
Lucas baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah acak-acakan. Ia mengelap air di pipinya dengan ujung handuk kecil yang entah mengapa ia biarkan menggantung pada lehernya dan membasahi kerah kaosnya. Ia berjalan ke kamarnya dan segera mencari ponselnya.
Alisnya berkerut saat Ia melihat notifikasi dari akun yang memiliki profile picture sebuah pantai. Ya, akun itu adalah punya ibunya Becca.
Lagi-lagi tentang Becca, batin Lucas lelah. Ia tidak membuka pesan itu dan hanya membungkuk untuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang sama. Tiba-tiba, notifikasi handphone Lucas menyala lagi. Mau apa lagi, sih?
Mengetahui guru lesnya juga mengirim pesan mengenai hal yang sama, alis Lucas berkerut. Bahkan guru itu juga melibatkan diri, batin Lucas, Keterlaluan.
Ia memainkan jarinya naik-turun layar untuk memeriksa pesan lain. Kerutan di dahinya hilang kala dilihatnya pesan belum terbaca dari Nadine. Cowok itu segera memakai kacamatanya dan membuka messenger pada layar ponselnya.
Kenapa dia?
Khawatir, Lucas segera membuka pesannya untuk menanyakan maksud cewek itu.
Dua menit, lima menit, sepuluh menit. Lucas belum mendapat balasan dari Nadine. Ia tidak bisa apa-apa selain berpikir apa yag membuatnya mengirim pesan itu. Lucas mematikan layarnya mengingat cewek itu sedang pergi dengan teman-temannya. Ia kembali mengeringkan rambutnya dengan harapan tidak terjadi apa-apa dengan Nadine.
*
Nadine berjalan pelan memasuki restoran yang kini tidak ingin ia datangi lagi. Ia sudah terlalu lelah untuk menyembunyikan matanya yang memerah karena menangis. Buat apa ia menutupinya kalau itu hanya akan membuatnya semakin tertekan?
Abby yang menyadari wajah menyedihkan sahabatnya lantas berhenti tertawa. Perubahan ini disadari oleh Alicia, yang segera bertanya saat Nadine tiba di kursinya. "Nad, kamu nggak apa-apa?"
Pikir aja sendiri, batin Nadine kesal. Cewek itu tidak menjawab bahkan melirik Alicia sedikit pun. Ia hanya merapikan barang-barang miliknya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Lho, Nad, mau ke mana?" tanya Jack dengan wajah heran. Nadine juga tidak ingin bertatapan dengan cowok itu. "Balik. Gue gak enak badan."
Sekarang giliran Alicia yang memajang ekspresi bingung. "Kamu nggak ikut nonton?"
__ADS_1
"Gak."
"Tapi tiketnya—"
"Udah gue bilang enggak, 'kan?"
Perubahan nada sahabatnya itu sangat terasa oleh Abby. Itu bukan sekedar sinis, namun ia benar-benar marah. Cewek itu tahu alasan dibalik amarahnya itu tidak lain dari rasa kecewa. Kalau sudah begini, Abby hanya bisa membiarkan Nadine sendirian agar dia bisa menenangkan diri. "Oke, get well soon ya."
Nadine tersenyum tipis pada sahabatnya. Dia adalah satu-satunya orang yang Nadine tatap. "Thanks," katanya, sebelum ia dengan senang hati beranjak pergi dari tempat itu.
Selama perjalanannya menuju lobby, Nadine sama sekali tidak bisa berhenti berpikir tentang dua kejadian itu. Bagaimana bisa orang yang menyakiti perasaan Nadine adalah temannya sendiri yang jelas-jelas sudah mengakui kalau dia tidak mempunyai rasa lagi pada Jack? Apa itu semua bohong?
Lalu, apa Alicia sengaja melakukan itu semua? Mau dilihat dari segi mana pun, Alicia itu adalah perempuan yang polos. Tetapi setelah mengalami hal ini, Nadine tidak berbuat apa-apa kecuali merasa dikhianati oleh cewek itu.
Ah, bukan. Tidak seharusnya Nadine menyimpan kesal terhadap orang lain. Dia sendiri lah yang seharusnya tidak berharap macam-macam kepada Jack. Semua ini tidak akan terjadi kalau ia tidak menyukai cowok itu.
**** banget sih gue.
"Kak Nadine!"
Nadine mengedipkan matanya saat ia menyadari namanya dipanggil. Suara itu berasal dari driver ojol yang menjulurkan kepalanya dari jendela mobil. Cewek itu segera melambaikan tangannya dan berlari ke mobil kecil berwarna putih itu.
Sesi bawa perasaan oleh Nadine berlangsung lagi.
Sekarang cewek itu merasa benar-benar bodoh. Seharusnya dia enjoy saja akhir-akhir tahun ajaran kelas X bersama teman-temannya.
Tetapi apa yang ia lakukan? Rencana hari ini jadi gagal karena Nadine terlalu memikirkan perasaannya. Ia berpikir, apa mungkin dirinya lah yang keterlaluan?
Aduh, pusing.
Seberat apa keinginan Nadine untuk menutup matanya, ia harus tetap terjaga. Karena itu ia merogoh tasnya dan mengambil handphone yang selama ini belum ia buka lagi. Kepalanya semakin nyut-nyutan saat ia melihat layar ponselnya. Nadine melihat notifikasi dari Lucas.
Apa? Mata Nadine melotot saat ia membuka chat dengan Lucas.
__ADS_1
Jadi gue salah kirim chat ke dia, bukan Abby?
Ya ampun, bagaimana ini? Padahal Nadine berencana untuk tidak bercerita tentang kejadian itu pada Lucas. Lebih tepatnya, ia merasa kalau hari ini sebaiknya tidak disinggung-singgung lagi demi kebaikan dirinya. Memang lebih baik hari ini cewek itu istirahat saja.
Beberapa detik setelah mengirim, Nadine mendapat balasan singkat.
Dan balasan lainnya.
Entah mengapa, tawaran dari Lucas membuat Nadine tersenyum kecil. Mungkin ini caranya untuk menghibur Nadine. Baik sekali teman curhatnya itu.
Tiba-tiba, handphone Nadine berdering. Layarnya seketika itu berubah dan menunjukkan nama 'Nenek'. Nadine sudah memiliki pikiran buruk tentang ini. Ia mengangkat teleponnya.
"Halo?"
"Kamu ini kemana aja!?"
Nadine menghela napas saat mendengar jeritan neneknya yang merusak telinga. "Enak bener ya! Mentang-mentang baru libur udah keluyuran sampe malem!" bentak wanita tua itu. Ya ampun, padahal kalau Nadine mengikuti rencana hari ini sampai selesai, ia bisa pulang lebih malam lagi.
"Lah, 'kan aku udah bilang. Aku mau jalan sama temen-temen. Udah bilang Mama juga—"
"Tetep aja! Kalo kamu kenapa-kenapa gimana!? Pulang sekarang! Dasar gak tahu waktu!" Omelan wanita itu entah kenapa membuat luka di hati Nadine yang baru saja ia ingin tutup semakin parah.
"Iya, ini lagi di jalan." Nadine menutup teleponnya. Matanya mulai berair. Lagi. Tapi bagaimana bisa ia mengeluarkannya sekarang? Cewek itu benar-benar sudah lelah.
"Maaf Pak," Nadine berusaha menutupi gemetar pada suaranya, "Bisa ngebut dikit gak? Saya buru-buru."
"Baik Kak."
Nadine mengambil napas dalam-dalam dan mengusap air pada matanya. Hari yang benar-benar heart-breaking. Mengapa ia harus mengalami itu semua? Mengapa sulit sekali baginya untuk bahagia?
__ADS_1
Sekarang Nadine berharap Lucas ada di sampingnya untuk menenangkannya.