My Sekertaris

My Sekertaris
Menghindar


__ADS_3

Hana bingung, apa maksudnya?


"Maksud bapak?" tanya Hana yang bingung.


tapi belum sempat Rehan membuka mulut, lift terbuka menandakan mereka telah sampai lantai 8.


"Lupakan," ujar Rehan lalu berjalan mendahului.


"Apa apaan, kenapa juga dia harus mengucapkan kalimat aneh seperti itu?"


***


Jam makan siang tiba, Kali ini Hana sudah terbiasa jadi dia tetap duduk diam di kursi nya sembari tetap fokus pada dokumen di depan nya, mencoba tak menghiraukan jam makan siang yang sudah tiba.


"Kalau kamu mau keluar, maka keluar saja." ucap Rehan.


" Tapi bapak sendiri tidak keluar," Jawab Hana.


"Tak masalah, keluarlah. pergilah makan dengan Nadia,"


"Benar benar boleh?" tanya Hana memastikan.


"Hmm" jawaban singkat yang terdengar sangat mengharukan bagi Hana, akhirnya dia akan makan siang dengan Nadia lagi.


"Kalau begitu saya permisi Pak, bapak bisa menghubungi saya kapan saja."


"Hm," lalu tanpa berlama lama Hana langsung menyambar ponsel nya lalu pergi keluar, Rehan hanya diam.


Sedari pagi, dia masih saja seperti itu. Ya semua orang tahu dia adalah orang yang dingin, tapi pada Hana, ini pertama kali nya. Tak biasa nya dia bersikap dingin seperti itu pada Hana.


" Hari sabtu sudah berlalu. dia berjanji akan membawa ku bersenang senang, tapi yang di lakukan nya malah sebalik nya," Ujar nya menatap kosong ke arah pintu.


"Sayang~~ Aku bawakan makan siang untuk mu~~" terdengar suara wanita di telinga Rehan, suara yang tak asing. suara yang dulu selalu dia rindukan namun sekarang dia merasa tak nyaman dengan suara itu.


"Kenapa kamu kesini,"


"Aku bawakan makan siang untuk mu," Jawab Oliv dengan tersenyum.


"Lupakan, aku sudah makan."


"Apa apaan, aku sudah bertanya pada Risa, dan dia bilang kamu belum keluar. Ayolah jangan malu pada ku"


"Lupakan saja, aku tak menginginkan apapun itu yang kamu bawa."


"Ayolah sesuap saja, aaa~~~" ucap Oliv menyuapi Rehan.


"Sesuap dan kamu pergi,"


"Ya ya terserah kamu saja. sekarang buka mulut mu, aa~~"


"Permisi Pak, saya meninggalkan..." Hana masuk, tepat saat Oliv sedang menyuapi Rehan. dan entah kenapa itu terasa aneh, ada perasaan yang tak bisa di jelaskan di dalam hati Hana.


"Maaf kan saya, Saya permisi." ucap Hana terburu buru lalu menutup pintu.


"Hana, aku bisa---" kalimat Rehan terhenti saat dia tersadar.


"kenapa aku harus jelaskan pada nya? apa yang kamu pikirkan Rehan, Kamu pria bodoh! dia bakan tak perduli," Gumam nya menyadarkan diri.

__ADS_1


"Sial, aku kira aku mungkin membuat kesalahan kemarin saat mabuk dan membuat nya marah, tapi ternyata dia hanya bermasalah dengan wanita nya, bodohnya aku," Gumam Hana yang juga mencoba menyadarkan diri nya.


.


.


"Hana, Jam berapa rapat kita hari ini?" tanya Rehan.


"Pukul 14:35 Pak, itu berarti Rapat di mulai 30 menit lagi."


"Emm, baiklah." jawaban singkat Rehan menutup Pembicaraan mereka.


Kini mereka semua, Rehan sebagai CEO, Hana sebagai Sekretaris nya, Ridwan sebagai direktur dan karyawan bersangkutan lain nya tengah rapat, mereka membicarakan banyak hal tentang perusahaan hingga menghabiskan waktu 1 jam setengah.


"Baik, Rapat kita sampai di sini. Tolong kerja keras dan kerjasama nya" Ujar Ridwan menutup Rapat.


"Ah, saya hampir lupa. Sebelum kita bubar, saya ingin bertanya. Kapan terakhir kali kita malakukan perjalanan? Saya yakin itu sudah lama. jadi selagi perusahaan dalam keadaan baik, bagaimana kalau kita melakukan perjalanan? anggap saja sebagai liburan bersama." Usul Rehan.


"Perjalanan? mungkinkah aku ikut? ini kali pertama bagi ku mengikuti perjalanan bila memang aku ikut." Gumam Hana.


"Yang tak bisa ikut, keberatan, atau memang tak ingin pergi, silahkan angkat tangan. kita bisa mengganti nya untuk lain hari." Sambung Rehan lagi, namun semua nya hanya saling berdiskusi pelan satu sama lain yang menandakan semua nya setuju.


"Baik saya akan anggap kalian semua setuju." Ucak Rehan tersenyum pada semua nya.


setelah nya mereka mendiskusikan waktu yang tepat untuk perjalanan tersebut yang kini sudah di bulatkan mereka akan berangkat Kamis Pagi, Mereka akan pergi ke pantai Ancol yang memang terkenal di kalangan warga Jakarta.


"Baik sejauh ini semua sudah deal, hari Kamis pagi dan ke pantai ancol. selain itu apakah ada usulan?" tanya Rehan.


"Pak, Saya tahu perjalanan ini sepenuh nya di biayai oleh perusahaan. tapi kita di sini hanya 13 orang, saya usulkan tidak kah lebih baik kalau kita membawa beberapa orang lagi?" usul seorang karyawan.


"Tahun kemarin Rehan menolak usulan seperti ini karena dia merasa akan merepotkan, tapi sekarang dia setuju begitu saya? total akan ada 26 orang dan dia setuju? wah apa yang memasuki mu teman," Gumam Ridwan terkejut.


Ya biasa nya dia akan menolak, tapi sekarang tanpa pikir panjang dia langsung menerima seolah itu bukan masalah bagi nya.


"Aku akan mengajak Nanas! (nadia)" Gumam Hana senang sambil tersenyum.


Rehan melirik ke arah Hana yang tersenyum dan dia ikut tersenyum, kini kita semua tahu apa alasan nya dia membiarkan masing masing karyawan membawa teman.


.


.


.


tak terasa, hari Kamis kini telah tiba, hari di mana mereka akan berangkat melakukan perjalanan. seperti yang di rencanakan nya, Hana mengajak Nadia untuk ikut.


dalam setiap kesempatan kecil, Sesekali Nadia dan Ridwan saling mencuri pandang dan tak jarang mata mereka saling bertemu. Oh manis nya mereka


"Baik, kalau semua nya telah berkumpul. ayo kita berangkat," Ucap Ridwan lalu para karyawan yang senang pun masuk ke dalam bus. sedangkan Hana, Nadia, Ridwan, Dan Regan akan naik mobil pribadi.


"Tak ada yang tertinggal?" Tanya Ridwan memastikan.


"Semua sudah Pak," jawab Hana girang.


"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang," ucap Reha.


lalu mereka masuk ke dalam mobil, kini mereka memilih untuk naik mobil Rehan saja, supaya perjalan tak terasa sepi.

__ADS_1


"Ku perhatikan kalian terlihat mencurigakan," Ucap Rehan.


"Mencurigakan apanya?" tanya Ridwan.


"Jangan pikir aku tak bisa melihat nya, kamu dan Nadia terlihat seperti... Apakah terjadi sesuatu di antara kalian?" goda Rehan, membuat wajah Nadia memerah seketika.


"Dasar kepo," Gumam Hana.


"Berhenti berfikir yang tidak tidak!" u ap Ridwan yang juga malu.


setelah nya mereka terus bercanda dan tertawa bersama, dan tak terasa saja mereka sudah menempuh hampir 2 jam perjalanan.


(author ngak tahu ya pantai ancol itu tepat nya di mana, tahu pantai ancol juga dari Google. jadi kita buat aja di sini perjalanan nya 3 jam setengah yaa,)


"Bapak Lelah?" tanya Hana sembari memerikan minum.


"Tidak, kamu bisa tidur kalau kamu lelah. mereka juga sudah tidur," ucap Rehan mengarahkan pandangan kepada kedua manusia di kursi belakang.


"Tidak apa apa, saya akan menemani bapak," ucap Hana.


"Kalau begitu, bisakah aku bertanya?"


"Ya silahkan saja."


"apakah.. Kamu.. Apakah kamu dan-"


"Drrtt... Drrtt.." Belum selesai Rehan mengucapkan kalimat nya, tiba tiba saja Ponsel Hana berdering.


"Oh tunggu sebentar Pak, Ya halo?" ucap Hana pada seseorang di seberang sana.


"Hana kamu masih di perjalanan?"


"Mm,"


"Begini.. aku punya urusan mendadak di London, aku akan kembali kesana. sekarang aku sedang menuju ke bandara. apalah kami baik baik saja?"


"Kenapa kamu tak bilang sejak awal?"


"Ayolah aku tahu kamu sedang sibuk,"


"Terserah kamu saja, pergilah. beri aku kabar,"


"Baik sayang, aku akan sering menelepon," Ucap Pria itu yang tak lain adalah Endra itu, laku panggilan berakhir.


"Hah.. Oh Ya bapak tadi ingin bertanya apa?" tanya Hana.


"Tidak, saya sudah lupa,"


"Ayolah Pak, apakah bapak Marah?"


"Kenapa aku harus marah?"


"Ya benar juga.." ucap Hana yang setuju, kenapa juga Rehan harus marah?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Note: Typo bertebaran 〃゚3゚〃

__ADS_1


__ADS_2