
Handphone berwarna putih itu sudah beberapa kali berdering di atas meja belajar Lucas. Sekali, dua kali, tiga kali. Tidak ada yang menjawabnya. Pada deringannya yang keempat, baru lah cowok itu muncul dari luar pintu kamarnya.
Lucas berjalan mendekati ponselnya. Ia tidak mau menjawab teleponnya saat mengetahui panggilan itu adalah dari guru lesnya. Tetapi entah kenapa, ia merasa harus membalasnya. Maka, Lucas mengangkatnya dan mendekatkan handphone itu ke telinganya.
"Halo?"
"Kamu kenapa gak jawab pesan mamanya Becca?" adalah hal pertama yang guru itu katakan. Becca lagi, Becca lagi. Kapan cowok itu bisa bebas darinya?
"Ibu telpon cuma buat ngomongin itu?" respons Lucas dengan cepat. Cowok itu kesal.
"Dia bener-bener marah. Ibu sampe ikut kena semprot. Bukan ibu doang, tapi guru-guru lain juga."
Alis Lucas berkerut. "Memangnya Ibu gak bisa menghindar? Ibu 'kan juga gak ada hubungannya—"
"Kamu tahu 'kan mamanya Becca itu gimana?" pertanyaan itu membuat Lucas terdiam. "Semua orang bakal kena kalo begini terus. Ini cuma bisa berakhir kalo kamu yang ngelurusin masalah sama Becca dan mamanya." Guru itu berhenti sejenak.
"Bilang kalo kamu gak bermaksud membuat Becca nangis. Ibu yakin mereka pasti ngerti."
"Gak mungkin," tangkas Lucas, ia mengacak-acak rambutnya. "Ibu tau sendiri 'kan, aku selalu salah di mata mereka. Aku diem, salah. Gerak dikit, salah. Aku ngerasa Tante Alma mau aku ngejer Becca mentang-mentang aku suka sama dia sejak kecil. Tapi aku membuat langkah juga dipandang salah. Bikin stress aja.
"Ibu pikir gimana perasaan aku pas tahu Becca punya pacar waktu itu? Kenapa mereka gak mikirin perasaan aku? Dan giliran aku udah move on ke Nadine, mereka gak terima?"
"Mungkin bukan itu maksud—"
"Aku udah muak."
Mendengar kata-kata itu dari murid kesayangannya, Bu Ria tahu ia harus berhenti bicara. Wanita berambut panjang itu tidak bisa terus-terusan melihat—mungkin dalam kasus ini, mendengar—Lucas terlukai oleh perkataan Becca dan ibunya, atau mungkin dirinya juga. Bu Ria menghela napas.
"Lucas, Ibu gak bermaksud menekan kamu," hiburnya perlahahan. "Ibu kena omelan karena Ibu belain kamu, dan akan selalu begitu. Kamu tahu 'kan itu?" tanya Bu Ria.
"Ya," balas Lucas singkat. Raut wajah cowok itu benar-benar terlihat lelah. Setelah mencurahkan kekesalannya lewat telepon, Lucas terduduk di pinggir ranjangnya karena kakinya terlalu lemas untuk menopang berat badannya.
__ADS_1
Bu Ria tersenyum kecil di balik telepon. "Ya udah, nanti Ibu coba ngomong lagi ke Becca sama mamanya, ya?"
"Gak usah," respons Lucas, "Ibu gak ada hubungannya."
"Udah, jangan khawatir," ujar Bu Ria. "Kamu fokus aja sama Nadine, ya? Ngomong-ngomong, gimana dia?" tanya wanita itu berusaha mencari topik lain.
"Aku udah bilang kalo aku mau dia buka hati buat aku," jawab cowok itu dengan nada lebih santai. Gurunya ini bisa saja membuat mood-nya membaik, walau hanya sedikit.
"Wah, bagus dong?" Bu Ria cengar-cengir, "Balesnya apa?" Lucas mendongak dan menatapi dinding-dinding putih kamarnya. "Belom ada. Aku ngasih dia waktu buat ambil keputusan."
Menyadari perubahan nada suara Lucas, Bu Ria berasumsi kekesalan cowok itu sudah mereda. Ia merasa tanggung jawabnya sudah beres. "Ya udah, kalo ada apa-apa lagi feel free buat ngabarin. Ibu tutup teleponnya, ya?"
"Ya. Bye," dan dengan itu, Lucas melempar tubuhnya ke ranjangnya. Ia menarik napas panjang dan memejamkan mata. Ya ampun, kok bisa ya gue sempet suka sama Becca?
Ting. Suara notifikasi pesan masuk dari handphone Lucas berbunyi. Masih dengan posisi telentang, cowok itu mengambil ponselnya.
Pesan itu cukup untuk membuat kekesalan Lucas hilang seketika. Sekarang cowok itu senyam-senyum sendiri sambil membuka chat dengan Nadine.
Gak mungkin 'kan gue bilang ke Lucas?
Tadi siang, Nadine dan Abby sama sekali tidak membahas Adrian. Percakapan yang hampir berlangsung selama tiga jam itu hanya tentang perasaan Lucas ke Nadine, dan sebaliknya. Cewek itu mengingat-ingat lagi kejadian di cafe.
"Tuh 'kan? dia bener-bener suka sama lu," kata Abby dengan cengirnya yang khas tepat setelah Lucas mengirim pesan untuk bertanya apakah Nadine sudah makan.
"Gue bisa melihatnya," balas Nadine datar. Ia menatap layar ponsel di tangannya sebelum meletakkannya kembali di atas meja. "Lu gak bales Lucas?" tanya Abby.
__ADS_1
"Nggak sekarang ...." Nadine masih menatap layar ponselnya. "Lu takut, ya?" tanya Abby, sadar akan alis Nadine yang mulai sedikit berkerut. Nadine mengangguk pelan.
"It's okay to be scared, Nad." perkataan sahabatnya itu membuat Nadine mendongak. "Gue tahu pasti gak mudah bagi lu untuk membiarkan kejadian Jack-Alicia lewat begitu aja. Dan itu semua udah terjadi. Kita gak bisa apa-apa," sambung Abby, memulai pembicaraan lebar lagi.
"Tapi ya, justru bagus itu terjadi. Dari situ lu bisa membuka mata dan tahu siapa yang bener-bener sayang sama lu, dan bakalan ada di sisi lu saat lu kesusahan."
Nadine memandangi yoghurt yang entah sejak kapan sudah dihabisi setengah oleh sahabatnya.
'Dari situ lu bisa membuka mata dan tahu siapa yang bener-bener sayang sama lu, dan bakalan ada di sisi lu saat kesusahan'. Perkataan itu menggema di kepalanya, dan hanya satu orang yang terbayang olehnya.
"Jujur," Nadine mulai berbicara, "Pas gue cabut dari mall X waktu itu, lu tahu kan gue bener-bener sedih?" Mendengar itu, Abby mengangguk.
"Gue gak tahu kenapa tepatnya, tapi saat itu gue harap ada seseorang yang di samping gue."
"Siapa?"
Nadine menelan ludah. "Lucas."
"Itu dia!" Abby bangun dari tempat duduknya dan menggebrak meja, matanya melotot. Untuk kedua kalinya pada hari itu, orang-orang cafe menengok ke arah kedua cewek itu dengan ekspresi yang terlihat sedikit lebih kesal. Abby membungkuk-bungkuk dengan senyum minta maaf sebelum mereka memalingkan pandang dari meja itu.
"Itu dia," ulang Abby dengan suara yang hampir seperti berbisik. Cewek itu kembali duduk seperti ia tidak melakukan apapun yang memalukan.
"Mungkin lu udah tahu jawabannya, Nad." Abby tersenyum hangat selagi ia memegang kedua tangan sahabatnya.
Nadine mengambil napas dan menghembuskannya keras-keras. Ia menggerakan jari-jarinya untuk mengetik huruf pada keyboard.
Sent.
Sent.
__ADS_1
Sent.