Nikah Paksa Sang Duda Tampan

Nikah Paksa Sang Duda Tampan
4. Apa Papa Yakin Pedang Perjaka Masih Tersegel?


__ADS_3

"Lho kok illfeel sih?" heran Mama Anyelir. "Bukannya bagus ya kalau orang itu ramah?"


"Pokoknya Hayra nggak suka sama yang ramah. Hayra lebih suka nikah sama Duda yang kejam," tekad gadis itu sembari mengepalkan tangan dengan pandangan jauh kedepan bak para caleg di iklan dan baliho di pinggir jalan.


"Kenapa harus Duda sih, Sayang?" protes Papa Reynaldi yang tidak setuju anak perawannya menikah dengan laki-laki yang sudah tidak perjaka lagi. "Kamu kan masih muda, Sayang~ Kenapa tidak nyari yang masih perjaka aja sih?"


"Kenapa aku harus nyari yang perjaka kalau duda jauh lebih menawan? Emang Papa yakin kalau laki-laki yang statusnya masih perjaka ... pedangnya terjamin masih tersegel, belum masuk goa sana-sini?" tantang Hayra yang kini mulai beradu logika.


"Bener juga sih," lirih Papa Reynaldi yang paham betul kalau jaman sekarang banyak perjaka yang cuma statusnya saja, akan tetapi pedang tumpulnya sudah sabet sana-sini, entah itu hanya jajan atau memang main bersama dengan teman kencannya.

__ADS_1


"Jadi deal ya kalau aku nikahnya sama Duda," tutur gadis itu sambil mengulurkan tangan mungilnya yang seputih susu beruang ke arah depan ayahnya.


"Belum deal," sahut Mama Anyelir cepat.


"Lho kok gitu," rajuk Hayra yang mulai kumat sifat childish-nya. "Pengen sama Duda, Ma," ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh ibunya.


"Nggak," tolak Mama Anyelir tegas. "Kamu itu anak kami satu-satunya dan pantes dapet yang terbaik. Mama bisa kok cariin laki-laki yang perjakanya masih ting-ting. Lagi pula kan ada tes-nya biar kita bisa tahu laki-laki muda yang mau nikah sama kamu itu masih perjaka atau udah bekasan," lanjut wanita dewasa itu. "Inget, Ra, uang kita buanyak. Semua tes yang tidak mungkin dilakukan oleh orang di kalangan bawah, kita bisa melakukannya. Uang itu adalah rajanya dunia yang bisa membuat kebanyakan manusia tunduk kepada perintah kita."


"Kamu lagi ngomong apa sih, Ra?" ucap Mama Anyelir dan Papa Reynaldi sangat khawatir.

__ADS_1


Hayra mulai berlari kecil ke arah pagar balkon yang ada di lantai dua bangunan ini.


"Turuti semua kemauan aku! Atau aku akan lompat ke bawah," cakap Hayra penuh tekad.


"Sayang, jangan bunuh diri," ucap Mama Anyelir dan Papa Reynaldi histeris dan sangat takut anaknya melompat ke bawah. "Mama dan Papa nggak akan pernah siap untuk kehilangan kamu, Sayang." tangis keduanya. "Tolong menjauh dari pagar pembatas itu!" panik mereka.


Sedangkan para pembantu di rumah ini yang berdiri tidak jauh dari lokasi para majikannya hanya menonton kejadian itu sembari mengemut permen dengan santai, padahal majikan mereka sudah panik setengah mati.


"Kita kok punya majikan absurd banget ya," ucap salah satu pembantu berseragam hitam putih.

__ADS_1


"Hooh." angguk pembantu berseragam biru muda yang masih sibuk mengemut permen lolipop dari gagangnya.


"Mana mungkin coba ... lompat dari lantai dua bisa langsung mati," celetuk pembantu berseragam ungu tua.


__ADS_2