Nadine

Nadine
14


__ADS_3


Mata Becca yang sipit menatap mata Nadine dengan tajam, seolah-olah seperti tatapan yang diberi oleh seorang musuh. Tentu saja, hal ini membuat Nadine sangat tidak nyaman.


Dari gerakannya, cewek itu sepertinya sudah mengenal Nadine, atau setidaknya, mendengar tentang dirinya. Hal-hal buruk, pastinya.


Melihat gulungan poster di tangan Nadine, Becca lantas mendekatinya. "Lu anak seni 'kan?" tanya cewek itu langsung pada intinya, entah kenapa lebih terdengar seperti pernyataan di telinga Nadine. Bahkan dari nadanya pun, Becca terdengar menyebalkan.


"Iya, tapi gue baru—"


"Emang ya, klub seni itu selalu aja lalai." Mungkin memang kata-kata itu tidak sepenuhnya ditujukan untuk Nadine, namun cewek itu ikut merasa kesal karena omongannya yang pedas.


"Gue bukan—"


"Dan poster ini seharusnya tidak digulung," tegasnya lagi seraya mengambil gulungan itu dari tangan Nadine, memotong kata-kata Nadine untuk kedua kalinya. Hanya saja bila Becca bukan anggota OSIS yang sangat disayang oleh sekolah, mungkin cewek itu sudah mendapat balasan yang berkali-kali lipat lebih sadis.


Becca kembali menghadapi murid-murid yang sudah sedari tadi mendengar omelannya. Menangkap tatapannya yang tajam, mereka tambah menciut.


"Biarkan ini jadi pelajaran buat kalian semua, ya. Kita itu harus belajar tepat waktu dan gesit. Gue gak mau kejadian ini ke ulang lagi, ngerti?"


Mereka semua hanya tertunduk dan terpaksa mengangguk. Bahkan cewek pendek itu bisa membuat atmosfir yang sangat intense.


Becca menoleh ke arah Nadine. "Dan lu, sebagai anak seni lu seharusnya malu karena menyekesaikan tugas pada waktunya itu crucial dalam dunia persenian. Bener gak?"


"Iya, tepat," balas Nadine. Jawaban asertif cewek itu, seperti dugaannya, membuat raut wajah Becca berubah menjadi sedikit puas.


"Oke, karena semua udah jelas, gue pergi." Dan dengan itu, Becca keluar ruangan.


Anak-anak dari klub musik langsung menghela napas lega terhadap mencairnya kembali suasana ruangan itu. Beberapa anak sibuk menggerutu.

__ADS_1


"*****, role model apaan!?" komentar seorang cewek yang segera bangkit dari kursinya. Bukan dia satu-satunya murid yang merasa demikian. Banyak teman-temannya yang terlihat sangat jelas takut dan kesal dengan Becca.


Terlepas dari perasaan jengkelnya terhadap Becca, Nadine lega mengetahui anak-anak klub musik dapat kembali beraktivitas. Cewek itu segera menginjak rasa kesalnya dan bersiap untuk kembali ke kantin, namun dihentikan oleh tangan yang menepuk bahunya.


"Sorry ya, ini urusan klub musik tapi lu jadi kena," ujar seorang laki-laki yang tinggi. Dia mempunyai suara yang dalam dan pandangan mata yang menenangkan, disertai oleh gayanya yang sepertinya diidam-idamkan cewek-cewek seumuran mereka. Jujur, cowok itu terlihat seperti orang korea, walapun Nadine sendiri juga sepertin itu.


"Udahlah, gak apa-apa. Toh kayaknya ini juga sebagian tanggung jawab dari klub seni 'kan?" balas Nadine dengan senyuman yang manis.


"Lu anak jurusan seni, tapi bukan anggota klubnya 'kan?" tanya cowok itu. Nadine mengangguk. "Iya, tapi gue bakalan masuk klubnya."


"Hm, gitu?"


"Iya, katanya itu wajib untuk anak seni. Lagian, setelah mendengar Becca tadi entah kenapa gue mau membuktikan kalo itu gak bener." Jawaban penuh semangat dari cewek berambut panjang itu membuat laki-laki tinggi itu tersenyum.


"Gimana kalo musik? Lu suka?" tanyanya.


"Suka!" Nadine segera menjawab. Menyadari suaranya yang mungkin terdengar seperti anak kecil, cewek itu langsung diam.


"Gitar, sama ... gue bisa nyanyi." Jawaban darinya lantas membuat mata cowok itu berbinar. "Kalo gitu, lu mau melalukan hal yang sama buat klub musik?"


"Hah?"


"Maksud gue, lu mau gabung ke klub musik?"


"A-ah, umm ...." Nadine tergagap, sama sekali tidak bisa menjawab. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar secara mendadak dari mulut cowok itu.


"Woy, kasihan tuh anak cewek gak tahu apa-apa udah lu ajak gabung," celetuk seorang lelaki yang selama ini duduk di kursi drummer. Cowok tinggi di depan Nadine cengar-cengir.


"Ya udah, jangan keburu-buru milihnya. Masih ada waktu sebulan sebelum pendaftaran dibuka, jadi pikirin keputusan lu, oke?"

__ADS_1


"Ah, iya ...."


*


"Terus, Becca ngomong apa-apa gak?" tanya Lucas, setelah mendengar cerita dari Nadine di kantin sepulang sekolah.


"Ngoceh sebentar tentang klub musik sama seni, terus udah," jawab Nadine datar seolah-olah ia tidak kesal terhadap cewek pendek dari OSIS itu. Ya ampun, baru saja hari pertama, dirinya sudah menerima omelan Becca.


"Itu ... terdengar seperti Becca banget. Duh, sorry ya ...," ujar Lucas tidak enak. Cowok itu mengacak-acak rambutnya yang hitam tanda tidak tenang.


"Udah lah ... Becca begitu juga karena urusan klub, bukan karena lu 'kan?" hibur Nadine, cewek itu menepuk-nepuk bahu Lucas. Tanpa menunggu lama lagi, Nadine segera mengubah topik. "By the way, tadi katanya lu mau bilang sesuatu sama gue?"


Lucas mendongak. "Iya ... belom lama ini gue dapet telepon dari guru les gue. Kayaknya masalah gue sama Becca bukan cuma sampe situ aja, tapi lu juga kena seret, Nad ...."


"Gue?"


"Iya. Ini mungkin nyakit, lu tetep mau tau?"


Menerima anggukan dari cewek itu, Lucas pun melanjutkan. "Intinya, mereka ngebawa-bawa lu dengan alesan lu penyebab gue ngejauhin Becca. Mamanya Becca yang bilang begitu, dan dia tau dari mana kalo bukan dari anaknya sendiri?"


Alis Nadine berkerut. "Jadi ... gue bisa di bilang musuh Becca dong?"


"Iya. Dan Mamanya Becca itu selalu ikut campur permasalahan anaknya, yang pasti lu salah satunya. Aduh, sorry banget ya ...." Nada suara Lucas menjadi lebih sedih saat ia mengatakan itu. Dan selayaknya seorang Nadine, cewek itu tidak bisa diam saja saat orang-orang penting di sekitarnya terluka.


"Udah, gak apa-apa," balas Nadine, "Asal kita punya jawaban untuk ngebales argumen Becca dan mamanya, kita bisa bertahan 'kok. Lagian, kita 'kan bukannya udah melakukan kejahatan."


Perkataan Nadine membuat cowok berkacamata itu tersenyum, walau kecil. "Iya, Nad. Lu ada benernya," ujarnya. Lucas menyerongkan posisi duduknya sehingga ia berhadapan dengan Nadine. Kali ini, sepertinya cowok itu akan berkata dengan serius.


"Sama ada satu lagi yang mau gue kasih tahu lu," ujarnya, membuat Nadine tambah penasaran tapi juga sedikit takut. "Apa?" tanya cewek itu.

__ADS_1


"Guru les gue mau ketemu sama lu."


__ADS_2