
"Emang es krim di sini terbaik," komentar Abby, hanya untuk menerima cubitan di lengannya tepat setelah itu dari Nadine.
Baru saja cewek itu ingin mengatakan sesuatu hal yang serius, Abby bisa-bisanya memuji rasa es krim di tangannya itu.
"Gue serius! Lu mau dengerin gue gak sih!?"
"Iya, mau ngomong apa?"
"Jadi males ngomongnya."
"Ya sorry. Gak bakal gue sela lagi."
"Bener?" tanya Nadine yang segera mendapat anggukan dari sahabatnya yang kembali menikmati es krimnya itu. Raut wajah Nadine berubah serius.
"Ini tentang Lucas."
Mendengar nama itu, Abby berhenti menjilati es krimnya. "Kenapa? Dia bermasalah lagi sama Becca?"
Nadine mengangguk kecil. "Iya, tapi bukan itu yang mau gue omongin," katanya, "Lucas bilang ke gue dia udah gak suka sama Becca."
Mata Abby membelalak. "Demi apa? Kapan dia bilang gitu?" Dengan cepat, Nadine menjawab, "Seminggu yang lalu."
"Padahal dia udah suka sama Becca selama lima tahun, 'kan?" tanya Abby lagi dengan nada tidak percaya. "Kasihan banget ...."
"Dia begitu bukan karena kepaksa. Itu pilihan dia sendiri," balas Nadine. "Tapi dengan pilihan itu, ada hal lain yang nyusul. Hal yang .... menurut gue, cukup mengagetkan."
Alis Abby terangkat sebelah. "Apa tuh?" Nadine menengok kanan-kirinya walau tahu mereka tidak mungkin bertemu orang yang mereka kenal di cafe kecil ini. Namun, itu sudah menjadi kebiasaan bagi cewek itu, lebih lagi karena ia akan mengucapkan sesuatu yang menggemparkan kota. Oke, mungkin itu sedikit berlebihan.
"Lucas mau gue membuka hati untuk dia."
Abby hampir tersedak es krimnya. "*****!" responsnya. "Gue gak salah denger? Lucas? Cowok yang pendiam kayak gitu?"
Nadine mengangguk-angguk sebelum menceritakan kejadian waktu itu.
"Gue mau lu lupain Jack."
Alis Nadine berkerut. Pundaknya menjadi kaku. Cewek itu masih menatap Lucas, heran. "Lu mau gue lupain dia?"
"Ah, mungkin gak perlu ngelupain ...," respons Lucas, "Tapi jangan lagi suka sama dia."
__ADS_1
Nadine semakin heran. "Oke, tapi 'kan gue tadi bilang kalo bakal usaha melakukan itu. Jadi, kenapa lu tiba-tiba begini?" Cewek itu mendorong punggungnya ke depan.
"Lu kayak bukan diri lu sendiri."
Lucas dan Nadine saling bertatapan. Tidak ada yang bergerak. Lagi-lagi sunyi. Tapi, kali ini Lucas menjadi orang yang memecahkannya.
"Iya, emang gue bukan lagi gue," balasnya sambil membuang pandang. "Gue bukan Lucas yang menyukai Becca lagi."
"Oh ...." Jawaban dari cowok itu entah kenapa membuat Nadine jadi lebih tenang. "Memang sih, wajar aja kalo lu gak tahan sama sikap—"
"Iya, gue gak tahan, tapi bukan di titik yang lu tahu itu gue memutuskan untuk stop suka sama dia," potong Lucas. Dan ini adalah kali pertamanya ia tidak membiarkan Nadine menyelesaikan kalimatnya. Ada apa dengan Lucas?
"Terus kapan?"
Cowok berambut hitam dan berkacamata itu kembali menagkap mata Nadine.
"Sejak gue kenal sama lu, Nad."
Mata Nadine melotot. Dia bersumpah telinganya baru saja mendengar detak jantungnya yang mendadak menggila. "Hah?"
"Sorry. Selama ini lu tahunya gue masih ada rasa sama Becca, 'kan? Itu karena lu dan Abby selalu ngejodoh-jodohin gue sama dia," jelas Lucas.
Nadine menyimpulkan bahwa Lucas selama ini berpura-pura. Pantas saja ia seperti selalu menceritakan masalah lampau. Tetapi hal itu sama sekali tidak mengganggunya. Yang membuat Nadine heran adalah mengapa perasaan suka cowok itu yang selama lima tahun bisa hilang saat bertemu dirinya.
Lucas tersenyum kecil. "Yah, emang sih pertemuan kita itu gak ada yang special. Malahan kalo bukan karena Adrian, gue gak bakal kenal sama lu. Tapi justru dari pertemuan yang biasa aja itu gue mulai mengenal lu.
"Lu bilang Becca orangnya bright, menurut gue lu juga. Lu bilang dia aktif dan bener-bener bisa dijadiin role model, tapi lu juga."
Nadine mengedipkan mata. "Jadi maksud lu, gue sama kayak Becca?"
Senyum Lucas berubah menjadi tawa. Rasanya, jantung Nadine berhenti sesaat. "Bukan itu," jelasnya lagi, "Malah di mata gue, Becca itu bukan apa-apa dibanding sama lu. Maksud gue, lu juga punya cahaya lu sendiri. And that what makes a lot of people likes you. Lu tahu kan banyak cowok yang suka sama lu?"
"Demi apa!? Lucas beneran ngomong begitu!?" tanya Abby setengah memekik, membuat orang-orang di cafe menengok ke arah kedua cewek itu. Panik, Nadine langsung membekap mulut Abby.
"Shh!" Cewek itu menempelkan telunjuk pada bibirnya. Nadine menurunkan tangannya setelah Abby mengangguk-angguk. "Otak gue belum siap menerima semua informasi itu," sambung Abby dengan suara lebih kecil.
"Sayangnya, gue belom selesai," balas Nadine. "Oke, bentar, ya." Abby mencaplok sisa es krimnya yang entah sejak kapan sudah tinggal cone-nya saja.
"Nah, lanjutin."
"Tell me something I don't know," balas Nadine, berusaha menutupi rasa malunya. Sepertinya respons itu salah, karena sekarang Lucas tersenyum-senyum dan membuat Nadine semakin merasa aneh. Sebelum tindakan Lucas selanjutnya membuat hati Nadine gatal, ia langsung bertanya.
__ADS_1
"Tapi, lu kenapa banding-bandingin Becca sama gue?"
Cowok yang sepertinya ingin berkata-kata itu menahan mulutnya dan menghela napas. "Lu bener-bener gak tahu, ya?" tanyanya. Nadine hanya menaikkan pundaknya.
"Okay, how about this?" Lucas mulai lagi, "Sejak saat itu, semakin sering kita ngobrol, semakin sering perasaan hampa di hati gue ke isi. Pas gue menghabiskan waktu sama lu, rasanya gue gak mau itu berakhir ...,"
"Which is why, gue mau lu buka hati buat gua."
Mata Nadine melotot tidak percaya. "Excuse me!?"
"Gue tau ini baru dua minggu sejak kejadian Jack-Alicia, dan gue juga gak mau nambah beban di pikiran lu," kata Lucas. "Tapi tolong, think about it."
Seusai ia mengatakan itu, Lucas langsung menghabiskan kopinya. Sangat berkebalikan dengan kopi Nadine yang bahkan setengahnya pun belum ia habiskan. Tentu saja, bagaimana cewek itu bisa meminum kopinya? Sudah sedari tadi ia mendengar kata-kata yang ia pikir tidak akan keluar dari mulut Lucas yang terkenal pendiam itu.
Menyadari kurangnya respons dari Nadine, Lucas menepuk pundaknya. Cewek itu mendongak dan kembali bertatapan dengannya.
"Gue bakal tunggu jawaban lu."
"Gak mungkin Lucas bilang itu semua!" Abby menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak percaya. "Pasti ada semacam arwah yang ngerasukin dia!"
"Mungkin," balas Nadine sembari menyendok yoghurt pesanan mereka yang sudah datang selagi cewek itu bercerita. "I'll be glad if that's the case."
Abby menyipitkan mata kala rasa asam dari yoghurt menyentuh lidahnya. "Tapi Nad," ucapnya, "Dia itu jadi secara gak langsung confess ke lu, dong?" Pertanyaan ini hampir membuat Nadine menjatuhkan sendoknya.
"I-iya, ya ...," jawab Nadine gagap.
"***** lah, gue masih gak percaya. Bisa ya dia ngilangin rasa ke Becca yang dia pendem selama lima tahun, terus move on ke lu ...."
"Lu gak bisa percaya, apa lagi gue, Bey?" Nadine memasukkan sendok berisi yoghurt ke mulutnya. Alisnya masih berkerut, tanda tidak tenang. "Tapi," ujar Abby, "menurut gue ada yang aneh."
"Maksudnya?"
Abby melipat kedua tangannya. "Pikir aja deh, kok bisa Lucas memutuskan untuk nyerah sama Becca pas ketemu lu? Dan yang bikin kagetnya lagi, dia ngasih tau perasaannya ke lu sementara dia gak melakukan itu ke Becca yang selama lima tahun dia suka.
"Kalo Lucas gak bener-bener suka sama lu, kenapa itu semua terjadi?"
Nadine mengusap-usap dahi dengan telapak tangannya. "Iya ... gue tahu ....."
"Menurut gue, lu terima aja perasaan Lucas dan coba buat buka hati. Tapi, jangan jadiin dia pelampiasan. Pake waktu liburan yang kurang lebih sebulan ini buat bener-bener mikir tentang keputusan lu." Abby menyenderkan punggungnya ke tembok di belakangnya. "Lagian, Nad, you deserve to be happy."
Tiba-tiba, notifikasi handphone Nadine berbunyi. Kedua cewek itu secara bersamaan mendarstkan pandang mereka ke ponsel hitam itu. Nadine memeriksa layarnya dan Abby mendekat.
__ADS_1
Cewek berambut pendek itu senyum-senyum sambil menyikut lengan Nadine. "Tuh 'kan? Dia bener-bener suka sama lu."