
"Katakan apa tujuan mu kemari, aku tak punya waktu." Ucap Rehan tanpa ekspresi.
"Sayang, Kenapa kamu dingin sekali? kamu tak rindu pada ku?" ucap wanita itu, yang tak lain adalah Oliv, mantan Rehan.
"Jangan basa basi,"
"Baiklah baiklah.. Aku kemari hanya karena aku merindukan mu. Aku kembali ke indonesia, orang orang ku sedang mengurusnya, dan aku sudah kembali sepenuh nya."
"Lalu?"
"Rehan, aku melakukan semua ini untuk mu.. Bisakah kita mulai semua dari awal? lupakan soal yang sudah berlalu.. ayo kita bangun masa depan kita dari awal.."
"Kamu gila? Sekarang pulanglah. aku tak punya waktu untuk omong kosong mu,"
"Tapi kenapa? aku serius saat aku katakan aku kembali ke sini untuk mu.. aku sudah kembali sepenuh nya.."
"Tapi aku tak perduli," Jawab nya menatap tajam Oliv.
"Tapi kenapa?"
"Karena aku bukan orang bodoh yang akan menerima pembohong seperti mu, Dan berakhir aku yang terluka lagi,"
"Kali ini tidak, aku janji Rehan.."
"Lupakan saja, sekarang pergilah!"
"Tapi.."
"apa karena kamu tinggal di Amerika selama 3 setengah tahun ini kamu jadi tak mengerti ucapan ku? get out of my house! I don't need your bullshit!!!"
"Rehan.. I'm Sorry.. Give me one last chance.."
"Keluar, jangan sampai aku kasar pada mu!"
"Baik aku akan memberikan mu waktu.. kuharap kamu bisa berubah pikiran."
"..." Rehan hanya diam, dia sudah muak dengan semua omong kosong yang di berikan wanita itu.
Semua yang di katakan nya hanyalah omong kosong, Terlalu bodoh bila Rehan menerima nya lagi, dan membiarkan nya membuat luka baru sedangkan luka lama belum sepenuh nya pulih.
"Hari yang buruk.. benar benar buruk.." Gumam Rehan lalu membaringkan tubuh nya di sofa saat kepala nya kembali terasa pusing.
"Bagaimana dengan Hana? apa dia baik baik saja?" Ujar nya menanyakan pada diri nya sendiri. dia yang minum tak terlalu banyak saja merasa sesakit ini, bagaimana dengan Hana yang minum sangat banyak?
"Ah aku lupa dia memiliki seseorang yang menjaga nya. Seharusnya aku menghawatirkan diriku sendiri yang menyedihkan ini," Sambung nya lalu memutar musik, menggunakan handset lalu menutup mata nya mencoba merilekskan diri.
-----
"Sudah lebih baik?"
"Ya, Terima kasih Pak," Ucap Nadia yang merasa beryukur, ini pertama kali nya dia mabuk tapi saat bangun tak merasakan sakit yang luar biasa di kepala nya. ini semua berkat Ridwan.
"Kenapa tak menggunakan KAKAK?" goda Ridwan.
"hentikan itu~" Ucap Nadia memukul kecil lengan Ridwan.
"Baiklah, kalau kamu sudah lebih baik aku akan pulang. Ini sudah siang, kalau ada apa apa telfon aku, oke?"
"Y-ya.." jawab Nadia.
"baiklah selamat tinggal, jaga diri baik baik.." Ucap Ridwan berlalu.
"Em.. Pak?"
"Hemm?" jawab Ridwan menghentikan langkah nya.
"Itu.. apakah.."
__ADS_1
"Ada apa? katakan saja,"
"Hah.. lupakan saja.. bapak bisa pergi,"
"apa yang ingin kamu katakan?"
"Tidak.. Tidak ada, hati hati dan sekali lagi Terima kasih Pak,"
"Ya ya, aku pulang sekarang," Ridwan keluar dari kamar Nadia, Nadia langsung memajukan bibir nya kecewa.
"Hah.. Aku lapar," Ujar nya pelan lalu membaringkan tubuh.
"Nadia, " Ucap seorang pria membuka pintu Hana, orang itu tak lain adalah Ridwan, dia kembali.
"Hem? apakah ada yang tertinggal Pak?" ujar Nadia kembali duduk.
"Tidak, saya hanya ingin bertanya.. apakah kamu mau makan siang bersama?"
Seketika Nadia Menjadi malu dan pipi nya memerah, apakah Ridwan seorang pembaca pikiran?
.
.
.
.
Hari ini, Hari senin. Hana sudah siap untuk berangkat bekerja membawa semua yang perlu. Hari ini dia akan berangkat dengan Nadia dan Nadia akan menjemputnya.
**Pesan
Nadia*
Aku sudah sampai, keluarlah*
Em, aku keluar sekarang. tunggu sebentar.
Lalu tak Lama Hana keluar, dengan penampilan rapi nya dan rambut sepundak yang terurai.
"Ayoo~~" Ujar Nadia melakukan mobil nya saat Hana sudah masuk.
"Kenapa kamu sangat senang?" tanya Hana curiga.
" apa? Aku biasa saja," balas nya dengan senyum dan wajah bahagia yang tak bisa dia sembunyikan.
"Apa kami kencan dengan pria dari aplikasi lagi?"
"Tentu Tidak!!" Jawab Nadia cepat lalu memukul lengan sahabatnya itu.
"Hei santai saja, kenapa harus memukul ku? Apa kamu tahu? saat bersama pria kamu adalah tipe wanita yang pemalu dan imut, tapi saat dengan ku? kamu wanita yang kekar!"
"Siapa peduli? yang penting aku cantik,"
"Iyuhh, Terlalu percaya diri."
"Ngomong ngomong.. Apakah aku benar benar terlihat seperti wanita imut?"
"Tidak, aku menarik kata kata ku."
"Apa apaan!" kesal Nadia sembari mendorong kecil Hana.
"Lihat? kamu memang wanita yang kekar,"
"Biar saja!"
Ya memang seperti itu, entah itu insting wanita atau memang hanya Nadia yang seperti itu. saat dengan Hana atau orang lain yang dia kenal, dia akan bersikap blak blakan. melakukan sesuatu tanpa enggan, terkadang berkata kasar, memukul sebagai candaan nya (ya walau hanya Hana lah korban nya).
__ADS_1
tapi saat dengan Pria yang baru dia kenal, dia hormati, atau Crush nya, dia akan bersikap seperti wanita pemalu yang manis dan imut. itu datang begitu saja, seperti tubuh nya sudah terbiasa dengan itu.
tapi kalau di ucapkan itu adalah insting wanita, maka Hana bukan wanita. Karena Hana adalah wanita yang sopan, tapi dia lebih rentan menunjukkan sikap asli nya pada orang orang di sekitar nya.
Semua yang di lakukan nya murni karena dia ingin melakukan nya dan memang itu lah dia. dia tak berusaha merubah diri nya, Selain pada orang yang memang pantas di hormati, dia akan menjadi sosok yang sopan dan dapat di andalkan.
\*\*\*
Setelah sekitar 30 menit, akhirnya mereka sampai pada Perusahaan besar tempat mereka bekerja itu. setelah memarkirkan mobil, mereka masuk bersama ke kantor, tapi saat di lift, mereka berpapasan dengan Rehan dan Ridwan yang juga baru datang.
Situasi canggung apa itu?
"Selamat pagi Pak Rehan, Pak Ridwan.." sapa Hana dengan senyuman.
"Se-selamat pagi Pak Rehan, Pak Ri-Ridwan.." Ucap Nadia gugup.
"Selamat pagi Hana, Nadia.." Balas Ridwan tersenyum, tapi hanya pada Nadia, karena dari tadi mata nya hanya menatap ke wanita itu.
sedangkan Rehan dia hanya mengangguk lalu masuk ke lift tanpa mengeluarkan suara apapun dan ekspresi datar.
"Ada apa dengan nya?" Gumam Hana yang merasa bingung.
Mereka semua masuk, di dalam hanya ada keheningan. Nadia dan Ridwan merasa canggung bersama, Hana merasa aneh dengan Rehan, dan Rehan.. ya hanya dia yang tahu, bahkan author yang nulis aja ngak tahu.
Tak lama, Ridwan dan Nadia keluar saat lift berhenti di lantai 5 karena di sana tempat kerja Nadia, dan Ridwan memiliki beberapa urusan di sana.
"Kamu juga di sini?" Tanya Ridwan.
"Y-ya.. Saya di lantai 5 Pak, bapak sendiri? bukankah ruangan direktur ada di lantai 7?"
"Ya, tapi saya memiliki urusan di sini. walau sekalian mengikuti seseorang," jawab Ridwan tersenyum penuh arti berhasil membuat Nadia blush lagi.
"Ka-kalau begitu saya akan ke meja saya.. saya permisi Pak," pamit Nadia.
"Ya, semangat." Ucap nya memberi semangat.
.
.
Sementara itu, di lift sekarang hanya ada Hana dan Rehan saja, sekarang semua terasa lebih canggung.
"Kenapa dia pendiam sekali?" Gumam Hana.
"Bagaimana kemarin? apakah dia menjaga mu?" tanya Rehan tiba tiba saja.
" H-hah? oh Endra? Ya.."
"Hem, syukurlah." dan setelah nya semua kembali hening.
"Bapak sendiri? apa bapak baik baik saja?"
"Tidak, saya sakit,"
"Sakit?"
"Hm, di sini.." Ucap Rehan menunjuk dada nya.
"Maksud bapak? bapak sesak?"
"Tidak, di sini sakit bukan karena sesak.. tapi karena kecewa"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih(≡^∇^≡)♥
Like~~~
__ADS_1