meledak, mungkin dia terlalu banyak meminum Soju tadi malam.
"Sial kepala ku sakit sekali.." Gumam Hana yang kesusahan bahkan hanya untuk sekedar duduk saja.
"Hana? sudah bangun? ayo minumlah susu ini selagi hangat," ucap Endra masuk membawa segelas susu putih.
" Di mana ini? Kenapa aku bisa di sini?" tanya Hana yang menyadari dia sekarang berada di tempat yang tak di kenal nya.
"kita di hotel, aku bermaksud membawa mu ke rumah mu tapi sudah terlalu larut, jadi aku membawa mu kesini." Endra menjelaskan.
"Hotel?.. Ah di mana Pak Rehan? aku ingat aku bersama nya kemarin." Ucap Hana.
"Dia memberikan mu pada ku,"
"Kalian pikir aku barang?" Hana kesal, sejujurnya dia tak kesal karena ucapan Endra, dia hanya kesal kenapa Rehan membiarkan Endra membawa nya.
"Aku kebetulan lewat, dia melihat ku dan memanggilku, lalu dia meminta aku untuk membawa mu."
"Lupakan, keluarlah," Ucap Hana kembali membaringkan tubuh nya.
"Hana.. kamu masi marah pada ku?"
"Hm" jawab nya singkat.
"Maafkan aku.. Aku akan menjadi lelaki yang baik sekarang. semua yang aku lakukan sepenuh nya karena aku mencintai mu sayang.. Maafkan aku ya.." Bujuk nya.
"Hm, ku bilang lupakan."
"Sayang.. Apa benar kamu berpacaran dengan Rehan?"
"Bukan urusan mu,"
"Kamu bilang kamu sudah memaafkan ku, ingat?"
"Kepala ku sakit! pergilah!" Ucap Hana mengusir Endra.
"Hana, aku benar benar mencintai mu.."
"..."
"maafkan aku, kita berbaikan.. oke?"
"Hemm.."
"Ayo katakan sesuatu sayang.."
"Yaa kita berbaikan, sekarang pergilah."
"Pacar ku yang terbaik~" Endra mencium kening Hana lembut.
"Aku akan memasak sarapan mu, kamu jangan lupa minum susu ini ya,"
"Hem.."
***
"Ishh... kepala ku sakit sekali," ringis Nadia.
"Hem? siapa yang menyiapkan ini," Ujar nya melihat sebuah mampan di meja samping tempat tidur nya yang berisi bubur yang kelihatan masih hangat, teh, dan obat kepala. Oh serta sebuah surat kecil, dari siapa itu?
"Aku baru membeli ini, makan lah dan jangan lupa minum obat nya. tapi kalau ini sudah dingin saat kamu bangun, panggil aku."
__ADS_1
Begitulah isi surat itu, siapa yang menulis nya? siapa yang membawa nya pulang? dia tak ingat apapun selain mereka masuk ke rumah makan korean dan setelah nya.. Semua samar.
"Panggil? siapa yang harus ku panggil?"
"Kamu sudah bangun?" sebuah suara yang tak terlalu asing terdengar di telinga Nadia, dia mendongak dan melihat Ridwan dengan ketampanan di atas rata rara saat menggunakan baju santai seperti itu.
"Astaga!" Teriak Nadia laku bersembunyi di bawah selimutnya.
"Ada apa? hei kenapa?" Ridwan kaget melihat Nadia yang tiba tiba seperti itu.
"Bapak pergilah.. Saya baru bangun.."
"Lalu kenapa?" Ridwan masih tak mengerti.
"Saya.. saya masih berantakan.." Nadia menjawab dengan gugup.
"Aku kira apa.. ternyata hanya itu? sudah keluar lah, kamu akan kepanasan."
Nadia perlahan mengejutkan kepala nya, hanya memperlihatkan mata nya dan rambut pendek nya yang acak acakan.
"Kamu tetap imut mau bagaimanapun. tak perlu malu," ucap Ridwan memperbaiki rambut Nadia.
"Apa apaan.." Nadia menjadi malu dan kini membuka selimut sepenuh nya.
"Kamu terlihat lebih manis tanpa make up,"
"Berhenti! Ngomong ngomong kenapa bapak tahu rumah saya?"
"Aku mengikuti mu kemari, aku ingin mengantar mu tapi kamu malah baik taksi."
"ya itu memang tak perlu, untuk apa juga bapak mengikuti kesini,"
"Begitu? kalau begitu aku pergi," Ridwan bangkit
"Hemm.. aku mengikuti mu karena khawatir, bagaimana kalau sopir itu macam macam pada mu? kamu dalam keadaan mabuk," Ridwan menjelaskan alasan nya.
"Terima kasih Pak,"
"Hemm.. sekarang makan lah, kalau sudah dingin itu tak enak lagi."
"Baik Pak,"
Nadia mulai memakan bubur itu, dia tak sadar sekarang pria tampan di depan nya sedang menatap nya lekat, tak mengalihkan pandangan dan menyimpan rasa gemas melihat wanita di depan nya yang asik makan.
"Hei kita hanya berdua di sini, kamu bisa lebih santai,"
"Hem?" Nadia mendongak.
"Ya kita hanya beda satu tahun, kenapa juga kamu harus memanggilku Bapak?"
"Karena.. Bapak adalah atasan di kantor dan juga umur kita berbeda. akan canggung kalau saya memanggil nama bapak langsung."
"kalau begitu panggil aku KAKAK"
Burt!!! Nadia menemburkan teh yang di seruput nya. dia terkejut dengan apa yang di ucapkan Ridwan. Kakak? yang benar saja!
"T-tidak mungkin!"
"Kenapa?"
"Lupakan! " Nadia menelan obat nya lalu kembali masuk kedalam selimut dan tersenyum dalam diam di dalam nya, dia merona.
__ADS_1
Ridwan hanya tersenyum kecil lalu mengelus dan sedikit memijat kepala Nadia membantu nya mengurangi rasa sakit di kepala nya.
.
.
.
.
Cukup dengan DUA PASANGAN yang sedang membucin itu, sekarang kita beralih pada seorang yang sangat memprihatinkan, tak ada orang yang mengantarkan susu atau nampak berisi bubur, teh, dan obat dengan sebuah surat di meja nya.
yang menemani saat mata nya terbuka hanyalah rasa sakit yang membuat nya mau mati. kepala nya sangat sakit tapi dia tak punya siapa pun untuk membantu nya memijat kepala.
Ya itu adalah si malang Rehan, dia melawan rasa sakit itu sendiri, membuat sarapan sendiri, dan minum obat sendiri. Malang sekali pria tampan itu, padahal author bersedia melayani.
"Hah.... Aku terlalu banyak minum." Ujar nya sembari membaringkan diri di sofa ruang tamu nya.
Tanpa aba aba, tiba tiba saja otak nya flashback ke saat dia berciuman dengan Hana saat itu, lalu tiba tiba flashback lagi ke saat tadi malam saat dia di tinggalkan dengan malang nya.
"Siap apa apaan otak ku ini!" Ujar nya bingung dengan pikiran nya sendiri.
Saat itu, sangat jelas Hana mencium nya dengan bibir lembut nya, bahkan Rehan masih ingat jelas berapa halus nya bibir itu.
tapi saat itu juga sangat jelas nama yang di sebutkan adalah nama Endra, bukan nama nya, sama sekali bukan. jadi kenapa juga harus memikirkan itu dengan bodoh nya?
"Kamu sudah gila Rehan, " Ujar nya mengusap kepala nya.
betapa bodoh nya, dia selama ini tak pernah sadar soal itu, dia hanya memikirkan bahwa yang jelas bibir itu adalah milik nya, bukan Endra dan jelas itu adalah first kiss mereka masing masing.
Sekarang dia memutuskan untuk tak memperdulikan nya lagi, itu hanya sebuah kesalahan dan harus di pendam saja. Rehan hanya akan berusaha untuk melupakan nya.
.
.
.
.
merasa bosan, Rehan bersiap dan segera pergi ke Supermarket untuk membeli cemilan. Menggunakan Hoodie berwarna abu, Handset di telinga nya dan dia berangkat.
Supermarket itu tak jauh dari rumah nya jadi dia memutuskan untuk berjalan kaki. Dalam perjalanan tanpa ada unsur kesengajaan saja Rehan tiba tiba melihat Hana dan Endra sedang di sebuah kafe, duduk bersama dan tertawa.
Tiba tiba saja dia merasa dia tak nyaman, seperti terganggu dengan dua manusia itu. Bukan karena keberadaan nya tapi karena kedekatan mereka.
"Hana meminta ku untuk menjadi pacar palsu nya, jadi sekarang aku harus diam atau berpura pura menjadi pacar nya dan datang?" Gumam nya bimbang.
"Lupakan, itu bukan urusan ku," Gumam nya lagi ketika mengingat kejadian malam tadi, Ya dia mabuk tapi itu terlalu sakit untuk di lupakan. dia mengingat nya dengan jelas.
jadi dia berbalik dan melanjutkan jalan nya, dia membuat pilihan bahwa dia akan mengacuhkan nya saja, toh dia bukan siapa siapa. Mereka juga terlihat dekat, mungkin mereka sudah bersama lagi sekarang.
\*\*\*
Rehan sudah pulang, sekarang dia sudah berada di depan rumah nya. saat dia melihat, di depan pintu nya ada punggung seorang wanita dengan rambut kecoklatan dan menggunakan baju ketat berwarna merah. Siapa itu?
"Permisi, siapa anda?" Tanya Rehan yang asing dengan punggung wanita itu.
"Hm? Ah Rehan~ Sudah berapa lama kita tak bertemu?" Ucap wanita itu sembari berbalik. Begitu melihat wajah wanita itu Rehan terkejut.
"Kenapa kamu di sini?!!"
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima Kasih(≡^∇^≡)♡