Nadine

Nadine
13


__ADS_3


Tidak ada yang membuat jantung berdegup kencang selain cowok yang gentle dan hari pertama masuk sekolah. Atau setidaknya, Nadine berpikir seperti itu.


Abby yang berjalan di sampingnya juga tidak kalah gugup dari cewek itu. Bahkan, terlihat sangat jelas dari gaya berjalannya yang tidak sesuai dengan tubuhnya yang tinggi. Ia beberapa kali tidak menjawab pertanyaan Nadine dan malah bertanya-tanya tentang hal seperti 'Gimana muka gue?' dan 'Rambut gue acak-acakan gak?'.


Terlepas semua itu, Nadine senang karena sahabatnya terlihat lebih membaik sejak saat ia putus dari Adrian. Dasar cowok itu. Berani-beraninya dia membuat Abby yang berharga ini menangis?


Memasuki ruang kelas khusus murid seni, jantung Nadine berdegup semakin kencang. Cewek itu gugup melihat wajah-wajah baru yang terdiam asyik memainkan handphone mereka, namun sapaan Jack membuat hati Nadine sedikit lebih tenang.


Ketiga peminat seni itu berkumpul di meja yang telah Jack jaga pas sekali di tengah-tengah ruang kelas. Tawa dan senyuman kedua temannya itu membuat Nadine teringat kelas X, hanya saja tanpa Alicia.


Akhirnya.


Berhubung kelas seni dan IPA terletak dari ujung ke ujung, akan jarang sekali Nadine dan Alicia bertemu. Tentu saja, semua itu bila Alicia tidak memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama saat jam istirahat, yang sepertinya sangat mustahil dilihat dari seberapa dekat cewek itu dengan mereka.


Lebih tepatnya, Jack.


Selama liburan kenaikan kelas yang berlangsung selama kurang lebih satu bulan ini, banyak sekali hal yang terjadi. Kejadian Jack-Alicia akan selalu melekat di ingatan Nadine, namun cewek itu juga sudah mula tidak merasakan apa-apa didekat Jack. Sementara Alicia? Cewek itu kecewa padanya.


Bunyi bel menandakan kelas akan segera dimulai. Nadine duduk di tengah dengan Abby dan Jack di meja sampingnya. Tak lama, guru pun datang dan tahun ajaran baru akan mereka hadapi.


*

__ADS_1


"Aku kangen banget sama kalian!" ujar Alicia setengah memekik, membuat orang-orang di sekitar koridor melirik ke arah cewek itu dengan ekspresi terganggu, Nadine menjadi salah satu di antaranya.


"Kelas aku gak enak banget ... orang-orangnya awkward sama gurunya juga kelihatan galak! Males banget, ah ...," gerutu Alicia, membuat Jack tersenyum meledek. "Makanya, siapa suruh lu gak milih jurusan seni?" ujarnya.


Justru bagus dia gak milih jurusan seni, batin Nadine. Abby yang tersenyum kecil di sampingnya terlihat seperti dapat membaca pikiran cewek itu, lepas dari ekspresi Nadine yang cukup datar. Memang, dasar sahabat.


Kelompok itu berjalan bersama-sama menuju kantin belakang, tempat yang paling sepi dari ketiga kantin yang ada di sekolah itu. Seperti biasa, mereka memilih meja paling ujung dan Nadine duduk paling terakhir di samping Abby.


Meneguk jus semangka yang baru ia beli, Nadine menatap lurus dari kursinya. Ia teringat-ingat saat Becca dan Lucas terlihat seperti sedang berargumen di belakang banyaknya meja dan kursi kantin. Pas sekali, cowok berkacamata itu memunculkan dirinya bersama temannya yang menghancurkan hati Abby.


"Bey, gue pisah ya," ujar Nadine seraya berdiri dari kursi. Abby menatapnya dengan bingung. Tidak mau membuatnya sedih, Nadine hanya menunjuk ke arah Lucas dan Adrian, menerima anggukan kecil dari Abby yang segera memalingkan pandangannya kala dilihatnya mantan pacarnya.


"Hello," sapa Nadine, ia menepuk bahu Lucas. Kepada Adrian, Nadine hanya tersenyum dan mengangguk dengan bayangan wajah sedih Abby di pikirannya. Mereka duduk di ujung kantin yang kain seusai kedua cowok itu membeli makanan.


Nadine sempat berpikir apakah itu alasan wajah Lucas terlihat sedikit sedih, namun sepertinya bukan. Cewek itu meletakkan dagu di atas kedua tangannya. "Emangnya lu sesedih itu karena pisah sama Adrian?"


"*****, gue melihat bunga-bunga," komentar Adrian, mencuri perhatian Nadine. Masih dengan ekspresi datarnya, Nadine menatap mata cowok itu.


"Itu yang gue rasakan pas lu sama Abby," balasnya. Mendengar itu, cowok berkulit sawo matang itu tersenyum tipis. 'Iya, sekarang udah nggak 'kan."


Nadine mengabaikan kata-kata Adrian dan kembali berpaling kepada Lucas. "Jadi, lu kenapa?" tanyanya. Adrian yang tidak tahan dengan sikap Lucas yang diam-diam saja akhirnya menggantikan posisinya untuk menjelaskan.


"Lucas sekelas sama Becca, dan lu tahu 'kan kelas ini permanen sampe kelas XII."

__ADS_1


Mata Nadine melotot. Cewek itu hampir menumpahkan jus semangkanya. "Kok lu gak bilang apa-apa?"


"Yah ...," Lucas akhirnya membuka mulut, "gue gak mau terlalu mikirin itu, jadi gue gak kasih tahu lu," jawabnya.


"Oke, gue ngerti ...," balas Nadine "Kalo gitu, yang sabar ya—"


Belum saja cewek itu selesai menyemangati Lucas, Guru seni yang baru ia kenali kurang dari sehari sudah memanggilnya terlebih dahulu. Wanita itu membawa satu gulungan kertas yang besar dan terlihat sedang tergesa-gesa menghampiri Nadine.


"Ya ampun, untung aja Ibu ketemu kamu. Ibu gak lihat anak seni lainnya, jadi kamu bisa bantu Ibu?" tanyanya dengan cepat. Spontan, Nadine mengangguk. "Ada apa, Bu?" tanyanya sopan.


Guru itu memberikan Nadine gulungan kertas berwarna yang Nadine lihat. "Ini poster untuk klub musik, khususnya band sekolah kita. Tolong kamu anter ke ruang musik. Ibu harus segera meeting, tolong bantu, ya." Dengan itu, Nadine ditinggalkan oleh gurunya dengan gulungan poster dan seribu pertanyaan dipikirannya.


"O-oke, seperti yang kalian dengar," ujar Nadine sebelum menghabiskan sisa jus di dalam gelas kertasnya. "Gue harus nganter ini, see you around." Cewek itu melambaikan tangan kepada Lucas dan Adrian, tidak lupa untuk membuang sampah minumannya.


Nadine berderap meninggalkan kantin menuju ruang musik. Entah kenapa, ia merasa harus bergerak cepat. Ia menarik napas setibanya di depan ruang musik, dan menghembuskannya kala membuka pintu. Seketika itu juga, Nadine menyesal menerima suruhan guru itu.


"Ini udah kesekian kalinya OSIS menghampiri kalian dan jawaban kalian tetep sama? Masih belom ada posternya?"


Suara cempreng yang familiar, rambut hitam pendek yang selalu dikuncir dengan gaya yang khas. Tubuh pendek dan kulit yang tidak lebih putih dari Nadine.


"Kalian ini gimana sih!? Niat nggak ikut lomba band antarkota? Jangan cuma bilang belom di kasih sama anggota klub seni! Kalian yang harus inisiatif nagih!"


Cewek yang mengenakan blazer hijau sekolah itu membalikkan badan dari anggota-anggota klub musik yang malang kala didengarnya suara pintu yang menutup. Cewek yang Nadine sangat tidak ingin temui.

__ADS_1


Ya, orang itu adalah Becca.


__ADS_2