
“Sumpah, Nad. Gue deg-degan banget.”
Nadine tersenyum kecil saat sahabatnya yang belum lama ini pacaran menceritakan pengalamannya dengan laki-laki yang disukainya. Energi dari temannya itu seolah-olah seperti menular kepadanya.
Mungkin memang Abby bukanlah satu-satunya teman Nadine yang memiliki sifat ceria, tapi mereka sudah bersama sejak kecil sehingga ada semacam ikatan kuat yang membuat mereka tetap berteman selama itu.
“Pas dia pegang tangan gue, itu loh. Jantung gue mau copot rasanya,” sambung Abby sebelum menerima tawa dari Nadine. Cewek itu menutup buku matematikanya dan memasukkannya ke dalam laci meja. “Ya ampun, kayak tangan lu gak pernah dipegang cowok aja.”
“Emang gak pernah!” balas Abby setengah menjerit, membuat orang-orang yang duduk di depan mereka menengok ke arahnya heran. Cewek berambut hitam pendek itu hanya mengibas-ngibaskan tangannya tanda itu bukan apa-apa. Nadine menahan tawanya.
“Tau nggak,” ikut seorang perempuan pendek dari kursi belakang mereka. Cewek itu adalah Alicia, teman satu geng Nadine dan Abby. Alicia melepas kacamatanya dan menggantungnya di kerahnya.
“Abby berisik banget, aku sampe nggak bisa fokus.” Abby langsung meminta maaf dengan nada bermain-main.
“Denger tuh. Kecilin suara. Jaga image gitu loh di sekitar pacar,” ledek Nadine. Sahabatnya menyengir. “Anjir Nad,” Abby menepuk pipinya, “Ya kali gue gitu di depan Adrian. Bisa ilfeel dia.”
Geng persahabatan mereka memang penuh dengan orang-orang yang bisa di bilang unik. Abby adalah cewek yang bisa bersikap seperti anak kecil walau lebih tinggi dari pada Nadine. Alicia belum terbiasa dengan gaya bicara remaja seusianya, karena keluarganya berasal dari Australia. Hal yang wajar untuk sekolah internasional.
Tak lama setelah itu, bel istirahat berdering. Serentak, seisi kelas itu berdiri dan mengucapkan terima kasih pada aba-aba ketua kelas. Guru yang mengajar keluar dan kelas langsung menjadi berisik.
“Makanya cari cowok itu yang gak gampang ilfeel terus ninggalin,” balas Nadine telat.
Cewek itu merasa ada tangan yang menepuk bahunya. Ia menoleh ke kanannya, langsung bertemu oleh sepasang mata hitam yang selama ini ia lirik diam-diam. Ya, mata itu adalah milik Jack, teman sekaligus orang yang mencuri perhatian Nadine sejak pertengahan tahun ajaran kelas X.
“Ke kantin, yuk,” ajak cowok itu. Ia mengangkat buku matematika di tangannya. “Gue ga ngerti apa pun. Ajarin gue.”
Nadine memasang sebuah senyum kecil. “Ya udah, mau di mana?” tanyanya. Cowok berambut hitam legam itu menyipitkan matanya selagi ia melirik ke atas untuk berpikir. “Kantin belakang aja. Sepi.”
“Alright,” balas Nadine sebelum Jack menghampiri mejanya untuk mengambil pensil. Abby yang memerhatikan tingkah sahabatnya menyengir. “Gue melihat bunga-bunga bermekaran.” Nadine membalas cengiran sahabatnya dan mencubit lengannya sebelum Alicia yang tidak tahu apa-apa ikut penasaran.
“Let’s go,” ajak Jack seusai membawa semua peralatan yang dibutuhkan. Selama perjalanan ke kantin, cowok itu selalu melekat di samping Nadine. Tentu saja ia senang, namun itu juga sudah menjadi hal yang biasa karena mereka memang dekat.
“Gue mau beli makan. Kalian cari tempat di ujung.” Sementara Jack mengantre beli bakmi, Nadine, Alicia dan Abby segera menduduki kursi kantin bagian belakang. Nadine menyuruh Alicia dan Abby duduk dahulu, baru ia menyusul. Itu sudah menjadi kebiasaan bagi cewek berambut panjang itu, karena ia tidak suka duduk di tengah kursi kantin yang panjang.
__ADS_1
Mata Nadine menangkap roti di dalam kotak bekal sahabatnya. “Lu ini gak mengenal makanan lain selain roti ya?” Abby segera memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya. “Terserah,” balasnya, “Pokoknya gue suka roti cokelat.” Nadine dan Alicia hanya tertawa kecil.
Tiba-tiba saja, Abby berhenti mengunyah rotinya saat ia memutuskan untuk mengarahkan pandangannya ke depan. Penasaran, Nadine mengikuti geraknya. “Anjir Nad,” kata Abby sebelum ia terburu-buru mencaplok bekalnya. Tentu saja, hanya ada satu orang yang bisa membuatnya seperti itu: Adrian.
Cowok itu berjalan ke arah mereka sambil melambaikan tangannya. Gerakan yang sama juga diikuti oleh temannya yang menempel di belakangnya. Abby segera menutup kotak bekalnya saat kedua cowok itu sampai di samping meja mereka.
“H-hai,” sapa Abby gugup. Sekarang, giliran Nadine yang seolah-olah melihat bunga-bunga bermekaran di sekitar mereka. Pandangannya mendarat pada Lucas, teman Adrian yang selalu terlihat bersama cowok itu. Kasihan, ia menyapa cowok itu selagi sahabatnya sibuk bercakap dengan kekasihnya.
“Halo,” Nadine menyapa, menerima anggukan kecil dari Lucas. Cowok itu tersenyum. “So,” ucapnya, “how’s your progress with Jack?” Nadine segera menempelkan telunjuknya pada mulutnya dan melirik Alicia. Lucas mengangguk mengerti.
Benar. Lucas mengetahui perasaan Nadine kepada Jack. Belakangan ini, mereka jadi dekat karena sesama teman mereka menjalin hubungan. Walau memang pendiam, Lucas adalah tempat curhatan Nadine yang kedua selain Abby. Nadine menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Masih sebagai teman,” Jawab Nadine setengah berbisik. Sebelum ia melanjutkan, ia merasa bahunya ditepuk. Ternyata itu Abby. “Gue sama Adrian mau pisah.”
Abby mendekat ke telinga Nadine. “Awas grogi,” ledeknya. Nadine tersenyum-senyum selagi sahabatnya berdiri. “Itu mah elu!” balasnya. Abby hanya membalikkan badannya dan menjulurkan lidahnya sebelum pergi dengan pacarnya.
“Oh, Jack di sini?” tanya Lucas. Nadine mengangguk dan menunjuk ke arah antrean bakmi yang memang terkenal panjang. Untung saja Jack sudah selesai memesan. Sekarang, giliran Lucas yang mengangguk-angguk kecil dan menyengir. “Kalo gitu, gue pergi. Good luck.”
“Thanks,” balas Nadine sebelum cowok itu pergi. Pas sekali, Jack kembali dengan semangkuk bakmi hangat di tangannya. Ia melirik Lucas yang beranjak keluar kantin sebelum ia duduk di depan Nadine. “Lu gak sama Lucas?”
“Lu 'kan yang minta gue ajarin matematika. Ya kali gue ajak dia tiba-tiba.”
“Geli,” balas Alicia cepat.
Iya geli, batin Nadine. Perut gue geli. Ia berusaha tidak memikirkannya dengan mengambil buku matematika Jack dan membuka halaman yang telah di bahas saat pelajaran. “Lu bingung di mana?”
“Ini,” Jack menunjuk bagian atas halaman itu dengan telunjuknya. Alicia ikut mendekat. “Gue ga ngerti kenapa dari situ bisa jadi begini.”
“Oh, itu cuma aljabar,” jawab Nadine. Alicia menyengir. “Masa gitu doang nggak ngerti? Jack gimana sih?” ledeknya. Raut wajah Jack berubah cemberut seraya melahap bakmi.
“Yah, lu kan tahu gue gak jago maths,” balasnya, “Lagian itu gak mungkin aljabar doang, 'kan?
__ADS_1
“Aljabar dan kemampuan berpikir,” jawab Alicia dengan nada meledek lagi. Ia mendorong buku matematika sedikit ke arah Jack dan mengambil pensilnya. Ia menunjuk soal itu dengan ujungnya. “Liat. Ini pecahan. Jadi kamu harus begini dulu.”
Apa ini?
Nadine tersenyum tipis. Padahal, Jack memintanya untuk mengajarinya. Kenapa malah Alicia yang menanggapinya?
Tapi, Nadine juga tidak bisa berbuat apa-apa. Jack dan Alicia memang lebih dahulu dekat dibanding dirinya. Dia bukan dalam posisi yang bisa menentang semua itu.
Benar. Nadine hanya bisa bersyukur karena teman-temannya berhubungan baik. Bersyukur karena Alicia mau berteman dengannya. Ia menghela napas untuk menghilangkan pikiran negatifnya.
Ya, benar. Untuk sekarang, cukup itu saja, 'kan?
*
“Lah, kok lu diem aja?”
Abby segera menggigit bibir bawahnya setelah mata Nadine melotot dan melirik ke belakangnya. Abby kembali membuka mulutnya dan membisikkan 'sorry' tak bersuara pada sahabatnya. Nadine mendekatkan kepalanya ke arah cewek berambut pendek itu.
“Mau gimana lagi, Bey?” Balas Nadine pelan sembari mengawasi guru yang sedang mengajar di depan kelas. “Jack nanya juga 'kan supaya diajarin. Sekarang yang penting dia udah ngerti kalo nanti ujian.”
Abby menyalin jawaban di papan tulis pada bukunya. “Lu gak kesel?” tanyanya, sembari menghapus tulisannya yang salah.
“Kesel sih, sedikit,” balas Nadine. “Tapi ya itu. Mau gimana lagi? Alice 'kan temen kita.” Ia menghentikan tulisannya dan mematahkan ujung isi pensil ceteknya. Matanya menatap huruf-huruf pada bukunya. “Lagian, dia juga sempet suka Jack, 'kan.”
Abby menoleh ke arah cewek itu. “Bener, sih,” ucapnya, mengingat-ingat pengakuan Alicia pada mereka beberapa bulan setelah mereka masuk dan berkenalan. Sejak saat itu mereka berdua melihat perubahan sikap cewek itu dengan Jack dan dengan mereka.
Namun mereka juga teringat hari di mana Alicia berkata kalau ia tidak lagi mempunyai perasaan untuk cowok itu. Alasannya simpel: karena Jack baik kepada semua orang. Awalnya Nadine tidak menganggapnya aneh, namun setelah gilirannya yang menampung suka, ia juga mulai mengerti Alicia.
“Apa mungkin dia suka lagi?”
Nadine meletakkan telapak tangannya pada dahinya. “Gak tahu,” jawabnya. “Mungkin memang gue harusnya fokus sama ujian kenaikan aja.”
__ADS_1
“Tanya aja sama Alicia, lu gak apa-apa 'kan?” balas Abby, tidak menghiraukan perkataan sahabatnya yang tadi. Nadine sekarang mengusap-usap dahinya. “Gak tahu. Beneran gak tahu, bingung.”
“Gue terlalu takut untuk mendengar jawabannya.”