Nadine

Nadine
3


__ADS_3



Nadine tersenyum-senyum sendiri sambil melihat layar kaca ponselnya. Jemarinya berpindahan dari huruf ke huruf untuk mengetik respons sementara mulutnya menyedot susu kotak yang terbaring di dadanya.



Setelah menyadari bahwa susu kotaknya sudah habis, ia segera mengeluarkan sedotan dari kotak itu dan mebekannya hingga pipih sebelum ia membuangnya ke tempat sampah. Nadine kembali mengecek layar handphone yang ia tinggal di ranjangnya. Tidak mendapat balasan lagi dari Lucas, ia pun bertanya.



Cewek itu menunggu respons teman curhatnya selama beberapa menit. Lima menit kemudian... masih belum ada balasan. Tidak, belum di baca. Pikiran buruk Nadine pun mulai menghantuinya. Apa Lucas kesinggung?


Ting. Notifikasi dari handphone Nadine menyala.



Apa?



Mata Nadine melotot tidak percaya. Serius ini cowok?



Mungkin memang Nadine bukan dalam posisi untuk mendorong Lucas agar tidak menyerah. Namun, ia tidak bisa melihat temannya berhenti begitu saja tanpa usaha. Ya, benar. seperti halnya Nadine berusaha mengetahui perasaan Jack, begitu juga yang Lucas harus perbuat pada Becca, hanya saja cowok itu harus lebih agresif.


Karena dia cowok.



Mamanya... ah, mamanya Becca.


Wanita itu memang terkenal galak dan perfeksionis. Bahkan di tempat les Lucas dan Becca, kabarnya semua orang tua ataupun guru tidak mau berurusan dengannya. Nadine ingat saat Lucas bercerita padanya tentang dia.


'Kamu harus lebih hangat ke Becca' atau 'Kamu harus lebih perhatian sama dia'. Itu lah apa yang dilontarkan wanita itu walaupun Lucas sudah berusaha. Cowok itu selalu kurang di matanya. Selalu.


Dan anehnya lagi, berdasarkan kisah Lucas, wanita itu seolah-olah ingin anak perempuannya dipandang seperti berlian oleh Lucas walaupun ia sedang menjalin hubungan dengan mantan pacarnya saat itu. Bagaimana Lucas tidak bingung? Untuk apa dia melakukan itu kepada cewek yang secara tidak langsung sudah 'menolak' perasaannya?

__ADS_1


Sekali lagi, memang Nadine bukan dalam posisi untuk dapat menilai peristiwa itu begitu saja. Namun, kalau temannya sedang bermasalah, bagaimana Nadine hanya bisa diam?



Tanda titik di samping text bubble Nadine menandakan sudah dibacanya pesan dari cewek itu oleh Lucas. Di saat seperti ini lah Nadine merasa khawatir. Kalau tidak di balas, Nadine tidak tahu apa yang Lucas rasakan. Sifat cowok itu yang tidak banyak omong hanya menambah pusingnya.


Ya ampun, bisa cepet tua gue kalo begini terus.


Tiba tiba saja, ponsel Nadine berdering. Hampir tersentak jatuh, cewek itu mengangkat ponselnya dan melihat layarnya.


Oh, Jack.


Jack!?


"Halo Nad?"


"... Ya?"


Nadine gugup saat mendengar suara Jack keluar dari speaker. Walau hampir setiap hari berbincang dengannya, pipinya menghangat saat cowok itu berbicara lewat ponsel, rasanya seperti Jack berada tepat di samping Nadine.


"Gue mau bilang makasih buat contekan tugas tadi," kata Jack. "Kalo bukan karena lu, mungkin gue udah kehilangan kepala."


kalo bukan karena lu, gue juga ga bakal ngasih itu tugas. Ingin sekali rasanya ia menjeritkan kata-kata itu. Namun Nadine hanya menjawab, "Ya."


"Ajak Sean juga, yuk. Gue gak mau jadi cowok sendiri. Lu juga deket 'kan sama dia?"


Nadine membuang napasnya. Tentu saja. Bisa-bisanya Nadine berpikir dia akan mengatakan sesuatu yang special.


"Halo?"


"Ah, sorry," balas Nadine. "Iya, ajak aja. Lu yang tanya, ya."


"Sip. Thanks Nad, lu baik deh." Dan dengan itu, Jack menutup teleponnya.


Aduh, jangan gitu dong...


*


"Nad, gue harus gimana?"

__ADS_1


Sorot mata Abby yang biasanya ceria kini padam, dan suaranya yang terkenal kencang kini bertanya pada Nadine dengan nada lelah dan sepertinya putus asa. Dari lagaknya, Nadine segera tahu bahwa orang yang membuat sahabatnya seperti ini adalah tidak lain dari Adrian.


"Bey, sebelum lu ceritain semuanya dan nangis, abisin dulu roti cokelat lu."


"Gue serius!" balas Abby dengan senyuman setengah-setengah yang, sesuai dugaan Nadine, sedikit menghibur hatinya. Sahabat berambut pendeknya menatap mata cokelat tuanya. "Dan gue ga bakal nangis. Janji."


Nadine menyerongkan posisi duduknya sehingga ia dan Abby yang di sebelahnya hampir berhadap-hadapan. "Oke, kenapa?"


Mata Abby melirik seisi kantin itu dengan sekilas. "Adrian, Nad. Belakangan ini respon dia kayak setengah-setengah," resahnya.


"Lah?" Alis Nadine mengerut. "Perasaan baru kemaren kalian cengir-cengiran?"


"Itu dia! Gue gak ngerti sama sekali," balas Abby sedih. Bahkan seorang Abby yang sifatnya ceria juga bisa menjadi murung karena persoalan cinta. Roti cokelatnya pun masih utuh belum tersentuh oleh jarinya. Nadine mengelus-elus pundak Abby.


"Ya udah, biarinin aja dulu. Mungkin dia lagi ada masalah sama keluarganya," saran Nadine. Benar, Adrian pernah bercerita pada Nadine dan Abby tentang keluarganya. Nadine pikir, itu adalah masalah yang tidak bisa terlalu mereka campuri.


"Lihat dulu perkembangannya. Kalo gak ada sama sekali, baru lu tanya. Kalo sampe ada masalah, cerita aja ke gue, ya?"


"Iya ...."


Nadine tersenyum kecil. "Ya udah, itu rotinya di makan dulu." Ia menyodorkan gelas berisi jus alpukat yang baru ia minum setengah. "Ini ambil aja, buat lu."


Nadine mendongak ke depan dan seketika itu juga, matanya melotot. Ia menangkap dua sosok yang ia kenali. Lucas sama Becca? Tumben...


Cowok berambut hitam dan berkacamata itu seperti sedang terburu-buru mengikuti Becca yang raut wajahnya terlihat tidak senang. Ada apa ini?


"Woy, bengong."


Nadine segera mengedip-ngedipkan matanya saat Jack melambaikan tangannya di depan cewek itu, membuatnya hampir tersentak kaget.


Karena Nadine tidak lagi melihat sosok Lucas dan Becca, ia mengalihkan pandangannya pada cowok yang di depannya. Jack membawa sepiring siomay dan seseorang mengikutinya dari belakang. Orang itu adalah...


Alicia.


Tentu saja.


Seharusnya, Nadine tidak perlu merasa jengkel terhadap cewek itu karena beberapa saat yang lalu, ia mendengar dengan telinganya sendiri kalau Alicia sudah tidak memiliki perasaan untuk Jack. Ditambah, rahasianya yang kini sudah diketahui oleh Alicia harusnya semakin membuat cewek berkacamata itu jaga jarak dengan Jack.


Tapi mengapa yang terjadi seolah-olah sebaliknya?

__ADS_1


Nadine tidak tahu kalau Alicia memang tidak bermaksud atau benar-benar bodoh, tetapi pikirannya terus terjebak di situ. Ia menghela napas.


Sudahlah, Alicia adalah orang yang baik. Seharusnya Nadine lega karena dia sudah tidak suka kepada Jack, ya 'kan?


__ADS_2