Nadine

Nadine
12


__ADS_3


Nadine membuka pintu rumahnya, menangkap raut wajah lemas dari sahabatnya. Dari mata belo Abby yang terlihat bengkak, Nadine segera mengetahui kalau dia menangis semingguan ini. Tanpa pikir panjang, cewek itu segera memeluknya.


"Gue bener-bener butuh ini, Nad ...," ujar Abby seraya mengembalikan pelukannya. Suaranya yang berenergi menghilang entah ke mana seperti ditelan bumi. Tangan Nadine bergerak ke kedua bahu sahabatnya sebelum cewek itu melepas peluknya dan menatap mata Abby.


"Sorry ya gue baru bisa ngebolehin lu dateng hari ini," kata Nadine. "Sorry karena gue gak ada di sana pas lu lagi butuh ...."


Abby tersenyum tipis. "Udah Nad, gak apa-apa," ujarnya. "Sekarang yang penting kita ketemu 'kan?"


Masih mengenakan ekspresi khawatir, Nadine mengangguk pelan dan mempersilahkan sahabatnya masuk ke dalam rumahnya. Abby memberikan nenek Nadine sebuah sapaan kecil yang sopan sebelum mereka berdua naik ke kamar Nadine.


"Oke," ujar Nadine sembari menutup pintu kamarnya. Ia menaruh tas baju Abby di pinggir meja seraya sahabatnya itu duduk di atas ranjang. Nadine menghampirinya. "Lu bisa keluarin semua sekarang."


"Iya Nad," balas Abby, "Katanya Adrian, dia mau putus sama gue karena gue gak peduli sama dia ...."


"Hah?" Alis Nadine berkerut. "Gak peduli dari mana? Jelas-jelas lu khawatir sama dia!"


"Gue juga gak terlalu ngerti," jawab Abby. Cewek itu mengambil selimut Nadine dan memakainya seperti jubah. "Katanya gue terlalu self-centered, gue cuma ngomong tentang diri gue doang.


"Katanya gue gak memberi dia kesempatan ngomong pas dia lagi perlu. Padahal apa Nad? Gue bolak balik nyariin kabar dia, nanyain dia, tapi jarang banget dia respons! Gue jadinya cuma bisa bahas apa yang terjadi di sekitar gue kalo dia aja gak mau komunikasi sama gue, tapi mungkin gak seperti itu di mata dia!"


Nadine menepuk-nepuk pundak Abby yang matanya mulai memerah. Ia tidak mau sahabatnya menangis lagi, tapi bila itu adalah yang dibutuhkan Abby saat itu, Nadine akan dengan terbuka menjadi telinga dan tempat bersandar baginya. "Gak apa-apa Bey, keluarin aja."


Abby menggeleng. "Gak bisa, Nad. Gue ke sni bukan untuk ngebanjirin kasur lu. Gue udah cukup buang-buang tissue semingguan ini," jelas Abby, membuat Nadine semakin merasa bersalah. Tapi cewek itu hanya bisa mendengarkan sahabatnya.


"Gue ke sini supaya perasaan gue membaik, mau melepas stress," sambung Abby. "Lagian, gue gak mau kelihatan cengeng di depan lu ...."


"Cengeng apanya?" balas Nadine cepat. "Masalah lu itu lebih berat dari gue punya. Lu harus berpisah sama orang yang udah menjadi milik lu, wajar aja lah lu nangis! Jangan ngerasa gak enak!"


Nadine mengambil kedua tangan Abby dan menatapnya lurus. "Malah gue yang harusnya ngerasa gak enak, soalnya gue gak bisa ada di samping lu waktu itu ...."


"Udah, Nad. Gue bilang gak apa-apa," balas Abby. Genggaman pada kedua yangan cewek itu mengencang. "Gue bakal bikin orang yang ngelukain sahabat gak bisa jalan," kata Nadine, sebagai usaha untuk menghibur cewek berambut pendek itu.


"Makasih, tapi gue gak mau sahabatan sama pembunuh," respons Abby dengan senyuman di wajahnya. Melihat ini, hati Nadine terasa lebih ringan. "Apapun akan aku lakukan asal kamu bahagia, sayang," canda Nadine.

__ADS_1


"Geli."


Lantas, kedua cewek itu tertawa seolah-olah suasana sedih dan mengharukan itu tidak pernah terjadi. Inilah yang membuat ikatan Nadine-Abby tak terpatahkan.


"Ya udah, lu mau makan apa? Gue mau pesenin, nih," tawar Nadine. Merasa tidak enak, Abby menggeleng. "Gak usah, Nad," tolaknya.


Nadine mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum. "Yakin? Gue tahu lu gak bisa nolak makanan." Sahabatnya itu selalu mengetahui kelemahan Abby.


*


Bu Ria berjalan mondar-mandir di kamarnya, dengan ponselnya yang ia pegang tepat di samping telinganya. Sudah tiga kali wanita itu menelepon Lucas, namun belum satu pun panggilan darinya yang di angkat. Atau setidaknya, sebelum yang satu ini.


"Halo?"


"Iya, halo Lucas," salam Bu Ria. Ia akhirnya berhenti keliling kamarnya. "Kenapa Ibu telepon?" tanya Lucas seraya mengusap keringatnya, suara tarikan napasnya yang tidak teratur terdengar jelas dari balik telepon.


"Ibu mau bilang ke kamu ...," guru itu berhenti sejenak, "kalo besok Ibu bakal jalan ... sama papamu. Ibu kasih tahu duluan supaya kamu tahu," Bu Ria menyelesaikan kalimatnya.


Bagi orang yang belum mengetahui Lucas, mungkin hal ini akan terdengar sangat aneh. Namun sebenarnya, Bu Ria yang sudah menjadi guru les Lucas sedari ia kecil selalu memberikan bantuan kepada cowok itu sejak ia kehilangan sosok ibu. Ayah Lucas yang juga harus menjalani tanggung jawab sebagai orang tua Lucas belakangan ini melihat guru itu sebagai calon pasangan baru yang ideal.


"Ibu takut kamu bakal marah lagi kalo Ibu gak bilang," lanjut Bu Ria. "Jadi, kamu gak apa-apa kali ini?"


"Iya, gak apa-apa," jawab Lucas, "Makasih udah mau bilang." Lucas bangkit dari kursi kayu di pinggir taman. "Aku lagi jogging, jadi aku tutup ya."


"Gimana Nadine?" Pertanyaan itu sesuai dugaan membuat Lucas mengurungkan niatnya untuk melanjutkan olahraga sorenya.


"Semua berjalan dengan baik," jawab Lucas dengan senyuman di wajahnya. Cowok itu kembali duduk. "Malah ... terlalu baik."


"Oh ...," respons Bu Ria. Tanpa disadari, wanita itu ikut cengar-cengir. "Kapan kamu mau cerita ke kita?" tanyanya.


"Suka-suka aku dong," balas Lucas singkat. Kakinya bermain-main dengan batu kerikil di bawah kaki kursinya.


"Ya udah, 'kan seminggu sebelum masuk kelas XI, kamu sama anak-anak lain harus udah les lagi untuk persiapan. Nanti kamu harus cerita, ya?" tegas Bu Ria.


Lucas mendongak. "Artinya Becca juga bakal ada di situ," balasnya dengan nada sedikit kesal. Bu Ria tersenyum tipis. "Mamanya udah minta ubah jadwal, jadi kamu bakal jarang banget ketemu dia," jelas wanita itu, membuat Lucas lebih lega.

__ADS_1


Namun, perasaan itu hilang saat cowok itu berpikir tentang kejadian-kejadian yang mungkin menunggu dirinya di awal kelas XI.


"Tante Alma ada ngomel lagi sama Ibu?" tanya Lucas. Ini membuat Bu Ria menghela napasnya.


"Lucas, kamu tahu persis 'kan mamanya Becca itu kayak gimana? Kalo kamu nanya tentang omelan, pasti jawabannya iya," jawab Bu Ria.


"Aku 'kan udah bilang, Ibu gak perlu denger ocehannya tentang aku," balas Lucas dengan nada kesal. Bu Ria menyenderkan punggungnya pads tembok. "Bukan kamu doang, tapi Nadine juga."


"Nadine?"


Bu Ria mendongak dan memandang langit-langit kamarnya, bersiap untuk menjelaskan. "Iya, kamu tahu 'kan sejak kamu agak jauh sama Becca, mamanya jadi bawel. Dia gak terima kalo kamu ngebuang dia demi Nadine."


Tidak mendengar balasan dari cowok itu, Bu Ria kembali berbicara. "Dia bilang Nadine itu gak suka sama Becca, dan sengaja narik kamu dari dia karena kemakan omongan buruk kamu tentang Becca."


Lucas mendengus. "Kemakan omongan aku? Apa gak ada alesan lain yang Tante Alma bisa pake buat mencaci orang?" Nada sinis itu terdengar jelas dari balik telepon.


"Bukan cuma itu, Lucas ...," lanjut Bu Ria, "Mamanya Becca nyuruh Ibu buat ngeyakinin kamu supaya gak terlalu menempel sama Nadine."


"Terus Ibu jawab apa?" tanya Lucas segera. Bu Ria menghela napas dan menundukkan kepalanya. "Ibu kepaksa ngeladenin supaya dia tenang. Kalo gak begitu, bakal panjang urusannya."


"Hm," adalah respons cowok itu kala didengarnya jawaban dari guru lesnya. Sisanya adalah sunyi selama beberapa detik sebelum Bu Ria mematahkannya.


"Tapi, menurut Ibu dia ada benarnya juga," kata wanita itu. "Sebenernya Ibu seneng pas kamu bilang progres kamu sama Nadine berjalan dengan baik. Tapi kamu sendiri 'kan yang cerita kalo Nadine tadinya suka sama Jack. Gimana kalo Nadine sengaja deket-deket ke kamu karena dia mau nyari pengganti Jack?"


Tidak adanya balasan dari Lucas membuat Bu Ria sadar bahwa ini waktunya ia berhenti. Wanita itu berjalan menuju ranjangnya dan duduk di atasnya. "Lucas, Ibu mengatakan ini semua karena peduli sama kamu. Ibu gak mau kamu kenapa-kenapa, dan Ibu yakin papamu juga berpikir gitu. Tolong mengerti, ya?"


Cowok itu masih tidak mengeluarkan suara. Benar-benar merasa bersalah, Bu Ria mengerutkan alisnya dan mengusap-usap dahinya. "Ya udah, Ibu tutup aja ya teleponnya. Bye Lucas."


Wanita itu memutus telepon dengan murid kesayangannya dan segera memeriksa pesan-pesan yang ia terima. Sayangnya, ia harus melihat pesan yang sama sekali ia tidak ingin balas.



Bu Ria menghela napas dan segera membalas pesan wanita itu.


__ADS_1


__ADS_2