
"Lu itu udah bisa nyanyi, jago seni, pinter, cantik lagi."
Kata-kata itu masih menggema di pikiran Nadine sedari tadi. Kata-kata yang mungkin kurang berarti bila orang lain selain Jack yang mengatakannya. Nadine melirik ke arah cowok itu yang sekarang sibuk mengeluarkan earphone dari tas kecilnya.
Apa maksud dari kata-kata itu? Mengapa ia mengatakannya? Pasti hanya pujian biasa, 'kan? Ya 'kan?
Tapi apa pun artinya, Nadine benar-benar senang. Padahal, ia tidak mengira akan terjadi hal seperti itu hari ini. Dan mau tidak mau, Nadine jadi berharap sedikit lebih banyak.
Dan mungkin itu adalah kesalahan terbesar Nadine.
"Oh iya!" Jack melepaskan earphone dari telinganya, "Alicia, lu suka lagu yang begini, 'kan?" Cewek berkacamata yang ia panggil itu berhenti melihat layar ponselnya. Wajahnya tersenyum penasaran. "Apa?"
"Mau denger? Gue yakin lu suka." Tapi bagaimana dengan Nadine?
"Boleh," balas Alicia. Dengan itu, cewek yang Nadine kira sudah mengerti perasaannya itu menerima earphone dari cowok yang disukainya, sementara Nadine sendiri hanya terdiam di tengah.
Apa yang lebih buruk daripada ini?
Nadine yang malang menghela napas panjang dan menggigit bibir bawahnya, selagi dirasakannya air mulai menggenang di kedua matanya. Jangan, jangan nangis.
Tapi bagaimana Nadine tidak memikirkannya? ia kira Alicia akan mendukungnya sebagai teman yang sudah tahu tentang rahasianya. Kalau begini akhirnya, buat apa Nadine mengumpulkan keberanian untuk bertanya dan jujur padanya?
Sekarang, Alicia dan Jack asyik berbincang tentang lagu yang mereka dengar. Untuk memperburuk keadaan, Jack menunjukkan layar ponselnya pada Alicia yang juga mendekat ke arah cowok itu begitu saja seperti Nadine tidak ada.
Nadine memejamkan matanya dan tertunduk. Kepalanya mulai terasa sakit. Ia kecewa terhadap Alicia yang entah memang bodoh atau terlalu polos, atau mungkin sengaja. Tetapi itu tidak melebihi rasa kecewa pada dirinya sendiri yang berpikir kalau ia akan mempunyai kesempatan memenangkan hati Jack yang bisa saja melakukan semua hal baik yang ia lakukan untuk Nadine ke cewek-cewek lain.
Seharusnya Nadine sudah tahu akibatnya.
Abby yang baru menyadari situasi tidak mengenakkan di bangku depannya itu langsung memandang sahabatnya dengan tatapan kasihan. Cewek yang khawatir itu segera membuka layar handphone yang baru saja ia matikan dan mencari-cari kontak Nadine. Ia mengetik huruf-huruf pada keyboard.
Notifikasi di handphone Nadine menyala. Pesan yang diterimanya adalah tidak lain dari sahabatnya.
Nadine dengan kepalanya yang nyut-nyutan dan pandangannya yang mulai kabur menggerakkan jemarinya untuk menjawab pesan itu.
__ADS_1
Ia kembali memejamkan matanya sambil menahan sesak, berharap kalau ia dapat cepat-cepat keluar dari neraka ini.
*
"Itu tadi judul lagunya apa? Bagus banget!"
Nadine ingin menjerit rasanya karena ia terpaksa melihat Alicia yang tengah mengobrol girang dengan Jack seperti tidak terjadi apa-apa. Memang seharusnya ini adalah acara jalan-jalan bersama. Bukankah bagus kalau mereka saling berbincang?
Tidak, tidak sama sekali.
Bisa-bisanya cewek itu main lewat saja tanpa bicara apa-apa kepada Nadine, seperti dirinya hanyalah hantu. Lupakah Alicia kalau Nadine juga ikut? Ah, ini berat sekali.
Baru saja beberapa menit mereka turun dari mobil, namun rasanya seperti sudah bertahun-tahun Nadine memperhatikan Jack dan Alicia yang saling bertukar tawa di depannya. Karena tidak ingin merasa lebih sesak, cewek itu memilih untuk berjalan di belakang agar tidak ada satu orang pun yang dapat berkomentar tentang ekspresinya. Namun sepertinya, sahabatnya itu menyadarinya.
"Guys, gue sama Nadine ke toilet dulu, ya. Kalian duluan aja gak apa-apa. Nanti kabarin gue." Abby menarik lengan sahabatnya yang tidak berdaya itu dan menyeretnya ke toilet kosong.
"Oke, sekarang keluarin air mata lu," kata Abby dengan tatapan penuh empati. Ia melipat kedua tangan di depan dadanya dan bersandar pada wastafel, menunggu respons Nadine.
"Nggak, gue gak bisa. Udah dari tadi gue berusaha buat nahan."
Abby menghela napas. "Makanya sekarang lepasin." Cewek itu memeluk sahabatnya dan mengelus-elus punggungnya. Akhirnya, air mata Nadine pun mengalir.
"Padahal dia tahu ... hiks,"—pundak Nadine turun-naik—"kalo gue suka sama Jack ...."
Abby menghentikan elusannya pada punggung sahabatnya dan menepuk-nepuk pundaknya. "Gue juga gak tau kenapa dia begitu, Nad," ucapnya. "Dia sendiri juga yang jelas-jelas bilang udah gak ada rasa sama Jack."
Nadine melepaskan diri dari pelukan Abby. Ia mengusap air matanya dan menarik napas dalam-dalam. Abby menatapnya bingung. "Lu yakin gak mau ngeluarin semuanya?"
Nadine menggeleng. "Gak bisa, Bey. At least gak sekarang," balasnya dengan suara yang masih parau, "Gue gak bisa ngerusak acara hari ini cuma karena perasaan bodoh gue. Gue lebih kasihan sama Sean yang gak tahu apa-apa tapi harus terlibat."
"Ya ampun, Nad. Yang paling penting sekarang itu diri lu. Gimana perasaan lu—"
Abby segera menghentikan kalimatnya saat mendengar pintu toilet terbuka. Setelah sadar bahwa orang itu adalah Alicia, Nadine segera menyalakan keran dan membasahi wajahnya yang merah karena menangis.
"Cowok-cowok juga pada ke toilet, jadi aku gak mau sendiri." walau tidak ada yang bertanya, cewek itu menjelaskan. Wajahnya yang masih berseri-seri tidak tahu apa-apa semakin membuat Nadine pusing, tetapi ia hanya bisa memasang senyum tipis.
"By the way, mumpung lagi cewek-cewek aja, foto yuk buat kenang-kenangan!" Alicia merogoh sakunya untuk mengeluarkan ponselnya.
"Oh ya," balas Nadine, "Kenang-kenangan banget. Buatlah sore ini moment yang gak bisa gue lupain." Mendengar sarkasnya, Abby hanya tertawa kecil terhadap kata-kata yang keluar dari Nadine yang baru saja meneteskan air mata. Bagaimanapun juga, ia lega melihat sahabatnya bisa bertindak seperti normal.
__ADS_1
Alicia, di sisi lain, sepertinya tidak merasakan apa-apa. Cewek itu memegang ponselnya dengan satu tangan dan mengarahkan kameranya ke cermin. Abby dan Nadine segera berkumpul dan berpose, memajang senyuman yang pasti palsu, setidaknya bagi Nadine.
Setelah puas dengan foto-foto yang diambil, ketiga cewek itu keluar, mendapatkan Jack dan Sean yang sudah menunggu di depan pintu toilet.
"Lama banget, sih?" Jack memasukkan handphone yang ia mainkan selama menunggu ke dalam saku celananya. "Iyalah. Masa gue yang lagi cantik gini gak foto-foto dulu?" balas Abby dengan nada ceria khasnya.
"Geli." Jack segera berjalan melewati cewek yang sekarang cengar-cengir itu. Nadine memang salut pada sahabatnya. Abby selalu bisa mencairkan suasana dan meringankan hati Nadine saat ia kesulitan.
"Guys, karena udah sore, gimana kalo kita beli tiket nonton baru makan?" usul Sean. "Kita bisa main arcade sambil nunggu."
Sepertinya Ide Sean cukup bagus untuk diterima oleh teman-temannya. Namun, arcade tidak pernah menjadi teman Nadine. menurutnya, itu kekanak-kanakan walau banyak juga orang dewasa yang memainkannya.
setelah membeli tiket, Alicia mengajak mereka makan di salah satu restoran korea seperti yang dikatakannya. Walaupun sedikit berisik, untung saja restoran itu tidak terlalu ramai, karena Nadine pasti akan semakin sakit kepala dan semakin ingin meledak.
Mereka memilih meja di sudut restoran agar lebih privat. Kali ini, Nadine duduk di samping Jack yang memilih Sean sebagai rekan kursi di sisi kanannya. Oh, betapa bersyukurnya cewek itu karena ia tidak harus dihimpit oleh keintiman Alicia dan Jack.
Setelah menunggu, pesanan mereka pun datang. Para pecinta pedas, yaitu Nadine, Abby, dan Jack, tentunya memesan makanan yang terlihat sangat merah saat disajikan. Namun, mungkin seharusnya Nadine tidak memesan makanan pedas, karena itu hanya menambah rasa pusing di kepalanya.
"Mmm! Ini enak banget," ujar Alicia dengan mata berbinar yang entah dia buat-buat atau tidak. Nadine sudah terlalu lelah untuk menanggapinya
"Jack mau coba?" Oke, mungkin seharusnya Nadine meladeninya.
"Boleh." Respons dari Jack membuat cewek itu mendongak dari mangkuk makanannya dan segera menyesalinya. Alicia menyodorkan sendoknya pada Jack yang dengan senang hati melahapnya. Ya, benar. Alicia baru saja menyuapi cowok yang Nadine sukai.
Ini benar-benar keterlaluan.
Nadine lantas bangkit berdiri menggebrak meja dan teman-temannya hampir tersentak kaget. Kepalanya tertunduk, ia tidak mau mereka melihat ekspresi yang ia buat di wajahnya yang bahkan ia sendiri tidak tahu.
"Sorry, gue ga enak badan. Mungkin makanannya."
Dengan itu, Nadine langsung lari ke toilet terdekat. Ia memaksa badannya yang seperti ingin terjatuh agar terus bergerak hingga akhirnya ia menemukan tempat untuk sendiri.
Ia mengejar napasnya yang tidak teratur dan menopang badannya pada wastafel. Cewek itu mendongak dan menatap matanya sendiri pada kaca. Mengapa ia terlihat sangat berantakan? bahkan ia kasihan terhadap dirinya sendiri. Untuk kedua kalinya, Nadine menangis.
Alice itu kenapa sih, batin Nadine kesal. Seberapa inginnya ia menjerit, ia tidak bisa karena takut orang lain masuk. Bahkan di saat seperti ini pun, Nadine harus memendam sakitnya.
Bahu Nadine naik-turun dan cewek itu mulai cegukan. Gue salah apa sih sama lu, Alice? Padahal gue menghargai perasaan lu ke Jack saat itu, jadi kenapa lu begini?
Masa sih Nadine harus mengakhiri tahun ajaran dengan seperti ini?
__ADS_1