
"Lucas, ngobrol yuk."
Ajakan yang sangat sederhana itu cukup untuk membuat lelaki berkacamata itu setuju tanpa berpikir panjang. Begitulah bagaimana Nadine berakhir di kantin belakang dengan teman curhatnya yang sekarang sedang berjalan ke mejanya. Cowok itu memberi Nadine segelas jus perasan jeruk.
"Harusnya gue yang traktir," ujar Nadine tidak enak. Lucas hanya memasang senyum kecil di wajahnya. senyum yang entah bagaimana terlihat sedih di mata Nadine. "Udahlah, gak apa-apa."
"Oke, thanks." Nadine mengambil gelas di mejanya, ragu. Ia mengangkatnya ke bibirnya bersamaan dengan Lucas yang menutup kembali botol kopinya setelah meneguknya beberapa kali.
"So, lu mau ngomongin apa?"
"Itu ...." Nadine meletakkan kembali gelasnya, "Tadi gue ngelihat lu sama Becca."
"Gue sama Becca?"
"Iya, di kantin SD."
Lucas yang sedari tadi berdiri kini memutuskan untuk duduk di samping Nadine. Badannya ia miringkan agar menghadap cewek yang penasaran itu. "Tadi kayaknya muka Becca cemberut gitu. Ada apa?" tanya Nadine.
"Oh, itu." Lucas mengalihkan pandangannya ke taman dan menghela napas panjang. "Itu ... kita debat sedikit."
"Debat?"
"Iya. In the end, kita berantem."
Lucas menengok kanan-kiri mengawasi orang di sekitar. Dirasa aman, ia menatap Nadine. "Becca complain ke gue, katanya sikap gue dingin ke dia."
Karena cowok itu berhenti bicara, Nadine bertanya. "Dingin gimana?"
"Itu dia. Gue gak tahu." Hah? Apa sih?
"Tolong jelasin lagi," pinta Nadine dengan nada tegas. Lucas menghela napas. Lagi. "Gue beneran gak tahu. Perasaan gue bersikap seperti biasanya."
Oke, ini benar-benar tidak jelas, tapi cukup untuk membuat Nadine kesal.
"Gue gak ngerti sama sekali. Beneran gak ngerti," balasnya selagi alisnya berkerut. "Yang lebih gue ga ngerti lagi, kenapa mamanya Becca seolah-olah nyuruh lu peduli sama dia udah tau Becca sendiri lagi pacaran waktu itu? Dan kenapa giliran rasa suka lu dibuang-buang, Becca seolah-olah mau perhatian lu balik?"
Nadine berhenti sejenak hanya untuk memandang Lucas dengan mata yang terbuka besar. "Apa jangan-jangan, Becca ngelakuin itu karena ...,"
"Karena dia suka sama lu?"
"No way," cowok itu segera menangkas, menggeleng-geleng dengan senyum tidak percaya. "Selama lima tahun gue sama dia, ga pernah sekali pun gue denger perasaannya ke gue selain sebagai teman."
"Mungkin ini saatnya dia ngebales perasaan lu!" tambah Nadine, "Dan bukannya lu harusnya seneng?"
__ADS_1
Lucas menunduk terdiam dan pandangannya mendarat pada kursi kantin. Itu terjadi selama beberapa detik, sebelum ia menjawab "I don't know."
"Lah, kok 'I don't know'?"
Cowok berkacamata itu mendongak kembali. "Seperti yang lu bilang, Becca itu orangnya bright, aktif dan berprestasi. A guy like me doesn't stand a chance."
Sekarang, Nadine merasa buruk atas isi pesan yang ia kirim pada Lucas hari itu. Padahal, maksudnya adalah untuk menyemangati Lucas.
"Umm—"
"Lagian, gue mungkin bakal nyerah sama Becca."
Apa Nadine tidak salah dengar? Ini kali keduanya Lucas mengungkit tentang menghentikan usahanya pada Becca. Kalau seperti ini, artinya memang terlalu sulit untuk dia tangani, 'kan?
"Kalo itu yang menurut lu terbaik, then so be it." Nadine mengusap pundak cowok itu, "Utamakan perasaan lu dulu. Kalo gak sanggup, itu saatnya lu stop. Lagian, memang sebaiknya lu fokus sama ujian kenaikan."
Sebuah senyum kecil melukiskan dirinya pada wajah Lucas. Senyum kali ini berbeda. Nadine yakin sekali senyum itu menandakan kelegaannya. Ia juga ikut lega mengetahui temannya itu masih bisa merasakan senang di tengah masalah.
"Iya, gue bakal stop kalo menurut gue keterlaluan. Tapi lu sendiri gimana?"
Nadine mengedipkan mata. "Gue?"
"Iya, elu. Sampe kapan kira-kira lu bakal bertahan suka sama Jack?"
deg.
Sekarang giliran Nadine yang menunduk terdiam. Jujur saja, pertanyaan itu adalah pertanyaan yang cukup sulit baginya untuk dijawab.
Bisa dikatakan, Nadine merasa bodoh. Bukan hanya sekali dua kali ia tersakiti oleh Jack. Oleh seberapa intimnya cowok itu dengan Alicia. Nadine bodoh karena, ia tetap menyukai Jack walau menyesakkan dada.
"Jujur, gue juga gak tau."
Menyadari perubahan nada suara dan ekspresi Nadine, Lucas segera beranjak berdiri dari kursi kantin. "Besok kalian jalan ke mall X, 'kan?"
Nadine mendongak dan mendapati Lucas sedang merapikan tasnya. "Don't miss that chance," ujarnya sembari mengangkat ranselnya dengan satu tangan.
Dengan sebuah ucapan "Good luck," Lucas pun pergi.
*
"Kenapa yang ngikut nambah satu orang?"
Nadine menanyakan hal tersebut kepada Abby setelah ia menyadari hadirnya seorang cowok tak di undang ditengah-tengah gengnya yang sebentar lagi akan berangkat ke mall X. Sahabatnya itu segera menggeleng kepalanya
"Bukan, dia itu temennya Sean. Katanya dia bisa ngasih kita tebengan ke mall X."
__ADS_1
Mata Nadine membelalak. "Demi apa Sean manggil dia cuma buat itu?"
"Nggak. Katanya dia lagi mampir kesini, terus kita bisa ikut karena arah pulangnya searah."
"Dia nyetir?" Belum saja Abby menjawabnya, ia bertanya lagi. "Nggak. Yang penting dia gak ikut, 'kan?" Cewek yang sedari tadi menjawabi pertanyaan Nadine memutar bola matanya. "Lu ini, dari tadi gue bilang nggak!"
Nadine terdiam puas. Ia tidak butuh satu orang lagi yang tidak tahu apa-apa tentang dia dan Jack ikut bersama mereka ke mall X. Sejujurnya, walaupun ia lumayan dekat dengan Sean, ia lebih suka jika mereka pergi tanpanya. Dan itu, tentu saja kalau Jack tidak memintanya ikut. Tapi, at least Sean berguna juga, batin Nadine.
"Alright, karena udah lengkap, kita bisa jalan, ya." Suara Jack langsung membuat Nadine menoleh ke arahnya dan hatinya meleleh dalam sekejap.
Cowok berambut hitam legam itu memang hanya memakai pakaian yang sederhana: long sleeves berwarna hitam dan celana putih sepanjang pergelangan kakinya. Intinya, dia terlihat manis.
Duh, hati gue, batin Nadine yang segera mengalihkan pandangannya saat Jack melihat ke arahnya. Ia mendapatkan senyumnya tidak mau lepas dari pipinya.
Ya, hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh mereka, mungkin lebih tepatnya Nadine sendiri. Selama berhari-hari, cewek itu sibuk memilih-milih busana yang akan ia pakai untuk hari ini. Tentu saja, ia ingin tampil cantik di depan Jack, namun juga tidak terlihat berlebihan.
Sebenarnya, Nadine adalah perempuan yang cukup fashionable. Kesempatan bepergian ke mall X yang lokasinya cukup jauh dari tempat tinggalnya tentu tidak di sia-siakannya. Ia ingin menunjukkan kemampuannya memilih baju.
Jadi, cewek itu menunjukkan diri dengan kaos merah yang dimasukkan ke dalam rok hitam selutut dan berluaran jaket denim. sederhana, tapi terlihat rapi, bukan?
Mereka akhirnya bergegas jalan. Cowok yang tidak Nadine kenali itu memimpin mereka menuju mobilnya. Untung saja mobil miliknya besar, kalau tidak Nadine yakin pasti tulang-tulangnya aka merengek kesakitan begitu turun.
"Aku duluan ya," ujar Alicia yang segera masuk setelah kursi belakang di isi oleh Abby sendirian. Sean memilih kursi depan agar bisa berbincang dengan temannya, yang artinya Nadine akan berakhir duduk di samping Jack.
Bagus.
Namun, jika cowok itu duduk di samping Alicia, bisa-bisa runtuh kesenangannya.
Tidak, tidak bagus.
"Yaudah, gue tengah," balas Nadine. Ia bersiap-siap dihimpit oleh kedua temannya yang terkadang bisa pecicilan.
Mobil pun berangkat. Awal-awal perjalanan, semua berjalan dengan baik-baik saja. Abby yang memiliki kursi belakang untuk dirinya sendiri sekarang sudah selonjoran seperti tiduran di sofa rumahnya. Sean sibuk tertawa karena mendengar lelucon dari temannya.
Yang lebih baik lagi, Nadine dan Jack tengah berbincang seru tentang musik, meninggalkan Alicia yang sibuk memainkan jemarinya pada layar ponselnya.
"Suara lu 'kan bagus, Nad," ujar Jack. "Coba deh lu bikin cover lagu, terus post." Nadine tersenyum girang dan malu mendengar pujian dari cowok itu. "Kayak suara lu enggak aja," balasnya.
"Emang enggak," Jack tersenyum, "Gue bukan lu. Lu itu udah bisa nyanyi, jago seni, pinter, cantik lagi."
Ya Tuhan, bolehkah gue menjerit?
Like, right now?
Pipi Nadine yang menghangat membuat cewek itu mengalihkan pandangannya dari Jack dan tertunduk malu. Bukan, bukan itu saja. Lebih tepatnya, dia gembira. Terlalu gembira sehingga senyumnya tidak mau pergi dari wajahnya.
__ADS_1
"Apa sih, Jack."
Baiklah Nadine bersenang-senang sekarang, sebab apa yang akan terjadi akan mengubah hampir segalanya.