Nikah Paksa Sang Duda Tampan

Nikah Paksa Sang Duda Tampan
5. Oke Oke, Fine, Kalau Itu Mau Kamu


__ADS_3

"Mana mungkin coba ... lompat dari lantai dua bisa langsung mati," celetuk pembantu berseragam ungu tua. "Paling banter cuma patah tulang atau apa gitu. Lagian tepat di bawah sana kan area kolam renang."


"Iya, betul," sahut pembantu yang lain.


Kembali lagi ke keluarga sengklek itu ....


"Sekarang Mama pilih! Mending aku mati aja atau setujui aku nikah dengan Duda," seru Hayra lantang.


"Ok, ok, fine, kalau itu mau kamu, Sayang. Mama sama Papa akan ikutin semua kemauan kamu," jawab Mama Anyelir. "Sekarang kamu menjauh dari pagar pembatas itu!" pinta wanita tua itu was was.


"Beneran? Janji?"


"Beneran, Ra. Mama sama Papa janji," sahut Mama Anyelir cepat. "Sini! Buruan menjauh dari pagar pembatas itu," pinta wanita tua itu lagi mengulang permintaannya.


Hayra pun kini patuh dan berjalan mendekat ke arah Mama dan Papanya.


Mama Anyelir dan Papa Reynaldi langsung memeluk putri semata wayangnya itu dengan rasa penuh haru dan syukur dengan air mata yang bercucuran.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Mama Anyelir khawatir sambil memeriksa wajah dan tubuh anak perempuannya itu takut ada yang lecet.


"Aku nggak apa-apa, Ma."


****


Esok harinya ....


Hayra dan kedua orang tuanya sedang rapat membahas tentang calon suami idamannya gadis itu. Tiba-tiba datang seorang sekretaris yang sangat cantik memasuki ruangan keluarga Papa Reynaldi.


"Rapat saja sendiri," jawab Papa Reynaldi acuh.


"Tapi perusahaan kita sedang dalam keadaan genting, Tuan, Nyonya," timpal sekretaris itu lagi, yang mencoba untuk membujuk keduanya agar mau berangkat untuk ikut rapat.


"Memangnya genting seperti apa?" tanya Mama Anyelir.


"Keuntungan perusahaan Sagara Makmur hanya naik 300% saja dari tahun lalu. Bukankah ini adalah hal yang sangat genting," jelas sekretaris itu yang sama sengkleknya dengan majikan yang sedang dia layani.

__ADS_1


Bisa-bisanya perusahaan yang untung besar dibilang keadaannya sedang genting.


"Wah ... genting sekali ya," komen Mama Anyelir dan Papa Reynaldi yang memang selalu tidak merasa puas dengan pencapaian yang sudah mereka raih.


"Maka dari itu, mari kita berangkat ke kantor perusahaan dan ikut rapat penting itu!" rayu sang sekretaris.


"Lah aku males," jawab Papa Reynaldi. "Muak banget aku kalau nanti dipuji-puji sama mereka atas kinerja burukku yang hanya meraih keuntungan 300% saja. Padahal keadaan perusahaan lagi nggak baik malah dipuji-puji."


"Lalu bagaimana dong, Tuan, Nyonya, kan kita harus memberikan sebuah inovasi lagi agar keuntungan perusahaan kita bisa naik lagi tahun depan."


"Kamu bilang ke para peserta rapat bahwa para pelanggan yang masuk anggota VIP harus dikurangi jumlahnya, dan sisakan 40 orang saja, biar para anggota VIP yang tersingkir dari daftar -lebih gila-gilaan lagi dalam berbelanja." arah Papa Reynaldi.


"Dan satu lagi, untuk brand ambassador perusahaan kita, sewa boygrup dan girlgroup BNS dan BlackBlue, okay!" imbuh Mama Anyelir.


"Baik, Tuan, Nyonya." angguk sekretaris itu patuh.


"Sana kamu buruan pergi, aku sama keluargaku mau lanjutin rapat penting kami nih. Yang urgensi-nya jauh lebih lebih lebih penting dari sekedar masa depan perusahaan aja," usir Papa Reynaldi sinis.

__ADS_1


__ADS_2