Nadine

Nadine
7


__ADS_3


"Lho, Adrian?"


Cowok tinggi berkulit sawo matang itu segera memalingkan pandangannya dari layar ponsel saat mendengar suara Nadine. "Eh, Nadine," balasnya. Tidak disangkanya bahwa ia akan bertemu dengan pacar sahabatnya sendiri di pintu masuk sebuah mall.


"Tumben-tumbenan lu ke sini," ujar Adrian kala melewati pintu otomatis bersama cewek itu. "Oh, gue tahu. pasti mau ketemu sama Lucas, 'kan?"


"Iya, tahu dari mana?" tanya Nadine penasaran. "Wah, lu jangan-jangan mau ngestalk ya!?" canda cewek itu, menerima tawa dari Adrian.


"*****," balasnya. "Orangnya sendiri yang ngasih tau gue, woy. Gue mah ke sini mau main arcade." Lucas ngasih tahu? Kenapa? Tapi yang Nadine tanya adalah, "Sama Abby?"


Senyum cowok itu perlahan-lahan hilang, digantikan oleh senyuman yang tipis. "Nggak, Nad. Sama temen." Ada apa ini?


"Oh, ya udah. Jangan lupa ngabarin Abby ya," kata Nadine mengingat sahabatnya yang gelisah tentang pacarnya yang kurang aktif memberi kabar. Bahkan dari anggukan cowok itu pun, Nadine tahu ia tidak ikhlas.


"Gue duluan ya," ujar Adrian selagi melambaikan tangannya. Ia berbalik badan dan meninggalkan Nadine yang hanya terdiam di depan pintu lobby. Apa mereka benar-benar bertengkar?


Tidak ada gunanya Nadine memikirkan pacar orang lain. Jadi, cewek itu segera beranjak pergi ke toko kopi tempat ia dan Lucas akan berbincang. Ia tersenyum saat melihat Lucas duduk di sebuah meja bundar dengan dua kopi di hadapannya.


"Hai," sapa Nadine pada cowok berkacamata itu yang mengembalikan senyumnya. "Thank you udah mau beliin titipan gue." Nadine duduk berseberangan dengan Lucas.


"By the way, Adrian ada cerita apa-apa ke lu gak?" lanjut Nadine. Lucas menatapnya bingung. "No, why?"


Cewek berambut gelombang itu menggeleng. "Nggak, gue tadi ketemu Adrian. Anehnya, katanya dia jalan sama temen-temennya, bukan Abby. Dan gue yakin Abby sendiri juga gak tahu."


Nadine mengeluarkan sedotan dari plastiknya. "Belakangan ini hubungan mereka kayak memburuk. Gue khawatir sama Abby," katanya, sebelum meneguk latte menggunakan sedotannya.

__ADS_1


"Iya, tapi kita sebaiknya jangan ikut campur urusan mereka," balas Lucas datar. "Lagian, kita ke sini bukan untuk ngomongin itu."


"Ah, iya ...." Nadine jadi mau tidak mau teringat kejadian di mall X dua minggu yang lalu. Alisnya berkerut mengenang rasa kecewanya.


"Gimana perasaan lu?"


Pertanyaan dari cowok itu membuat Nadine sadar kalau dirinya sudah perlahan-lahan membaik selama ia menenangkan dirinya di rumah.


"Thankfully, lebih baik. Mungkin ada bagusnya juga itu terjadi pas banget sebelum liburan biar gue gak perlu ngeliat muka mereka berdua."


Lucas tertawa kecil. "Yakin, ya? Dari message yang lu kirim waktu itu, kayaknya masalahnya serius banget." Raut wajanya berubah khawatir. "Kalo terlalu berat untuk lu cerita, mending gak usah."


"Yah, sebenernya, " Nadine memutar-mutar gelas kopinya di atas meja, "memang menurut gue sebaiknya gak gue ungkit lagi kejadian itu. Tapi karena kita udah di sini, gue kasih tau intinya aja deh." Lucas mengangguk-angguk siap mendengar.


"Lu tau lah, si Alice— Alicia itu," Nadine segera memperbaiki nama panggilan cewek itu, "Memang sih, gak ada salahnya mereka deket. Tapi yang bikin gue heran itu, kenapa tuh cewek seolah-olah sengaja ngedeketin Jack.


"Padahal jelas-jelas dia sendiri bilang udah gak suka, udah sejak lama pula. Gue bener-bener gak ngerti dia itu emang sengaja atau bukan. Tapi either way, gue ngerasa dikhianati sama temen sendiri."


"Ya udah, gak apa-apa," balas Lucas singkat. Mereka secara bersamaan mengambil gelas kopi mereka masing-masing dan dengan awkward meminumnya secara berbarengan. Nadine menjadi yang pertama untuk mematahkan sunyi.


"Lu gimana?"


Pertanyaan itu membuat pandangan Lucas beralih dari kopinya pada mata cokelat tua Nadine. Ia berhenti meneguk kopinya dan bersender pada kursi. "Baik Becca maupun mamanya bener-bener marah ke gue."


Mata Nadine membelalak. "Mamanya juga? Kapan?" tanyanya khawatir. Masih dengan ekspresi datar, Lucas menjawab. "Iya, pas lu pergi ke mall X. Bahkan guru les gue juga ngikut."


Nadine mengerutkan alis. "Guru les?"

__ADS_1


Lucas mengangguk santai. "Iya. Bisa dibilang dia orang yang selama ini jadi penengah gue sama Becca dan mamanya," jawabnya.


"Ya ampun, sampe guru pun terlibat ...." Wajah Nadine menunjukkan ekspresi tidak tenang. "I'm sorry, tapi menurut gue itu agak ... keterlaluan."


Lucas mengangkat kedua bahunya dan melempar pandangannya pada orang-orang di luar kaca. Sekarang Nadine merasa kasihan. Bisa-bisanya ia menangisi dirinya sendiri di saat cowok di depannya juga sedang mengalami masalah.


"Yang sabar, ya." Hanya itu yang bisa Nadine katakan. Respons dari cowok itu juga tidak banyak, ia hanya menatap Nadine kembali sebelum meminum kopinya lagi.


Menyadari sunyi yang hadir untuk kedua kalinya, cewek berambut panjang itu bertanya lagi. "Lu bakal gimana?"


Lucas menyelesaikan tegukan kopinya. "Gue ...," katanya, "gue bakal jawab setelah lu jawab."


Sekarang giliran Nadine yang memainkan gelas kopinya. Gerakannya menunjukkan kegelisahan. "Kalo gue sih .... kayaknya gue bakal,"—ia menelan ludahnya—"berusaha ngilangin perasaan gue ke Jack."


Kedua alis Nadine naik. "Tapi kayaknya bakal susah bagi gue untuk melakukan itu," katanya, pandangannya masih terpaku pada gelas kopi di atas mejanya. "Gue gak tau apa gue bisa atau nggak.


"Maksud gue, emang sih sebaiknya gue buang semua perasaan ini. Kalo gitu 'kan at least gue ga bakal berpikiran buruk lagi tentang Alice. Tapi gimana, yah? Seperti yang gue bilang tadi, itu semua susah bagi gue. Perasaan gue buat Jack udah gue pendem selama kurang lebih satu semester. Gue bener-bener bingung."


Kala menyadari dirinya sudah terlalu banyak berbicara sementara cowok itu hanya diam, Nadine meminta maaf. "Sorry, gue gak maksud ngomong terus. Intinya, mungkin gue harus bener-bener usaha biar bisa ngelupain ini."


"Gue harap lu bisa," respons Lucas sesaat setelah cewek itu menyelesaikan kalimatnya. Walaupun tanggapan Lucas bisa dibilang singkat dan apa adanya, Nadine sangat bersyukur ia memilikinya sebagai teman curhat.


"Iya, thanks."


"Dan gue harap lu serius, Nad."


Ini adalah pertama kalinya Lucas menegaskan kata-katanya kepada Nadine. Biasanya, cowok itu hanya diam mendengarkan curhatannya. Hal ini membuat Nadine memandang Lucas seperti dia bukan dirinya, tapi orang lain.

__ADS_1


"Oke, gimana kalo begini? Gue mau lu lupain Jack."


Kenapa Lucas tiba-tiba begini?


__ADS_2