
Mobil putih kecil yang dikendarai Nadine berhenti di depan rumahnya. Cewek berambut panjang dan gelombang itu segera mengambil tasnya dan beberapa buku yang ia taruh di kursi sebelahnya.
“Makasih Pak,” ujarnya kepada sopir di depan seraya membuka pintu mobil. Tak lama setelah Nadine keluar, mobil itu pergi.
Nadine segera masuk ke dalam rumah. Ia segera mengeluarkan botol air minum dari tasnya dan meminum sisa air dari botol itu. Selagi ia melakukan itu, terdengar suara teriakan dari ruangan di sebelah kanan meja makan tempat ia duduk.
Suara laki-laki yang besar dan perempuan yang cempreng itu adalah milik adik-adik Nadine. Sudah menjadi kebiasaan baginya setiap hari mendengar mereka berdebat.
“Kalian berdua ini bisa nggak sih sehari aja nggak berantem? Nenek bisa-bisa cepet mati!”
suara pekikan nenek Nadine menambah panas telinga cewek itu. Karena sekarang wanita berumur lebih dari enam puluh itu melibatkan diri dalam perdebatan kedua adiknya, suara jeritan mereka hanya membesar dan membesar. Karena terlalu lelah untuk mendengarkannya, Nadine pergi ke kamarnya di lantai dua.
Cewek itu segera berbaring di ranjang dan mengeluarkan handphone miliknya dari saku roknya. Ia melihat notifikasi dari teman curhatnya dan segera membukanya.
Nadine tersenyum kecil selagi jemarinya mengetik huruf-huruf pada keyboard untuk membalas chat Lucas.
Cewek itu menghela napas.
Nadine menunggu respons selanjutnya dari Lucas, namun ternyata cowok itu tidak mengirim pesan lagi. Mengenal sikapnya yang pendiam itu, Nadine harusnya sudah menduganya. Karena tidak mau chat berakhir begitu saja, Nadine mencari topik lain: teman dari kecil dan juga pujaan hati Lucas, Becca.
Lucas dari rumahnya dengan berat hati membalas pesan Nadine.
__ADS_1
Ya ampun cowok ini, batin Nadine sambil tertawa kecil. Tapi jujur saja, mungkin kalau Nadine berada di posisi Lucas, ia juga akan bingung harus berbuat apa. Pasti cowok itu tidak mau merusak persahabatan yang telah mereka bangun selama lima tahun hanya dengan pengakuan rasa sukanya.
Lagi pula, nggak mungkin 'kan cowok pendiam kayak Lucas bisa tiba-tiba nembak Becca yang belum satu tahun putus sama mantannya?
Mata Nadine melotot saat ia teringat sesuatu yang tidak ingin ia ingat. Oh iya, gue ada deadline besok!
Setelah mendapat balasan dari Lucas, Nadine segera bangun dari tempat tidurnya dan merogoh tas sekolahnya. Ia mengeluarkan buku biologi dan menyalakan laptop di meja belajarnya. Dengan niat yang seadanya, cewek itu mengerjakan tugas terakhirnya.
*
"Nad, kasih contekan tugas dong."
Sepasang mata hitam memandang mata cokelat tua Nadine. Ya, mata itu adalah milik Jack. Kalau Jack yang meminta, bagaimana Nadine bisa menolaknya?
"Salinnya cepetan ya. Mau gue ambil lagi pas selesai istirahat," balas Nadine. cewek itu mengeluarkan kertas dari tas ranselnya dan meletakkannya dengan halus di atas meja. Jack dengan senang hati mengambilnya dan berjalan kembali ke tempat duduknya di ujung depan ruangan.
"Kok gue gak di kasih?" Abby memonyongkan bibirnya. Nadine menengok ke arah sahabatnya, "Lu gak minta," jawabnya datar sambil memasukkan buku ke laci meja.
Nadine mengedipkan mata "Gimana apanya?"
"Apa lagi? tentang Alicia."
Ah, tentu saja.
"Kemaren 'kan gue udah bilangin. Semakin cepat semakin baik, Nad." Abby memajang wajah serius. Nadine teringat percakapan kemarin bersama sahabatnya.
“Tanya aja sama Alicia, lu gak apa-apa 'kan?”
“Gue terlalu takut untuk mendengar jawabannya.”
Abby menghela napas. "Iya, gue ngerti. Tapi itu lebih baik dari pada lu begini terus, 'kan?" Nadine hanya terdiam.
__ADS_1
"Lagian ya, menurut gue," kata Abby sebelum berhenti menyalin dan menoleh ke arah sahabatnya, "perasaan Alicia ke Jack itu jangan lu pusingin. Yang paling penting itu perasaan Jack. Siapa yang dia suka."
"Lu tau 'kan Bey, Jack gak pernah mau buka mulut kalau dia suka orang. Kalo ke gue aja gitu, gimana elu?" Nadine kembali melirik papan tulis yang sekarang sudah penuh tulisan. ia memutuskan untuk melanjutkan salinannya.
"Tapi lu bener. Mungkin memang udah waktunya gue jujur sama Alice dan konfirmasi lagi perasaan dia ke Jack."
"Aku nggak suka sama Jack."
Ingin sekali Nadine tersenyum lebar-lebar karena mendengar jawaban dari cewek pendek berkacamata itu. Kalau bukan karena Alicia sedang berdiri di depannya, pasti Nadine sudah melakukan itu.
"Seriusan? Lu udah gak deg-degan lagi di deket dia?" Abby dengan dengan pertanyaannya yang bernada santai membuat Alicia tidak merasa tertekan.
"Iya, 'kan aku udah bilang," balas Alicia kepada Abby. Cewek itu kemudian menoleh ke arah Nadine. "Tapi Nad, kamu kenapa nanya?" Nadine membeku.
"Ka-karena ...," jawab Nadine gugup, tangannya entah kenapa mulai berkeringat lepas dari kabar tentang perasaan Alicia yang membuat hatinya lega.
"Karena gue ada rasa sama Jack."
Mata Alicia melotot. "What!? For real?" responnya setengah memekik. Abby hanya tersenyum kecil saat melihat sahabatnya mengangguk malu.
"Harusnya kamu bilang dari dulu!" Aduh, justru karena itu gue ga bisa, Alice.
"Oke," Abby mengambil napas panjang, "karena semua udah jelas, lu traktir gue makan ya, Nad." Cewek berambut pendek itu mendapat cengiran dari kedua temannya. "Makan mulu, awas gendut," balas Nadine.
"Ngomong-ngomong tentang makanan, kalian mau ke mall X abis ujian kenaikan?" usul Alicia. "Aku denger makanan korea di situ enak."
Mendengar kata 'makanan,' tentu Abby langsung berseru "Mau!"
Mata kedua temannya menoleh ke arah Nadine untuk menunggu jawabannya. Ia tersenyum. "Kalo artinya Abby bisa mengenal makanan lain selain roti, count me in."
"Terima kasih Ya Allah, hamba bisa mencicipi makanan lain selain roti," canda Abby, membuat kedua temannya tertawa-tawa.
"Oh iya!" Alicia menghentikan tawanya. "Kamu kenapa nggak suruh Jack ikut aja?"
__ADS_1
"Kalian gak apa-apa?" tanya Nadine sebelum ia menerima jempol dari Abby. senyuman di wajahnya melebar sembari ia memeluk kedua temannya. "Thank you, guys ...."
Yah, gak gue sangka bakal berakhir lebih baik dari yang gue duga.