Nikah Paksa Sang Duda Tampan

Nikah Paksa Sang Duda Tampan
9. Bibit Unggulan Yardan Harus Dilestarikan


__ADS_3

"Ini Yardan anaknya Burhan kan, Pah?" tanya Mama Anyelir yang shock berat.


"Iya, Ma." angguk Papa Reynaldi berulang-ulang, sembari mengecek kesamaan informasi yang tertera di file handphone-nya.


"Astaga naga, sejak kapan si ganteng Yardan jadi duda," ucap Mama Anyelir heboh. "Dia kurang apa sampai bercerai dengan istrinya yang cantik dan semok itu."


"Padahal Yardan ganteng ya, Ma. Baik pula, ramah banget, kalau nggak salah terakhir kita ketemu pas di resepsi pernikahannya kan dengan wanita semok itu."


"Iya, Pah." angguk Mama Anyelir. "Duh ... kasian banget Burhan, garis keturunan satu-satunya juga mengalami nasib serupa kayak dia. Sama-sama cerai dengan istrinya."


"Iya, Ma. Apalagi setelah itu Burhan udah nggak mau punya istri baru lagi karena trauma takut disakitin seperti mantan istrinya dulu. Jangan-jangan Yardan juga mengalami trauma serupa kali ya."


"Semoga aja nggak sih, Pah. Tapi ya ngga tahu sih. Oh iya, Yardan udah punya anak kan?"


"Sebentar, Ma. Papa cek dulu."


Papa Reynaldi pun mulai mengecek detail informasi tentang Yardan.


"Belum punya anak, Ma," terang lelaki tua itu.

__ADS_1


"Ya ampun," kaget Mama Anyelir. "Sayang banget laki-laki sempurna seperti Yardan belum punya anak."


"Kita harus melestarikan bibit unggul seperti Yardan, Ma."


"Setuju, Pah. Kalau gitu mari kita segera otewe ke rumahnya Burhan!"


"Oke," jawab Papa Reynaldi.


Mama Anyelir dan Papa Reynaldi pun mulai bergerak untuk menuju rumah sahabat lamanya itu menggunakan mobil Ferarri keluaran terbaru.


Broom! Broom! Brooom!


Mobil Ferarri merah itu pun bergerak meninggalkan rumah mereka dan baru sebentar keluar dari pintu gerbang rumah mereka sendiri, kini mobil Ferrari itu mulai masuk ke pintu gerbang rumah Om Burhan yang memang rumah lelaki itu tepat bersebelahan dengan rumahnya Hayra.


"Ya ampun sahabat lamaku," ucap Om Burhan merasa senang karena mereka bertiga akhirnya bisa bertemu kembali setelah bertahun-tahun lamanya tidak pernah berjumpa.


Om Burhan pun memeluk erat tubuh Papa Reynaldi.


"Ada angin apa kalian datang kemari?" tanya Om Burhan. "Padahal kalian kan sibuk banget setiap harinya."

__ADS_1


"Khusus untuk hari ini kami meliburkan semua kesibukan kami, karena ada hal penting yang sedang kami kerjakan hari ini," terang Papa Reynaldi.


"Hal penting apa?" tanya Om Burhan penasaran.


"Kami sedang mencari calon suami untuk Hayra," jawab Papa Reynaldi.


"Oh, ayo masuk, masuk!" ajak sang pemilik rumah ini yang langsung antusias karena dia berpikir bahwa kedua orang tuanya Hayra akan melamar Harris keponakan lelaki itu, yang memang sudah dia anggap seperti anak sendiri.


Saat masuk ke dalam rumah, Harris yang memang kebetulan sedang akan pergi ke rumah Hayra menyapa kedua orang tua gadis itu.


"Pagi, Om, Tante," sapa pemuda itu sopan.


"Pagi juga, Ris," sahut kedua orang tuanya Hayra.


"Kamu mau ke mana?" tanya Om Burhan pada keponakannya.


"Aku mau ke rumah Hayra, Paman," jawab Harris. "Hayra ada di rumah kan, Om?" kali ini pemuda itu beralih ke arah Papa Reynaldi.


"Ada." angguk Papa Reynaldi singkat.

__ADS_1


Setelah berbasa-basi sebentar, Harris pun berbisik kepada Om Burhan.


"Paman, kedua orang tuanya Hayra ngapain dateng ke sini?" tanyanya was was.


__ADS_2