
"Thank you udah mau jalan sama gue." Bila kata-kata itu keluar dari mulut orang lain, mungkin Nadine hanya akan mengangguk. Tetapi karena Lucas yang mengatakannya, cewek itu entah kenapa jadi lebih kaku.
"I-iya ...," balas Nadine, "Sorry ya gue baru bisa keluar sekarang." Ia mengatakan itu dengan mengingat-ingat omelan neneknya saat ia pulang dari mall X. Sejak saat itu, nenek Nadine menjadi lebih bawel dan melarang Nadine sering-sering keluar rumah. Cewek itu tidak bisa apa-apa selain menaatinya.
"It's okay. Gue udah seneng bisa ngeliat muka lu," balas Lucas, membuat jantung Nadine melompat. Sampai saat ini, Nadine masih tidak percaya cowok di sampingnya adalah Lucas si pendiam.
Mereka duduk di sebuah meja di samping tembok kaca karena Lucas tahu, itu adalah tempat kesukaan Nadine. Setelah pelayan restoran memberikan menu, Lucas segera melihat-lihat papan itu. "Pilih aja," katanya kepada Nadine, "Gue traktir."
Alis Nadine berkerut ke atas. "Gak usah," tolaknya tidak enak. "Udah, gak apa-apa," balas Lucas cepat. "Kalo gak mau, gue yang pilihin nih."
Nadine terpaksa menunduk dan melihat-lihat menu. Setelah keduanya sudah memutuskan makanan mereka, Lucas memanggil pelayan dan menyebutkan pesanannya dan Nadine. Seusai itu, Nadine melempar pandangannya ke luar jendela.
Banyak orang berlalu-lalang, baik itu orang dewasa maupun remaja, bahkan anak-anak sekalian. Ia membiarkan dirinya melamun. Melihat ini, Lucas yang tanpa Nadine sadari selama ini memerhatikannya akhirnya membuka mulut.
"Gue seneng, lho," kata Lucas mencuri perhatian Nadine."Maksudnya, gue seneng pas lu bilang mau coba buka hati buat gue. Thanks ya."
Bingung harus memberika respons seperti apa, Nadine hanya mengangguk kecil. Ia masih tidak berani bertatapan mata dengan Lucas. Semua ini benar-benar terasa sangat asing.
"Oh iya, lu masih mau ambil jurusan seni, 'kan?" tanya Lucas untuk memecahkan sunyi yang awkward. "Iya," jawab Nadine, tidak menanyakan tentang Lucas karena ia tahu cowok itu sudah pasti mengambil IPA.
"Jurusan itu terkenal padet lho jadwalnya. Lu harus bisa ngatur waktu," sambung Lucas, yang sesuai dugaan membuat suasana lebih mencair. "Iya, gue tau. Gue gak bakal masuk seni tanpa persiapan, 'kan," balas Nadine.
"Tapi gue tetep harus beli cat air, akrilik, minyak, sama kertas-kertasnya juga. Kuas gue juga kayaknya butuh yang baru ...," Nadine berhenti kala disadarinya ia asyik berbicara. Lucas tersenyum, ia memang tahu topik kesukaan Nadine. "Kok diem? Lanjut dong."
Cewek itu akhirnya tersenyum, walau kecil. "Gue udah gak sabar jadi anak seni. Ngelukis bareng temen-temen kayaknya seru. Sayang banget gak ada seni musik," lanjut Nadine. Lucas menopang kepalanya dengan tangannya.
"Iya ya, lu juga suka musik, 'kan?" tanya Lucas, menerima anggukan dari Nadine. "Gue seneng main gitar sama nyanyi. Gue sama temen-temen gue sering karaoke bareng walau yang nyanyi cuma gue sama Jack ...."
__ADS_1
Membicarakan topik dan nama itu, Nadine teringat kejadian yang tidak ingin dia ingat-ingat lagi. Bagaimana Jack memuji suara Nadine, dan bagaimana karena musik juga lah kejadian Jack-Alicia dimulai. Walaupun tidak seberat waktu itu, perasaan kecewa Nadine masih menempel di hatinya.
"Gue iri deh sama Jack," kata Lucas, nyaris membuat Nadine melotot heran. Entah bagaimana ia merasa Lucas akan mengeluarkan kata-kata yang membuat telinga Nadine panas. "Gue juga mau denger lu nyanyi," sambung cowok itu. Tuh 'kan, benar.
"Suara lu pasti indah kayak—"
"Lucas udah, ah ...."
Cowok itu tertawa melihat pipi Nadine mulai memerah. Nadine memang merasa malu karena hampir salah tingkah, tetapi tawa Lucas membuat hatinya lebih baik. Tidak pernah selama mereka berteman Nadine melihat Lucas tertawa seperti itu.
"Iya, iya sorry," ujar Lucas berusaha menahan cengirnya. "Soalnya lu lucu banget, gue jadi—"
"Lucas!"
Tawa Lucas meledak. Nadine hanya bisa tertunduk karena ia tahu mungkin pipinya sudah semerah tomat. Ini sangat aneh. Apakah cowok di depannya itu benar-benar Lucas? Nadine masih tidak bisa percaya.
"Oke gue stop deh ... Sorry, sorry ...," ujar Lucas, masih tersenyum melihat Nadine yang sekarang mengubur wajahnya di kedua lengannya yang ia lipat di atas meja. "Males lah ...."
"Gak mood maafinnya."
"Lah, ya udah." Lucas bangkit dari kursinya, membuat mata Nadine membelalak. "Eh, mau kemana?" desaknya.
"Toilet," balas Lucas. Cowok itu menyengir. "Kenapa? Lu kira gue ninggalin lu?"
"Ih, males ...." Untuk kedua kalinya Nadine menyembunyikan wajahnya pada lengannya, lantas membuat Lucas kembali tertawa. Dari semua cowok yang ia kenal, tidak disangkanya Lucas-lah yang membuat Nadine seperti ini.
"Iya yaudah, gue mau ke belakang dulu," kata Lucas sembari ia beranjak jalan melewati meja mereka. Setelah memastikan cowok itu sudah hilang dari pandangannya, Nadine mengangkat wajahnya.
Nadine kembali melempar pandangannya ke luar jendela, berusaha menenangkan pikirannya agar warna merah di pipinya dapat hilang. Kala dirasakannya suara dari dalam tasnya, Nadine mencari dan mengeluarkan handphone.
__ADS_1
Melihat nama sahabatnya, Nadine membuka chat mereka.
Dengan cepat Abby pun membalas lagi.
Nadine tersenyum. Memang bukan Abby kalo dia tidak penasaran.
"Selamat datang!"
Kala mendengar petugas-petugas restoran serentak menyapa, Nadine mendongak dan segera menyesalinya. Ya, benar, Jack.
Cowok itu mengenakan hoodie merah. Dari geraknya, sepertinya cowok itu sedang membawa seseorang bersamanya. Orang itu masuk ke restoran dan seketika itu juga perasaan-perasaan buruk berkumpul di hati Nadine. Dia adalah orang yang tidak mau Nadine lihat.
Siapa lagi kalau bukan Alicia?
Menyadari mereka berdua berjalan ke arahnya, Nadine segera menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan rambutnya, berpura-pura sibuk main ponsel. Namun usaha itu gagal kala cewek berkacamata itu menyapa Nadine.
"Loh, Nadine?" Alicia mendekati meja Nadine, diikuti oleh Jack di belakangnya. "H-hai," sapa Nadine kaku, berusaha menutupi perasaan tidak enak di hatinya. Berani-beraninya Alicia melakukan itu.
"Lu ngapain di sini?" tanya Jack. Nadine tersenyum tipis dan berharap alisnya tidak berkerut tanpa ia sadari. "Nongkrong," jawabnya singkat.
Alicia tersenyum kecil. "Kalo gitu, kamu mau bareng sama kita?"
__ADS_1
Apa? Bisa-bisanya dia!