Nadine

Nadine
11


__ADS_3


"Kalo gitu, kamu mau bareng sama kita?"


Bisa-bisanya Alicia berkata demikian. Memamgnya, cewek itu akan bereaksi seperti apa bila Nadine-lah yang mengatakan hal seperti itu kepadanya saat dia masih suka jepada Jack? Bukankah dia akan marah?


"Kamu sendiri, 'kan?"


"Siapa bilang sendiri?"


Suara familiar dan menenangkan itu membuat mereka bertiga menengok ke arah sang pemilik suara, Lucas. Cowok itu segera berjalan ke samping kursi Nadine.


"Lucas," sapa Jack, hanya menerima anggukan kecil dari cowok berkacamata itu. Matanya kemudian menatap Alicia. "Oh, kalian berdua?" tanya cewek itu.


"Ya," balas Lucas singkat selagi ia menghampiri tempat duduknya. Sangat berkebalikan dengan sikapnya yang tidak Nadine ketahui bisa sangat friendly, cowok itu seperti tidak ingin berbincang dengan mereka.


"Ya udah, sorry ganggu." Alicia memutar badannya untuk menghadap Jack. "Gimana kalo kita duduk di meja deket mereka aja?"


Baiklah, bukankah ini keterlaluan?


"Gak usah, kok. Kalian cari tempat yang nyaman aja," balas Nadine. Padahal, maksud cewek itu adalah: menjauhlah dariku.


"Udah, nggak apa-apa. Jack, yuk duduk." Entah karena cewek itu bodoh atau Nadine yang terlalu baik menyampaikan pikirannya, Alicia pada akhirnya memilih meja tepat di samping dirinya dan Lucas. Nadine sudah tidak peduli apakah perbuatan Alicia itu disengaja atau tidak, ia sudah muak.


"Nad," panggil Lucas dengan raut wajah khawatir. Nadine mematahkan pandangannya dari Jack-Alicia dan menerima tatapan Lucas. "Lu mau cari tempat lain?" tanya cowok itu.


"Gak usah," jawab Nadine singkat. Masih dengan tatapan tidak tenang, Lucas mendekati Nadine. "Lu yakin gak apa-apa?"


Nadine mengangguk. Cewek itu melirik meja di sampingnya dan kembali menatap Lucas. "Gue juga udah capek merhatiin mereka terus," balasnya. Jawaban ini membuat Lucas tersenyum kecil, pas sekali sebelum pesanan mereka diantar.


"Kalo lu gak tahan, bilang aja ya," ujar Lucas sebelum ia mengangkat garpu dan pisau. Mendengar itu, Nadine merasa bersalah. Seharusnya hari ini Lucas bersenang-senang, bukannya malah menghibur Nadine.

__ADS_1


Lucas menoleh ke meja Jack dan Alicia saat mendengar mereka berbagi tawa. Mereka deket juga, pikir Lucas, pantesan Nadine gak tahan.


"Lucas."


Mendengar namanya dipanggil oleh Nadine, cowok itu berhenti melirik Jack-Alicia. "Gak usah pikirin mereka, gue beneran gak apa-apa," ujar Nadine. Ia baru mengangkat garpu dan pisau di samping piring makanannya.


"Lagian, kita ke sini bukan buat pusingin itu, 'kan?" sambung Nadine, lantas membuat Lucas tersenyum.


"Thank you, Nad."


*


"***** lah! Itu si Alicia kenapa sih!?" jerit Abby, membuat telinga Nadine meringis kesakitan dari balik telepon.


"Teriak lagi dan gue bakal tuli," respons Nadine. Cewek itu berjalan ke mejanya dan meletakkan handphone-nya di samping selembar kertas tebal yang kosong.


"Sumpah, gue bener-bener heran. Gak abis pikir," lanjut Abby. Nadine mengambil pensil ceteknya. "Sama Bey, gue juga gak ngerti," balasnya. Ia mulai membuat sketsa.


"Baik sekali hatimu, Nak. Ibu terharu," canda Abby. Kedua cewek itu saling tertawa. Memang tidak salah Nadine memilih Abby sebagai sahabat.


"Tapi Nad, Alicia itu bener-bener keterlauan," ujar Abby. "Gue gak nyangka, lho! Di balik tampangnya yang baik-baik aja gitu ternyata orangnya begini!"


Nadine masih tidak berhenti menggoreskan pensil di atas kertas. "Bisa aja dia sengaja, atau emang ga ngerti sama sekali," Nadine menambahkan. "By the way, daripada lu ngomongin Alice, kenapa gak lu ngobrol aja sama Adrian?"


Abby menghela napas. "Iya, Nad. Dia udah gue chat tapi belom bales ...," jawabnya. Mendengar nada bicara sahabatnya, Nadine tahu benar kalau Abby sedang tidak tenang. Kedekatan kedua cewek itu membuat Nadine ikut khawatir.


"Dia masih begitu, ya?" tanya Nadine. Ia menghentikan sketsanya untuk mendengar sahabatnya. "Iya Nad," balas Abby, "walaupun ada sekali dua kali dia gak gitu. Tapi gimana? Gue 'kan tetep gak tenang.


"Ditambah lagi, Adrian belakangan ini lebih parah daripada yang waktu itu. Yah, gue tau sih mungkin masalah keluarganya juga mungkin parah, tapi gue bener-bener gak keberatan kalo dia cerita. Masalahnya, dia ngomong aja nggak ...."


Nadine berharap ia bisa bertemu dengan Abby sekarang dan memeluknya. Ia tidak bisa diam saja jika mengetahui sahabatnya bermasalah. Bisa dikatakan, Nadine akan merasa gagal sebagai seorang sahabat bila Abby terus-menerus sedih.

__ADS_1


"Bey, lu yang sabar ya. Gue bakal selalu—"


Ting.


Notifikasi dari handphone Abby berbunyi, cukup kencang untuk terdengar oleh Nadine yang ia telepon lewat laptop. Abby mengangkat ponsel yang ia letakkan di samping kepalanya untuk memeriksa si pengirim pesan.


"Nad! Adrian udah bales!" pekik Abby girang, cewek itu bangkit dari posisi tidurnya. ia segera membuka chat dari pacarnya itu.



Pesan itu membuat Abby diam. Benar-benar sunyi. Nadine menatap sketsa pada kertasnya, meletakkan pensilnya terhadap sahabatnya yang tidak berbicara apa-apa padanya lagi. Ia mengangkat handphone ke samping telinganya.


"Halo Bey?"


Sepuluh detik, dua puluh detik, satu menit. Tidak ada jawaban. Nadine memeriksa apakah teleponnya terputus, namun tidak. call itu masih berjalan. Lantas apa yang terjadi dengan Abby? Nadine tambah panik.


"Bey? Hello? Lu di situ 'kan?" desaknya. Ia merasa lega setelah mendengar suara helaan napas Abby. "Iya, sorry ...."


Abby menghentikan gerakan jemarinya pada keyboard. Ia mendadak tidak ingin membalas pesan dari Adrian yang selama ini ia tunggu-tunggu.


Badannya mulai gemetar dan dia meringkuk ke dalam selimut, memeluk dirinya sendiri. Pundaknya mulai naik-turun, dan napasnya mulai tidak beraturan. Tentu hal ini disadari oleh Nadine. Cewek itu mendengar isakan kecil sahabatnya dari balik telepon.


"Bey!?"


Isakan Abby semakin terdengar.


"Lu kenapa? Jawab gue, please?"


Abby mengeluarkan kepalanya dari selimut. Pipinya basah oleh air matanya yang juga telah membasahi bantal yang ditidurinya. Terlalu lemas untuk duduk, cewek itu menyeret laptop di sampingnya.


"Nad ...," panggil Abby dengan suara parau. "Gue boleh nginep ke rumah lu?" Nadine mengerutkan alis. "Kenapa?"

__ADS_1


Isakan Abby berubah jadi tangis. "Adrian minta putus, Nad."


__ADS_2